“Mencegah lebih baik daripada Mengobati”: Upaya preventif penyalahgunaan zat dari lingkungan terdekat anak

Mencegah lebih baik daripada Mengobati”: Upaya preventif penyalahgunaan zat dari lingkungan terdekat anak

Oleh: Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

IllustrationNarkotika, obat-obatan, rokok dan alkohol banyak yang disalahgunakan baik oleh anak, orang muda maupun dewasa. Bahkan saat ini, beberapa jenis zat sangat mudah ditemukan dan dibeli oleh anak dan remaja di lingkungannya, seperti: di rumah, di sekolah dan di komunitasnya. Bahaya tawaran narkoba mulai mengintai anak dan remaja Indonesia dengan berbagai cara, dari bentuk makanan, mainan, pengaruh teman atau bujuk rayu penjual agar kaum muda terbuai dan turut menyalahgunaan zat. Saat ini, penting bagi orang dewasa di sekitar anak dan remaja mengambil peran untuk menyiapkan mereka ketika menerima tawaran untuk menyalahgunakan zat. Orang tua dan guru perlu menyiapkan anak dan remaja agar mampu menolak penyalahgunaan zat.

Tulisan ini mencoba memahami fenomena penyalahgunaan zat pada anak-remaja, lalu menguraikan apa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dan sekolah dalam mencegah penyalahgunaan zat.

Baca lebih lanjut

Gradasi Kekejian: Tingkat pembunuhan keji menurut Michael Stone (2009)

Gradasi Kekejian: Tingkat pembunuhan keji menurut Michael Stone (2009)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Anatomy of Evil by Michael Stone

Sepanjang sejarah kita telah mendengar berbagai cerita yang begitu keji dilakukan manusia. Kain membunuh saudaranya sendiri Habil; Remus membunuh Romulus; hingga pada abad ini muncul beberapa kasus pembunuhan berantai. Manusia membunuh manusia-manusia lain dengan berbagai cara. Beberapa pelaku melakukannya karena menikmati proses penyiksaan yang dilakukan sebelum membunuh korbannya. Bahkan usaha-usaha menghilangkan korban pun terdengar sangat aneh dan menakutkan, dari cara pembakaran, mutilasi hingga kanibalisme. Mendengarnya pun kita merasakan teror dan ketakutan.

Mengapa seorang manusia bisa melakukan kekejian (evil)? Dalam memahami berbagai perilaku keji yang dilakukan oleh manusia ini, apakah ada tingkat kekejian yang membedakan satu tindakan keji dari yang lain? Tulisan ini akan menguraikan mengapa manusia melakukan kekejian, dan usaha memahami berbagai perilaku kekejian yang diuraikan oleh Michael Stone, seorang Psikiater Forensik yang telah menganalisis kasus kejahatan keji di Amerika Serikat.

Baca lebih lanjut

Apakah hati nurani (conscience)?

Apakah Hati Nurani (conscience)?

Oleh:
Margaretha
Dosen pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

imageBerikut adalah dua cerita.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Amir melihat seorang remaja perempuan yang sedang menawarkan pada orang-orang di jalan untuk menyumbang suatu panti asuhan yang sedang membutuhkan bantuan dana. Si remaja putri, sebagai salah satu anak yang tinggal di panti tersebut, menyampaikan bahwa dana bantuan sangat dibutuhkan untuk memperbaiki panti asuhannya yang sudah bocor dan banyak tempat tidur anak yang mulai rusak. Setiap orang yang lewat akan disapa dan diajak untuk menyumbang. Namun dari sepanjang jalan, Amir melihat tidak ada seorangpun yang mau berhenti untuk menyumbang. Hati Amir tergerak, untuk berhenti dan menyumbang remaja itu. Amir lalu berhenti, berbicara dengan si remaja dengan penuh perhatian, lalu memberikan sumbangan bagi panti asuhan tersebut.

Ibu Ani bekerja membuat nugget ayam dan memasarkannya di pasar-pasar tradisional. Selama ini, ia merasa keuntungannya sangat sedikit. Teman-temannya mengatakan bahwa dengan menggunakan daging ayam yang mulai rusak dan menggunakan ‘blek’ (borax) maka keuntungan akan berlipat-lipat karena bahan baku nugget menjadi jauh lebih murah dan blek membuat nugget tahan lama. Bu Ani tahu bahwa borax dilarang digunakan dalam makanan, namun ia tetap berpikir untuk menggunakan blek agar keuntungannya bertambah. Dalam pikirannya, uang dari menjual nugget sangat dibutuhkannya untuk menyekolahkan anaknya.

Bagaimana pandangan anda ketika membaca dua penggal cerita di atas? Sebagian orang yang membacanya mungkin merasa lega dan senang, ketika membaca Amir akhirnya memutuskan berhenti dan menyumbang, bukannya acuh dan berlalu begitu saja; dan akan kurang senang atau membenci perilaku Ibu Ani yang tidak memperhatikan kesehatan orang lain demi keuntungan pribadi. Apakah menurut anda, Amir melakukan perilaku menyumbang atas dasar hati nurani? Apakah perilaku Bu Ani terjadi karena ia tidak memiliki hati nurani?

Apakah hati nurani itu? Tulisan pendek ini akan mengulas sedikit mengenai hati nurani manusia, lalu bagaimana hati nurani berkembang, serta relevansinya dengan pendidikan anak.
Baca lebih lanjut

Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Pengajar Psikologi Abnormal

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Sexuality and Autism

Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan alamiah yang terjadi pada manusia. Perubahan fisik dan kematangan seksual menjadi salah satu tantangan penting yang terjadi di dalamnya. Tidak terkecuali, bagi remaja dengan autisme.

Sering muncul pemahaman yang salah, bahwa remaja dengan autisme tidak memiliki ketertarikan seksual dan tidak tertarik pada relasi intim. Namun kenyataannya, sama seperti remaja pada umumnya, ketika masuk masa remaja, mereka juga mengalami hasrat dan muncul perilaku seksual. Sama seperti remaja pada umumnya, hal ini terkait dengan perubahan hormon seksual di dalam tubuhnya.

Anak dengan autisme juga mengalami perkembangan kemasakan fisik dan seksual pada masa remaja. Ada sebagian anak dengan autisme yang mengalami hambatan perkembangan minat seksual, namun ada pula yang berkembang seperti anak pada umumnya. Namun yang berbeda adalah, perubahan fisik seksual ini tidak disertai dengan kematangan pemahaman sosio-emosional. Akibatnya, dapat terjadi perilaku seksual yang tidak sesuai dengan aturan sosial sehingga perilaku seksual remaja dengan autisme terlihat menyimpang atau memalukan, misalkan: melakukan masturbasi di tempat umum karena tidak mampu menahan hasrat. Bahkan juga sering dilaporkan perilaku agresif akibat ketidakmampuannya mengelola perubahan hormonal dalam tubuhnya. Hal-hal ini akan menyebabkan kebingungan orang tua dan pendidik remaja dengan autisme, karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi fenomena seksualitas pada remaja dengan autisme.

Tulisan ini akan mengulas mengenai apa dan bagaimana cara memberikan pendidikan seks pada remaja dengan autisme.

Baca lebih lanjut