Kontrol, Manipulasi, dan Kekerasan dalam Relasi Intim

Kontrol, Manipulasi, dan Kekerasan dalam Relasi Intim

Oleh: Margaretha

Pemerhati masalah kekerasan dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

emotional-manipulation

Pada kencan ketiga, ditengah-tengah pembicaraan dan diskusi yang sedang terjadi, tiba-tiba Antonius mengatakan, “I love you, you are home to me, will you grow old with me?” Pasangan perempuannya membelalakkan mata, seperti tidak percaya, lalu di kepalanya muncul pikiran betapa cepatnya ini semua terjadi, seperti mimpi. Baru 3 bulan berkenalan, dan 1 bulan ini mulai melakukan kencan, namun sudah kesekiankalinya Antonius melamarnya. Selama ini dia bisa menepis halus lamaran Antonius. Namun selalu dengan meyakinkan, Antonius menyatakan perasaannya dan keseriusannya, bahkan mau mengajak bertemu orang tua dan keluarga satu sama lain. “Kalau kamu mau, bulan depan saya lamar kamu dan kita tunangan di depan orang tua kita”, katanya lagi. Tersipu dan terpesona oleh rayuannya selama ini, walaupun sedikit khawatir dengan sikap Antonius yang mulai posesif, akhirnya si perempuan mengangguk, “I would love that.” Tidak mengantisipasi apa yang akan terjadi, si perempuan mulai masuk dalam serangkaian proses mengontrol, manipulasi dan penuh kekerasan dalam relasi intim mereka. Baca lebih lanjut

Peran Keluarga Sebagai Kunci Dalam Intervensi Kenakalan Remaja

Oleh: Meutia Ikawidjaja

Mahasiswa peserta Mata Kuliah Psikologi Forensik
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

2Akhir-akhir ini kenakalan remaja menjadi hal yang tidak asing lagi bagi kita. Banyaknya pemberitaan mengenai kenakalan remaja yang terjadi, mulai dari tindak kekerasan, pencurian, kelompok remaja, penyerangan, tawuran pelajar, penggunaan obat terlarang dan alkohol serta berbagai bentuk lain yang melanggar hukum. Di Jakarta, Kapolda Metro Jaya mencatat terjadi peningkatan kasus kenakalan remaja dari 30 kasus di tahun 2011 menjadi 41 kasus di tahun 2012 yaitu sebesar 37% (WBP, 2012). Pada tahun yang sama di DI Yogyakarta juga terjadi peningkatan menjadi 135 kasus kenakalan remaja (Sugiarto, 2012). Selama tahun 2013 dan 2014 sejumlah kenakalan remaja juga masih ramai diberitakan. Salah satu kasus kenakalan remaja yang cukup banyak diberitakan adalah kelompok remaja Brasmada. Baca lebih lanjut

“Mencegah lebih baik daripada Mengobati”: Upaya preventif penyalahgunaan zat dari lingkungan terdekat anak

Oleh: Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya
Disampaikan pada Seminar Anti Narkoba Gepenta Jatim 27 November 2014

IllustrationNarkotika, obat-obatan, rokok dan alkohol banyak yang disalahgunakan baik oleh anak, orang muda maupun dewasa. Bahkan saat ini, beberapa jenis zat sangat mudah ditemukan dan dibeli oleh anak dan remaja di lingkungannya, seperti: di rumah, di sekolah dan di komunitasnya. Bahaya tawaran narkoba mulai mengintai anak dan remaja Indonesia dengan berbagai cara, dari bentuk makanan, mainan, pengaruh teman atau bujuk rayu penjual agar kaum muda terbuai dan turut menyalahgunaan zat. Saat ini, penting bagi orang dewasa di sekitar anak dan remaja mengambil peran untuk menyiapkan mereka ketika menerima tawaran untuk menyalahgunakan zat. Orang tua dan guru perlu menyiapkan anak dan remaja agar mampu menolak penyalahgunaan zat.

Tulisan ini mencoba memahami fenomena penyalahgunaan zat pada anak-remaja, lalu menguraikan apa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dan sekolah dalam mencegah penyalahgunaan zat.

Baca lebih lanjut