“Mencegah lebih baik daripada Mengobati”: Upaya preventif penyalahgunaan zat dari lingkungan terdekat anak

Oleh: Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya
Disampaikan pada Seminar Anti Narkoba Gepenta Jatim 27 November 2014

IllustrationNarkotika, obat-obatan, rokok dan alkohol banyak yang disalahgunakan baik oleh anak, orang muda maupun dewasa. Bahkan saat ini, beberapa jenis zat sangat mudah ditemukan dan dibeli oleh anak dan remaja di lingkungannya, seperti: di rumah, di sekolah dan di komunitasnya. Bahaya tawaran narkoba mulai mengintai anak dan remaja Indonesia dengan berbagai cara, dari bentuk makanan, mainan, pengaruh teman atau bujuk rayu penjual agar kaum muda terbuai dan turut menyalahgunaan zat. Saat ini, penting bagi orang dewasa di sekitar anak dan remaja mengambil peran untuk menyiapkan mereka ketika menerima tawaran untuk menyalahgunakan zat. Orang tua dan guru perlu menyiapkan anak dan remaja agar mampu menolak penyalahgunaan zat.

Tulisan ini mencoba memahami fenomena penyalahgunaan zat pada anak-remaja, lalu menguraikan apa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dan sekolah dalam mencegah penyalahgunaan zat.

Apa arti penyalahgunaan zat?

Dalam membahas penyalahgunaan zat, ada beberapa hal yang perlu dipahami, yaitu:

  1. penggunaan zat (subtance use): zat digunakan untuk tujuan tertentu sesuai peruntukannya, misalkan: minum alkohol pada saat pesta. Pada tahap awal ini, penting agar orang mencegah penggunaan menjadi penyalahgunaan.
  2. penyalahgunaan zat (subtance abuse): zat digunakan secara salah, jumlah yang berlebihan dan tidak sesuai dengan peruntukannya, misalkan: merokok mulai usia kanak-kanak. Inilah yang beresiko menjadi persoalan.
  3. toleransi (tolerance): untuk menghasilkan efek zat tertentu, jumlah zat yang diperlukan terus bertambah, misalkan: agar efek menenangkan dalam sehari 1 batang rokok tidak lagi cukup, sehingga harus menghisap 12 batang rokok.
  4. gejala kemunduran (withdrawal symptoms): ketika zat tidak digunakan lagi, maka muncul perasaan tidak nyaman, kesakitan secara fisik, misalkan: tiba-tiba tidak minum kopi, maka badan terasa sakit semua dan tidak mampu fokus serta lemas.
  5. kecanduan atau ketergantungan (addiction): gejala penyalahgunaan yang disertai dengan toleransi dan gejala kemunduran, dan juga menyebabkan gangguan pada fungsi hidup sehari-hari individu, misalkan: harus menggunakan heroin setiap hari dengan jumlah yang terus bertambah, dan harus terus dilakukan agar menghindari gejala kemunduran; serta tidak mampu sekolah dan muncul gangguan perilaku seperti mencuri. Dalam tahap ini, keluarga akan membutuhkan bantuan profesional untuk membantu anak yang mengalami ketergantungan.

Penting agar kita memahami perbedaan masing-masing perilaku di atas agar kita mengetahui apa yang perlu dilakukan (lihat gambar 1).

Mengapa anak dan remaja rentan penyalahgunaan zat?

Masa kanak dan remaja adalah masa yang paling banyak terjadi proses transisi internal, seperti: perubahan fisik dan kematangan seksual, perubahan cara berpikir dari konkret menjadi lebih abstrak, dan perubahan emosional yang menjadi lebih mudah berubah. Selain itu, juga dapat terjai transisi eksternal seperti: perpindahan dari Sekolah Dasar ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Umum (SMU), pola relasi dengan teman yang berubah, atau bahkan struktur keluarga yang berubah misalkan karena kematian atau perceraian. Bisa dipahami bahwa proses transisi internal dan eksternal ini dapat memberikan tekanan bagi anak-remaja. Tekanan yang tidak terselesaikan akan membuat anak-remaja mencari cara-cara instan untuk keluar sementara dari masalahnya. Penyalahgunaan zat banyak digunakan ketika anak memilihnya sebagai cara keluar sementara dari masalahnya, karena anak menikmati kesenangan sementara yang dihasilkan oleh penggunaan zat.

