MUTILASI ALAT KELAMIN PADA PEREMPUAN

MUTILASI ALAT KELAMIN PADA PEREMPUAN

Oleh: Charisma Dian Uswatun Hasanah

Mahasiswa Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Mutilasi alat kelamin, atau yang biasa dikenal dengan istilah sunat, yang dilakukan pada kaum perempuan mungkin masih tabu untuk diperbincangkan, bukan hanya di Indonesia melainkan di beberapa bagian dunia. Hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, dari mulai agama dan budaya. Mutilasi alat kelamin pada perempuan ini masih terjadi di wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Indonesia sendiri menyumbang sebanyak 60 juta pada kasus sunat perempuan ini. Laporan UNICEF menyebutkan, Indonesia berada di peringkat ketiga, setelah Mesir dan Etiopia. Sekitar 200 juta perempuan telah mengalami Female Genital Mutilation (FGM) dan sekitar 3.3 juta perempuan terancam FGM setiap tahunnya; sekitar 44 juta perempuan yang mengalami FGM berusia di bawah 14 tahun (WHO, 2012). Tahukah anda bahwa perlakuan seperti ini dapat dikatakan sebagai kejahatan? Karena tindakan sunat pada perempuan ini tidak memiliki manfaat secara medis maupun tidak diatur didalam agama melainkan memiliki dampak yang negatif, dan biasanya dilakukan ketika perempuan tersebut masih berusia dibawah umur. Hal ini jelas melanggar Hak Asasi Manusia yang dilindungi oleh Negara. Baca lebih lanjut

Iklan

Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian II)

Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian II)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Helping-Hand

Siapa pahlawan?

Selain itu, Allison dan Goethals (2011, dalam Goethals, 2012) melakukan riset tentang siapa sajakah pahlawan bagi hidup masyarakat saat ini di Amerika Serikat. Sekitar 450 orang dewasa, usia 18-72 tahun memberikan respon yang menarik, yang secara umum dibagi menjadi 3 kelompok pahlawan, yaitu: pahlawan familial, pahlawan nyata di masyarakat, dan pahlawan fiksi.

Pahlawan familial atau berasal dari keluarganya sendiri, biasanya adalah orang tua atau orang yang lebih tua yang membantu anggota keluarga yang lebih lemah. Hal ini dilaporkan oleh sekitar 32% responden. Keutamaan pahlawan familal berupa bantuan emosional, finansial dan juga kesempatan untuk melakukan pengembangan diri. Hal ini dapat dipahami, bahwa walaupun sifat kepahlawanan adalah prososial universal, namun mereka akan lebih berupaya untuk membantu anggota keluarganya sendiri. Dalam psikologi evolusi, hal ini sesuai dengan teori seleksi familial (kin selection), dimana menyelamatkan anggota keluarga atau orang dengan hubungan sedarah akan diutamakan dalam rangka mempertahankan genetik agar tetap dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Baca lebih lanjut

Analisa Profil Kriminal: Tommy Lynn Sells (#2)

Analisa Profil Kriminal: Tommy Lynn Sells

Sayyidah Nuriyah, Indriswara Detary, Nailil Karomah, Mery Retrofita, & Naventa Audinata

Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 tumblr_nqxrih8eJj1uuvfgno2_r1_1280.jpg

Apakah ini kejahatan?

Actus reus

Actus reus tidak hanya meliputi tindakan jahatan, tetapi juga meliputi semua elemen kejahatan lainnya selain dari pemikiran (state of mind) terdakwa. Perilaku kejahatan ini harus bersifat sengaja (terdakwa yang dinyatakan bersalah karena melakukan tindakan kejahatan dengan sengaja). Berdasarkan asal dari actus reus-nya, menurut Elliott dan Quinn (2012) kejahatan dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Tindakan kejahatan: bentuk aksi kejahatan tersebut dan tidak memperdulikan konsekuensi.
  • State of affairs crimes (keadaan kriminal): keadaan, dan kadang juga mencakup konsekuensi, tapi bukan perilaku (lebih ke menjadi suatu kejahatan, bukan melakukan suatu kejahatan)
  • Hasil kejahatan: harus ada hasil dari kejahatan yang dilakukan terdakwa

Berdasarkan kasus Tommy Lynn Sells actus reus dari kasus ini dapat terlihat dengan jelas dimana tindakan kejahatan tersebut berupa Sells masuk kerumah tanpa ijin dari pemilik rumah dan melakukan pembunuhan terhadap Kaylene ‘Katy’ Harris (13 tahun) dengan cara menggorok leher 2 kali dan menusuknya 16 kali dan merobek pakaiannya. Selain itu, Sells juga berusaha untuk membunuh Krystal Surles (10 tahun) dengan cara yang sama yaitu menggorok lehernya karena Krystal melihat kejadian tersebut yang pada saat itu ia sedang berada satu kamar dengan Katy. Hasil dari kejahatan tersebut adalah terbunuhnya Katy dan Krystal harus mendapat perawatan dirumah sakit, selain itu juga perusakan jendela yang dilakukan oleh Sells ketika hendak meninggalkan rumah (Carson, 2014). Baca lebih lanjut

CRIMINAL PROFILLING: TOMMY LYNN SELLS (#1)

CRIMINAL PROFILLING TOMMY LYNN SELLS

Oleh: Innayah Tiara Jelita, Andini Damayanti, Arifah Rasyidayanti, Luthfah Naily, & Erizza Farizan

Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 quote-i-don-t-know-what-love-is-two-words-i-don-t-like-to-use-is-love-and-sorry-because-i-tommy-lynn-sells-92-15-21

KASUS

Pembunuhan ini berawal dari Tommy Lyn Sells yang memasuki rumah keluarga Harris lewat jendela kamar Justin. Saat itu, Justin masih terbangun dan akhirnya pindah ke kamar lain, yaitu ke kamar Katy dan Krystal. Sebenarnya, Sells tidak menyadari keberadaan Krystal pada awalnya karena Krystal bersembunyi di bawah tempat tidur. Sebelumnya Krystal memang menyadari ada orang yang masuk dan langsung bersembunyi (CBS News, 2009). Baca lebih lanjut