Psikologi Moralitas: Mengapa menjadi benar dan salah bisa berujung pada kejahatan (Bagian II)

Psikologi Moralitas: Mengapa menjadi benar dan salah bisa berujung pada kejahatan (Bagian II)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Moral-Emotions-300x260

Marah dan jijik

Marah dan jijik juga tergolong emosi negatif, namun biasanya muncul karena adanya suatu faktor di luar diri. Marah bisa terjadi ketika seseorang tersinggung atas perilaku orang lain, merasa dilanggar/dirugikan, frustasi atau adanya tindakan orang lain yang melanggar standar moral yang dianutnya. Sedangkan perasaan jijik terkait dengan reaksi atas penolakan terhadap sesuatu yang berpotensi menular atau sesuatu yang dianggap ofensif, tidak menyenangkan, serta pelanggaran etika keilahian/kesucian (mengingatkan pada sifat hewan yang dianggap lebih rendah, seperti buang air besar atau barang yang kotor/jorok).

Marah dan jijik bisa menyebabkan orang lebih mungkin terlibat dalam perilaku imoral. Marah tentu saja lebih bisa dipahami dipahami sebagai penyebab munculnya perilaku agresif, menyerang dan merusak. Kemarahan yang tidak dikelola akan menyebabkan orang dapat melakukan pelanggaran atau perilaku buruk. Namun, penelitian juga menemukan bahwa emosi jijik juga bisa menjadi akar emosi yang memunculkan kejahatan. Jijik ditemukan sebagai awal emosi munculnya pengabaian hak orang lain dan merendahkan martabat manusia lain, seperti rasisme dan pelecehan/kekerasan (Vartanian, Trewartha, & Vanman, 2016).

Jijik juga dapat mengendalikan perilaku moral seseorang. Ketika seseorang mengalami jijik, emosi, maka menandakan bahwa perilaku, objek, atau orang tertentu harus dihindari untuk menjaga kemurnian mereka (Olatunji, David, & Ciesielski, 2012). Misalkan: ketika seseorang anak diajari bahwa orang miskin adalah kotor dan berbicara dengan orang miskin bisa merendahkan harkat keluarganya, maka si anak akan menjauhi interaksi dengan orang miskin. Dan hal ini dapat dilakukan secara ekstrem menjauhi karena jijik.

Penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat kepekaan jijik akan mempengaruhi penilaian moral. Semakin tinggi kepekaan jijik seseorang, semakin besar kecenderungan untuk membuat penilaian moral yang lebih keras (David & Olatunji, 2011). Misalkan: seorang hakim yang memiliki kepekaan jijik atas masalah pemerkosaan, karena merasa kasus pemerkosaan adalah pelanggaran yang sangat menyalahi aturan moral kesucian, maka ia akan lebih mungkin memberikan hukuman berat pada terdakwanya. Di dalam kasus kriminal, ditemukan bahwa pelaku kejahatan akan menjadi lebih keji pada korbannya, ketika ia melihat korbannya lebih rendah martabatnya. Pelaku pembunuhan akan lebih mungkin menyiksa dan menghancurkan tubuh korbannya jika ia melihat korbannya adalah hewan, mahluk yang lebih rendah dari dirinya.

Relevansi:

Pengelolaan moralitas bukan hanya mengelola rasa marah, namun kita juga perlu lebih awas dan mampu mengelola rasa jijik terhadap manusia lain. Jijik seperti ini dapat berujung pada kejahatan. Dalam proses pendidikan karakter anak, perasan jijik pada manusia lain perlu dibongkar secara kritis dan dihindari untuk diajarkan karena dapat berkembang menjadi tindakan diskriminasi, pelecehan bahkan kekerasan yang disertai kekejian. Bisa jadi, secara tidak sadar kita mengajarkan jijik atau menganggap rendah orang lain karena perbedaan nilai-nilai moral yang dianut dan hal ini diamati serta dipelajari oleh anak-anak kita. Walaupun kita tidak mengajarkan kemarahan, namun jijik pada manusia lain bisa menjadi bibit kebencian, lalu tumbuh menjadi perilaku imoral seperti merendahkan martabat orang lain dan sikap kasar diskriminatif. Dalam proses koreksi pelaku kejahatan, perlu dipahami apakah akar emosi moral dari perilaku kriminalitasnya. Mungkinkah kejahatan yang dilakukannya berasal dari emosi yang salah seperti marah dan jijik. Dengan mengkoreksi emosi moral yang salah, diharapkan dapat menghasilkan perilaku moral adaptif.

