Mitos mengenai Autisme

Margaretha,
sedang mengikuti Workshop Identifikasi dan Intervensi dini Anak dengan Autisme di Autism Association of Western Australia, Perth.
rumah autisme
Ada banyak mitos mengenai Autisme Spektrum Disorder (ASD), berikut adalah beberapa mitos yang mungkin sering atau pernah anda dengar. Dalam tulisan ini akan memberikan sedikit penjelasan yang menunjukkan bahwa mitos-mitos ini salah.
1. ASD adalah gangguan perilaku, emosional atau gangguan mental
ASD adalah gangguan perkembangan yang disebabkan pekembangan otak anak tidak berjalan dengan optimal. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai persoalan perkembangan pada pada individu dengan ASD.
2. Adanya epidemi ASD
Walaupun banyak anak yang terdiagnosa ASD tapi bukan berarti ini adalah epidemi atau ASD didapat melalui penularan. Hal ini terjadi salah satunya adalah karena perubahan dalam sistem pendiagnosaan ASD sehingga deteksi lebih mudah dilakukan. Lebih lanjut, kesadaran masyarakat mengenai ASd juga meningkat sehingga lebih mungkin mendiagnosa ASD lebih dini.
3. Vaksinasi anak menyebabkan ASD
Ada yang menyatakan bahwa ASD disebabkan oleh vaksinasi Rubella (MMR), atau yang lain menyatakan karena efek penggunaan merkuri (thiomersal) yang dulunya pernah digunakan dalam vaksinasi. Namun, tidak ada juga dukungan ilmiah mengenai mitos ini. Penelitian menemukan tidak ada korelasi antara vaksinasi dan ASD.
4. Banyak anak dengan ASD memiliki kemampuan ‘savant’ yang luar biasa
Savant adalah kemampuan dan keahlian spesifik yang luar biasa di atas orang-orang pada umumnya, misalkan: menghapal angka, atau mengkatalogkan obyek. Walau sebagian individu dengan ASD memiliki savant, namun sebagian besar tidak memilikinya.
5. Semua orang dengan ASD adalah sama
Setiap individu dengan ASD bisanya memiliki hambatan dalam melakukan komunikasi, interaksi sosial dan perilaku minat terbatas serta berulang, namun tingkatan dan jenisnya berbeda-beda satu dengan yang lain.
6. Orang dengan ASD tidak merasakan emosi
Anak dengan ASD sangat mampu merasakan emosi, namun mereka mengalami kesulitan untuk menunjukkan atau mengekspresikan emosinya serta mengkomunikasikan emosinya. Namun mereka dapat belajar bagaimana mengenali dan merespon emosi orang lain. Mereka dapat menunjukkan afeksinya namun dengan cara mereka.
7. Orang dengan ASD tidak dapat membangun relasi intim dan mendalam
Kesulitan sosial membuat mereka membangun relasi intim dan mendalam secara berbeda dari orang-orang pada umumnya. Namun, penelitian membuktikan bahwa individu dengan ASD mampu menjalin relasi dekat dengan keluarganya, dapat menjalin persahabatan melalui pengembangan aktivitas dengan minat yang sama.
8. Orang dengan ASD tidak bisa belajar
Nyatanya, anak dengan ASD dapat belajar. Namun orang tua, guru dan orang-orang di sekitarnya perlu memahami gaya dan kemampuan belajar anak. Orang-orang di sekelilingnyalah yang harus membantu menyesuaikan metode belajar dan pengajaran agar sesuai dengan kekuatan berpikir dan belajar anak dengan ASD.
9. Orang dengan ASD tidak mungkin memiliki gangguan lain dalam hidupnya
Individu dengan ASD dapat mengalami persoalan psikologis atau fisik lainnya, misalkan hambatan perkembangan intelektual, epilepsi, atau sindrom kerentanan X (fragile x syndrome). Lebih lanjut, selama masa perkembangannya mereka juga dapat mengalami frustasi dan persoalan emosi lainnya, seperti: stress dan depresi. Sama seperti orang-orang pada umumnya.
10. ASD disebabkan Ibu yang ‘dingin’
Tahun 1967, pernah disebutkan bahwa ASD muncul karena anak diasuh oleh Ibu yang dingin, pengabaian, tidak hangat, tidak memberikan rangsang emosional dan ketidaklayakan pengasuhan. Namun perlu diketahui, ASD juga ditemukan pada relasi orang tua yang mau memberikan kehangatan pada anaknya. Jadi tidak ada bukti yang bisa mendukung mitos ini.
11. ASD dapat disembuhkan atau akan menghilang dengan sendirinya seiring perkembangan usia
ASD tidak hilang seiring perkembangan dan pertambahan usia manusia. Namun anak dengan ASD akan sangat terbantu dalam mengelola gejala gangguannya, jika mendapatkan intervensi dini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan ASD yang mendapatkan intervensi dini akan mengalami perkembangan yang lebih optimal.
Sumber:
Raising Children Network (2013). Myths about ASD. Dibaca dari www.raisingchildren.net.au
Iklan

One thought on “Mitos mengenai Autisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s