 addiction-cycle-2

Gambar 1. Siklus adiksi (diambil dari http://www.drugrehab.com)

Secara neurobiologis, perkembangan otak anak dan remaja masih berada dalam proses pematangan hubungan sel saraf. Hal ini menyebabkan pemrosesan informasi pada anak-remaja terkadang masih belum optimal. Anak-remaja masih belum konsisten dalam menggunakan cara-cara berpikir matang, dan lebih mudah mengambil keputusan cepat. Akibatnya, mereka dapat mengambil keputusan yang kurang tepat dan impulsif, termasuk dalam penggunaan dan penyalahgunaan zat. Walaupun tahu konsekuensinya merugikan, namun tetap melakukan penyalahgunaan zat karena kurangnya kemampuan mengambil keputusan yang matang.

Prevensi dimulai dari rumah

Anak belajar paling awal di rumah. Sering perilaku anak yang muncul dan menetap hingga dewasa adalah hasil mengamati dan meniru orang tuanya sendiri. Sebagai orang tua, perlu memahami betapa besar pengaruh yang dimiliki pada anak. Anak dapat belajar pertama kali menggunakan dan menyalahgunakan zat dari perilaku orang tuanya dalam menggunakan zat. Misalkan, orang tua yang perokok dapat mempengaruhi pilihan anak untuk menjadi perokok kelak.

Orang tua perlu mengembangkan komunikasi terbuka dengan anak-remaja mengenai narkoba. Dari pembicaraan terbuka dengan anak kita dapat mengetahui pemahaman anak mengenai narkoba, tantangan yang dialaminya mengenai narkoba saat ini, dan yang terpenting orang tua dapat memberikan pemahaman dan intervensi pada anak jika terjadi suatu persoalan terkait dengan narkoba. Namun, perlu dipahami, bahwa pembicaraan terbuka hanya dapat dilakukan oleh orang tua yang memiliki hubungan yang dekat dengan anak. Maka membangun komunikasi dan relasi yang hangat dengan anak adalah hal yang harus dilakukan oleh orang tua secara terus-menerus. Berikut adalah tips nyang dapat dilakukan ketika berbicara dengan anak-remaja:

  1. biasanya anak-remaja cukup menyukai hubungannya dengan orang tua. Namun kadang, anak-remaja berpandangan bahwa orang tua kurang menyediakan waktu untuk mereka. Berikan waktu berkomunikasi yang konsisten, dan “hadirlah” untuk anak.
  2. Seiring pertambahan usia, anak akan menunjukkan pemikirannya sendiri yang mungkin berbeda dengan cara pandang orang tuanya. Perbedaan ini dapat menciptakan konflik. Dengarkanlah dan hargai opini anak, dialog dalam kondisi saling menghargai akan bermakna dan melatih kemampuan anak menyelesaikan masalah. Hasilnya buah komunikasi akan didengarkan baik oleh anak maupun orang tua.

Perlu dipahami bahwa yang dibutuhkan anak bukan hanya bicara tentang penyalahgunaan zat, namun juga mengenai persahabatan, persoalan sekolah, pergaulan dan pubertas. Maka orang tua juga perlu “up to date” mengenai isu-isu remaja saat ini.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mencegah anak terlibat dalam penyalahgunaan zat, yaitu:

