Perilaku Beresiko Remaja

MENILIK PERILAKU BERESIKO REMAJA:

Tantangan dalam usaha pencegahan dan penanggulangannya

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Apa yang telah kita lakukan pada teman-teman, anak-anak atau keluarga yang telah dicap sebagai anak bermasalah? Anak dan remaja dengan masalah kecanduan, perilaku seks tidak aman, dan remaja yang terkena Human Immuno-deficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS). Anak bermasalah sering dilihat sebagai anak yang retak, seperti barang yang telah rusak. Melihat kerusakan lalu kita mencari cara yang dapat dengan cepat memperbaikinya, berusaha membuatnya utuh lagi. Jika terlalu sulit memperbaiknya, mungkin kita akan cepat menyerah dan berpikir ”toh kalaupun diperbaiki bekas cacatnya akan tetap terlihat”. Rasa enggan cepat menyelimuti pikiran sehingga usaha memperbaiki dilakukan dengan setengah hati. Pada akhirnya, jika usaha memperbaiki dianggap gagal, kita cepat-cepat menyingkirkan barang yang telah rusak di mata kita. Bagaimana selama ini cara kita menghadapi mereka?

Remaja dan perilaku beresiko

Pada masa remaja, perubahan biologis, psikologis, dan sosial terjadi dengan pesat. Hal ini menuntut perubahan perilaku remaja untuk menyesuaikan diri dengan kondisi mereka saat ini. Pada beberapa remaja, proses penyesuaian ini bisa berlangsung tanpa masalah berarti karena mereka berhasil mengenali identitas diri dan mendapat dukungan sosial yang cukup. Kedua hal tersebut penting berperan dalam penyesuaian diri remaja. Namun sebagian remaja yang lain dapat mengalami persoalan penyesuaian diri. Kesulitan penyesuaian diri remaja biasanya diawali dengan munculnya perilaku-perilaku yang beresiko menimbulkan persoalan psikososial remaja baik pada level personal maupun sosial. Di Indonesia diketahui sebagian remaja terlibat dalam perilaku-perilaku beresiko terhadap kesehatan mentalnya, seperti: mengebut dan berakibat kecelakaan; kekerasan/tawuran/bullying; kekerasan dalam pacaran; kehamilan yang tidak direncanakan; perilaku seks beresiko; terkena penyakit menular seksual seperti hepatitis dan HIV-AIDS; merokok dan penyalahgunaan alkohol pada usia dini; penggunaan ganja dan zat-zat adiktif lainnya (untuk lebih detail lihat tabel 1). Perilaku beresiko remaja membuat mereka sering dicap sebagai anak-remaja bermasalah dan akhirnya mereka diperlakukan secara negatif dari lingkungan sosialnya. Perilaku beresiko remaja adalah bentuk perilaku yang dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan (well-being) remaja, bahkan beberapa bentuk perilaku beresiko dapat merugikan orang lain.

Tabel 1. 9 Masalah yang banyak dihadapi remaja Indonesia

Masalah-masalah remaja
  1. Perokok aktif: Perempuan: 0,7%; sedangkan lelaki: 47,0%
  2. Peminum alkohol aktif: perempuan: 3,7%; lelaki: 15,5 %
  3. Lelaki pengguna zat adiksi dihisap: 2,3%; dihirup: 0,3 %; ditelan 1,3%
  4. Pengalaman seksual pada perempuan: 1,3%; lelaki: 3,7%
  5. Lelaki yang memiliki pengalaman seks untuk pertama kali pada usia: <15 tahun: 1,0%; usia 16 tahun : 0,8%; usia 17 tahun: 1,2%; usia 18 tahun: 0,5%; usia 19 tahun: 0,1%
  6. Alasan melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum menikah pada remaja berusia 15-24 tahun ialah: Untuk perempuan alasan tertinggi adalah karena terjadi begitu saja (38,4%); dipaksa oleh pasangannya (21,2%). Sedangkan pada lelaki, alasan tertinggi ialah karena ingin tahu (51,3%); karena terjadi begitu saja (25,8%)
  7. Delapan puluh empat orang (1%) dari responden pernah mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, 60% di antaranya mengalami atau melakukan aborsi
  8. Persentase kasus AIDS pada pengguna napza suntik di Indonesia berdasarkan jenis kelamin, yaitu: lelaki: 91,8%; perempuan: 7,5%; tidak diketahui: 0,7%
  9. Prevalensi kecenderungan gangguan mental-emosional remaja usia 15-24 tahun ke atas (berdasarkan self report questionnaire) menurut karakteristik responden adalah: 8,7%

Sumber: Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007 pada remaja perempuan dan laki-laki berusia 15-19 tahun yang tidak menikah.

