Kekerasan Seksual Anak oleh Anak

Kekerasan Seksual Anak oleh Anak

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

child

Anak A, laki-laki berusia 6 tahun, sedang diselidiki oleh pihak sekolah. Beberapa minggu lalu, ia dilaporkan oleh teman sebanyanya karena telah melakukan kekerasan seksual pada beberapa teman sekelasnya. Orang tua anak yang disangkakan korban sangat marah, tidak terima kondisi anaknya dan menuntut sekolah untuk memberikan hukuman tegas pada tersangka pelaku anak. Sedangkan orang tua yang lain, mendengarkan cerita ini dengan kengerian, mengapa anak sekecil ini bisa melakukan hal seperti itu?

 

Kekerasan seksual anak

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada tahun 2010-2014 tercatat 21,6 juta kasus pelanggaran hak anak, dan sekitar 58% dikategorikan sebagai kejahatan seksual serta sisanya berupa kekerasan fisik, penelantaran dan lainnya (Marniati & Hermawan, 2015). Kekerasan seksual juga banyak dialami di luar negeri. Sebuah survey di Inggris pada tahun 2012-2013 menemukan 23.000 kasus kekerasan seksual anak berusia di bawah 16 tahun. Namun yang memprihatinkan, trend kekerasan seksual anak menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990an, Kelly dan koleganya menemukan bahwa 1 dari 2 anak perempuan serta 1 dari 4 anak laki-laki mengalami kekerasan (dalam Finkelhor, 1984). Data kekerasan seksual pada anak terus bertambah.

Kekerasan seksual pada anak adalah perilaku seksual yang dipaksakan pada anak dan menimbulkan penderitaan bagi korban anak, baik anak menyadarinya sebagai kekerasan ataupun tidak. Artinya, ada suatu standar obyektif yang menjelaskan kekerasan seksual pada anak. Jika anak tidak sadar bahwa ia mengalami kekerasan seksual bukan berarti tidak terjadi kekerasan. Oleh karena itu, adalah tugas orang dewasa di sekitar anak yang mengidentifikasi dan memberikan intervensi segera jika disinyalir terjadi kekerasan seksual pada anak.

 

Bentuk-bentuk kekerasan seksual anak

Berikut adalah beberapa bentuk kekerasan seksual anak yang telah banyak dilaporkan terjadi pada anak dan remaja (Stop it now, 2007):

  1. Sentuhan seksual pada bagian tubuh, berpakaian atau tidak berpakaian, termasuk menyentuh menggunakan obyek
  2. Kekerasan dengan penetrasi, termasuk pemerkosaan melalui mulut dengan obyek atau bagian tubuh
  3. Mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan seksual, seperti: berhubungan seksual dengan orang lain, menyuruh anak telanjang atau masturbasi
  4. Dengan sengaja beraktivitas seksual di depan anak
  5. Secara sengaja tidak mencegah anak menyaksikan aktivitas seksualyang dilakukan orang lain
  6. Mendekati anak, merayu dan membangun kedekatan emosional dalam rangka mempersiapkan anak untuk dikenai aktivitas seksual atau dieksploitasi secara seksual
  7. Mengambil, membuat, menyebarkan, memperlihatkan atau mempertontonkan gambar telanjang atau tidak senonoh anak
  8. Membayar anak untuk memberikan layanan seksual
  9. Mengarahkan anak untuk bekerja dalam pornografi dan pelacuran
  10. Mempertunjukkan gambar aktivitas seksual pada anak, termasuk foto, teks sms, video melalui social media, smartphone atau video online
  11. Melibatkan anak dalam kegiatan seks online, di media sosial, sms, dengan smartphones serta website pornografi anak.

 child 2

Siapa pelaku kekerasan seksual pada anak?

Di Inggris, ditemukan sekitar 90% kasus kekerasan seksual anak pelakunya adalah orang yang dikenal oleh anak. Sebagian besar pelaku kekerasan seksual anak diketahui adalah orang-orang dewasa di sekitar anak, seperti: keluarga, orang tua, tetangga, kerabat dan teman keluarga serta orang dewasa lainnya (Skuse dkk., 2006).

Orang dewasa yang berpotensi melakukan kekerasan seksual anak biasanya ditemukan pernah mengalami trauma kekerasan seksual dan fisik pada masa kecilnya (Lakhani, 2010). Dalam pedoman penggolongan diagnosa gangguan jiwa, Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V; American Psychiatry Association, 2013), pelaku kekerasan seksual anak dikategorikan sebagai orang dengan gangguan penyimpangan seksual Pedophilia. Jika ditemukan terjadi kekerasan fisik dan psikis, bisa juga penyimpangan seksualnya cukup parah karena ditambah lagi dengan penyimpangan seksual Sadisme.

Namun penelitian kekerasan seksual anak telah menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual bisa juga adalah anak-anak. Anak diketahui dapat melakukan kekerasan seksual pada saudara sekandung, teman sekelas, dan teman sebayanya (Lakhani, 2010). Fenomena kekerasan seksual anak oleh anak ini sering menyulitkan berbagai pihak untuk mengidentifikasi dan memberikan intervensi, karena masyarakat umumnya sulit memahami bahwa anak dapat melakukan kekerasan apalagi secara seksual pada anak lain. Akibatnya, masalah ini menjadi sulit dicegah dan dihindari. Kasus yang muncul ke permukaan adalah kasus-kasus yang berulang atau korban sudah menderita cukup parah, sehingga persoalan kekerasan seksual anak oleh anak baru dapar diketahui.

child 3

Ciri-ciri korban kekerasan seksual pada anak

Ada beberapa jenis perubahan pada anak yang dapat terjadi, misalkan:

