Mediasi dan Moderasi dalam Penelitian Kesehatan Mental

Mediasi dan Moderasi dalam Penelitian Kesehatan Mental

Oleh: Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Penelitian kesehatan mental bergerak melampaui pertanyaan: “apakah suatu intervensi memiliki efektivitas?” menuju ke pertanyaan untuk mengidentifikasi faktor dan proses yang mendasari efek intervensi pada perilaku manusia. Dinamika interaksi proses mediasi dan moderasi dalam intervensi klinis berguna dalam menjelaskan mekanisme perubahan perilaku manusia menuju ke kesehatan mental.

Mediasi dan Moderasi dalam Penelitian Intervensi

Setelah suatu program intervensi dikembangkan, maka penelitian intervensi akan dilakukan; bukan hanya untuk mengetahui apakah program membuahkan pengaruh pada target intervensi namun juga untuk meneliti hal-hal apa yang mendasari terjadinya perubahan hasil intervensi. Penelitian intervensi bertujuan untuk menguji model atau kerangka teoritis yang mendasari pengembangan suatu program intervensi dan memeriksa faktor-faktor yang berperan dalam model intervensi tersebut (Lochman, 2006). Penelitian intervensi dapat mengungkap mediator dan moderator yang terkait dalam model intervensi (Holmbeck, 1997). Van Yperen (2005a; 2005b) menyatakan penting untuk membedakan antara mediator dan moderator karena masing-masing merujuk pada proses dan fungsi yang berbeda. Mediasi adalah mekanisme atau faktor yang menyebabkan, mempertahankan, memperparah problem psikologis (faktor resiko) atau bahkan mencegah keterpurukan problem (faktor protektif). Sedangkan moderasi adalah mekanisme atau faktor yang berinteraksi dengan faktor lain dalam suatu fenomena, dimana hasil interaksinya tersebut dapat merubah arah dan kekuatan hubungan antar faktor. Moderator bisa berupa faktor kualitatif (kualitas atribut seperti gender, status sosio-ekonomi, tingkat pendidikan) maupun faktor kuantitatif (hasil pengukuran seperti usia).

Dalam bidang klinis, mediator dipandang sebagai faktor dinamis yang dapat digunakan sebagai target treatmen untuk mencapai tujuan perubahan intervensi (Hughes, 2000). Contohnya: kajian review oleh Goodman (2007) menemukan bahwa pengaruh negatif depresi orang tua pada persoalan psikologis anak dimediasi oleh pola pengasuhan yang yang disruptif dan pola pengawasan yang kurang konsisten; atau dengan kata lain, psikopatologi orang tua hanya akan mempengaruhi secara negatif pada kesehatan mental anak jika orang tua menerapkan pola pengasuhan yang maladaptif. Maka dalam pengembangan intervensi klinis pada orang tua dengan gejala depresif yang memiliki anak dengan problem psikologis, pola pengasuhan akan menjadi sasaran treatmen yang penting.

Sebaliknya, moderator dilihat sebagai faktor yang relatif stabil, sehingga mungkin tidak dapat dijadikan target perubahan dalam suatu intervensi. Namun moderator tetap perlu diperhatikan dalam proses intervensi, karena interaksinya dengan faktor lain atau dengan mediator akan berperan besar dalam mempengaruhi hasil perubahan suatu intervensi. Oleh karena itu moderator sering digunakan sebagai indikator untuk memprediksi keberhasilan intervensi. Contohnya: dalam kajiannya, Goodman (2007) juga menyebutkan bahwa pengaruh psikopatologi orang tua terhadap problem kesehatan mental anak akan dimoderasi oleh faktor gender; atau dengan kata lain terdapat perbedaan tingkat pengaruh depresi orang tua terhadap problem psikologis anak perempuan dan anak laki-laki. Secara spesifik ditemukan bahwa problem psikologis yang dialami anak perempuan lebih terpengaruh oleh persoalan depresi orang tua dibandingkan problem psikologis yang dirasakan oleh anak laki-laki. Dalam prakteknya, maka seorang ahli klinis perlu memahami pengaruh gender dalam melaksanakan intervensi pada anak dengan problem psikologis yang disebabkan psikopatologis orang tuanya.

