Kekerasan Seksual Anak terhadap Anak: Menangani Pelaku Kekerasan Seksual Dibawah Umur

Kekerasan Seksual Anak terhadap Anak: Menangani Pelaku Kekerasan Seksual Dibawah Umur

Oleh: Mega Pertiwi

Mahasiswa Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

 

 

Kekerasan pada anak merupakan sebuah fenomena yang sering terdengar di telinga masyarakat dan saat ini sedang menjadi sorotan publik. Tercatat sekitar 1 milyar anak-anak di dunia dengan rentang usia 2-17 tahun pernah mengalami kekerasan pada tahun 2016. Kekerasan terhadap anak seringkali disebut sebagai kekerasan berbasis pada umur. Bentuknya sendiri cukup beragam, seperti kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan penelantaran yang berimbas pada manipulasi emosi, tindakan pengancaman bahkan kekerasan seksual.

Kekerasan seksual menjadi salah satu bentuk kekerasan anak yang banyak dijumpai. Hal ini dudukung oleh Laporan American Academy of Paediatrics (2016) dalam Global Prevalence of Past-Year Violence Against Children: A Systematic Review and Minimun Estimates pada tahun 2016. Dari data yang berhasil dihimpun, terlihat bahwa 40% anak-anak pernah mengalami kekerasan fisik sedikitnya satu kali dalam setahun dan salah satunya meliputi kekerasan seksual. Pada bulan September 2016, World Health Organization juga melaporkan bahwa 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 13 laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual pada saat anak-anak/remaja dan 12% anak-anak di dunia mengalami kekerasan seksual setahun terakhir. Jumlah peningkatan ini terjadi terutama di kawasan Asia. Baca lebih lanjut

Iklan

MUTILASI ALAT KELAMIN PADA PEREMPUAN

MUTILASI ALAT KELAMIN PADA PEREMPUAN

Oleh: Charisma Dian Uswatun Hasanah

Mahasiswa Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Mutilasi alat kelamin, atau yang biasa dikenal dengan istilah sunat, yang dilakukan pada kaum perempuan mungkin masih tabu untuk diperbincangkan, bukan hanya di Indonesia melainkan di beberapa bagian dunia. Hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, dari mulai agama dan budaya. Mutilasi alat kelamin pada perempuan ini masih terjadi di wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Indonesia sendiri menyumbang sebanyak 60 juta pada kasus sunat perempuan ini. Laporan UNICEF menyebutkan, Indonesia berada di peringkat ketiga, setelah Mesir dan Etiopia. Sekitar 200 juta perempuan telah mengalami Female Genital Mutilation (FGM) dan sekitar 3.3 juta perempuan terancam FGM setiap tahunnya; sekitar 44 juta perempuan yang mengalami FGM berusia di bawah 14 tahun (WHO, 2012). Tahukah anda bahwa perlakuan seperti ini dapat dikatakan sebagai kejahatan? Karena tindakan sunat pada perempuan ini tidak memiliki manfaat secara medis maupun tidak diatur didalam agama melainkan memiliki dampak yang negatif, dan biasanya dilakukan ketika perempuan tersebut masih berusia dibawah umur. Hal ini jelas melanggar Hak Asasi Manusia yang dilindungi oleh Negara. Baca lebih lanjut

Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian II)

Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian II)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Helping-Hand

Siapa pahlawan?

Selain itu, Allison dan Goethals (2011, dalam Goethals, 2012) melakukan riset tentang siapa sajakah pahlawan bagi hidup masyarakat saat ini di Amerika Serikat. Sekitar 450 orang dewasa, usia 18-72 tahun memberikan respon yang menarik, yang secara umum dibagi menjadi 3 kelompok pahlawan, yaitu: pahlawan familial, pahlawan nyata di masyarakat, dan pahlawan fiksi.

Pahlawan familial atau berasal dari keluarganya sendiri, biasanya adalah orang tua atau orang yang lebih tua yang membantu anggota keluarga yang lebih lemah. Hal ini dilaporkan oleh sekitar 32% responden. Keutamaan pahlawan familal berupa bantuan emosional, finansial dan juga kesempatan untuk melakukan pengembangan diri. Hal ini dapat dipahami, bahwa walaupun sifat kepahlawanan adalah prososial universal, namun mereka akan lebih berupaya untuk membantu anggota keluarganya sendiri. Dalam psikologi evolusi, hal ini sesuai dengan teori seleksi familial (kin selection), dimana menyelamatkan anggota keluarga atau orang dengan hubungan sedarah akan diutamakan dalam rangka mempertahankan genetik agar tetap dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Baca lebih lanjut

Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian I)

Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian I)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 

So each of us may possess the capacity to do terrible things. But we also posses an inner hero; if stirred to action, that inner hero is capable of performing tremendous goodness for others (Phillip Zimbardo).

2

Siapa pahlawan? Ada yang menjawab, adalah mereka yang meninggal karena menyelamatkan orang lain dari kebakaran. Ada yang menjawab, adalah mereka yang cacat karena menyelamatkan orang dari kecelakaan; adalah mereka yang yang merubah dunia dengan ide dan alat yang dibuatnya, atau mereka yang mampu melawan godaan dan tekanan sosial korupsi. Ada juga yang dianggap pahlawan karena tindakan bunuh diri yang dilakukannya di tengah kerumunan demi nilai yang dibelanya. Ditengah-tengah berbagai cerita tentang tindakan kepahlawanan, maka tulisan ini disusun untuk mencoba menjawab tentang apa, siapa, dan jenis kepahlawanan (bagian 1), lalu uraian tentang bagaimana persepsi dan dampak kepahlawanan (bagian 2).

Baca lebih lanjut