Perkembangan seksual anak dan remaja

Perkembangan seksual anak dan remaja

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Disampaikan dalam Seminar Pencegahan Pelecehan Seksual di Sekolah untuk Orang Tua

child sexual 2

Sebagian besar masyarakat memahami bahwa anak mengalami masa perkembangan, akan tetapi, terkadang sulit bagi orang tua untuk memahami bahwa anaknya adalah mahluk seksual yang juga mengalami perkembangan seksual. Anak mengalami perkembangan seksual secara tipikal, atau yang biasa terjadi pada anak seusianya.

Perkembangan seksualitas dan peran orang tua

Perkembangan seksualitas bukan hanya perilaku pemuasan seks semata, tapi juga mencakup pembentukan nilai, sikap, perasaan, identitas, interaksi dan perilaku. Ketika anak menjalani perkembangan seksualnya, mereka bukan berarti hanya berpikir tentang seks seperti orang dewasa. Perkembangan seksualitas juga menyentuh aspek emosi, sosial, budaya dan fisik. Apa yang anak pelajari, pikir dan rasakan mengenai seks akan membentuk sikap dan perilaku seksnya kelak. Maka, dalam perkembangan seksual anak, orang tua perlu memahami dan membantu agar proses perkembangan seksual berjalan secara sehat.

Contohnya: ketika anak berusia 3 tahun membuka seluruh bajunya di depan orang-orang, maka orang tua dapat menyampaikan pemahaman seksualitas tentang bagian tubuh pribadi di area pribadi dan area publik. “kamu boleh telanjang ketika mandi, tapi tidak boleh jika di hadapan sepupumu seperti ini.” Dari hal ini anak belajar mengenai nilai dan norma perilaku seks yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dengan memahami perilaku seksual yang tepat anak dapat mengembangkan perilaku seks yang sehat.

Berikut adalah penjelasan mengenai perkembangan seksualitas anak yang dapat dijadikan panduan orang tua untuk memberikan pengarahan perkembangannya.

Tabel 1. Tahapan perkembangan seksualitas anak

No. Usia Perkembangan Pendampingan orang tua
1 0-2 ·    Bayi mulai belajar tentang cinta dan rasa percaya melalui sentuhan dan pelukan.

·    Mereka menjadi sangat responsif terhadap sentuhan fisik dan menerima pesan verbal/non verbal yang akan membentuk pemahaman mereka tentang seksualitas.

·     Ajari nama bagian tubuh, termasuk penis dan vagina

·     Jelaskan perbedaan dasar perempuan dan laki-laki

·     Bantu anak memahami bagaimana berinteraksi dengan teman sebayanya yang benar

·     Memberikan jawaban sederhana tentang bagian tubuh dan fungsinya

2 3-4 ·   Identitas gender anak mulai berkembang. Anak mulai memahami makna dari, “Saya laki-laki,” atau, “Saya perempuan.”

·   Eksplorasi anggota tubuh dengan teman bermain merupakan hal wajar di usia ini. Misalnya, bermain dokter-dokteran.

·   Anak-anak di usia ini mulai suka menyentuh organ genital mereka.

·   Perkembangan seksual lain yang juga sering muncul di tahap usia ini adalah keinginan untuk mengetahui bagian tubuh dari teman bermainnya.

·   Orangtua harus membantu memberi batasan yang bagian pribadi sehat pada anak.

·   Jelaskan sentuhan yang boleh dan tidak boleh, contohnya: pelukan Ibu dan Ayah adalah boleh dan tidak apa-apa, tapi menyentuh bagian pribadi dan tidak diinginkan adalah tidak boleh

3 5-7 ·     Anak-anak di usia ini mulai membangun fondasi identitas gender. Mereka mengeksplorasi peran orang dewasa dengan melakukan “permainan ganti peran”, misalnya bermain rumah-rumahan dengan masing-masing anak bergantian memainkan peran yang berbeda.

·     Di tahap ini, anak-anak cenderung mencari hubungan yang lebih kuat dengan orangtua yang sesama jenis (misalnya anak laki-laki dengan ayah, anak perempuan dengan ibu).

·     Mengeksplorasi bagian tubuh di usia ini juga merupakan hal wajar, jadi orangtua sebaiknya tidak perlu khawatir. Anak-anak mulai memahami perbedaan jenis kelamin, tetapi belum terlalu tertarik ke lawan jenis.