  1. Memahami dan peka terhadap perubahan-perubahan yang dialami oleh anak. Perubahan-perubahan ini dapat membuat anak merasa cemas, stress, kurang percaya diri, merasa lemah dan depresi. Orang tua menunjukan empati dan memberikan bantuan terhadap apa yang dialami anak-remaja saat ini. Ingat dulu kita pernah mengalaminya. Hal ini dilakukan agar anak dapat menjadi lebih mampu mengetahui perasaannya dan lebih mampu mengelola emosinya.
  2. Walau anak membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemandiriannya, namun anak-remaja masih membutuhkan batasan dan dukungan dari orang tuanya. Contohnya: mendukung anak mengembangkan interaksi sosial dengan temannya namun juga memberikan batasan jam malam. Hal ini penting agar anak-remaja memahami bahwa selain mereka memiliki ruang untuk mengembangkan diri namun ada batasan-batasan jelas perilaku yang diterima dan yang tidak diterima keluarga.
  3. Perlakukan anak sebagai individu yang mampu berpikir. Komunikasikan alasan atas segala keputusan orang tua pada anak. Jelaskan mengapa orang tua mengatakan “tidak” atau “ya”. Jelaskan pula standar perilaku yang diinginkan orang tua serta alasannya (apa yang boleh dan apa yang tidak boleh). Hal ini dilakukan agar anak-remaja belajar berpikir sebelum bertindak.
  4. Tunjukkan minat atas kehidupan anak dan hargai mereka secara positif. Berikan waktu untuk mendengarkan cerita-cerita mereka. Gunakan waktu kebersamaan dengan keluarga, seperti ketika makan bersama, untuk berbicara dan menggali kehidupan anak-remaja. Hal ini dilakukan agar anak percaya dan merasa aman pada orang tua untuk mendiskusikan persoalan yang dihadapinya.
  5. Lakukan monitoring pada anak secara positif. Orang tua perlu menyusun bersama dengan anak jadwal belajar, mengatur batasan perilaku anak. Lalu juga menghadiri pertemuan orang tua dan Guru di sekolah untuk mengetahui perkembangan anak-remaja di sekolah. Hal ini dilakukan agar anak paham bahwa orangtuanya melakukan pembatasan dan monitoring karena kasih dan orangtua akan hadir untuk anak.

Pengasuhan yang baik akan menghasilkan anak-remaja yang mampu mengelola persoalan hidupnya. Anak yang mampu mengelola hidupnya akan mampu menolak penyalahgunaan zat.

 

Resiliensi di sekolah

Pernahkah anda melihat, ada anak yang berhasil melampaui berbagai kesulitan yang disebabkan kemiskinan, penelantaran orang tua dan penyalahgunaan zat, dan berkembang menjadi anak atau remaja yang sehat? Apa yang menyebabkan seseorang menjadi tangguh?

Istilah lain dari tangguh adalah resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk mengelola dan beradaptasi dengan kesulitan-kesulitan hidup yang dialaminya. Resiliensi bukan sifat atau karakter kepribadian. Tidak dipengaruhi oleh genetik. Resiliensi adalah buah dari interaksi dari manusia dan proses hidup yang dialaminya. Ada beberapa individu yang mampu mengembangkan resiliensi secara alamiah, namun ada pula yang perlu dibantu.

Peran orang tua adalah yang utama dalam mengembangkan resiliensi, namun harus pula didukung oleh sekolah dan komunitas anak-remaja. Sekolah sebagai bagian hidup anak-remaja cukup memiliki peran penting dalam mendampingi perkembangan resiliensi anak-remaja. Anak-remaja yang resilien

Berikut adalah beberapa komponen resiliensi yang dapat ditingkatkan di sekolah, yaitu:

  1. keyakinan diri (self confidence). Anak perlu mengalami kesuksesan. Hanya anak yang merasa sukses melakukan sesuatu dapat mengembangkan keyakinan diri yang sehat. Sukses bukan berarti harus juara, namun anak perlu belajar menghargai kerjakeras dan keberhasilan yang mereka raih, pada hal-hal yang mereka mampu tunjukkan kualitas terbaik. Guru dan sekolah perlu menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan keyakinan diri anak-remaja, misalkan: berbagai ekstra kurikuler dan kegiatan berorganisasi.
  2. intelektual atau kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah. Selain belajar akademis, Guru dan sekolah dapat mendampingi siswa dalam belajar menggunakan pemikirannya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di lingkungannya. Misalkan: menggunakan sisa kerang untuk digunakan menjadi barang produksi. Dengan demikian anak-remaja belajar dan berlatih untuk menggunakan kemampuannya untuk menghadapi berbagai persoalan yang akan dihadapinya kelak.
  3. harapan dan optimisme. Harapan dan optimisme adalah aspek-aspek penting yang mengarahkan dan mempertahankan perilaku manusia untuk mencapai tujuannya walaupun muncul berbagai tantangan dan hambatan. Guru dapat membantu dengan menunjukkan harapan dan sikap optimis. Hal ini akan menjadi panutan cara memupuk harapan serta optimisme sehingga anak-remaja juga akan menjadi manusia yang bisa mempertahankan usahanya untuk mencapai tujuan dan tidak mudah menyerah.
  4. lingkungan yang memberikan perasaan aman dan nyaman. Dasar dari perkembangan, salah satunya adalah lingkungan yang aman dan nyaman. Sekolah dan Guru perlu mempersiapkan sarana dan pra-sarana yang cukup agar anak merasa aman dan nyaman, baik secara fisik (lingkungan belajar yang tidak berbahaya dan memenuhi aspek keamanan) maupun psikis (anak didengar tidak diperlakukan buruk).

