Selalu Bergerak, Apakah ADHD?

Selalu bergerak – Apakah ADHD?
Oleh Margaretha
Dosen pengajar Psikologi Abnormal
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

ADHD

Banyak orang berpendapat bahwa ADHD identik dengan anak yang banyak bergerak. Padahal tidak selalu demikian. Ada pula anak dengan ADHD yang tidak memunculkan perilaku banyak bergerak dan tidak dapat diam atau tidak disertai dengan hiperaktivitas. Selain itu, yang menjadi gejala utama adalah kesulitannya untuk fokus dan mempertahankan perhatiannya.

Mengenali gejala ADHD

ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit and Hyperactivity Disorder atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas.

Dalam ADHD terdapat 3 gejala utama:
1. Gangguan pemusatan perhatian Anak dengan ADHD memiliki kesulitan dalam mempertahankan perhatiannya pada suatu obyek atau aktivitas tertentu. Kesulitan ini bukan disebabkan karena adanya rangsangan luar, namun lebih karena kesulitan anak untuk mengendalikan diri untuk menepis rangsangan luar agar tidak mengganggu fokus perhatiannya. Misalkan, apa yang anak dengar atau lihat di sekelilingnya akan mudah memecah fokus perhatiannya, akibatnya anak akan membutuhkan usaha yang sangat besar untuk mempertahankan perhatiannya.

2. Impulsivitas Impulsivitas adalah kecenderungan bertindak tanpa berpikir atau kurang mempertimbangkan akibat dari perilakunya tersebut. Anak dengan ADHD memiliki kesulitan dalam menghambat respon perilaku mereka (inhibisi), yang bekerja sebagai rem atau kontrol perilakunya. Kemampuan inhibis biasanya berkembang seiring dengan perkembangan usia, namun pada anak dengan ADHD kemampuan mereka ini jauh tertinggal daripada anak-anak seusianya. Misalkan, anak dapat melakukan tindakan yang membahayakan dirinya atau cepat-cepat memulai tugas sebelum benar-benar memahami apa yang harus ia kerjakan.

3. Hiperaktivitas Gejala yang paling tampak dari ADHD adalah gerak yang berlebihan. Misalkan, tidak bisa duduk diam di kursi, dan selalu bergerak sepanjang hari. Sepertinya energi di dalam tubuh si anak sangat berlebih, sehingga tidak ada cara lain bagi mereka selain bergerak untuk mengerahkan energi yang muncul dalam diri mereka. Dibutuhkan banyak energi bagi anak dengan ADHD unuk dapat duduk diam dan tenang.

Perlu dipahami bahwa anak dengan ADHD memiliki derajat keparahan dan bentuk gejala yang dapat berbeda-beda antarasatu dengan yang lain. Ada anak yang gejala khasnya adalah hiperaktivitas, ada pula yang tidak memunculkan gerak berlebihan namun umumnya akan tampak betapa sulitnya bagi anak dengan ADHD untuk mempertahankan fokus. Seringpula ada pemahaman yang salah mengenai kesulitan anak dengan ADHD dalam hal fokus. Ada anak dengan ADHD yang dapat berkonsentrasi pada film atau mainan yang menarik, namun sangat sulit mengerjakan tugas rumah lainnya. Hal ini menyebabkan orang di sekitarnya beranggapan bahwa di anak mampu berkonsentrasi jika ia mau.

Perlu dipahami pula bahwa untuk dapat melakukan fokus perhatian anak akan membutuhkan dorongan yang sangat kuat, atau rangsang yang sangat menarik, dan juga usaha bagi si anak untuk menjaga perhatiannya.

Mengapa terjadi ADHD?

Penelitian penyebab ADHD masih terus berlanjut hingga saat ini untuk mencapai penjelasan dan pengetahuan mengenai ADHD. Ada 2 faktor yang dianggap berperan besar atas kemunculan ADHD: 1) genetik atau keturunan dan lingkungan, dan 2) fungsi otak yang berbeda.

Faktor genetik disinyalir memiliki pengaruh besar pada munculnya ADHD. Orang tua yang menyandang ADHD memiliki resiko mendapatkan anak dengan ADHD lebih tinggi daripada orang tua yang tidak memiliki riwayat ADHD. Lingkungan yang dimaksud di sini bukanlah pola pengasuhan, namun adalah pengaruh lingkungan fisik dan psikologis. Lingkungan fisik dan biologis, misalkan makanan yang dikonsumsi anak, apakah anak pernah mengalami cedera otak atau apakah terjadi komplikasi pada saat kelahiran. Begitupula faktor resiko biologis, seperti apakah ibu merokok pada saat hamil, juga perlu dipertimbangkan. Interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan akan mempengaruhi besaran variasi genetik yang akan termanifestasi dalam gejala ADHD anak.

