Menilik Problem Perilaku Seksual (PPS) Anak: Sebagai Dasar Pengembangan Rehabilitasi Psikologis bagi Anak dengan PPS dan Anak terdampak PPS

Menilik Problem Perilaku Seksual (PPS) Anak: Sebagai Dasar Pengembangan Rehabilitasi Psikologis bagi Anak dengan PPS dan Anak terdampak PPS

Child sexual assault.png

Oleh:

Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

 

Berhadapan dengan anak laki-laki usia 12 tahun itu, membuat muncul perasaan bercampur aduk. Tubuhnya tinggi kurus, mata sayu yang sering memandang ke lantai, serta sedikit sekali berbicara. Secara umum, gaya tubuhnya menunjukkan rasa kurang percaya diri berhadapan dengan orang baru seperti saya di hadapannya saat ini. Namun datanya, terakhir ini ia tertangkap-tangan melecehkan secara seksual anak laki-laki usia 4 tahun. Kasusnya tengah dilaporkan di Kepolisian; ia bisa dilihat sebagai seorang pelaku kejahatan seksual anak pada anak lainnya (child on child sexual assault). Selain itu, ia juga pernah beberapa kali ketahuan mengintip perempuan dewasa yang sedang mandi. Keluarganya juga telah mengetahui kebiasaannya mengakses pornografi di internet melalui hand-phone dan mini-tab yang sudah bisa digunakannya sejak Sekolah Dasar (SD). Ia mengakui, sejak kelas 1 SD telah tertarik melihat gambar perempuan telanjang dari games yang dimilikinya. Dan sejak itu, ada saat dimana ia berfantasi dan ingin melihat perempuan telanjang. Ia juga sering sendiri di rumah tanpa pengawasan dan tidak melakukan kegiatan apapun. Hal-hal inilah yang mendorongnya melakukan akses pornografi, lalu diikuti dengan mengintip orang dewasa di sekitarnya, hingga akhirnya ditemukan telah melakukan pelecehan seksual anak yang lebih kecil darinya. Walau berkali-kali dimarahi dan dipukuli oleh orang tuanya setiapkali ketahuan, namun ia tidak bisa menghentikan perilakunya.

Sayangnya, dia tidak sendiri; ada banyak kasus kejahatan seksual anak oleh pelaku anak di bawah umur seperti ini terjadi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang perlu dilakukan? Sebagai keluarga atau komunitas, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah hal ini berulang atau menjadi lebih parah? Artikel pendek ini bertujuan memberikan definisi dan upaya memahami problem perilaku seksual anak. Harapannya tulisan ini dapat digunakan oleh profesional kesehatan mental dan masyarakat untuk mengembangkan upaya-upaya rehabilitatif untuk mendukung keberhasilan intervensi problem seksual anak saat ini.

Baca lebih lanjut

Iklan

Analisa Profil Kriminal: Tommy Lynn Sells (#2)

Analisa Profil Kriminal: Tommy Lynn Sells

Sayyidah Nuriyah, Indriswara Detary, Nailil Karomah, Mery Retrofita, & Naventa Audinata

Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 tumblr_nqxrih8eJj1uuvfgno2_r1_1280.jpg

Apakah ini kejahatan?

Actus reus

Actus reus tidak hanya meliputi tindakan jahatan, tetapi juga meliputi semua elemen kejahatan lainnya selain dari pemikiran (state of mind) terdakwa. Perilaku kejahatan ini harus bersifat sengaja (terdakwa yang dinyatakan bersalah karena melakukan tindakan kejahatan dengan sengaja). Berdasarkan asal dari actus reus-nya, menurut Elliott dan Quinn (2012) kejahatan dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Tindakan kejahatan: bentuk aksi kejahatan tersebut dan tidak memperdulikan konsekuensi.
  • State of affairs crimes (keadaan kriminal): keadaan, dan kadang juga mencakup konsekuensi, tapi bukan perilaku (lebih ke menjadi suatu kejahatan, bukan melakukan suatu kejahatan)
  • Hasil kejahatan: harus ada hasil dari kejahatan yang dilakukan terdakwa

