Bergerak dan berpikir

Penjelasan perspektif Embodied Cognitive Development atas hubungan antara perkembangan gerak dan inderawi dengan kemampuan berpikir anak

Oleh: Margaretha, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Image

Andi berusia 10 tahun, kelas 4 SD. Dengan berat 45kg dan tinggi 130cm, ia terlihat gemuk. Pada beberapa aktivitas gerak, ia sering terlihat kurang luwes. Pada kegiatan olah-raga, sangat tampak kesulitannya dalam menjaga keseimbangan gerak, dan kurang berkembangnya kekuatan otot tubuh serta kekuatan otot tangannya. Selama ini tulisan tangannya dinilai Gurunya kurang rapi, tidak seperti teman-teman seusianya. Walaupun nilai IQnya rata-rata, namun prestasi belajar di sekolahnya kurang optimal, bahkan cenderung pas-pasan. Pada pelajaran llmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) nilainya di bawah rata-rata kelas. Secara sosial, Andi tergolong tidak banyak bicara dan pasif; hanya merespon ajakan interaksi sosial dari rekan sekitarnya namun sangat sedikit inisiatifnya memulai kontak sosial dengan teman-teman sebayanya. Akhir-akhir ini Andi sering mengeluh lelah belajar dan turun motivasi ke sekolah.

Apa yang menyebabkan proses belajar Andi belum optimal? Lalu apa yang bisa dilakukan untuk membantu Andi lebih optimal belajar?

Tulisan ini mencoba menguraikan secara singkat bagaimana perspektif Embodied Cognitive Development menjelaskan kesulitan belajar yang dialami Andi.

Baca lebih lanjut

Setelah Kekerasan

Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Repost 12 September 2012

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://relationshipsadvice.cc/wp-content/uploads/2011/01/domestic-violence.jpg&imgrefurl=http://relationshipsadvice.cc/domestic-violence/&usg=__zradjPlbr5_Hqi2C_0ds8LRClMk=&h=270&w=360&sz=17&hl=nl&start=19&zoom=1&tbnid=RLl49Mu5BWzzmM:&tbnh=91&tbnw=121&ei=-FxCUNaXIcforQft-4DoCg&itbs=1

Seorang laki-laki membujuk berkata: “Maaf, Saya minta maaf, saya tidak akan memukul, meludahi atau menghinamu lagi, tidak akan terjadi lagi”. Si perempuan melihat sambil menangis, memegangi tubuhnya yang masih kesakitan. Perasaannya masih sakit, di dalam pikirannya terbersit harapan semua akan membaik tapi juga muncul perasaan takut jika suatu saat peristiwa kekerasan ini akan terjadi lagi. Baca lebih lanjut

Memahami Gangguan Eksibisionistik sebagai Gangguan Penyimpangan Seksual dengan DSM V

Memahami Gangguan Eksibisionistik sebagai Gangguan Penyimpangan Seksual dengan DSM V

 Oleh: Margaretha, Pengajar Mata kuliah Psikologi Abnormal di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Gambar

Gangguan eksibisionistik adalah salah satu gangguan kesehatan mental dimana seseorang menampilkan alat kelaminnya pada orang asing atau orang yang tidak menginginkannya dalam rangka pemuasan kebutuhan seksual. Ketika menunjukkan alat kelaminnya, individu dengan gangguan eksibisionistik berfantasi tentang masturbasi atau melakukan masturbasi, namun tidak disertai usaha melakukan perilaku seksual dengan orang di hadapannya. Gangguan eksibisionistik lebih banyak terjadi pada laki-laki dan korbannya biasanya perempuan, baik anak di bawah umur maupun dewasa, yang sedang lengah. Jika tidak tertangani dengan baik, gangguan eksibisionistik dapat mengganggu kemampuan individu dalam relasi sosial dan relasi intimnya. Oleh karena itu, individu dengan gangguan eksibisionistik perlu mendapatkan bantuan psikologis professional untuk dapat mengelola gangguannya tersebut.

Baca lebih lanjut

Karakteristik sosial anak dengan autisme

Karakteristik sosial anak dengan autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Psikologi Abnormal, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

social behavior

Ketika anak mulai berkembang, proses interaksi sosialnya bukan lagi hanya dengan orang tua, saudara kandung namun juga dengan keluarga besar, tetangga, masyarakat di sekitarnya. Sosialisasi menjadi lebih luas. Bukan hanya dalam keluarga, namun juga berteman dan bermasyarakat. Sosialisasi adalah proses interaksi dengan orang-orang di sekitar  dan menyesuaikan perilaku dengan harapan sosial atau nilai serta norma berperilaku sosial di dalam suatu kelompok. Dalam proses sosialisasi akan terjadi proses belajar, pembentukan sikap serta pemahaman nilai sosial. Salah satu bagian sosialisasi adalah berteman. Dalam perkembangan anak, berteman dengan teman sebaya adalah salah satu tugas perkembangan yang penting dilakukan sejak usia 3 tahun.

Anak dengan spektrum autisme (ASD), sering mengalami kesulitan dalam berteman. Mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, bermain, berinteraksi dengan teman sebaya; dimana hal-hal ini dapat menyulitkan mereka untuk masuk dalam suatu kelompok sosial dan sulit membentuk persabahatan. Baca lebih lanjut