Dalam pengontrolan perilaku, manusia menggunakan 2 fungsi yg diatur di otak: 1) eksitasi atau aktivasi otak untuk merespon rangsang lingkungan, dan dan 2) inhibisi atau penghambat respon yang berperan dalam pengendalian atau rem perilaku. Pada anak dengan ADHD, fungsi inhibisinya kurang berkembang. Akibatnya sering anak dengan ADHD menunjukkan perilaku impulsif dan kesulitan mengatur perilakunya sendiri.

Akibat yang menyertai gejala ADHD

Bagi anak, gejala ADHD membuatnya mengalami resiko dalam tugas perkembangannya, terutama dalam hal konsep diri yang positif, membangun pengalaman dalam relasi sosial, serta kemampuan penyelesaian tugas akademis. Perilaku terlalu aktif, kecenderungan agresif, sering lupa meninggalkan barang atau merusak barang, adalah gejala perilaku tampak yang menunjukkan pengerahan persoalan keluar atau eksternalisasi. membuat anak-anak dengan ADHD mudah dilabel sebagai anak nakal atau bandel. Label negatif yang terus menerus dilekatkan dapat membuat mereka mengembangkan konsep diri yang negatif. Misalkan, anak yang sering dibilang bandel akan mengembangkan konsep diri negatif, seperti: saya adalah anak bandel karena saya sering membuat orang tua marah.

Konsep diri yang negatif ini justru semakin memperburuk pengembangan kontrol dirinya, karena malah digunakan menjadi alasan mengapa anak sulit berperilaku baik. Misalkan, anak yang memiliki konsep diri anak bandel maka dapat mengembangkan sikap: Mama bilang saya bandel, maka untuk apa saya mematuhi aturan di rumah, kan saya memang sudah tidak bisa diatur. Konsep diri negatif pada akhirnya juga dapat memunculkan problem dengan diri yang diarahkan ke dalam atau internalisasi, seperti berupa: depresi, stress. Anak yang memiliki konsep diri negatif dapat pula mengalami tekanan stress ketika harus berhadapan dengan lingkungannya. Akibatnya anak akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan relasi secara positif dengan orang-orang di sekitarnya. Lebih lanjut, anak dengan gejala ADHD juga terancam mengalami kesulitan menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan kerjanya. Kecenderungan impulsivitas membuatnya rentan salah mengerjakan atau tidak selesai mengerjakan tugas. Akibatnya kegagalan akademis dapat menjadi persoalan yang harus dihadapi anak.

Selain persoalan anak, merawat dan berhadapan dengan anak yang memiliki gejala ADHD juga dapat memberikan tekanan bagi keluarga, baik orang tua dan saudara adik-kakaknya. Tugas pengasuhan yang hanya dipegang oleh Ibu dan kurang mendapatkan dukungan pasangan dan keluarga lain dapatbmembuat Ibu merasa stress atau depresi. Kelelahan dan kesulitan justru akan membuat Ibu kurang optimal mengasuh anak dengan ADHD. Begitupula dengan kakak-adiknya, yang bisa saja merasa keberatan dan tertekan karena merasa harus menerima sikap dan perilaku saudaranya yang sulit dikendalikan karena mengalami ADHD. Belum lagi, jika orang tua menjadi terlalu terfokus pada anaknya yang mengalami masalah ADHD dan cenderung mengabaikan atau berharap anak yang lain mampu mengelola diri secara mandiri tanpa merepotkan orang tua lagi. Jika tidak dipahami, persoalan keluarga dapat muncul dan menghambat pengelolaan masalah anak dengan ADHD di rumah. Hal ini sebaiknya dibicarakan bersama dan dicari solusinya bersama-sama pula agar masing-masing anggota keluarga dapat berproses dalam pengelolaan rumah dengan anak yang memiliki gejala ADHD.

Namun, penting dipahami, bahwa anak dengan gejala ADHD bukan hanya akan membawa serangkaian persoalan. Dengan gejala ADHD, anak juga akan memiliki kekuatan dan kelebihan. Sikap cepat tanggap dan berani akan muncul sebagai kekuatan. Walaupun dilatarbelakangi dengan impulsivitas, namun ia dapat dilihat sebagai anak yang mampu cepat tanggap pada situasi di luar dirinya.

Intervensi dini ADHD

Walaupun kondisi ini tidak bisa disembuhkan, terdapat beberapa tindakan atau penanganan bagi penderita ADHD. Pengobatan di sini berarti tindakan atau strategi untuk membantu mengontrol gejala-gejala ADHD. Tujuannya adalah membantu penderitanya meningkatkan kemampuan sosial, meningkatkan kemampuan dalam belajar/bekerja, meningkatkan rasa percaya diri anak, dan menjaga penderitanya dari tingkah laku yang dapat membahayakan diri sendiri.