Berdasarkan kasus Tommy Lynn Sells actus reus dari kasus ini dapat terlihat dengan jelas dimana tindakan kejahatan tersebut berupa Sells masuk kerumah tanpa ijin dari pemilik rumah dan melakukan pembunuhan terhadap Kaylene ‘Katy’ Harris (13 tahun) dengan cara menggorok leher 2 kali dan menusuknya 16 kali dan merobek pakaiannya. Selain itu, Sells juga berusaha untuk membunuh Krystal Surles (10 tahun) dengan cara yang sama yaitu menggorok lehernya karena Krystal melihat kejadian tersebut yang pada saat itu ia sedang berada satu kamar dengan Katy. Hasil dari kejahatan tersebut adalah terbunuhnya Katy dan Krystal harus mendapat perawatan dirumah sakit, selain itu juga perusakan jendela yang dilakukan oleh Sells ketika hendak meninggalkan rumah (Carson, 2014). Baca lebih lanjut

CRIMINAL PROFILLING: TOMMY LYNN SELLS (#1)

CRIMINAL PROFILLING TOMMY LYNN SELLS

Oleh: Innayah Tiara Jelita, Andini Damayanti, Arifah Rasyidayanti, Luthfah Naily, & Erizza Farizan

Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 quote-i-don-t-know-what-love-is-two-words-i-don-t-like-to-use-is-love-and-sorry-because-i-tommy-lynn-sells-92-15-21

KASUS

Pembunuhan ini berawal dari Tommy Lyn Sells yang memasuki rumah keluarga Harris lewat jendela kamar Justin. Saat itu, Justin masih terbangun dan akhirnya pindah ke kamar lain, yaitu ke kamar Katy dan Krystal. Sebenarnya, Sells tidak menyadari keberadaan Krystal pada awalnya karena Krystal bersembunyi di bawah tempat tidur. Sebelumnya Krystal memang menyadari ada orang yang masuk dan langsung bersembunyi (CBS News, 2009). Baca lebih lanjut

Mengelola Perilaku Sulit Anak dengan Autisme dengan Rancangan Dukungan Perilaku (Behavior Support Plan)

Mengelola Perilaku Sulit Anak dengan Autisme dengan Rancangan Dukungan Perilaku (Behavior Support Plan)

Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Materi diperoleh dalam Masterclass: Advanced behavior workshops oleh Autism Association of Western Australia oleh Joan Mc Kenna Kerr dan Tasha Alach di Surabaya pada tanggal 17-19 Juli, 2017.

 

N9388048angry-child-boy.jpg

Carol diajak oleh Ibunya ke toko. Carol ingin lebih lama di toko, namun Ibu segera mengajaknya pulang karena ia ingin segera pulang ke rumah. Segera setelah diajak pulang, Carol merajuk duduk di lantai dan tidak mau bergerak. Agar Carol mau pulang, maka Ibu mengatakan bahwa kalau Carol mau pulang, maka nanti setelah makan malam mereka akan pergi lagi keluar rumah. Namun, karena merasa sudah terlalu larut, maka Ibu memutuskan untuk tidak jadi keluar rumah. Carol menjadi marah, dan tantrum. Lalu, Carol mulai menggigiti tangannya sendiri, berteriak dan mulai melempari barang-barang. Ibunya menjadi sangat bingung menghadapi perilaku sulit Carol. Ibu ingin menghentikan ledakan emosi dan perilaku menggigit Carol karena dianggapnya berbahaya karena bisa membuatnya luka. Ibu memegang Carol dan bilang jangan gigit. Tapi tiba-tiba, Carol menggigit Ibunya. Ibunya terkejut dan menjauh dari Carol. Melihat anaknya dari kejauhan, ia bingung, apa yang harus dilakukan? Baca lebih lanjut