Sekolah memegang peranan besar dalam memberikan dukungan positif bagi anak dan remaja ketika mengalami masa transisi.

Dalam mengembangkan resiliensi, Guru dapat melakukan beberapa hal, yaitu:

  1. Membangun hubungan yang bermakna dengan anak didiknya.

Bukan sekedar mengajar, namun Guru perlu menyediakan dirinya secara terbuka untuk menjalin hubungan yang akrab dan mendukung anak. Penelitian menemukan jika anak-remaja memiliki relasi yang bermakna dengan 2 orang dewasa atau lebih di sekolah, maka anak akan lebih termotivasi pergi ke sekolah, lebih yakin akan kemampuan dirinya dan lebih peka terhadap keadaan orang lain di sekitarnya.

  1. Memberikan berbagai kesempatan agar anak-remaja dapat mengalami pengalaman positif di sekolah.

Sekolah bukan hanya sekedar tempat belajar akademik. Namun berbagai proses perkembangan pribadi dan kemampuan diri perlu diwadahi, misalkan: kegiatan seni, bela diri, olah raga, dan sebagainya. Wadah-wadah kegiatan ini memberikan anak kesenangan karena menjadi kesempatan mengeksplorasi dirinya. Dengan melakukan eksplorasi sesuai dengan minat dan bakatnya, anak menjadi lebih mungkin berhasil. Anak yang pernah mengecap keberhasilan akan memiliki keyakinan diri untuk menjadi manusia tangguh atau resilien.

  1. Memperhatikan proses transisi dan tekanan yaang dialami anak-remaja dalam hidupnya; hal ini dilakukan agar Guru siap memberikan dukungan pada anak ketika ia mengalami krisis dalam masa transisinya.

Guru dapat turut memberikan dukungan positif agar anak mampu mengelola diri dan menyelesaikan konfliknya yang terkait dengan transisi yang dialaminya, misalkan mendampingi anak yang sedang menghadapi perceraian orangtua. Anak yang berhasil keluar masa transisi dengan sukses lebih resilien daripada anak yang tidak mampu mengelola persoalan transisi.

Perlu diingat Guru juga adalah orang-orang yang menjadi panutan atau model bagi anak-remaja. Bagaimana cara Guru menyelesaikan masalah juga akan diamati oleh anak. Konsistensi bicara dan tindakan akan menjadi pendekatan yang lebih berhasil bagi Guru untuk dapat mendampingi anak-remaja dalam mengelola hidupnya.

Simpulan

Komunikasi terbuka dengan anak-remaja adalah komponen penting yang perlu dibangun oleh keluarga dan sekolah. Orang tua dan Guru juga perlu terus mengingat bahwa anak-remaja akan menempatkan mereka sebagai panutan dan model perilaku. Maka penting agar orangtua dan Guru paham, pesan apa yang ingin dan sedang disampaikan pada anak-dan remaja. Selain itu, dalam mencegah penyalahgunaan zat pada anak-remaja, orang tua dan Guru juga perlu memahami persoalan khas yang dihadapi anak-remaja. Empati dan hubungan yang akrab akan membantu anak-remaja merasa bahwa keluarga dan sekolah adalah tempat yang aman untuk mengembangkan diri dan berlatih mengelola persoalan hidupnya.

Referensi:

Drug Rehab Center (2014). What is addiction? Diakses dari http://www.drugrehab-centers.com pada 2 November 2014.

Health Canada (2010). How to talk with your teens about drugs. Diakses dari http://hc-sc.gc.ca pada 2 November 2014.

Iklan

2 thoughts on ““Mencegah lebih baik daripada Mengobati”: Upaya preventif penyalahgunaan zat dari lingkungan terdekat anak

  1. Apakah saya bisa berdiskusi dengan skripsi yang akan saya lakukan?. . . . saya sedang kesulitan dengan skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Relaksasi terhadap daya ingat (retrieval) Saksi”saya bingung untuk menentukan relaksasi apa selain hipnotis yang dapat digunakan?. . . . sangat sulit mendapatkan referensi psikologi forensik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s