Pornografi Mengancam Pribadi, Relasi, dan Komunitas (Bagian II)

Standar kecantikan yang lahir dari industri pornografi

Pornografi merusak komunitas
Komunitas dibangun dari relasi. Pornografi dapat mengikis kemampuan manusia untuk mengelola diri, kesulitan membangun dan mempertahankan relasi, bahkan merusak keluarga. Sebagai akibatnya relasi-relasi yang seharusnya menjadi pondasi dapat hancur dan mengancam keberlanjutan komunitas.

Pornografi adalah ancaman bagi komunitas karena mengikis moral, menghancurkan relasi, serta menciptakan marginalisasi.

Pornografi dan banalisasi kekerasan seksual
Konsumen pornografi perlu memahami asal video yang dinikmatinya. Penelitian oleh Griffith dan kolega (2012) di pusat industri pornografi di Los Angeles, Amerika Serikat terhadap 176 aktris video porno. Mereka menemukan sebagian besar video dibuat secara komersil, dimana aktris melakukannya demi mendapatkan uang (53%), seks (27%), perhatian (16%), serta kesenangan (11%). Namun, ada 1% video dibuat dengan pemaksaan dan kekerasan.

Kenyataannya, tidak semua video porno dibuat secara sukarela. Seorang perempuan bernama Rose Kalemba mengalami penculikan, pemerkosaan dan penganiayaan berat di usia 14 tahun oleh tiga orang laki-laki (Mohan, 2020). Rose diculik, dipukuli, ditusuk, diperkosa selama 12 jam, dan kejadian itu direkam pelaku. Lebih buruknya, beberapa bulan kemudian, ia menemukan video pemerkosaannya (dimana dia dalam keadaan tidak sadar, baju berdarah dan diperkosa) ditayangkan di situs Pornhub. Rose harus berjuang keras meminta Pornhub berhenti menayangkan video tersebut.

Selain kasus Rose, banyak juga video porno yang disebarluaskan di media sosial dengan latar belakang balas dendam (revenge pornography). Seseorang menyebarluaskan rekaman intimnya tanpa persetujuan pasangannya; dan ini dilakukan karena konflik dan niat mempermalukan pasangannya.

Kepekaan kemanusiaan orang yang mengkonsumsi pornografi bisa berkurang. Mereka menikmati pemerkosaan yang jelas-jelas bukan tampilan seks sehat dan normal. Bisa dibayangkan bagaimana sikap dan perilaku seks bisa rusak karena terbiasa menyaksikan tayangan pornografi menyimpang seperti itu. 

Pemerkosaan secara moral adalah salah, bukan seks sehat. Menikmati menyaksikan seks yang dilakukan dengan pemaksaan atau tanpa persetujuan kedua belah pihak (non-consensual) dan disertai kekerasan berpotensi mengakibatkan penyimpangan seksual, terlebih bagi konsumen yang sudah ketergantungan pornografi.

Refleksi: apa yang bisa saya pelajari dari melihat tayangan seks non-consensual?

Pornografi dan marginalisasi
Perlu dipahami, bahwa industri pornografi saat ini melakukan marginalisasi pada perempuan, etnis minoritas dan orang cacat. Sikap pengguna pornografi atas mereka yang termarginalisasi bisa cenderung negatif. Sebagai akibatnya, perilaku buruk bisa dimanifestasikan terhadap orang-orang yang digambarkan marginal ini.

Banyak pornografi menampilkan perempuan sebagai murahan, sangat penurut dan mau melakukan apapun (submissive), bodoh dan mudah dimanipulasi, serta digunakan sebagai obyek seks dan kekerasan. Melalui pornografi,  pengguna laki-laki bisa mengembangkan sikap yang salah tentang perempuan dan akhirnya melakukan perilaku yang merendahkan perempuan.

Mereka berpandangan bahwa perempuan “sejati” adalah perempuan yang harus siap dikendalikan seutuhnya oleh pasangannya (misalkan, perempuan yang tidak bisa diatur akan dikenakan kekerasan verbal atau dapat ditinggalkan karena dianggap tidak kompeten menjadi perempuan). Perempuan juga akan dituntut harus selalu tampil cantik dan seksi serta siap melayani (seperti yang digambarkan di pornografi).

Perempuan adalah obyek seks (misalkan, sering bercanda dan berkomentar kotor tentang bagian tubuh perempuan, berperilaku yang mengobyektifikasi perempuan sebagai pemuas seks tanpa melihat pribadinya sebagai manusia) maka harus bisa memuaskan pasangannya. Jika perempuan tidak bisa memuaskan pasangannya, dengan mudah perempuan bisa dibuang dan mencari ganti perempuan baru (seperti perempuan di pornografi yang bisa diganti atau jika bosan mencari video baru).