 

Mengapa berpikir menjadi benar dan salah tidak cukup? Pentingnya memperkuat kesadaran emosi moral

Tangney, Stuewig, dan Mashek (2007) mengemukakan bahwa emosi moral memberikan motivasi – kekuatan dan energi – untuk berbuat berperilaku moral, yaitu berbuat baik dan menghindari berbuat jahat. Dukungan empiris muncul dari penelitian neurosains, ditemukan bahwa individu dengan gangguan di bagian otak yang terkait dengan pemrosesan emosional biasanya menunjukkan perilaku yang kurang pro-sosial; lebih berperilaku antisosial; kurang memiliki empati dan penyesalan jika melakukan kesalahan; dan mereka beresiko tinggi melakukan penganiayaan/pelecehan terhadap orang lain.

Dari berbagai contoh tentang dampak emosi pada perilaku moral, bisa disimpulkan bahwa proses moral sangat kuat dipengaruhi oleh emosi yang dialami manusia. Selama manusia mengabaikan komponen emosi moral, dan bertindak seakan-akan keputusan moralnya tanpa bias emosi, yang mungkin terjadi tanpa disadarinya, maka hal ini dapat menciptakan kerentanan keputusan moral. Bisa terjadi, muncul manusia yang berpikir apa yang dilakukannya sangat benar dan keputusan moralnya sudah berdasarkan nilai moralitas yang paling unggul, tapi dia abai bahwa semua proses moralnya sebenarnya berdasarkan kebencian yang telah dibangun sejak kecil, yaitu: emosi jijik dan menganggap rendah terhadap orang lain yang berbeda. Orang-orang yang tidak punya kesadaran emosi moral akan melakukan rasionalisasi – penalarannya dan dapat tanpa ragu melakukan“aksi moral”menyerang orang lain yang dianggap salah. Inilah yang sering kita lihat di Indonesia saat ini. Orang-orang yang berteriak-teriak menyatakan diri melakukan tindakan moral, namun sebenarnya sedang membenci. Kebencian yang sudah dipupuk sejak lama dalam kemarahan dan sikap jijik pada manusia lain. Kebencian yang lama kelamaan diformalisasi dalam nilai-nilai moral semu yang telah dirasionalisasi. Perlu dipahami, moralitas yang adaptif sesungguhnya tidak terbentuk dari emosi negatif pada orang lain.

Kesadaran emosi moral menjadi penting. Emosi moral yang disadari tidak sama dengan menjadi emosional. Emosi adalah suatu respon psiko-fisik atas stimulus yang terjadi di alami manusia, misalkan: ketika seseorang dimarahi, hal ini bisa menjadi stimulus munculnya emosi takut. Namun kesadaran emosi moral adalah suatu kondisi, dimana individu menyadari apa yang sedang dialaminya, sehingga memunculkan suatu emosi tertentu, serta bagaimana emosi tersebut mempengaruhi penalarannya serta pembuatan keputusan moralnya. Salah satu contohnya misalkan: ketika seseorang menyadari sedang merasakan amarah pada orang lain, dan memahami bagaimana kemarahannya itu membuatnya berpikir tentang cara mengungkapkan kejengkelannya tersebut dalam koridor aturan yang diterima di masyarakat. Tanpa kesadaran, maka perilaku yang muncul hanya reaksi emosional. Dengan kesadaran, emosi bisa diarahkan untuk mencapai tujuan sosial yang kompleks, seperti perilaku moral (Tracy & Robins, 2007). Perlu digaris-bawahi, bahwa kesadaran emosi moral akan sangat penting untuk munculnya perilaku moral, dan kesadaran hanya didapatkan dari proses refleksi dan evaluasi diri.

