Penanganan Autisme

Penanganan Autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Pengajar Psikopatologi, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Dari Buku Patient-Based Approaches to Cognitive Neuroscience oleh Martha J. Farah & Todd E. Feinberg (Eds.).

ses1

Autisme adalah gangguan seumur hidup. Tidak ada “obat” yang menghilangkan autisme, tetapi ada banyak treatment efektif yang telah dikembangkan selama ini untuk penanganan gejala autisme. Treatment autisme yang tepat, tidak hanya akan mengurangi gejala tetapi juga meningkatkan fungsi hidup individu dengan autisme secara keseluruhan.

Tulisan ini akan menguraikan 2 pendekatan besar yang banyak digunakan dalam penangan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder; ASD), yaitu pendekatan Perilaku dan Psikofarmakologi. Tulisan ini bertujuan memberikan pemahaman menganai apa yang dapat diharapkan dari pendekatan perilaku dan medis dalam penanganan autisme.

Baca lebih lanjut

Identifikasi Gejala Klinis dan Karakteristik Spektrum Autisme

Identifikasi Gejala Klinis dan Karakteristik Spektrum Autisme

Margaretha

Dosen Psikopatologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

getty_rf_photo_of_boy_on_beach

Anak dengan autisme memiliki hambatan dalam komunikasi sosial dan minat yang terbatas dan keterpakuan pada rutin (APA, 2013). Hambatan-hambatan ini terkait dengan 2 gejala klinis: 1) gejala hambatan komunikasi sosial, 2) minat terbatas dan perilaku berulang; serta 3 karakteristik unik, yaitu: 3) karakteristik pemrosesan informasi yang menunjukkan kesulitan dalam excutive function, theory of mind dan central coherence; 4) karakteristik sensoris; dan 5) karakteristik motoris. Pendekatan interventif dini pada anak dengan autisme perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan gejala klinis dan karakteristik spektrum autisme yang khas pada masing-masing anak. Bukan hanya menarget gejala klinis sebagai fokus intervensi, namun intervensi ASD juga perlu mempertimbangkan karakteristik unik ASD agar intervensi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak. Tulisan ini menguraikan 3 karakteristik unik spektrum autisme dan relevansinya dalam pendekatan intervensi dini pada anak dengan autisme.

  Baca lebih lanjut

Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Pengajar Psikologi Abnormal

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Sexuality and Autism

Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan alamiah yang terjadi pada manusia. Perubahan fisik dan kematangan seksual menjadi salah satu tantangan penting yang terjadi di dalamnya. Tidak terkecuali, bagi remaja dengan autisme.

Sering muncul pemahaman yang salah, bahwa remaja dengan autisme tidak memiliki ketertarikan seksual dan tidak tertarik pada relasi intim. Namun kenyataannya, sama seperti remaja pada umumnya, ketika masuk masa remaja, mereka juga mengalami hasrat dan muncul perilaku seksual. Sama seperti remaja pada umumnya, hal ini terkait dengan perubahan hormon seksual di dalam tubuhnya.

Anak dengan autisme juga mengalami perkembangan kemasakan fisik dan seksual pada masa remaja. Ada sebagian anak dengan autisme yang mengalami hambatan perkembangan minat seksual, namun ada pula yang berkembang seperti anak pada umumnya. Namun yang berbeda adalah, perubahan fisik seksual ini tidak disertai dengan kematangan pemahaman sosio-emosional. Akibatnya, dapat terjadi perilaku seksual yang tidak sesuai dengan aturan sosial sehingga perilaku seksual remaja dengan autisme terlihat menyimpang atau memalukan, misalkan: melakukan masturbasi di tempat umum karena tidak mampu menahan hasrat. Bahkan juga sering dilaporkan perilaku agresif akibat ketidakmampuannya mengelola perubahan hormonal dalam tubuhnya. Hal-hal ini akan menyebabkan kebingungan orang tua dan pendidik remaja dengan autisme, karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi fenomena seksualitas pada remaja dengan autisme.

Tulisan ini akan mengulas mengenai apa dan bagaimana cara memberikan pendidikan seks pada remaja dengan autisme.

Baca lebih lanjut

Karakteristik sosial anak dengan autisme

Karakteristik sosial anak dengan autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Psikologi Abnormal, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

social behavior

Ketika anak mulai berkembang, proses interaksi sosialnya bukan lagi hanya dengan orang tua, saudara kandung namun juga dengan keluarga besar, tetangga, masyarakat di sekitarnya. Sosialisasi menjadi lebih luas. Bukan hanya dalam keluarga, namun juga berteman dan bermasyarakat. Sosialisasi adalah proses interaksi dengan orang-orang di sekitar  dan menyesuaikan perilaku dengan harapan sosial atau nilai serta norma berperilaku sosial di dalam suatu kelompok. Dalam proses sosialisasi akan terjadi proses belajar, pembentukan sikap serta pemahaman nilai sosial. Salah satu bagian sosialisasi adalah berteman. Dalam perkembangan anak, berteman dengan teman sebaya adalah salah satu tugas perkembangan yang penting dilakukan sejak usia 3 tahun.

Anak dengan spektrum autisme (ASD), sering mengalami kesulitan dalam berteman. Mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, bermain, berinteraksi dengan teman sebaya; dimana hal-hal ini dapat menyulitkan mereka untuk masuk dalam suatu kelompok sosial dan sulit membentuk persabahatan. Baca lebih lanjut