Pornografi Mengancam Pribadi, Relasi, dan Komunitas (Bagian I)

https://www.psypost.org/2020/09/pornography-use-is-linked-to-depression-and-anxiety-primarily-among-those-who-morally-disapprove-of-it-58121

Semakin banyak persoalan relasi yang terjadi, baik dengan diri sendiri, juga antar pribadi, seperti antar kekasih, suami-istri, bahkan antara manusia di dalam komunitas. 

Biasanya, saya mencoba memahami persoalan satu-persatu, serta faktor-faktor unik yang mempengaruhi kondisi masing-masing. 

Namun, setelah melihat dan membaca berbagai riset tentang pornografi, saya memahami, bahwa ketergantungan pornografi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya persoalan pribadi dan antar pribadi. 

Salah satu ancaman di kehidupan modern dan global ini adalah pornografi. Pornografi dapat merusak kemampuan individu menjalin koneksi/keterhubungan dengan manusia lain yang menjadi tulang punggung lahirnya keluarga dan komunitas. Artinya, pornografi beresiko menghancurkan pribadi, relasi dan komunitas kita.

Pornografi adalah supernormal stimulus
Pada tahun 2016, dilaporkan sekitar 92 milyar video porno di tonton, dan tahun 2018 naik menjadi lebih dari 109 milyar video dari satu situs pornografi bernama Pornhub (Fight the new drugs, 2020). Tahun 2019, akses pornografi di Pornhub terhitung sekitar 5,8 milyar jam. Pada saat ini, pornografi adalah bagian hidup manusia modern.

Pornografi adalah gambar, media, tulisan yang membangkitkan rangsangan seksual. Secara khas, pornografi akan menampilkan stimulus seksual dibuat secara berlebih-lebih (lebih intensif, lebih lama, lebih kuat, lebih bervariasi, disertai dengan fantasi yang mungkin sulit dilakukan oleh pasangan tipikal). 

Tampilan seksual berlebih-lebih ini dibuat dengan edit dan rekayasa tertentu, atau seks yang ditampilkan adalah tidak alamiah, tidak sebenarnya. Pornografi adalah stimulus supernormal (supernormal stimulus) yang sangat menarik bagi manusia kebanyakan.

Tahun 1950an, peneliti Nikolaas Tinbergen melihat di alam, ada burung betina yang lebih memilih mengerami telur yang besar dan warna yang lebih cantik-menonjol walaupun itu bukan telur miliknya; bahkan akhirnya si burung meninggalkan telur miliknya yang warnanya kurang bagus dan tidak dierami. Si burung lebih memilih merawat dan mengasuh (caring and parenting) telur yang supernormal.

Lalu, Tinbergen melakukan eksperimen dampak stimulus supernormal pada perilaku kawin kupu-kupu. Ia membuat kupu-kupu kertas dengan warna yang kuat menonjol, lalu menaruhnya di antara kupu-kupu jantan dan betina. 

Ia menemukan bahwa kupu-kupu jantan beramai-ramai lebih memilih kawin dengan kupu-kupu kertas dengan warna yang menonjol dan mengabaikan kupu-kupu betina alami yang ada di sekitarnya. Kupu-kupu jantan lebih memilih supernormal stimulus untuk kawin (mating).

Melanjutkan dari riset Tinbegern ini, peneliti Deirdre Barrett menyimpulkan stimulus supernormal adalah versi stimulus yang dilebih-lebihkan sehingga memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk memunculkan respon/perilaku instingtual jika dibandingkan dengan kemampuan stimulus alami/normal. Dampak penggunaan stimulus supernormal adalah stimulus normal menjadi kurang/tidak diminati.

Inilah yang terjadi dengan pornografi, dimana seks digambarkan secara berlebih-lebih sehingga menarik minat manusia yang menontonnya. Stimulus seks supernormal akan lebih kuat pengaruhnya untuk memunculkan respon seksual bagi yang menontonnya. 

Jika konsumsi pornografi dilakukan secara rutin, akhirnya seks alamiah tidak lagi menjadi menarik dan orang akan lebih memilih mengkonsumsi stimulus super pornografi.

Pornografi telah menciptakan porno-industri. Porno tidak lagi hanya dinikmati dalam bentuk cerita, media dan gambar, namun juga diciptakan berbagai peralatan seks (sex tools/toys) dan boneka seks (sex dolls). Semuanya menawarkan stimulus supernormal dalam memancing respon seksual manusia.

