Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Pengajar Psikologi Abnormal

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Sexuality and Autism

Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan alamiah yang terjadi pada manusia. Perubahan fisik dan kematangan seksual menjadi salah satu tantangan penting yang terjadi di dalamnya. Tidak terkecuali, bagi remaja dengan autisme.

Sering muncul pemahaman yang salah, bahwa remaja dengan autisme tidak memiliki ketertarikan seksual dan tidak tertarik pada relasi intim. Namun kenyataannya, sama seperti remaja pada umumnya, ketika masuk masa remaja, mereka juga mengalami hasrat dan muncul perilaku seksual. Sama seperti remaja pada umumnya, hal ini terkait dengan perubahan hormon seksual di dalam tubuhnya.

Anak dengan autisme juga mengalami perkembangan kemasakan fisik dan seksual pada masa remaja. Ada sebagian anak dengan autisme yang mengalami hambatan perkembangan minat seksual, namun ada pula yang berkembang seperti anak pada umumnya. Namun yang berbeda adalah, perubahan fisik seksual ini tidak disertai dengan kematangan pemahaman sosio-emosional. Akibatnya, dapat terjadi perilaku seksual yang tidak sesuai dengan aturan sosial sehingga perilaku seksual remaja dengan autisme terlihat menyimpang atau memalukan, misalkan: melakukan masturbasi di tempat umum karena tidak mampu menahan hasrat. Bahkan juga sering dilaporkan perilaku agresif akibat ketidakmampuannya mengelola perubahan hormonal dalam tubuhnya. Hal-hal ini akan menyebabkan kebingungan orang tua dan pendidik remaja dengan autisme, karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi fenomena seksualitas pada remaja dengan autisme.

Tulisan ini akan mengulas mengenai apa dan bagaimana cara memberikan pendidikan seks pada remaja dengan autisme.

Baca lebih lanjut

Selalu Bergerak, Apakah ADHD?

Selalu bergerak – Apakah ADHD?
Oleh Margaretha
Dosen pengajar Psikologi Abnormal
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

ADHD

Banyak orang berpendapat bahwa ADHD identik dengan anak yang banyak bergerak. Padahal tidak selalu demikian. Ada pula anak dengan ADHD yang tidak memunculkan perilaku banyak bergerak dan tidak dapat diam atau tidak disertai dengan hiperaktivitas. Selain itu, yang menjadi gejala utama adalah kesulitannya untuk fokus dan mempertahankan perhatiannya.

Baca lebih lanjut

Bergerak dan berpikir

Penjelasan perspektif Embodied Cognitive Development atas hubungan antara perkembangan gerak dan inderawi dengan kemampuan berpikir anak

Oleh: Margaretha, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Image

Andi berusia 10 tahun, kelas 4 SD. Dengan berat 45kg dan tinggi 130cm, ia terlihat gemuk. Pada beberapa aktivitas gerak, ia sering terlihat kurang luwes. Pada kegiatan olah-raga, sangat tampak kesulitannya dalam menjaga keseimbangan gerak, dan kurang berkembangnya kekuatan otot tubuh serta kekuatan otot tangannya. Selama ini tulisan tangannya dinilai Gurunya kurang rapi, tidak seperti teman-teman seusianya. Walaupun nilai IQnya rata-rata, namun prestasi belajar di sekolahnya kurang optimal, bahkan cenderung pas-pasan. Pada pelajaran llmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) nilainya di bawah rata-rata kelas. Secara sosial, Andi tergolong tidak banyak bicara dan pasif; hanya merespon ajakan interaksi sosial dari rekan sekitarnya namun sangat sedikit inisiatifnya memulai kontak sosial dengan teman-teman sebayanya. Akhir-akhir ini Andi sering mengeluh lelah belajar dan turun motivasi ke sekolah.

Apa yang menyebabkan proses belajar Andi belum optimal? Lalu apa yang bisa dilakukan untuk membantu Andi lebih optimal belajar?

Tulisan ini mencoba menguraikan secara singkat bagaimana perspektif Embodied Cognitive Development menjelaskan kesulitan belajar yang dialami Andi.

Baca lebih lanjut

Setelah Kekerasan

Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Repost 12 September 2012

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://relationshipsadvice.cc/wp-content/uploads/2011/01/domestic-violence.jpg&imgrefurl=http://relationshipsadvice.cc/domestic-violence/&usg=__zradjPlbr5_Hqi2C_0ds8LRClMk=&h=270&w=360&sz=17&hl=nl&start=19&zoom=1&tbnid=RLl49Mu5BWzzmM:&tbnh=91&tbnw=121&ei=-FxCUNaXIcforQft-4DoCg&itbs=1

Seorang laki-laki membujuk berkata: “Maaf, Saya minta maaf, saya tidak akan memukul, meludahi atau menghinamu lagi, tidak akan terjadi lagi”. Si perempuan melihat sambil menangis, memegangi tubuhnya yang masih kesakitan. Perasaannya masih sakit, di dalam pikirannya terbersit harapan semua akan membaik tapi juga muncul perasaan takut jika suatu saat peristiwa kekerasan ini akan terjadi lagi. Baca lebih lanjut