Psikologi Moralitas: Mengapa menjadi benar dan salah bisa berujung pada kejahatan (Bagian II)

Psikologi Moralitas: Mengapa menjadi benar dan salah bisa berujung pada kejahatan (Bagian II)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Moral-Emotions-300x260

Marah dan jijik

Marah dan jijik juga tergolong emosi negatif, namun biasanya muncul karena adanya suatu faktor di luar diri. Marah bisa terjadi ketika seseorang tersinggung atas perilaku orang lain, merasa dilanggar/dirugikan, frustasi atau adanya tindakan orang lain yang melanggar standar moral yang dianutnya. Sedangkan perasaan jijik terkait dengan reaksi atas penolakan terhadap sesuatu yang berpotensi menular atau sesuatu yang dianggap ofensif, tidak menyenangkan, serta pelanggaran etika keilahian/kesucian (mengingatkan pada sifat hewan yang dianggap lebih rendah, seperti buang air besar atau barang yang kotor/jorok).

Marah dan jijik bisa menyebabkan orang lebih mungkin terlibat dalam perilaku imoral. Marah tentu saja lebih bisa dipahami dipahami sebagai penyebab munculnya perilaku agresif, menyerang dan merusak. Kemarahan yang tidak dikelola akan menyebabkan orang dapat melakukan pelanggaran atau perilaku buruk. Namun, penelitian juga menemukan bahwa emosi jijik juga bisa menjadi akar emosi yang memunculkan kejahatan. Jijik ditemukan sebagai awal emosi munculnya pengabaian hak orang lain dan merendahkan martabat manusia lain, seperti rasisme dan pelecehan/kekerasan (Vartanian, Trewartha, & Vanman, 2016). Baca lebih lanjut

MUTILASI ALAT KELAMIN PADA PEREMPUAN

MUTILASI ALAT KELAMIN PADA PEREMPUAN

Oleh: Charisma Dian Uswatun Hasanah

Mahasiswa Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Mutilasi alat kelamin, atau yang biasa dikenal dengan istilah sunat, yang dilakukan pada kaum perempuan mungkin masih tabu untuk diperbincangkan, bukan hanya di Indonesia melainkan di beberapa bagian dunia. Hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, dari mulai agama dan budaya. Mutilasi alat kelamin pada perempuan ini masih terjadi di wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Indonesia sendiri menyumbang sebanyak 60 juta pada kasus sunat perempuan ini. Laporan UNICEF menyebutkan, Indonesia berada di peringkat ketiga, setelah Mesir dan Etiopia. Sekitar 200 juta perempuan telah mengalami Female Genital Mutilation (FGM) dan sekitar 3.3 juta perempuan terancam FGM setiap tahunnya; sekitar 44 juta perempuan yang mengalami FGM berusia di bawah 14 tahun (WHO, 2012). Tahukah anda bahwa perlakuan seperti ini dapat dikatakan sebagai kejahatan? Karena tindakan sunat pada perempuan ini tidak memiliki manfaat secara medis maupun tidak diatur didalam agama melainkan memiliki dampak yang negatif, dan biasanya dilakukan ketika perempuan tersebut masih berusia dibawah umur. Hal ini jelas melanggar Hak Asasi Manusia yang dilindungi oleh Negara. Baca lebih lanjut

Menangkap Psikopat (1) Mengenali psikopat dalam kekerasan di relasi intim

Menangkap Psikopat (1)

Mengenali psikopat dalam kekerasan di relasi intim

Margaretha

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

psychopath-face

Reza sudah siap mendapatkan mangsa baru. Sejak bercerai, keluar dari pekerjaan, dan pindah kota, hidupnya masih naik-turun dalam kemarahan diri. Ia telah mencoba meditasi namun belum berhasil membuat moodnya stabil. Lalu, ia berpikir untuk membentuk hidup baru. Ia ingin segera mendapatkan pekerjaan dan lingkungan sosial baru dimana tidak ada orang yang mengetahui sejarah penyimpangan perilakunya. Secara berhati-hati, ia menyusun resume yang sangat meyakinkan dan menutupi segala kesalahan dan perilaku menyimpang yang telah dilakukan sebelumnya. Ia menciptakan image baru sebagai manusia “normal” dan sempurna melalui berbagai aktivitasnya. Namun seiring dengan waktu, ia merasa kurang. Ia membutuhkan atribut sosial yang lebih meyakinkan untuk mendukung image manusia barunya ini. Atribut keluarga akan sangat tepat untuknya saat ini.