Perlakuan negatif pada anak-remaja bermasalah dapat terjadi karena disebabkan pemahaman yang kurang tepat atas perilaku beresiko. Sering perilaku beresiko hanya dilihat sebagai akibat kenakalan remaja semata, akibatnya orang segera mengambil keputusan untuk ”memperbaiki” si remaja bermasalah. Perilaku beresiko remaja yang disebabkan oleh gangguan penyesuaian diri muncul karena dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri remaja (internal) maupun faktor dari luar diri (eksternal).

Faktor internal meliputi: 1) Problem psikologis dan sosial yang sedang dihadapi. Menghadapi masa remaja yang penuh tantangan membuat remaja rentan menghadapi tekanan, akibatnya dapat muncul persoalan psikologis seperti stress dan depresi. Belum lagi jika ditambah remaja dengan kebutuhan khusus dan gangguan psikopatologis. 2) Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak terbiasa mengendalikan diri dan mempertahankan usaha untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, cenderung mudah terlena untuk mendapatkan kenikmatan instant dengan melakukan perilaku beresiko, yang justru pada akhirnya malah menambah persoalan baru.

Beberapa faktor eksternal diantaranya adalah: 1) Persoalan keluarga. Pendidikan nilai yang salah di keluarga, problem komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Hubungan orang tua-anak yang kurang harmonis dan otoriter membuat remaja sulit terbuka menyampaikan persoalan yang dihadapinya pada orang tua, akibatnya anak kesulitan menyelesaikan persoalannya dan terjerumus dalam perilaku beresiko. 2) Pengaruh negatif teman sebaya. Sikap dan perilaku teman sebaya yang negatif juga dapat mempengaruhi perilaku remaja. Upaya remaja untuk dapat diterima di kelompok sebayanya membuat mereka mudah terpengaruh dan sulit menolak ajakan teman, bahkan untuk hal yang dapat merugikan diri atau orang di sekitarnya. 3) Pengaruh negatif komunitas. Kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, komunitas yang acuh dan permisif pada pelanggaran dapat membuat remaja lebih rentan terjerumus dalam perilaku beresiko dan menghambat perkembangan diri remaja.

Dengan  mengetahui berbagai faktor internal dan eksternal mempengaruhi problem remaja, maka penting kita pahami bahwa penanganannya perlu dilakukan secara menyeluruh. Bukan hanya remaja yang ditarget untuk ”dirubah” tapi juga lingkungan sekitarnya yang juga turut mempengaruhi munculnya perilaku beresiko tersebut. Contohnya: perilaku kecanduan yang disebabkan oleh ketidak-mampuan remaja mengelola stress dari problem keluarga dan tekanan sosial dari teman sebaya, maka harus dihadapi dengan cara mengembangkan kemampuan pengelolaan persoalan keluarga dan sikap asertif pada teman sebaya; dan lebih jauh lagi perlu mempertimbangkan pembuatan kebijakan sosial untuk menghadapi persoalan kecanduan di sekolah dan di masyarakat. Karena tidaklah mungkin menghadapi persoalan perilaku beresiko remaja tanpa koordinasi dan kerjasama antar berbagai pihak yang terlibat, dalam hal ini orang-tua dan keluarga, sekolah, lingkungan rumah, serta masyarakat. Pemahaman komprehensif ini selayaknya menjadi dasar cara kita menghadapi perilaku beresiko remaja di masyarakat Indonesia. Apakah anda setuju?

Bagaimana mencegah perilaku beresiko remaja?