·     Di usia ini mereka mulai memahami peran laki-laki dan perempuan melalui orangtua atau melalui media (TV, Internet, dan sebagainya).

·     Sebagian anak mulai bermain dengan organ genital mereka karena merasakan sesuatu yang berbeda. Sentuhan semacam ini normal, meski tidak selalu terjadi pada semua anak.

·     Bantu jelaskan perbedaan gender dengan jelas dan proporsional

·     Jelaskan dasar proses reproduksi manusia.

·     Orangtua bisa memberikan pesan positif tentang bagaimana memahami tubuh, dikombinasikan dengan pesan tentang menjaga kesehatan dan keamanan diri.

·     Mulai bicara tentang persiapan perubahan fisik yang akan terjadi di pubertas

·     Jelaskan bahwa menyentuh tubuh pribadi adalah kegiatan yang tidak dilakukan di tempat publik

·

4 8-12 ·      Anak mulai merasakan perubahan fisik menjelang pubertas. Perasaan ini bisa berdampak positif atau negatif. Perasaan negatif misalnya muncul dalam bentuk rasa bersalah, bingung dan malu.

·      Peran peer grup (teman sebaya) meningkatkan pengaruh terhadap imej diri anak. Anak juga cenderung lebih suka berteman dengan teman sesama jenis.

·      Beberapa anak di usia ini mulai melakukan masturbasi.

·      Anak-anak mulai “memisahkan diri” dari orangtua.

·     Mulai memberikan informasi mengenai perubahan fisik, psikis dan sosial mengenai pubertas.

·     Ajari anak mengelola emosinya dan aspek harapan sosial ketika mengalami pubertas.

·     Berikan informasi dasar mengenai perilaku seksual dan problem seksual sesuai dengan kemampuan pemahamannya.

·     Ajari tentang kewajiban dan hak dalam persabahatan atau relasi.

·     Ajari untuk membedakan relasi yang sehat dan tidak sehat

·     Ajak bicara kritis tentang apa yang nyata dan tidak nyata mengenai gambaran seksual di media

5 >12 ·     Produksi hormon seks menyebabkan muncul perubahan fisik dan emosi anak, termasuk ciri-ciri seksual sekunder, seperti rambut kemaluan dan payudara yang mulai membesar.

·     Ketertarikan yang lebih besar terhadap seksualitas, seperti anak-anak praremaja yang mulai mengalami fantasi seksual sebagai sebuah cara menyiapkan diri memahami peran seksual mereka.

·     Mulai mengakses media (games, video, tv, internet, music, dll.) karena penasaran tentang seksualitas/telanjang

·     Mulai membutuhkan privasi (tidak lagi berpakaian di depan orang)

·     Mulai menunjukkan ketertarikan seksual dengan anak seusianya

·     Ajari bahwa pelecehan seksual bisa terjadi dengan sentuhan dan tanpa sentuhan

·     Ajari bagaimana mengetahui dan menghindari situasi beresiko

·     Ajari batasan/aturan pacaran/kencan

·     Ajari keamanan dan keselamatan dalam menggunakan dan berinteraksi di media

·     Ajari pengelolaan seksualitas serta kesehatan reproduksi

Perkembangan seksual tipikal dan atipikal

Berikut dalam tabel 2 adalah panduan dari organisasi Stop it now (2015) mengenai tahapan perkembangan seksual anak dari masa kanak hingga masa remaja. Dalam kolom perkembangan tipikal dijelaskan mengenai apa saja yang menjadi ciri perkembangan seksual pada masa tertentu. Sedangkan pada kolom atipikal, dijelaskan beberapa contoh perilaku seksual yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak. Atipikalitas perilaku seksual anak dapat menyiratkan telah terjadinya persoalan dengan seksualitas anak. Hal ini mungkin juga digunakan sebagai indikasi terjadinya penyimpangan atau kekerasan seksual yang dialami anak. Jika menemukan gejala atipikalitas, maka sebaiknya orang tua melakukan penggalian informasi dan memahami pengalaman anaknya. Jikalau diperlukan, anak juga perlu didampingi oleh profesional kesehatan mental (misalkan: psikolog, dokter anak, psikiater).