Oleh karena itu, pengembangan kesadaran emosi moral dalam berbagai proses sosialisasi perlu didukung sejak kecil; baik dalam pengasuhan di rumah, pendidikan di sekolah formal dan non-formal, hingga hidup bermasyarakat. Dalam proses sosialisasi, anak manusia perlu dilatih kemampuan refleksi dan penilaian diri. Hanya dengan kemampuan inilah, kesadaran dirinya dapat tumbuh. Pengalaman sosialisasi di berbagai konteks akan memperluas dan meluweskan kesadaran emosi moral sehingga bisa berjalan bersama dengan penalaran moral untuk mencapai keputusan dan perilaku moral yang proporsional dan adaptif. Proses penumbuhan emosi moral harus menjadi suatu kebiasaan yang disadari, artinya dipersiapkan, direncanakan dan dievaluasi terus-menerus.

 

Memperkuat emosi moral empati

Empati adalah salah satu proses emosi moral yang penting. Banyak penelitian menemukan empatilah yang berperan besar dalam membentuk perilaku moral adaptif atau perilaku yang diterima sebagai baik oleh masyarakat luas (lihat review oleh Eisenberg & Morris, 2001). Empati adalah salah satu bentuk emosi kompleks karena memiliki komponen kognitif (berpikir), afektif (merasakan), dan konasi (perilaku). Fesbach (1975 dalam Tangney, 2007) mendefinisikan empati sebagai peristiwa berbagi respon emosional antara seorang pengamat dan partner interaksinya. Untuk melakukan empati dibutuhkan beberapa kemampuan:

  1. kemampuan kognitif untuk mengambil perspektif orang lain,
  2. kemampuan kognitif untuk mengidentifikasi pengalaman emosi/afektif orang lain, dan
  3. kemampuan afektif untuk mengalami secara pribadi berbagai macam emosi (termasuk ikut merasakan pengalaman emosi orang lain yang dia lihat).

Simon Baron-Cohen juga (2011) menjelaskan bahwa empati terdiri dari dua tahap: proses empatik yang terjadi secara internal kognitif dan afektif, lalu dilanjutkan dengan respon empati yang akan mengarah pada munculnya keinginan dan perilaku membantu orang lain. Dapat disimpulkan bahwa jika dilihat secara utuh, empati akan terdiri dari komponen kognitif, afektif serta aksi. Pengembangan emosi moral empati bisa menjadi salah satu cara memperkuat perilaku moral yang pro-sosial.

Banyak penelitian menemukan bahwa kapasitas empati adalah hasil belajar, dan tempat yang paling awal berperan menumbuhkan empati adalah di keluarga, di rumah. Peran pengasuhan orang tua menjadi sangat penting. Orang tua perlu menyadari perannya sebagai contoh dan panutan (role model) empati. Panutan yang dapat diamati baik kapasitasnya dalam memahami kondisi orang lain (kognitif), merasakan pengalaman emosional orang lain (afektif), serta mampu menciptakan tindakan untuk merespon keadaan orang lain tersebut (aksi empati). Seiring dengan perkembangan manusia, anak akan bergerak belajar empati dari lingkungan di luar rumah, seperti sekolah, lingkungan rumah, dan masyarakat. Semakin sering anak belajar dan memperluas wawasannya tentang emosi empati di berbagai konteks, maka semakin ia akan menjadi lebih luwes dalam menggunakan kesadaran emosi moralnya untuk menentukan keputusan dan perilaku moralnya.