Pada masa kini, stimulus supernormal telah digunakan dalam merubah perilaku makan (junk food adalah stimulus super karena dibuat lebih kuat rasa asin/manis/gurih untuk memunculkan ketagihan pada rasa kuat seperti itu).

Kecantikan (operasi plastik adalah cara manusia membuat bagian tertentu tubuhnya seperti hidung atau payudara menjadi stimulus supernormal agar menarik minat orang lain melihatnya).

Industri hiburan (gambaran drama kehidupan yang dibuat-buat/berlebih-lebih menjadi digemari untuk ditonton), video games (games yang menampilkan kekerasan yang dilebih-lebihkan agar menarik dan meningkatkan adrenalin), dan masih banyak lagi.

Apakah kita sadar telah menjadi konsumen stimulus supernormal? Bagaimanakah dampaknya pada diri anda?

Pornografi masa pandemi
Dalam masa pandemi global ini, tingkat karantina dan pembatasan interaksi sosial menciptakan perasaan kesepian, isolasi dan stress; sebagai akibatnya konsumsi pornografi meningkat tajam. 

Pornhub sebagai salah satu situs pornografi terbesar melaporkan mengalami peningkatan penggunaan secara global sekitar 11% dari Februari ke Maret 2020 (Mestre-Bach dkk., 2020). 

Di negara-negara dimana situs pornografi bisa diakses secara gratis ditemukan peningkatan penggunaan yang signifikan berkisar 4-24% di tahun 2020 (Mestre-Bach dkk., 2020).

Akses pornografi biasanya dilakukan sebagai bagian dari masturbasi (Solano, Eaton, & O’Leary, 2020). 

Faktor kepribadian juga bisa mempengaruhi penggunaan pornografi intensif, misalkan, tingkat konsumsi pornografi yang tinggi lebih dilakukan orang yang tergolong pencari sensasi, memiliki ketertarikan terhadap pengalaman emosi seksual (ada yang sangat menyukai – erotophilia, ada juga yang takut menghindari – erotophobia), dan memiliki ciri narsisisme (Grubbs dkk., 2019; Zattoni dkk., 2020).

Selain itu, konsumsi pornografi juga dilakukan untuk memunculkan hasrat seksual dan dalam rangka memperkuat aktivitas seksual, atau juga karena bosan sehingga mencari hal baru di pornografi (Zattoni dkk., 2020). 

Orang-orang yang mengalami stress juga bisa memilih mengkonsumsi pornografi secara berlebih, dimana pornografi digunakan sebagai cara cepat untuk mengalihkan perasaan tidak nyaman yang tengah dirasakannya (Paul & Shim, 2008).

Dari berbagai data di atas, dapat kita lihat bahwa berbagai tantangan dan tekanan hidup yang meningkat di masa pandemi ini membuat sebagian orang memilih untuk mengkonsumsi pornografi, bahkan bisa jadi secara berlebihan. Konsumsi pornografi secara berlebihan dapat merusak diri, relasi intim yang kita bangun, bahkan juga berdampak pada kehidupan bermasyarakat.

Pornografi merusak pribadi
Mayoritas pengguna pornografi adalah laki-laki, namun perempuan pengguna pornografi juga semakin bertambah (di tahun 2016 tercatat 68% laki-laki dan 13,6% perempuan). 

Pornografi juga diakses oleh anak, dimana 93% anak laki-laki dan 62% anak perempuan melaporkan pertama kali melihat pornografi di masa remaja awalnya (sekitar 11-15 tahun). Di masa kini, dimana pornografi semakin mudah diakses lewat handphone dan tablet, bahkan gratis, usia pertama kali anak melihat pornografi menjadi lebih muda, sekitar 11 tahun (Fight The New Drug, 2020)

Melihat stimulus supernormal akan berpotensi mengalami ketergantungan atau kecanduan. Jika usia pertama kali melihat pornografi sangat muda, maka kemampuan kendalinya masih lemah; sebagai akibatnya, pengguna muda akan menjadi lebih beresiko berkembang menjadi orang yang ketergantungan/kecanduan pornografi atau memiliki kebiasaan merusak yang bertahan sepanjang hidup (life-long toxic habit).

