Menangkap Psikopat (2) Proses koreksi dan rehabilitasi bagi Psikopat

Menangkap Psikopat (2)

Proses koreksi dan rehabilitasi bagi Psikopat

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

ScreenShot20160427at30530PMPsychopaths.

Such men are born criminals by nature, and are only distinguished from ordinary criminals by the great extent of their moral incapacity, by their having wills completely unaffected by the restraining experiences of life, and by their being fundamentally incorrigible…There is, therefore, as a rule, no other course to be taken, for their own sake, and for the sake of those around them, than to isolate them as being unfit for society, and as far as possible to find them occupation.

  • Emil Kraeplin (1904/1968, Lecture Clinical Psychiatry, p. 289)

Psikopat.

Manusia yang lahir untuk menjadi kriminal, dapat dibedakan dari pelaku kriminal biasa karena psikopat tidak memiliki kapasitas moral (tidak mampu membedakan benar dan salah), memiliki keinginan untuk mencapai tujuannya tanpa terbatasi apapun dari pengalaman hidupnya, dan sifat dasarnya yang sangat sulit dirubah… Maka, hanya ada satu cara, tidak ada lain, demi kebaikan mereka sendiri, dan juga demi orang-orang di sekitarnya, psikopat perlu diisolasi karena tidak akan bisa menyesuaikan diri, dan memastikan agar mereka bekerja jauh dari masyarakat.

Baca lebih lanjut

Karakter Gelap Manusia dan Kejahatan

 

Margaretha

Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

scientists-say-these-2-dark-personality-traits-can-help-you-succeed-at-work

Dalam interaksi sosial, tidak jarang kita bertemu dengan orang-orang yang dapat melakukan perilaku jahat sehingga merusak relasi sosial dan menyakiti orang lain. Ada yang jelas-jelas menampilkan perilaku jahatnya, adapula yang di awal tampil meyakinkan namun kemudian menjadi orang yang “beracun” (toxic person), dimana kehadirannya membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dan tidak aman. Perilaku jahat ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang tampak normal, bukan pasien gangguan mental. Perilaku jahatnya pun dapat dilakukan di berbagai konteks interaksi sosial, seperti: dalam relasi intim, keluarga, lingkup kerja, komunitas dan lingkup sosial lainnya. Secara khas, akan ada orang-orang yang dirugikan atau menjadi korban baik dalam relasi intim maupun dalam interaksi sosial-komunitas. Pada beberapa bidang pekerjaan, orang-orang seperti ini dapat berbahaya. Perilaku jahat yang dapat dilakukannya dapat menimbulkan kerugian baik materil maupun psikis yang cukup besar, bahkan bisa mengarah pada tindak kriminalitas. Oleh karena itu, penting untuk memahami siapa orang yang “beracun” secara sosial ini dan bagaimana mengidentifikasinya. Tulisan ini akan menguraikan tentang pendekatan karakter gelap (dark traits) untuk menjelaskan perilaku jahat manusia. Baca lebih lanjut

Menangkap Psikopat (1) Mengenali psikopat dalam kekerasan di relasi intim

Menangkap Psikopat (1)

Mengenali psikopat dalam kekerasan di relasi intim

Margaretha

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

psychopath-face

Reza sudah siap mendapatkan mangsa baru. Sejak bercerai, keluar dari pekerjaan, dan pindah kota, hidupnya masih naik-turun dalam kemarahan diri. Ia telah mencoba meditasi namun belum berhasil membuat moodnya stabil. Lalu, ia berpikir untuk membentuk hidup baru. Ia ingin segera mendapatkan pekerjaan dan lingkungan sosial baru dimana tidak ada orang yang mengetahui sejarah penyimpangan perilakunya. Secara berhati-hati, ia menyusun resume yang sangat meyakinkan dan menutupi segala kesalahan dan perilaku menyimpang yang telah dilakukan sebelumnya. Ia menciptakan image baru sebagai manusia “normal” dan sempurna melalui berbagai aktivitasnya. Namun seiring dengan waktu, ia merasa kurang. Ia membutuhkan atribut sosial yang lebih meyakinkan untuk mendukung image manusia barunya ini. Atribut keluarga akan sangat tepat untuknya saat ini.