Dalam kajian kesehatan mental, riset klinis harus berupaya untuk mengidentifikasi dan menguji efek dan peran mediator dan moderator dalam suatu program intervensi. Penelitian seperti ini penting untuk menjelaskan bagaimana suatu intervensi bekerja dan faktor-faktor apa saja yang berperan dalam mempengaruhi perubahan menuju kesehatan mental. Lebih lanjut pengujian mediasi dan moderasi dapat digunakan untuk dasar masukan pengembangan model intervensi yang lebih optimal dan teruji. Sedangkan pada penerapannya, identifikasi yang jelas antara mediator dan moderator akan membantu ahli klinis untuk membuat prognosis hasil intervensi kesehatan mental (Lochman, 2000; Van Yperen, 2005a). Dalam praktek klinis, keberhasilan intervensi didasari oleh kemampuan ahli klinis dalam memaksimalkan peran mediator (protektif) dan membatasi peran moderator (resiko).

 

Mediasi dan Moderasi dalam Payung Penelitian Kesehatan Mental

Dalam usaha memahami suatu fenomena, sebuah model kerangka penelitian berdasarkan pemahaman teoritis akan dikembangkan sebagai panduan proses kajian. Model kerangka penelitian ini akan tersusun dari berbagai hubungan antar komponen penyusun fenomena dan juga komponen penjelas hubungan seperti faktor mediator dan moderator. Susunan hubungan-hubungan ini akan terjadi secara kompleks dan saling mempengaruhi. Kajian kesehatan mental dibutuhkan untuk mengurai satu-persatu hubungan-hubungan tersebut dan mengujinya secara ilmiah dalam penelitian-penelitian empiris. Namun kajian ini tetap perlu dilakukan secara terpadu untuk mendapatkan gambaran besar dibalik semua asosiasi tersebut. Untuk itu, maka konsep payung penelitian perlu digunakan.

Payung penelitian dapat mengembangkan kerangka model penelitian yang mengampu berbagai kajian atas berbagai asosiasi antar komponen penyusun dan komponen penjelas. Dan masing-masing hubungan tersebut dapat dikaji oleh satu atau beberapa desain penelitian. Oleh karena itu, payung penelitian dapat mengembangkan perencanaan suatu model kerangka penelitian komprehensif dengan menggunakan pemahaman berbagai faktor mediator dan moderator yang terkait. Masing-masing penelitian di bawah payung penelitian akan memberikan kontribusi untuk memberikan pemahaman yang utuh atas suatu fenomena kesehatan mental. Lebih lanjut, payung penelitian juga dapat mengakomodasi terjadinya kajian multiperspektif dan multidisipliner untuk menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh atas suatu fenomena kesehatan mental manusia. Di masa depan, diharapkan lebih banyak kolaborasi penelitian yang dapat dilakukan di bawah payung penelitian kesehatan mental.

Referensi

Goodman, S.H. (2007) Depression in mothers. Annual Review of Clinical Psychology, 3, 107-135.

Holmbeck, G.N. (1997). Toward terminological, conceptual, and statistical clarity in the study of mediators and moderators. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 65, 599-610.

Hughes, J.H. (2000). The essential role of theory in the science of treating children: Beyond empirically supported treatments. Journal of School Psychology, 38, 301-330.

Lochman, J.E. (2000). Theory and empiricism in intervention research: A dialectic to be avoided. Journal of School Psychology, 38, 359-368.

Lochman, J.E. (2006). Translation of research into interventions. International Journal of Behavioral Development, 30, 31-38.

Van Yperen, T. (2005a). Adoption of research findings in practice. Utrecht University.

Van Yperen, T. (2005b). Principles of interventions. Utrecht University.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s