Mendampingi anak dengan trauma di Sekolah

Mendampingi anak dengan trauma di Sekolah

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

trauma schools1

Anak yang mengalami krisis atau tekanan besar dalam hidupnya dapat mengalami trauma. Anak dengan trauma dapat mengalami problem, seperti: sulit tidur, mimpi buruk, menjadi sangat bergantung pada orang lain, atau menjadi menjauh/menarik diri dari orang lain, sulit makan, berperilaku agresif, dan frustasi. Di sekolah, juga bisa muncul masalah perilaku seperti: sulit konsentrasi, dan kesulitan mengikuti instruksi di kelas dan bekerja/belajar dalam kelompok. Sayangnya, problem perilaku ini dapat membuat orang dewasa di sekitar anak salah paham bahwa anak mengalami kesulitan belajar, kesulitan konsentrasi atau gangguan kecemasan biasa. Akibatnya, Guru tidak bisa memahami masalah anak dan kurang dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Trauma dapat mempengaruhi proses belajar, perilaku anak dan juga interaksi anak dengan orang-orang di sekelilingnya. Oleh karena itu, Guru perlu memahami apa trauma dan bagaimana mendampingi anak dengan trauma di sekolah. Guru juga perlu membekali diri untuk mampu membantu anak didiknya yang mengalami trauma agar bisa belajar walaupun sedang berada dalam situasi krisis. Tulisan ini menguraikan mengenai apa trauma pada anak usia sekolah dan strategi yang dapat dilakukan Guru di sekolah untuk mendampingi anak dengan trauma. Baca lebih lanjut

Iklan

Pengasuhan positif bagi anak: Video Feedback for Positive Parenting and Sensitive Discipline (VIPP-SD)

Pengasuhan positive dan Disiplin sensitif bagi anak: Video Feedback for Positive Parenting and Sensitive Discipline (VIPP-SD)

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

training-italiano-certificato-vipp-sd-00230468-001

Dalam seminggu terakhir saya menikmati waktu belajar mengenai pendekatan intervensi pada relasi antara orang-tua dan anak, Video Feedback for Positive Parenting and Sensitive Discipline (VIPP-SD) di Leiden University, Belanda. Saya mengikuti pelatihan untuk menjadi pelaksana intervensi (intervener) VIPP-SD ini karena saya telah jatuh cinta dengan teori Kelekatan (attachment).

VIPP-SD adalah intervensi yang menggunakan pendekatan teori kelekatan. Teori kelekatan menjelaskan bahwa dasar dari perkembangan pribadi dan interaksi sosial manusia dibangun dari pengalaman awal hidup manusia dengan pengasuhnya (caregiver – yang sering adalah orang tua atau Ibu). Berbagai penelitian telah menemukan bahwa kelekatan aman pada masa kanak dapat memprediksi perkembangan dan kompetensi sosial individu di masa dewasa. Dimana individu yang memiliki hubungan yang aman dan nyaman dengan pengasuhnya pada masa kanak ditemukan memiliki harga diri yang positif, mampu mempercayai orang lain, kemampuan sosial yang cukup berkembang, mampu menjalin persahabatan, serta mendapatkan dukungan sosial yang memadai pada masa dewasanya (Juffer, van Ijzendoorn, & Bakermans-Kranenburg, 2007). Oleh karena itu, intervensi yang berdasarkan kelekatan akan berusaha untuk membangun relasi kelekatan yang aman. Usaha intervensi dilakukan untuk meningkatkan kelekatan aman atau merubah dari pola kelekatan tidak teroganisir menjadi kelekatan yang aman/terorganisir.

Intervensi kelekatan dikembangkan untuk membantu terbentuknya kelekatan yang aman antara orang tua dan anak. Kajian intervensi kelekatan selama ini menunjukkan bahwa kelekatan aman dapat dibangun oleh orang tua/pengasuh yang memiliki kepekaan. Oleh karena itu, adalah penting mempelajari bagaimana intervensi kelekatan meningkatkan kepekaan orang tua dalam memberikan pengasuhan dan disiplin bagi anaknya. Pengasuhan yang peka dan disiplin yang sensitif diharapkan dapat mendukung perkembangan anak yang lebih optimal. Hal ini akan bermakna sekali bagi saya, yang sering bekerja dengan anak dan orang tua yang sedang mengalami persoalan psikologis sehingga relasi orang tua-anaknya tidak optimal mendukung kesehatan mental.

Baca lebih lanjut

Perkembangan seksual anak dan remaja

Perkembangan seksual anak dan remaja

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Disampaikan dalam Seminar Pencegahan Pelecehan Seksual di Sekolah untuk Orang Tua

child sexual 2

Sebagian besar masyarakat memahami bahwa anak mengalami masa perkembangan, akan tetapi, terkadang sulit bagi orang tua untuk memahami bahwa anaknya adalah mahluk seksual yang juga mengalami perkembangan seksual. Anak mengalami perkembangan seksual secara tipikal, atau yang biasa terjadi pada anak seusianya. Baca lebih lanjut

Penanganan Autisme

Penanganan Autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Pengajar Psikopatologi, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Dari Buku Patient-Based Approaches to Cognitive Neuroscience oleh Martha J. Farah & Todd E. Feinberg (Eds.).

ses1

Autisme adalah gangguan seumur hidup. Tidak ada “obat” yang menghilangkan autisme, tetapi ada banyak treatment efektif yang telah dikembangkan selama ini untuk penanganan gejala autisme. Treatment autisme yang tepat, tidak hanya akan mengurangi gejala tetapi juga meningkatkan fungsi hidup individu dengan autisme secara keseluruhan.

Tulisan ini akan menguraikan 2 pendekatan besar yang banyak digunakan dalam penangan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder; ASD), yaitu pendekatan Perilaku dan Psikofarmakologi. Tulisan ini bertujuan memberikan pemahaman menganai apa yang dapat diharapkan dari pendekatan perilaku dan medis dalam penanganan autisme.

Baca lebih lanjut