Orang dari kelompok etnis minoritas (berkulit hitam atau dari negara berkembang/negara miskin) dan memiliki kecatatan juga digambarkan sebagai orang dari kelompok yang lebih lemah, mudah dimanipulasi dan bodoh, serta submissive. Sebagai akibatnya, pengguna pornografi yang mengakses tayangan yang melibatkan marginalisasi kelompok minoritas dan cacat bisa mengembangkan sikap dan perilaku yang melemahkan mereka.

Cara pandang negatif yang didapat dari pornografi ini bisa diaktualisasi baik secara sadar atau tidak disadari oleh pengguna pornografi. Namun, biasanya orang di sekitarnya, atau pasangannya bisa mengenali sikap dan perilaku negatif ini.

Pornografi menciptakan standar kecantikan fantasi
Dalam kepala konsumen pornografi, perempuan bisa menjadi “piala”. Namun, agar layak dijadikan piala, perempuan perlu tampak menggairahkan, seksi; harus memenuhi kriteria menarik secara seksual bagi kebanyakan laki-laki. Pornografi bisa membentuk standar kecantikan perempuan. 

Kriteria kecantikan pornografi dikembangkan dari stimulus super-normal, maka bisa bertransformasi menjadi fantasi yang tidak realistis, “seks akan memuaskan jika dilakukan dengan perempuan yang selalu muda, cantik, menuruti perintah, selalu siap memuaskan dan sebagainya”.

Pasangan yang menua atau tidak seperti gambaran kecantikan di pornografi, menjadi tidak menarik. Ilusinya adalah untuk berhubungan seks dengan perempuan yang selalu muda. Jika kriteria-kriteria fantasi tersebut tidak ditemukan di pasangannya saat ini, maka konsumen pornografi lebih mungkin mencari fantasinya di tempat lain.

Berbagai cara bisa dilakukan, perselingkuhan dengan perempuan yang mendekati fantasinya, atau mau mewujudkan fantasi seksualnya, atau mengakses prostitusi, atau menggunakan sex doll. 

Sayangnya, hal-hal ini mengikis kemampuan seseorang untuk membentuk relasi antar manusia yang bermakna dalam jangka panjang (kesulitan membangun komitmen), dan pada kelanjutannya akan mempengaruhi keberlanjutan komunitas kita.

Pornografi dan eksploitasi manusia
Salah satu dokumenter di Netflix “Hot girls wanted” (2015) menunjukkan sisi lain dari gemerlap industri pornografi dan fantasi gairah yang mereka jual. Image yang ingin dijual: pornografi dilakukan secara profesional. Kenyataannya, banyak video porno dibuat dengan mengeksploitasi manusia. 

Dokumenter menunjukkan bahwa gadis remaja bisa digiring dan akhirnya terjerumus ke industri pornografi amatir di Miami, Amerika Serikat. Remaja dibujuk masuk dan dieksploitasi dalam industri pornografi, dengan menggunakan rasa ingin tahu dan ingin bersenang-senang, rasa bersalah dan keterlanjuran, dan juga ketertarikan pada uang.

Dengan teknologi media sosial, hal ini bisa dilakukan dengan lebih mudah. Dari posting foto seksi di media sosial, hingga terlibat dalam pembuatan video porno hardcore (Bershire, 2015). Remaja lebih mudah dimanipulasi dan dieksploitasi untuk memproduksi video porno karena kurang pengalaman serta kurang mampu bersikap asertif. Ini terjadi di seluruh dunia.

Pornografi juga meningkatkan permintaan akan penjualan manusia – human trafficking (Luzwick, 2017). Kebiasaan mengkonsumsi pornografi berisi kekerasan dan eksploitasi dapat membuat konsumennya terbiasa dengan seks menyimpang; lalu ingin mengalami apa yang dilihatnya (melakukan seks menyimpang). Perilaku seks menyimpang ini sering dikenai pada orang yang dikendalikan di pasar penjualan manusia, terutama perempuan dan anak (Luzwick, 2017). Ketika penjualan manusia menjadi lebih subur, artinya komunitas kita melemah karena tidak mampu melindungi manusia.

Apakah ada dampak positif pornografi?
Sebuah penelitian oleh Diamond dan kolega (2010) di Republik Ceko membandingkan jumlah kasus kekerasan seksual di masa kepemilikan pornografi dinyatakan illegal (sebelum 1989), dan setelah kepemilikan pornografi dilegalkan (1989-2007). 

