Menjaga anak-anak kita dari pelecehan seksual

Menjaga anak-anak kita dari pelecehan seksual

Oleh: Margaretha
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
image
Pelecehan seksual adalah kejahatan. Penting agar pelaku segera ditindak secara hukum dan psikologis. Jika tidak, maka sangat tinggi kemungkinannya pelaku akan mengulang perilakunya dan mencari mangsa baru. Tulisan ini menguraikan beberapa informasi yang mungkin perlu diketahui tentang pelecehan seksual pada masa kanak. Tulisan ini menjadi ide dasar penyusunan program Sosialisasi Pencegahan Pelecehan Seksual pada Anak Sekolah Dasar Kelas 1-6 di Surabaya.

Awal

Pelecehan seksual adalah bentuk kekerasan, dimana anak di bawah umur dipaksa terlibat dalam aktivitas seksual, dipaparkan atau dipertunjukkan organ kelamin secara tidak senonoh, anak disalahgunakan untuk mendapatkan kepuasan seksual, atau menggunakan anak dalam pornografi.

Pelecehan seksual biasanya dimulai dari perilaku pelaku yang mencoba mendapatkan kepercayaan dan persahabatan dengan anak. Awalnya, pelaku akan mencobai rasa ingin tahu anak dan mengetes seberapa besar kemampuan anak dalam menjaga diri; diawali dengan memberikan lelucon tentang seks, main kuda-kudaan, meraba punggung anak, mencium dan bermain yang terkait dengan seks. Jika anak terlihat tidak terlalu terganggu dan penasaran (sebagian besar anak normal akan menunjukkan rasa ingin tahu), maka pelaku akan bertindak lebih jauh dengan melakukan perilaku seks secara langsung, seperti: menunjukkan organ kelamin, menyentuh organ kelamin anak, masturbasi, intercourse dan melakukan pornografi dengan anak.

Sebagian besar anak tidak memahami apa yang terjadi, tidak paham bahwa yang dialaminya bermakna seksual; bahkan tidak tahu bahwa aksi pelaku adalah salah.

Di awal, pelaku berusaha untuk tidak melukai secara fisik korban anak, karena tahu jika anak terluka maka anak akan lebih mungkin bercerita pada orang lain. Hal ini dapat menggagalkan usahanya untuk mengambil keuntungan secara seksual. Selanjutnya, setelah perilaku seksual terjadi, pelaku akan membuat anak berpikir bahwa ialah yang bertanggungjawab atas aksi seksual pelaku atas dirinya. Anak akan merasa terjebak dan tidak sanggup bercerita pada orang lain. Pelaku lebih memililih untuk memanipulasi pikiran anak agar si anak berpikir bahwa pelecehan terjadi karena kesalahannya sendiri; atau pelaku dapat mengarahkan agar si anak berpikir bahwa pelecehan seksual adalah hal biasa atau wajar. Manipulasi pikiran akan membuat anak semakin sulit menceritakan pengalamannya bahkan berusaha menutupi perilaku pelecehan seksual tersebut.

Siapa pelaku pelecehan seksual?

Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Amerika Serikat menemukan bahwa sekitar 25% anak pernah mengalami pelecehan seksual sebelum usia 18 tahun (Child Welfare Information Gateway; CWIG, 2010). Namun begitu, hanya sekitar 16% yang melaporkan pengalaman pelecehan seksual pada orang lain, dan hanya sekitar 3% pelaku pelecehan yang berhasil ditangkap dan dijerat secara Pidana. Kenyataannya, sebagian besar pelaku pelecehan seksual bebas dan dapat mencari korban anak baru di antara masyarakat.

Berikut adalah beberapa ciri-ciri pelaku pelecehan seksual (CWIG, 2010):
1. kemungkinan adalah orang yang dikenal dan disukai oleh anak
2. bisa perempuan maupun laki-laki; menikah maupun single
3. bisa anak, remaja atau dewasa
4. bisa berasal dari berbagai latar belakang budaya dan ras
5. bisa jadi anggota keluarga, rekan, guru, rohaniwan, pengasuh, atau siapapun yang melakukan kontak dengan anak
6. tingkat intelektual dan latar pendidikan tidak berpengaruh pada perilaku pelecehan seksual

Melihat betapa pelaku bisa berasal dari manapun, baik orang asing bahkan orang terdekat anak; maka penting agar orang tua, guru dan orang dewasa di sekitar anak untuk belajar bagaimana cara-cara menghindari pelecehan seksual dan cara-cara mengidentifikasi korban pelecehan seksual.