Reza mencari calon istri baru di Tinder. Disana ia bertemu seorang perempuan yang memiliki satu anak perempuan yang sangat manis, yang juga menunjukkan ketertarikan padanya. Dalam kepalanya, inilah atribut sosial yang dibutuhkannya. Segera memiliki istri dan anak untuk mendukung image “normal” yang ingin dibentuknya kali ini. Dengan sekali usaha bisa langsung memiliki foto keluarga sempurna, “a perfect picture of family for me”. Reza sebenarnya takut punya anak biologis karena takut si anak akan sama agresif dan kasar seperti dia, yang diyakininya diwarisi dari garis keturunan keluarganya. Menurutnya, memiliki anak ini akan menghindarkan dia dari tanggungjawab atas lahirnya keturunannya yang kasar dan agresif.

Selanjutnya, dengan kata-kata, sikap dan perilaku yang sama seperti ia mendekati mantan istri dan berbagai mantan pacar sebelumnya, Reza mulai mendekati si perempuan baru. Sangat meyakinkan dilakukannya dengan menonjolkan gelar doktor lulusan luar negeri dan kepintarannya dalam menulis dan berbicara di depan umum. Setelah beberapa kali bertemu, ia bergerak cepat membuat komitmen untuk mengikat si perempuan “Gua suka banget sama lo, lo beda dengan mantan gua sebelumnya. Lo paling istimewa karena lo pintar dan sederhana, ga seperti mantan istri dan mantan-mantan gua yang lain. Kita nikah aja segera ya. Gua bakal nafkahin lo dan anak lo. Kita bisa tinggal bersama.”

Setelah membangun relasi pacaran selama beberapa minggu, kata-kata dan sikap mengontrol Reza mulai keluar dan diarahkan ke pasangannya. Sekali lagi, kata-kata yang digunakannya pun sama seperti yang pernah digunakannya untuk mengontrol pasangan-pasangan sebelumnya: “Kalau pakai baju jangan yang ketat dan pendek gitu, kayak perempuan murahan aja. Lo emangnya mau genit sama abang-abang di luar sana? Ga sudi gua badan calon istri gua dilihatin abang-abang kayak perempuan murahan. Dan ga usah genit-genit ngomong sama laki-laki, menurut gua lo udah selingkuh.” Jika pasangannya tidak melakukan persis seperti keinginannya, maka Reza akan berkata-kata kasar pada pasangannya. Kata-kata kasar yang dipilihnya adalah sebutan yang merendahkan perempuan, persis sama seperti kata-kata yang digunakannya untuk menyakiti pasangan-pasangannya yang lalu. Kekerasan emosional pun menjadi sangat intensif.

Sering, setelah menyakiti, Reza akan menyatakan putus dan meninggalkan pasangannya. Selama itu, semua komunikasi akan diputus Reza sehingga pasangannya tidak bisa menghubungi Reza. Namun keesokannya atau beberapa hari kemudian, Reza akan datang kembali dengan menangis meminta maaf dan memohon pasangannya mau menerimanya kembali. Namun masa tenang hanya berjalan beberapa hari, lalu selanjutnya mereka akan mengalami konflik lagi, dan Reza akan melakukan kekerasan emosional lagi pada pasangannya. Siklus kekerasan ini persis sama seperti yang pernah dilakukannya pada pasangan-pasangannya sebelumnya. Baca lebih lanjut

Kontrol, Manipulasi, dan Kekerasan dalam Relasi Intim

Kontrol, Manipulasi, dan Kekerasan dalam Relasi Intim

Oleh: Margaretha

Pemerhati masalah kekerasan dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

emotional-manipulation

Pada kencan ketiga, ditengah-tengah pembicaraan dan diskusi yang sedang terjadi, tiba-tiba Antonius mengatakan, “I love you, you are home to me, will you grow old with me?” Pasangan perempuannya membelalakkan mata, seperti tidak percaya, lalu di kepalanya muncul pikiran betapa cepatnya ini semua terjadi, seperti mimpi. Baru 3 bulan berkenalan, dan 1 bulan ini mulai melakukan kencan, namun sudah kesekiankalinya Antonius melamarnya. Selama ini dia bisa menepis halus lamaran Antonius. Namun selalu dengan meyakinkan, Antonius menyatakan perasaannya dan keseriusannya, bahkan mau mengajak bertemu orang tua dan keluarga satu sama lain. “Kalau kamu mau, bulan depan saya lamar kamu dan kita tunangan di depan orang tua kita”, katanya lagi. Tersipu dan terpesona oleh rayuannya selama ini, walaupun sedikit khawatir dengan sikap Antonius yang mulai posesif, akhirnya si perempuan mengangguk, “I would love that.” Tidak mengantisipasi apa yang akan terjadi, si perempuan mulai masuk dalam serangkaian proses mengontrol, manipulasi dan penuh kekerasan dalam relasi intim mereka. Baca lebih lanjut