Mereka menemukan terjadi penurunan jumlah kasus kekerasan seksual ketika kepemilikan pornografi dilegalkan; bahkan kasus kekerasan seksual anak turun ketika pornografi melibatkan anak (child pornography) dilegalkan. Mereka berargumen, bahwa pornografi menjadi substitusi kekerasan seksual; maka usulannya adalah melegalkan pornografi, termasuk pornografi anak (selama tidak melibatkan anak, atau hanya menggunakan obyek anak artificial).

Temuan menarik, tapi tidak tepat. Secara kritis perlu dipahami bahwa penelitian yang hanya membandingkan jumlah kasus di dua waktu berbeda (dengan menggunakan metode statistik t-test) ini tidak bisa menjelaskan hubungan sebab-akibat. Perbedaan antara dua masa bisa disebabkan oleh banyak faktor, yang belum diteliti oleh riset ini. Misalkan: apakah terjadi penguatan regulasi dan hukuman atas kekerasan seksual, atau peningkatan pemahaman tentang kekerasan seksual; hal-hal ini bisa membuat orang menghindari melakukan kekerasan seksual. Oleh karena itu, simpulan riset ini tidak bisa dijadikan dasar legalisasi pornografi, apalagi pornografi anak.

Bisnis pornografi juga pernah diklaim memperkuat kesetaraan gender. Beberapa aktris menyampaikan bahwa mereka merasa lebih berdaya ketika bekerja di dunia ini, karena bisa mengekspresikan diri dan seksualitasnya secara terbuka. 

Dalam industri ini, bayaran aktris bisa lebih besar daripada aktor, sehingga perempuan di industri ini merasa lebih berdaya dibandingkan bekerja di bidang lain (red: riset menemukan gaji perempuan lebih rendah dari laki-laki di banyak sektor kerja lainnya). Bahkan beberapa atlet perempuan mau meninggalkan lapangan olah raga untuk menjadi bintang film porno karena tergoda bayaran yang sangat tinggi (Syihabuddin, 2020).

Pornografi juga dianggap oleh sebagian orang sebagai sumber belajar seksualitas. Namun, jika lebih dari 40% pornografi dibuat berisi kekerasan dan penyimpangan seksual, apakah sungguh video porno bisa menjadi sumber belajar seksualitas yang sehat dan proporsional?

Sebaiknya, kita perlu sungguh-sungguh mempertimbangkan ulang peran pornografi dalam hidup modern kita. Apakah dampak positif pornografi sungguh bermakna jika dampak negatif yang harus kita tanggung atas pribadi, relasi dan komunitas sangat merusak?

Di Jepang, di saat sebagian kaum mudanya merasa kesulitan dan kurang berminat membangun relasi intim dengan manusia lain (lebih tertarik pada seks dari porno-industri seperti manga, video porno, assisted sex service dan sex doll), maka jumlah keluarga yang dibangun menjadi jauh berkurang. Dampaknya jumlah anak atau regenerasi penduduk berkurang drastis. Jika pertambahan penduduk senior jauh lebih banyak daripada jumlah kelahiran/anak, artinya masyarakat masa depan bisa beresiko mengalami penurunan perkembangan sosio-ekonomi karena jumlah manusia usia produktif lebih sedikit, serta sumber daya yang ada akan terfokus untuk merawat generasi senior. Hal ini bisa menjadi ancaman keberlangsungan komunitas.

Simpulan
Pornografi telah memiskinkan seksualitas konsumennya, terutama laki-laki sebagai target konsumen terbesar pornografi saat ini.

Konsumen pornografi dikondisikan untuk terus mengakses seks bahkan untuk kebutuhan emosional non-seksual yang seharusnya didapat dari membangun relasi afektif dengan pasangannya.

Seks dikejar sebagai pelampiasan nafsu yang mengandalkan kuantitas bukan kualitas. Akibatnya, seks menjadi miskin, hambar tanpa keterhubungan emosional yang seharusnya menjadi dasar aktivitas seks bersama pasangan. Pada titik tertentu, bisa mengganggu relasi intim bersama pasangan, menghambat terbentuknya keluarga, bahkan merusak keluarga yang seharusnya menjadi pondasi komunitas. Pornogafi memiliki andil dalam menggerus komunitas.
Terlepas baik dan buruk dampak pornografi, sebaiknya seseorang perlu melakukan refleksi diri ketika menggunakan layanan pornografi agar tidak terhanyut dalam konsumsinya.

Perilaku menonton pornografi secara rutin dan disertai dengan masturbasi ditemukan sangat beresiko merubah cara pandang terhadap seks, perilaku seks dan tuntutan seks terhadap pasangan. Konsumsi pornografi seperti ini beresiko memunculkan ketergantungan pornografi (porn addiction) dan adiksi seks (sex addiction).

