Karakter Gelap Manusia dan Kejahatan

 

Margaretha

Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

scientists-say-these-2-dark-personality-traits-can-help-you-succeed-at-work

Dalam interaksi sosial, tidak jarang kita bertemu dengan orang-orang yang dapat melakukan perilaku jahat sehingga merusak relasi sosial dan menyakiti orang lain. Ada yang jelas-jelas menampilkan perilaku jahatnya, adapula yang di awal tampil meyakinkan namun kemudian menjadi orang yang “beracun” (toxic person), dimana kehadirannya membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dan tidak aman. Perilaku jahat ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang tampak normal, bukan pasien gangguan mental. Perilaku jahatnya pun dapat dilakukan di berbagai konteks interaksi sosial, seperti: dalam relasi intim, keluarga, lingkup kerja, komunitas dan lingkup sosial lainnya. Secara khas, akan ada orang-orang yang dirugikan atau menjadi korban baik dalam relasi intim maupun dalam interaksi sosial-komunitas. Pada beberapa bidang pekerjaan, orang-orang seperti ini dapat berbahaya. Perilaku jahat yang dapat dilakukannya dapat menimbulkan kerugian baik materil maupun psikis yang cukup besar, bahkan bisa mengarah pada tindak kriminalitas. Oleh karena itu, penting untuk memahami siapa orang yang “beracun” secara sosial ini dan bagaimana mengidentifikasinya. Tulisan ini akan menguraikan tentang pendekatan karakter gelap (dark traits) untuk menjelaskan perilaku jahat manusia. Baca lebih lanjut

Gradasi Kekejian: Tingkat pembunuhan keji menurut Michael Stone (2009)

Gradasi Kekejian: Tingkat pembunuhan keji menurut Michael Stone (2009)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Anatomy of Evil by Michael Stone

Sepanjang sejarah kita telah mendengar berbagai cerita yang begitu keji dilakukan manusia. Kain membunuh saudaranya sendiri Habil; Remus membunuh Romulus; hingga pada abad ini muncul beberapa kasus pembunuhan berantai. Manusia membunuh manusia-manusia lain dengan berbagai cara. Beberapa pelaku melakukannya karena menikmati proses penyiksaan yang dilakukan sebelum membunuh korbannya. Bahkan usaha-usaha menghilangkan korban pun terdengar sangat aneh dan menakutkan, dari cara pembakaran, mutilasi hingga kanibalisme. Mendengarnya pun kita merasakan teror dan ketakutan.

Mengapa seorang manusia bisa melakukan kekejian (evil)? Dalam memahami berbagai perilaku keji yang dilakukan oleh manusia ini, apakah ada tingkat kekejian yang membedakan satu tindakan keji dari yang lain? Tulisan ini akan menguraikan mengapa manusia melakukan kekejian, dan usaha memahami berbagai perilaku kekejian yang diuraikan oleh Michael Stone, seorang Psikiater Forensik yang telah menganalisis kasus kejahatan keji di Amerika Serikat.

Baca lebih lanjut

Apakah hati nurani (conscience)?

Apakah Hati Nurani (conscience)?

Oleh:
Margaretha
Dosen pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

imageBerikut adalah dua cerita.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Amir melihat seorang remaja perempuan yang sedang menawarkan pada orang-orang di jalan untuk menyumbang suatu panti asuhan yang sedang membutuhkan bantuan dana. Si remaja putri, sebagai salah satu anak yang tinggal di panti tersebut, menyampaikan bahwa dana bantuan sangat dibutuhkan untuk memperbaiki panti asuhannya yang sudah bocor dan banyak tempat tidur anak yang mulai rusak. Setiap orang yang lewat akan disapa dan diajak untuk menyumbang. Namun dari sepanjang jalan, Amir melihat tidak ada seorangpun yang mau berhenti untuk menyumbang. Hati Amir tergerak, untuk berhenti dan menyumbang remaja itu. Amir lalu berhenti, berbicara dengan si remaja dengan penuh perhatian, lalu memberikan sumbangan bagi panti asuhan tersebut.

Ibu Ani bekerja membuat nugget ayam dan memasarkannya di pasar-pasar tradisional. Selama ini, ia merasa keuntungannya sangat sedikit. Teman-temannya mengatakan bahwa dengan menggunakan daging ayam yang mulai rusak dan menggunakan ‘blek’ (borax) maka keuntungan akan berlipat-lipat karena bahan baku nugget menjadi jauh lebih murah dan blek membuat nugget tahan lama. Bu Ani tahu bahwa borax dilarang digunakan dalam makanan, namun ia tetap berpikir untuk menggunakan blek agar keuntungannya bertambah. Dalam pikirannya, uang dari menjual nugget sangat dibutuhkannya untuk menyekolahkan anaknya.

Bagaimana pandangan anda ketika membaca dua penggal cerita di atas? Sebagian orang yang membacanya mungkin merasa lega dan senang, ketika membaca Amir akhirnya memutuskan berhenti dan menyumbang, bukannya acuh dan berlalu begitu saja; dan akan kurang senang atau membenci perilaku Ibu Ani yang tidak memperhatikan kesehatan orang lain demi keuntungan pribadi. Apakah menurut anda, Amir melakukan perilaku menyumbang atas dasar hati nurani? Apakah perilaku Bu Ani terjadi karena ia tidak memiliki hati nurani?

Apakah hati nurani itu? Tulisan pendek ini akan mengulas sedikit mengenai hati nurani manusia, lalu bagaimana hati nurani berkembang, serta relevansinya dengan pendidikan anak.
Baca lebih lanjut

Mediasi dan Moderasi dalam Penelitian Kesehatan Mental

Mediasi dan Moderasi dalam Penelitian Kesehatan Mental

Oleh: Margaretha, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Penelitian kesehatan mental bergerak melampaui pertanyaan: “apakah suatu intervensi memiliki efektivitas?” menuju ke pertanyaan untuk mengidentifikasi faktor dan proses yang mendasari efek intervensi pada perilaku manusia. Dinamika interaksi proses mediasi dan moderasi dalam intervensi klinis berguna dalam menjelaskan mekanisme perubahan perilaku manusia menuju ke kesehatan mental.

Baca lebih lanjut