Penelitian neurosains menemukan bahwa bagian otak yang aktif ketika orang menyaksikan pornografi mirip dengan aktivitas otak orang yang sedang kecanduan alkohol, kokain dan nikotin (Love dkk., 2015; Your brain on porn, 2020). Inilah yang membuat menonton pornografi beresiko memunculkan gangguan ketergantungan pornografi (porn addict) dan kecanduan seks (sex addict).

Kecanduan pornografi akan muncul dalam beberapa bentuk:

1.Penggunaan pornografi dilakukan secara berlebihan, bahkan individu mulai merasa tidak bisa mengendalikan diri dalam konsumsi pornografi.

2.Penggunaan pornografi mulai merusak fungsi hidup sehari-hari lainnya, seperti bekerja, sekolah, lalai pada tugas dan tanggungjawabnya.

3.Pengguna terus mengkonsumsi pornografi walaupun mengalami persoalan sebagai dampak kecanduannya tersebut, misalkan mulai muncul permasalahan fisik – kurang mampu merawat diri, psikologis – depresi atau stress, sosial – persoalan pernikahan.

Pecandu pornografi juga akan selalu mencari stimulus baru (video baru, artis baru, model/gaya baru) untuk memenuhi tuntutan kecanduannya.

Pornografi merusak relasi
Pasangan suami istri yang dikenal sebagai konselor pernikahan, John dan Julia Gottman (2016) menyatakan bahwa salah satu faktor yang ditemukan merusak komitmen relasi dan pernikahan adalah pornografi. 

Pornografi adalah stimulus supernormal yang membuat seks normal malah menjadi tidak menarik lagi. 

Mereka menyatakan, jika salah satu pasangan mengkonsumsi rutin pornografi yang disertai dengan masturbasi, hal ini dapat mengakibatkan menurunnya frekuensi seks dan kepuasan pernikahan pada kedua pihak pasangan.

Pasangan Gottman menguraikan bahwa pornografi dapat merusak keintiman dalam relasi antar pasangan dengan 4 cara (Gottman, 2016). 

Pertama, keintiman adalah cara pasangan berkomunikasi dan saling terhubung. Tapi jika salah satu terikat/ketergantungan dengan pornografi yang disertai dengan masturbasi, maka si pengguna pornografi akan mengurangi/menghindari interaksi intim dengan pasangan alaminya. Kelamaan, orang yang tergantung denton pornografi akan lebih memilih masturbasi dengan bantuan pornografi daripada intim dengan pasangannya.

Kedua, ketika menonton pornografi, pengguna memegang kendali atas pengalaman seksualitasnya (memulai, mengakhiri seks dikontrol oleh keinginan pribadi). Hal ini berbeda dengan pengalaman seksual bersama pasangan, dimana kendali pengalaman seksual dilakukan bersama. Akibatnya, pengguna pornografi memiliki ide yang salah/tidak realistis, bahwa seks harus berada dalam kendalinya. Dampaknya, pasangan dapat merasa tidak terlibat/tidak dilibatkan dalam aktivitas seks bersama. Pengguna pornografi menjadi tidak peka terhadap kebutuhan pasangannya.

Ketiga, pengguna pornografi cenderung berpikir secara salah bahwa pasangannya harus selalu segera siap melayaninya secara seksual (sebagaimana digambarkan dalam pornografi, seks bisa instant tanpa ada awalan atau pertimbangan perasaan atau kondisi pribadi pasangan). Padahal dalam relasi berpasangan, untuk bisa mengalami keintiman perlu kondisi perasaan yang positif yang harus diupayakan oleh bersama. Misalkan, ketika marah/sedih, pasangan normal akan sulit bisa intim, alamiahnya keintiman perlu diperjuangkan bersama dengan upaya memperbaiki relasi lalu kembali bisa melakukan keintiman dan interaksi seksual. Tapi pada orang yang ketergantungan pornografi, pasangannya yang perasaannya sedang marah/sedih dan tidak bisa intim denganya justru menjadi tidak menarik, sulit dan menyebalkan, lalu ia akan lebih memilih mengganti keintiman dengan pasangan alaminya menjadi masturbasi dengan pornografi atau sex doll.

Keempat, pengguna pornografi merasionalisasi bahwa penggunaan pornografinya harus diterima oleh pasangannya karena ia tidak selingkuh dengan orang lain. Sebagai akibatnya, jika konsumsi pornografi selalu disertai dengan masturbasi, kelamaan keinginan untuk intim bersama pasangan akan perlahan hilang dan tergantikan dengan pornografi dan peralatan porno (sex tools/sex doll) sebagai stimulus supernormal.