Jika dirasakan dampak negatif mulai muncul dan mengganggu kendali diri serta relasi, sebaiknya individu segera mencari bantuan profesional untuk menghentikan ketergantungannya pada pornografi.


Bersambung di tulisan Pendidikan seks mencegah ketergantungan pornografi, bukan penyangkalan.

Penulis: Margaretha
Pengajar Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Sedang menempuh studi lanjut di the University of Melbourne dalam bidang Kesehatan Mental.

Tulisan ini diinspirasi dari proyek dan documenter dari Brain Heart World (https://brainheartworld.org) yang berjuang untuk mempromosikan pemahaman bahaya dampak pornografi di masa sekarang. Brain Heart World disusun oleh Fight The New Drug.

Tulisan ini juga dipublikasi di Kompasiana oleh penulis sebagai blog pribadinya.


Referensi:

Berkshire, G. (2015). “Sundance Film Review: ‘Hot Girls Wanted'”. Variety. Diakses Februari 2021.

Brain Heart World (2020). How porn affects brain, relationships and the society. Diakses Januari 2021 dari brainheartworld.org

Diamond, M., Jozifkova, E., & Weiss, P. (2010). Pornography and sex crimes in the Czech Republic. Archives of Sexual Behavior. Diakses dari http://www.hawaii.edu/PCSS/biblio/articles/2010to2014/2010-porn-in-czech-republic.html pada Februari 2021.

Fight the new drugs (2020). How many people are on porn? Diakses Januari 2021 dari fightthenewdrug.org

Gottman (2016). An open letter to porn. Diakses pada Januari 2021 dari gottman.com

Griffith, J.D., Adams, L.T., Hart, C.L. & Mitchell, S. (2012) Why Become a Pornography Actress?, International Journal of Sexual Health, 24, 165-180, Doi: 10.1080/19317611.2012.666514

Grubbs, J.B., Wright, P.J., Braden, A.L., Wilt, J.A., & Kraus, S.W. (2019). Internet pornography use and sexual motivation: A systematic review and integration. Annals of International Communication Association, 43, 117-155.

Mohan, M. (2020). “I was raped at 14, and the video ended up on a porn site”. British Broadcasting Corporation. 10 February 2020. Retrieved 8 March 2020.

Israelsen-Hartley, S. (2015). The porn talk works: If parents dislike porn, kids will to. Diakses pada Januari 2021 di washingtontimes.com

Kimball, T.G. (2020). Why pornography is so powerfully addictive. Diakses pada Januari 2021 di thedoctorweighsin.com

Love, T., Laier, C., Brand, M., Hatch, L., & Hajela, R. (2015). Neuroscience of internet pornography addiction: A Review and update. Behavioral Sciences, 5, 388-423.

Luzwick, A. J. (2017). Human trafficking and pornography: Using the Trafficking Victims Protection Act to prosecute trafficking for the production of Internet pornography. Northwestern University Law Review, 112, 355.

Mestre-Bach, G., Blycker, G.R., & Potenza, M.N. (2020). Pornography use in the setting of the COVID-19 pandemic. Journal of Behavioral Addiction,  9, 181-183. Doi: 10.1556/2006.2020.00015. PMID: 32663384.

Netflix (2015). Hot girls wanted. Documentary films.

Paul. B. & Shim, J.W. (2008). Gender, sexual affect, and motivations for internet pornography use. International Journal Sex Health, 20, 187-199.

Rasmussen, E.E., Ortiz, R.R. & White, S.R. (2015). Emerging Adults’ Responses to Active Mediation of Pornography During Adolescence. Journal of Children and Media, 9, 2, 160-176. Doi: 10.1080/17482798.2014.997769

Solano, I., Eaton, N.R., & O’Leary, K.D. (2020). Pornography consumption, modality and function in a large internet sample. Journal of Sex Research, 57, 92-103.

Syihabuddin, M.K. (2020). Pembalap hingga pesepak bola, 4 atlet wanita ini jadi bintang film porno. Diakses dari indosport.com pada Februari 2021.

Vice (2015). Interview with Rashida Jones on her porn documentary “Hot girls wanted” di youtube.com. Diakses Februari 2021.

Weiss, R. (2016). All about porn-induced erectile dysfunction. Diakses Januari 2021 di huffpost.com

Your Brain on Porn (2020). Diakses Januari 2021 di yourbrainonporn.com

Zattoni, F., Gl, M., Soligo, M. (2020). The impact of COVID-19 pandemic on pornography habits: A global analysis of Google Trends. International Journal of Impotence Research. doi.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s