Pengobatan bagi penderita ADHD bisa berupa obat-obatan ataupun terapi. Obat- obatan yang sering diberikan oleh dokter biasanya berupa stimulan, yang digunakan untuk membantu mengontrol sikap hiperaktif dan impulsif pada anak, serta membantu meningkatkan fokus atau perhatian. Penanganan berupa terapi (psikoterapi) juga umum diberikan pada penderita ADHD. Terapi yang diberikan bisa berupa pelatihan kemampuan sosial, modifikasi tingkah laku (behavior), dan juga terapi kognitif. Orang tua dan keluarga juga biasanya akan diberikan pelatihan berupa pengenalan terhadap ADHD, cara menghadapi gejala ADHD pada anak, pendekatan-pendekatan yang digunakan, ataupun berupa dukungan bagi orang tua yang memiliki anak penderita ADHD.

Anak dengan ADHD di PAUD atau Taman Kanak-kanak akan tampak sering tertinggal dalam berbagai penugasan karena ia kurang cepat mengerjakannya. Anak akan tertinggal karena ia akan sibuk dengan perilaku lain atau mengganggu temannya, sehingga akhirnya pekerjaannya sendiri tidak selesai. Anak dengan ADHD mungkin juga menunjukkan perilaku agresif mengganggu teman-temannya, seperti memukul atau merusak barang. Guru akan terpancing untuk memberikan hukuman atau hadiah; namun tanpa modifikasi perilaku perubahan perilaku anak dengan ADHD tidak akan bertahan lama.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan Guru untuk mengatasi masalah pemusatan perhatian di kelas (Paternote & Buitelaar, 2010), yaitu:
• Bila Guru bercerita atau memberikan instruksi, Guru perlu berbicara dengan suara keras, volume atau intonasi suara yang berbeda-beda, dan menjaga kontak mata agar menarik perhatian anak untuk memperhatikan.
• Saat mengerjakan tugas, Guru memberikan penekanan kembali atau mengingatkan kembali agar pemusatan perhatian tidak merosot atau hilang.
• Memberikan tugas secara bertahap dengan tujuan bertahap. Agar anak lebih mungkin berhasil dalam mempertahankan perhatiannya. Menggunakan penentu waktu atau timer. Hal ini juga akan mendukung pengembangan pemahaman anak akan waktu dan menunggu.
• Guru dapat menggunakan rangsang auditoris yang menarik sebagai penanda perpindahan dari satu tugas ke tugas yang lain. Misalkan, menggunakan lagu atau irama musik untuk menandakan selesainya satu tugas dan anak diminta untuk bergerak ke tugas lainnya.

Program Kartu Perilaku Baik

Kartu perilaku baik adalah pendekatan modifikasi perilaku yang sering juga disebut sebagai kartu laporan harian atau daily report card. Kartu memiliki manfaat bagi anak dengan ADHD sebagai pendorog ekstra dalam mengerjakan beberapa tugas- tugas tertentu. Dengan kartu perilaku baik, si anak akan mendapatkan penilaian dan penghargaan dari guru atau orangtuanya. Setelah beberapa waktu, kartu perilaku baik akan diganti dengan kartu harian, kemudian kartu mingguan bahkan menjadi kartu bulanan.

Kartu perilaku baik dapat membantu anak dalam belajar berperilaku, seperti:
1. mendengarkan penjelasan Guru
2. mematuhi perintah Guru.
3. Mengangkat tangan sebelum berbicara
4. Menyelesaikan tugas.
5. Bergaul dengan teman secara baik.
Kartu perilaku baik dapat dikombinasikan dengan penguatan atau reward. Jika anak telah berhasil mencapai perilaku baik yang telah ditentukan dan disepakati, maka anak berhak mendapatkan hadiah yang menarik buatnya. Hadiah bisa berupa pujian, makanan dan hal yang menyenangkan bagi anak seperti tamasya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan:
1. tujuan yang ditetapkan harus realistis dan dapat dicapai anak.
2. Tujuan tertuang secara visual dan jelas
3. Perlu dilaksanakan dalam tahap-tahap kecil.
Kartu perilaku baik bukan bertujuan untuk mengatasi masalah belajar, namun hanya digunakan untuk alat membantu pengendalian perilaku di kelas.