Tabel 2. Perkembangan seksual anak dan remaja

No Periode Perkembangan tipikal Perkembangan atipikal
1 0-5 tahun ·  menggunakan kata-kata seksual yang menunjukkan bagian-bagian tubuh manusia, melakukan pembicaraan tentang kelahiran dan kehamilan

· menstimulasi alat kelamin di rumah atau di tempat publik

· menunjukkan atau melihat bagian tubuh pribadinya

·  Berdiskusi tentang perilaku seksual tertentu atau ungkapan seksual yang tidak biasa dipahami anak seusianya

·  Melakukan aktivitas seksual seperti orang dewasa dengan anak lain

2 usia sekolah 6-11 atau 12 tahun · Meningkatnya minat dan kesadaran seksual pada anak pra-remaja atau anak puber, terutama karena terjadinya perubahan hormonal

· Muncul pertanyaan tentang relasi intim, perilaku seksual, menstruasi, kehamilan.

· Pada anak pra-remaja melakukan eksperimentasi dengan anak seusianya dalam permainan, seperti: mencium, menyentuh, menunjukkan bagian tubuh atau melakukan role play perilaku seksual.

·  Melakukan stimulasi seksual secara pribadi

· Perilaku seksual seperti orang dewasa

· Berdiskusi tentang perilaku seks yang spesifik dan masturbasi di tempat umum

3 pasca pubertas usia 11 atau 12-13 tahun · Setelah puber, akan meningkat minat dan rasa ingin tahu tentang informasi seksual

· Memiliki banyak pertanyaan menganai relasi intim dan perilaku seksual

· Menggunakan istilah seksual dan membicarakan perilaku seksual dengan teman sebaya

· Meningkatnya eksperimentasi seksual, seperti: berciuman dengan membuka bibir, menggesekkan tubuh, mengelus bagian tubu

· Masturbasi secara pribadi

· Perilaku seksual seperti orang dewasa secara konsisten, termasuk perilaku masturbasi berlebihan/sangat sering, oral seks, genital seks dan intercourse

·  Masturbasi di depan publik

remaja 13-16 tahun · Pertanyaan tentang pengambilan keputusan mengenai relasi sosial, relasi intim dan aturan masyarakat mengenai seksualitas

·  Masturbasi secara pribadi

· Bereksperimen secara seksual dengan teman remaja yang sebaya, seperti: berciuman dengan membuka bibir, menggesekkan bagian tubuh, eksplorasi dan kontak pada bagian genitalia.

·  Pada beberapa remaja bahkan terjadi intercourse

  • Masturbasi berlebihan
  • Masturbasi di area publik
  • Minat seksual pada anak yang lebih muda
  • Minat seksual/keintiman dengan kekerasan

child sexual 1

Selama masa perkembangan seksualnya, anak perlu diberikan pendampingan dan pengarahan agar perkembangan seksualnya sehat dan mendukung perkembangan pribadinya. Namun dapat terjadi berbagai faktor yang dapat mempercepat perkembangan seksual anak, misalkan memiliki saudara kandung yang lebih tua. Hal ini bisa menjadi faktor pendorong anak untuk lebih cepat mengembangkan minat dan, kesadaran dan sikap seksualnya. Anak menjadi lebih cepat berkembang melampaui perkembangan anak seusianya. Penting dipahami oleh orang tua, ketika anak mulai menunjukkan perilaku yang melampaui perkembangan seksual anak seusianya, dan ketika anak tampak kesulitan mengelola perilaku seksualnya tersebut, maka orang tua perlu mengendalikan perilaku seskual anak secara tepat dan konsisten.

Orang tua perlu cermat mengawasi perilaku anak. Terkadang, orang tua perlu menetapkan batasan perilaku anak. Hal ini dilakukan karena anak belum tentu paham apa konsekuensi dari tindakannya, oleh karena itu orang-tualah yang akan menetapkan aturan dan segera menghentikan jika terjadi perilaku seksual yang membahayakan diri anak dan orang lain. Orang tua perlu mengembangkan komunikasi terbuka, agar anak tahu bahwa orangtuanya bersedia menjadi teman diskusi mengenai seks. Orang tua juga perlu menjelaskan pada anak untuk nyaman dengan perkembangan seksualnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara orang tua yang bertindak sebagai role model perilaku seksual yang sehat dan proporsional (Stop it now, 2007).

Referensi

NSVRC (2013). It’s time … to talk about it! Talk early, talk often. Prevent sexual violence: An overview of healthy childhood sexual development. Diunduh ada Januari 2016 dari http://www.nsvrc.org/sites/default/files/saam_2013_an-overview-of-healthy-childhood-sexual-development.pdf

Stop it now (2007). Do Children Sexually Abuse Other Children? Preventing sexual abuse among children and youth. Northampton; JKG Group.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s