Program kesehatan remaja yang telah banyak dilakukan adalah usaha pencegahan perilaku beresiko remaja, terutama tentang perilaku seks beresiko dan penyalahgunaan zat adiktif. Namun program-program ini lebih banyak bergerak dalam pemberian informasi, berupa penyuluhan dan diskusi tentang masalah kesehatan remaja. Penyuluh biasanya berperan sebagai fasilitator dan narasumber informasi. Sering juga terjadi adalah bentuk dan cara penyampaian informasi kesehatan remaja direduksi dan diseleksi sedemikian rupa oleh pihak sekolah atau orang tua agar pemahaman remaja dianggap ”tidak melanggar norma sosial-religius” di masyarakat. Lebih lanjut, isi informasi juga kadang kurang mempertimbangkan tahapan perkembangan psikologis remaja, akibatnya informasi yang diberikan  belum tentu menyentuh kebutuhan dan tantangan kesehatan reproduksi remaja yang sesungguhnya saat ini.

Remaja terjerumus dalam perilaku beresiko seringkali terjadi bukan karena persoalan kurangnya informasi, namun karena remaja melakukan perilaku yang tidak konsisten dengan sikapnya, contohnya: mengetahui bahwa ia belum siap melakukan perilaku seksual namun ketika diminta oleh pacarnya akhirnya melakukan perilaku seksual. Hal ini terjadi bukan karena keterbatasan informasi atau kelemahan kognitif sehingga mereka tidak mampu berpikir tentang alternatif lain, namun lebih dikarenakan keterbatasan pengalaman sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang kurang tepat. Ketersediaan akses dan informasi yang lengkap dapat mempengaruhi keterampilan remaja dalam mengambil keputusan untuk berperilaku sehat. Remaja perlu memahami bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan menghasilkan konsekuensi yang harus ditanggung seumur hidupnya baik secara fisik, psikis dan sosial.

Di era globalisasi ini, akses informasi cukup luas, termasuk informasi tentang berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku beresiko remaja. Oleh karena itu, yang lebih diperlukan oleh remaja bukan sekedar informasi namun lebih penting bagaimana mengembangkan cara-cara pengelolaan diri remaja. Secara personal, program kesehatan remaja dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan pengendalian diri dan perilaku produktif untuk dapat menghadapi perubahan identitas perannya sebagai remaja. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja sebaiknya mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik, atau juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

Selain itu, penting juga mengkondisikan faktor-faktor di luar diri remaja agar dapat mendukung kemampuan pengelolaan diri remaja, seperti, seperti: hubungan dengan orang tua dan teman sebaya. Sebaiknya orangtua juga mau berupaya untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. Pola asuh dan komunikasi orang-tua dan anak diupayakan menjadi lebih berorientasi pada kebutuhan perkembangan remaja, orang-tua akan berperan sebagai support system bagi si remaja sehingga remaja yang merasa aman dan diterima orang-tuanya akan lebih mampu menghadapi tantangan perubahan masa remaja. Dalam hubungan dengan teman sebaya, remaja perlu mengembangkan ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika sikap dan perilaku teman sebaya atau komunitas tidak produktif atau bahkan dapat merugikan diri dan masa depan remaja. Pada umumya, waktu remaja lebih banyak dihabiskan di sekolah, sehingga lingkungan sekolah juga dapat dipandang sebagai tantangan dunia remaja. Maka sistim pendidikan di sekolah perlu menyeimbangkan perkembangan aspek kognitif dan juga aspek kepribadian agar si remaja lebih mampu mengembangkan keterampilan hidup di sekolah. Lebih lanjut, aspek demografis juga perlu diperhatikan karena kebutuhan kesehatan reproduksi remaja di berbagai wilayah di Indonesia juga dapat berbeda karena dipengaruhi oleh aspek sosial, budaya, serta historis-geografis (perkotaan-pedesaan). Maka perlu juga dipertimbangkan pembuatan kebijakan-kebijakan sosial masyarakat yang fokus pada perbaikan keadaan sosial ekonomi secara mikro dan makro. Secara umum, seluruh uraian ini menekankan bahwa pengembangan program kesehatan remaja harus selalu berpijak pada berbagai faktor kontekstual dan aktual remaja yang menjadi target program kesehatan.