  1. Menjauhi orang tertentu
    1. Tidak mau ditinggal berdua saja dengan orang tertentu, misalkan anggota keluarga atau teman
    2. Tampak takut atau tidak nyaman untuk bersama atau berinteraksi dengan orang-orang tertentu
  2. Muncul perilaku seksual yang tidak sesuai dengan usianya
    1. Aktif secara seksual pada usia muda
    2. Berganti-ganti pasangan
    3. Menggunakan istilah seksual yang tidak diharapkan dimiliki oleh anak seusianya
  3. Menunjukkan gejala fisik
    1. Kesakitan atau lebam pada daerah anal atau vaginal
    2. Pendarahan yang tidak biasa
    3. Terkena penyakit menular seksual
    4. hamil
  4. menunjukkan gejala psikis
    1. depresi, kecemasan, Gangguan Stress Pasca Trauma (Post-traumatic Stress Disorder; PTSD) dengan mimpi buruk, mengompol
    2. problem perilaku internalisasi dan eksternalisasi
    3. gangguan makan dan tidur serta disasosiasi
    4. ketidakmampuan mengelola emosi dan stress (emosi labil)
    5. menyalahkan diri (self blame) dan menyakiti diri sendiri (self harm)
    6. gangguan belajar dan memori
    7. menurunnya fungsi dan interaksi sosial

Trauma kekerasan seksual masa kanak dapat mempengaruhi aspek fisik dan psikis, dan bukan hanya pada jangka pendek namun juga jangka panjang. Yang menjadi persoalan, banyak anak yang pernah menjadi korban kekerasan seksual masa kanak dapat mengalami kekerasan lagi (revictimization).

 

Mengapa anak melakukan kekerasan seksual pada anak lain?

Sebagian besar anak pelaku kekerasan seksual pada anak lain adalah anak laki-laki. Sebelumnya pelaku anak juga pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual dari pelaku yang jumlahnya lebih dari satu orang atau pernah mengalami lebih dari satu bentuk kekerasan (Stop it now, 2007). Beberapa penelitian juga menemukan bahwa sepertiga dari pelaku kekerasan seksual anak dewasa melaporkan bahwa pengalaman kekerasan mereka pertama kali dilakukan sebelum usia mereka 18 tahun (Lakhani, 2010).

Pelaku anak kekerasan seksual pada anak lain, sekitar separuhnya mengakui pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga dan juga penelantaran (Radford dkk., 2011; Skuse dkk., 2006). Hal ini menunjukkan bahwa pelaku anak meniru perilaku orang dewasa di lingkungan mereka.

Pelaku anak mencoba mengambil kontrol atas ketidakbahagiaan, kesepian dan kekejaman yang dialami dalam hidup mereka, dengan cara merusak hidup anak-anak lain yang terkesan lebih bahagia atau lebih beruntung daripada mereka (Lakhani, 2010). Pelaku anak juga ditemukan melakukan pendekatan pada calon korbannya dan juga cukup luwes mempersiapkan korbannya agar dapat memenuhi keinginannya (Lakhani, 2010).

Pelaku akan mendekati anak lain yang lebih rentan, seperti; lebih muda, lebih lemah atau yang menarik perhatiannya. Biasanya, pelaku anak diketahui telah melakukan kekerasan seksual pada rata-rata dua anak atau lebih, artinya kekerasan seksual anak oleh anak adalah pola perilaku atau berulang.

Selain itu, pelaku anak juga ditemukan mengalami hidup keluarga yang tidak stabil, keluarga pecah atau yang banyak mengalami kekerasan. Pelaku anak biasanya diketahui baru saja mengalami perpisahan atau kehilangan besar dalam hidupnya, misalkan: ditinggal meninggal Kakek atau Nenek, matinya hewan peliharaan, perpisahan orangtua atau pindah rumah (Skuse dkk., 2006). Akibatnya, pelaku anak belajar kekerasan dari keluarganya, kurang mengembangkan empati (lack of empathy) serta kurang mengembangkan pemahaman akan batasan perilaku seksual (lack of sexual boundaries). Hal-hal ini menunjukkan betapa merusaknya pengaruh trauma menyaksikan dan mengalami kekerasan pada masa kanak.

 

Referensi

American Psychiatric Association (2013). Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders V. Washington: APA.

Finklhor, D. (1984) Child sexual abuse: New theory and research. New York: Free Press.

Lakhani, N. (2010). What Drives a child to commit sexual abuse? Diunduh pada Desember 2015 dari http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-families/health-news/what-drives-a-child-to-commit-sexual-abuse-2114974.html

Marniati & Hermawan, B. (2015). Indonesia darurat kekerasan seksual anak. Diunduh pada Desember 2015 dari http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/10/09/nvyiqc354-indonesia-darurat-kekerasan-seksual-anak

National Association for People Absued in Childhood (2015). What is child sexual abuse? Diunduh pada Desember 2015 dari https://www.nspcc.org.uk/preventing-abuse/child-abuse-and-neglect/child-sexual-abuse/what-is-csa/

Print, B., & Morrison, J. (2006). Treating adolescents who sexually abuse others. Dalam Catherine Itzin (ed.) “Home truths about sexual abuse”. Routledge: London.

Radford, L., Corral, S., Bradley, C., Fisher, H., et al. (2011). Child abuse and neglect in the UK today. London: NSPCC.

Skuse, D., Bentovim, A., Hodges, J., Stevenson, J., et al. (2006). Risk factors for development of sexually abusive behaviour in sexually victimised adolescent boys. Dalam Catherine Itzin (ed.) “Home truths about sexual abuse”. Routledge: London.

Stop it now (2007). Do Children Sexually Abuse Other Children? Preventing sexual abuse among children and youth. Northampton; JKG Group.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s