 

Simpulan

Masalah moral dapat timbul dari proses moral yang buruk. Secara umum, dalam mencapai keputusan moral, ada 2 cara yang bisa dilakukan, yaitu: 1) Rasionalisasi: sebenarnya tidak ada proses berpikir, dimulai dengan simpulan yang diarahkan oleh nilai, berkembang dengan didorong oleh emosi yang tidak disadari, hingga menjadi suatu pembenaran perilaku yang telah dipilih sebelumnya; dan 2)Kesadaran emosi dan penalaran moral: menyadari emosi moral yang dialami, melakukan proses berpikir yang mengarahkan munculnya simpulan dan perilaku moral. Perbedaan utamanya adalah komponen kesadaran peran emosi moral manusia.

Berbagai kajian telah menunjukkan proses moral bukan hanya berisi penalaran atau proses kognititif moral, namun juga emosi moral memberikan dampak besar pada penalaran dan perilaku moral manusia. Berbahaya justru ketika manusia hanya menggunakan penalaran tanpa disertai kesadaran emosi moralnya, karena dapat melahirkan rasionalisasi moral tanpa didasari kehati-hatian dan obyektivitas. Akibatnya, orang merasa “benar”dapat membuatnya melakukan kekerasan dan kekejian pada orang lain atas nama rasionalisasi moralnya.

Jika kita ingin mendorong orang melakukan penalaran moral untuk bertindak secara moral, maka kita juga perlu meningkatkan kesadaran emosi moralnya. Pengembangan emosi moral empati bisa menjadi salah satu cara memperkuat perilaku moral yang pro-sosial. Keterkaitan antara emosi moral, penalaran moral dan perilaku moral harus didasari oleh kemampuan refleksi diri. Pengembangannya juga dilakukan secara terus menerus sejak masa kecil hingga dewasa, pada berbagai konteks hidup baik dari pribadi, keluarga hingga masyarakat.

 

Referensi:

Baron-Cohen, S. (2011). The science of evil. Basic books: New York.

Damasio, A. Descartes’ error. Putnam, New York, 1994.

David, B.O., & Olatunji, B.O. (2011). The effect of disgust conditioning and disgust sensitivity on appraisals of moral transgressions. Personality and Individual Differences50, 1142-1146.

Eisenberg, N., & Morris, A. S. (2001). The origins and social significance of empathy-related responding. A review of empathy and moral development: implications for caring and justice by ML Hoffman. Social Justice Research14, 95-120.

Haidt, J. (2008). The Moral Roots of Liberals and Conservatives TED Talk.

Haidt, J., & Joseph, C. (2004). Intuitive ethics: How innately prepared intuitions generate culturally variable virtues. Daedalus, 133, 55-66.

Olatunji, B.O., David, B., & Ciesielski, B.G. (2012). Who am I to judge? Self-disgust predicts less punishment of severe transgressions. Emotion, 12, 169-73.

Sandel, M.J. (2010). Justice What’s the Right Thing. Farrar, Straus and Giroux: New York.

Saxe, R., & Kanwisher, N. (2003). People thinking about thinking people: The role of the temporo-parietal junction in “theory of mind.” Neuroimage, 19, 1835-1842.

Stanger, N., Kavussanu, M., McIntyre, D., & Ring, C. (2016). Empathy inhibits aggression in competition: The role of provocation, emotion, and gender. Journal of sport and exercise psychology38, 4-14.

Tangney, J.P., Stuewig, J., & Mashek, D.J. (2007). Moral emotions and moral behavior. Annual Review of Psychology, 58, 345-372.

Tracy, J.L., & Robins, R.W. (2007). The self in conscious emotion. In essica L. Tracy, Richard W. Robins, June Price Tangney (Eds.) in The self-conscious emotions : theory and research. The Guilford Press: New York.

Vartanian, L.R. Trewartha, T., & Vanman, E.J. (2016). Disgust predicts prejudice and discrimination toward individuals with obesity. Journal of Applied Social Psychology46, 369-375.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s