Reza mencari calon istri baru di Tinder. Disana ia bertemu seorang perempuan yang memiliki satu anak perempuan yang sangat manis, yang juga menunjukkan ketertarikan padanya. Dalam kepalanya, inilah atribut sosial yang dibutuhkannya. Segera memiliki istri dan anak untuk mendukung image “normal” yang ingin dibentuknya kali ini. Dengan sekali usaha bisa langsung memiliki foto keluarga sempurna, “a perfect picture of family for me”. Reza sebenarnya takut punya anak biologis karena takut si anak akan sama agresif dan kasar seperti dia, yang diyakininya diwarisi dari garis keturunan keluarganya. Menurutnya, memiliki anak ini akan menghindarkan dia dari tanggungjawab atas lahirnya keturunannya yang kasar dan agresif.

Selanjutnya, dengan kata-kata, sikap dan perilaku yang sama seperti ia mendekati mantan istri dan berbagai mantan pacar sebelumnya, Reza mulai mendekati si perempuan baru. Sangat meyakinkan dilakukannya dengan menonjolkan gelar doktor lulusan luar negeri dan kepintarannya dalam menulis dan berbicara di depan umum. Setelah beberapa kali bertemu, ia bergerak cepat membuat komitmen untuk mengikat si perempuan “Gua suka banget sama lo, lo beda dengan mantan gua sebelumnya. Lo paling istimewa karena lo pintar dan sederhana, ga seperti mantan istri dan mantan-mantan gua yang lain. Kita nikah aja segera ya. Gua bakal nafkahin lo dan anak lo. Kita bisa tinggal bersama.”

Setelah membangun relasi pacaran selama beberapa minggu, kata-kata dan sikap mengontrol Reza mulai keluar dan diarahkan ke pasangannya. Sekali lagi, kata-kata yang digunakannya pun sama seperti yang pernah digunakannya untuk mengontrol pasangan-pasangan sebelumnya: “Kalau pakai baju jangan yang ketat dan pendek gitu, kayak perempuan murahan aja. Lo emangnya mau genit sama abang-abang di luar sana? Ga sudi gua badan calon istri gua dilihatin abang-abang kayak perempuan murahan. Dan ga usah genit-genit ngomong sama laki-laki, menurut gua lo udah selingkuh.” Jika pasangannya tidak melakukan persis seperti keinginannya, maka Reza akan berkata-kata kasar pada pasangannya. Kata-kata kasar yang dipilihnya adalah sebutan yang merendahkan perempuan, persis sama seperti kata-kata yang digunakannya untuk menyakiti pasangan-pasangannya yang lalu. Kekerasan emosional pun menjadi sangat intensif.

Sering, setelah menyakiti, Reza akan menyatakan putus dan meninggalkan pasangannya. Selama itu, semua komunikasi akan diputus Reza sehingga pasangannya tidak bisa menghubungi Reza. Namun keesokannya atau beberapa hari kemudian, Reza akan datang kembali dengan menangis meminta maaf dan memohon pasangannya mau menerimanya kembali. Namun masa tenang hanya berjalan beberapa hari, lalu selanjutnya mereka akan mengalami konflik lagi, dan Reza akan melakukan kekerasan emosional lagi pada pasangannya. Siklus kekerasan ini persis sama seperti yang pernah dilakukannya pada pasangan-pasangannya sebelumnya. Baca lebih lanjut

Mendampingi anak dengan trauma di Sekolah

Mendampingi anak dengan trauma di Sekolah

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

trauma schools1

Anak yang mengalami krisis atau tekanan besar dalam hidupnya dapat mengalami trauma. Anak dengan trauma dapat mengalami problem, seperti: sulit tidur, mimpi buruk, menjadi sangat bergantung pada orang lain, atau menjadi menjauh/menarik diri dari orang lain, sulit makan, berperilaku agresif, dan frustasi. Di sekolah, juga bisa muncul masalah perilaku seperti: sulit konsentrasi, dan kesulitan mengikuti instruksi di kelas dan bekerja/belajar dalam kelompok. Sayangnya, problem perilaku ini dapat membuat orang dewasa di sekitar anak salah paham bahwa anak mengalami kesulitan belajar, kesulitan konsentrasi atau gangguan kecemasan biasa. Akibatnya, Guru tidak bisa memahami masalah anak dan kurang dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Trauma dapat mempengaruhi proses belajar, perilaku anak dan juga interaksi anak dengan orang-orang di sekelilingnya. Oleh karena itu, Guru perlu memahami apa trauma dan bagaimana mendampingi anak dengan trauma di sekolah. Guru juga perlu membekali diri untuk mampu membantu anak didiknya yang mengalami trauma agar bisa belajar walaupun sedang berada dalam situasi krisis. Tulisan ini menguraikan mengenai apa trauma pada anak usia sekolah dan strategi yang dapat dilakukan Guru di sekolah untuk mendampingi anak dengan trauma. Baca lebih lanjut