Bagaimana menghadapi remaja dengan perilaku beresiko?

Peran semua bagian masyarakat sangat dibutuhkan untuk menghadapi persoalan perilaku beresiko remaja, baik sebagai orang-tua, teman, guru, saudara, atau sebagai individu yang peduli atas persoalan remaja. Sekali lagi, penting dipahami persoalan ini tidak bisa dihadapi dengan cara pendekatan ”memperbaiki” anak rusak, atau menyingkirkan mereka dari lingkungan sekolah, atau mengucilkan mereka dari lingkungan sosial dengan harapan agar remaja lain tidak meniru mereka. Cara-cara tersebut justru akan memperburuk kesehatan dan kesejahteraan remaja yang bermasalah tadi. Selain memperhatikan berbagai faktor internal dan eksternal tadi, adalah tugas kita untuk membantu mereka bangkit dari keterpurukan mereka dengan cara membantu mereka mengembangkan keterampilan hidup (life skills). Beberapa keterampilan hidup yang perlu diolah adalah: pemahaman diri dan kemampuan membuat perencanaan hidup, kemampuan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, kemampuan komunikasi efektif, kemampuan empati dan membangun relasi interpersonal, serta kemampuan pengendalian emosi dan pengelolaan stress.

Keterampilan hidup yang penting dikembangkan adalah kemampuan remaja agar dapat mengenali masalahnya, lalu berpikir untuk dapat mengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukannya dalam mengatasi masalah tersebut. Selanjutnya, perlu dikembangkan pula pengetahuan dan keterampilan remaja agar mampu untuk menjadi individu yang lebih efektif mengatasi kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya, serta meningkatkan kewaspadaan remaja atas persoalan hidup yang mungkin terjadi pada dirinya. Keterampilan-keterampilan hidup ini lebih efektif dikembangkan dalam proses pendampingan, karena hal ini muncul dari proses belajar dan berlatih. Oleh karena itu, peran pendampingan ini selayaknya diberikan oleh orang-orang terdekat remaja seperti orang-tua, guru, dan teman. Seluruh komponen masyarakat juga bersiap mengarahkan remaja untuk dapat keluar dari masalahnya serta menyediakan dukungan mereka untuk pengembangan keterampilan sosialnya. Terakhir, perlu dikembangkan motivasi remaja untuk mencari segera bantuan, baik bantuan familial ataupun profesional jika menghadapi persoalan yang kompleks bagi dirinya, artinya remaja tahu apa dan dimana mencari bantuan bila menghadapi masalah yang tidak dapat mereka kelola secara mandiri. Dalam hal ini peran psikolog, pekerja sosial, psikiater dan berbagai profesi kesehatan mental perlu diberdayakan secara efektif. Dengan cara-cara ini, remaja diberikan kesempatan dan akses seluas-luasnya agar mampu mengembangkan perilaku positif dan produktif di masyarakatnya.

Simpulan

Perilaku beresiko yang banyak dihadapi remaja menghadapkan mereka kepada persoalan psikososial dan kesehatan. Di Indonesia, persoalan perilaku beresiko perlu dicegah dan ditanggulangi dengan program kesehatan remaja yang menyeluruh, terutama untuk mengembangkan faktor internal dan faktor eksternal remaja dalam rangka mencapai pemberdayaan remaja menyesuaikan diri dengan identitas perannya. Program kesehatan remaja tidak cukup hanya sebagai pemberi informasi, namun perlu lebih mengedepankan pengembangan ketrampilan hidup sehat hingga remaja terampil dalam mengembangkan potensi dirinya dan mampu menghadapi persoalan dan tantangan hidupnya. Penanganan remaja yang melakukan perilaku beresiko juga akan melibatkan berbagai pihak, dari orang-tua, sekolah, dan masyarakat terutama dalam meningkatkan keterampilan hidup mereka.

Referensi:

Dekovic, M. (1999). Risk and protective factors in the development of problem behavior during adolescence. Journal of Youth and Adolescence, 28, 667-685.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s