Simpulan

Memiliki pengetahuan tentang ADHD adalah dasar untuk memahami seorang anak dengan masalah ini, menerima keadaannya serta menyusun langkah-langkah untuk membantunya. Selain memperhatikan sisi kelemahan anak, pendidik juga perlu memperhatikan kekuatan dan membangun kelebihan anak tersebut. Pendidik juga bisa melakukan program di kelas dan penyesuaian dalam pemberian instruksi. Penting juga untuk melakukan kerjasama dengan orang tua, agar proses membantu dan optimalisasi belajar dan perkembangan anak dapat lebih optimal.

Referensi:
Hands-out Workshop on Autism August 2013. Autism Association of Western Australia.
Paternote, A. & Buitelaar, J. (2010). ADHD: Tanda-tanda, Diagnosis, Terapi serta Penanganannya di Rumah dan di Sekolah. Dialihbahasakan oleh Julia Maria van Tiel. Prenada, Jakarta.

Bergerak dan berpikir

Penjelasan perspektif Embodied Cognitive Development atas hubungan antara perkembangan gerak dan inderawi dengan kemampuan berpikir anak

Oleh: Margaretha, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Image

Andi berusia 10 tahun, kelas 4 SD. Dengan berat 45kg dan tinggi 130cm, ia terlihat gemuk. Pada beberapa aktivitas gerak, ia sering terlihat kurang luwes. Pada kegiatan olah-raga, sangat tampak kesulitannya dalam menjaga keseimbangan gerak, dan kurang berkembangnya kekuatan otot tubuh serta kekuatan otot tangannya. Selama ini tulisan tangannya dinilai Gurunya kurang rapi, tidak seperti teman-teman seusianya. Walaupun nilai IQnya rata-rata, namun prestasi belajar di sekolahnya kurang optimal, bahkan cenderung pas-pasan. Pada pelajaran llmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) nilainya di bawah rata-rata kelas. Secara sosial, Andi tergolong tidak banyak bicara dan pasif; hanya merespon ajakan interaksi sosial dari rekan sekitarnya namun sangat sedikit inisiatifnya memulai kontak sosial dengan teman-teman sebayanya. Akhir-akhir ini Andi sering mengeluh lelah belajar dan turun motivasi ke sekolah.

Apa yang menyebabkan proses belajar Andi belum optimal? Lalu apa yang bisa dilakukan untuk membantu Andi lebih optimal belajar?

Tulisan ini mencoba menguraikan secara singkat bagaimana perspektif Embodied Cognitive Development menjelaskan kesulitan belajar yang dialami Andi.

Baca lebih lanjut

Setelah Kekerasan

Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Repost 12 September 2012

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://relationshipsadvice.cc/wp-content/uploads/2011/01/domestic-violence.jpg&imgrefurl=http://relationshipsadvice.cc/domestic-violence/&usg=__zradjPlbr5_Hqi2C_0ds8LRClMk=&h=270&w=360&sz=17&hl=nl&start=19&zoom=1&tbnid=RLl49Mu5BWzzmM:&tbnh=91&tbnw=121&ei=-FxCUNaXIcforQft-4DoCg&itbs=1

Seorang laki-laki membujuk berkata: “Maaf, Saya minta maaf, saya tidak akan memukul, meludahi atau menghinamu lagi, tidak akan terjadi lagi”. Si perempuan melihat sambil menangis, memegangi tubuhnya yang masih kesakitan. Perasaannya masih sakit, di dalam pikirannya terbersit harapan semua akan membaik tapi juga muncul perasaan takut jika suatu saat peristiwa kekerasan ini akan terjadi lagi. Baca lebih lanjut

Memahami Gangguan Eksibisionistik sebagai Gangguan Penyimpangan Seksual dengan DSM V

Memahami Gangguan Eksibisionistik sebagai Gangguan Penyimpangan Seksual dengan DSM V

 Oleh: Margaretha, Pengajar Mata kuliah Psikologi Abnormal di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Gambar

Gangguan eksibisionistik adalah salah satu gangguan kesehatan mental dimana seseorang menampilkan alat kelaminnya pada orang asing atau orang yang tidak menginginkannya dalam rangka pemuasan kebutuhan seksual. Ketika menunjukkan alat kelaminnya, individu dengan gangguan eksibisionistik berfantasi tentang masturbasi atau melakukan masturbasi, namun tidak disertai usaha melakukan perilaku seksual dengan orang di hadapannya. Gangguan eksibisionistik lebih banyak terjadi pada laki-laki dan korbannya biasanya perempuan, baik anak di bawah umur maupun dewasa, yang sedang lengah. Jika tidak tertangani dengan baik, gangguan eksibisionistik dapat mengganggu kemampuan individu dalam relasi sosial dan relasi intimnya. Oleh karena itu, individu dengan gangguan eksibisionistik perlu mendapatkan bantuan psikologis professional untuk dapat mengelola gangguannya tersebut.

Baca lebih lanjut