Menurut Gottman, sebenarnya jika pornografi digunakan secara proporsional oleh pasangan untuk membangun komunikasi sehat tentang seks dan mengembangkan kehidupan seks pernikahan, maka pornografi bisa memberikan dampak positif dalam kehidupan berpasangan. 

Namun menurut mereka, kenyataannya hal seperti ini jarang bisa terjadi. Pornografi adalah stimulus supernormal, dimana konsumsi pornografi yang sering dan disertai dengan masturbasi justru ditemukan lebih banyak menghancurkan kualitas dan kuantitas keintiman antar pasangan.

Pengguna pornografi pun ditemukan bisa mengalami disfungsi seksual (pada laki-laki disfungsi ereksi – erectile dysfunction) ketika bersama pasangan alaminya, tapi tidak jika mengkonsumsi pornografi (Weiss, 2016). 

Pornografi membuat penggunanya semakin kehilangan kedekatan emosional dengan pasangannya, bahkan pada titik tertentu, ia bisa menggangap tidak membutuhkan pasangannya. Kehilangan keintiman dan keterhubungan inilah yang damat memunculkan  perilaku bermasalah dalam relasi intim.

Beberapa persoalan relasi yang ditemukan terkait dengan pornografi seperti: kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran pasangan, perselingkuhan, rendahnya kepuasan pernikahan, depresi dan persoalan psikologis lainnya, serta perceraian. Inilah dampak buruk pornografi pada relasi.

Bersambung di Bagian II

Penulis: Margaretha
Pengajar Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Sedang menempuh studi lanjut di the University of Melbourne dalam bidang Kesehatan Mental.

Tulisan ini diinspirasi dari proyek dan dokumenter dari Brain Heart World yang berjuang untuk mempromosikan pemahaman bahaya dampak pornografi di masa sekarang. Brain Heart World disusun oleh Fight The New Drug.

Tulisan ini juga dipublikasi oleh penulis di blog Kompasiana yang dikelolanya secara pribadi.

Referensi:

Fight the new drugs (2020). How many people are on porn? Diakses Januari 2021.

Gottman (2016). An open letter to porn. Diakses pada Januari 2021.

Grubbs, J.B., Wright, P.J., Braden, A.L., Wilt, J.A., & Kraus, S.W. (2019). Internet pornography use and sexual motivation: A systematic review and integration. Annals of International Communication Association, 43, 117–155.

How porn affects brain, relationships and the society. Diakses Januari 2021 dari https://brainheartworld.org/

Israelsen-Hartley, S. (2015). The porn talk works: If parents dislike porn, kids will to. Diakses pada Januari 2021.

Kimball, T.G. (2020). Why pornography is so powerfully addictive. Diakses pada Januari 2021.

Love, T., Laier, C., Brand, M., Hatch, L., & Hajela, R. (2015). Neuroscience of internet pornography addiction: A Review and update. Behavioral Sciences, (5), 388-423.

Mestre-Bach, G., Blycker, G.R., & Potenza, M.N. (2020). Pornography use in the setting of the COVID-19 pandemic. Journal of Behavioral Addiction,  9, 181-183. Doi: 10.1556/2006.2020.00015. PMID: 32663384.

Paul. B. & Shim, J.W. (2008). Gender, sexual affect, and motivations for internet pornography use. International Journal Sex Health, 20, 187-199.

Rasmussen, E.E., Ortiz, R.R. & White, S.R. (2015). Emerging Adults’ Responses to Active Mediation of Pornography During Adolescence. Journal of Children and Media, 9, 2, 160-176. Doi: 10.1080/17482798.2014.997769

Solano, I., Eaton, N.R., & O’Leary, K.D. (2020). Pornography consumption, modality and function in a large internet sample. Journal of Sex Research, 57, 92-103.

Weiss, R. (2016). All about porn-induced erectile dysfunction. Diakses Januari 2021.

Your Brain on Porn (2020). Diakses Januari 2021.

Zattoni, F., Gl, M., Soligo, M. (2020). The impact of COVID-19 pandemic on pornography habits: A global analysis of Google Trends. International Journal of Impotence Research.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s