Namun perlu dipahami, berdasarkan survey pada kejahatan pelecehan seksual anak ditemukan bahwa sebagian besar pelaku pelecehan seksual anak berasal dari lingkungan terdekat anak, seperti: kenalan atau keluarga; dan lebih banyak pelaku adalah laki-laki daripada perempuan (Fergusson, Lynskey, & Horwood, 1996).

Riset menurut Holmes dan Holmes (2002) mengklasifikasi 2 jenis pelaku pelecehan seksual:

1. berdasarkan situasional – tidak memilih pemuasan seksual hanya pada anak, namun pada kondisi tertentu bisa berhubungan seksual dengan anak. Jenisnya dapat dibagi menjadi:
a. Tipe regresi: memiliki relasi intim dengan orang dewasa lain, namun stress hidup membuat mereka mencari anak untuk memuaskan seksualitas
b. Tipe kemunduran moral: melakukan berbagai penyimpangan seks, pelecehan pada anak hanya salah satu hal penyimpangannya
c. Tipe naïf/tidak mampu: tidak mampu membuat relasi dengan lawan jenis yang setara, maka mencari anak karena mudah patuh dan tidak melawan

2. berdasarkan pilihan – pelaku memang memiliki minat seksual pada anak
a. Tipe mysoped: memiliki kecenderungan sadis dan melakukan kekerasan
b. Tipe fiksasi: minat pada dunia kanak terfiksasi sehingga tidak ada atau kurang melakukan aktivitas sosial dengan orang sebayanya

Pelaku pelecehan seksual pada anak bisa berasal dari residivis pelaku kejahatan seksual, pedofilia, pelaku pelecehan anak atau remaja, dan orang yang memiliki penyimpangan seksual namun bekerja di sekitar anak (misalkan: guru, rohaniwan, dan sebagainya).

Berlanjut: Pelaku mendekati anak

Setelah fase awal, pelaku pelecehan seksual akan berusaha mempertahankan perilaku seksualnya pada anak. Cara-cara pelaku untuk membuat anak tetap menjadi korbannya (CWIG, 2010):
1. memberikan perhatian pada anak dan membuat anak merasa spesial
2. menampilkan diri di depan keluarga si anak sebagai orang yang bisa dipercaya sehingga tidak ada rasa curiga dari orang-orang di sekitar anak
3. memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak, serta menggunakan pemahaman ini untuk mendekati anak atau mempertahankan anak di bawah kendalinya
4. memberikan mainan, hadiah yang disukai anak
5. mengisolasi anak dari teman-teman bermainnya, dengan alasan ingin bermain berdua saja
6. jika pelaku bekerja dengan anak, maka pelaku akan sering menggunakan waktunya untuk beraktivitas bersama anak di luar rumah, misalkan: mengajak jalan
7. menggunakan rasa ingin tahu anak dengan bercanda humor seks, menggunakan pornografi dan bermain permainan seksual
8. jika pelaku adalah orangtua, maka lebih mudah melakukan pelecehan pada anaknya sendiri; bahkan membuat pasangannya (istri) tidak mengetahui pelecehan seksual di rumahnya. Biasanya pelaku berusaha menghambat komunikasi terbuka antara orang-tua (Ibu) dan anak.

Pelaku jarang tertangkap. Hal ini terjadi karena pelaku menggunakan cara-cara berikut dalam memanipulasi anak:
1. mempengaruhi anak agar berpikir bahwa pelecehan adalah kesalahannya sendiri
2. membuat anak berpikir bahwa tidak akan ada yang mempercayainya jika ia mau menceritakan pengalamannya pada orang lain
3. mengatakan pada anak bahwa orangtua mereka akan kecewa dan sedih jika tahu tentang pengalaman pelecehan seksual ini
4. mengajak anak berpikir bahwa mereka sangat spesial karena bisa memahami dan memaklumi kondisi pelaku
5. menjelaskan pada anak bahwa perilaku pelecehan seksual adalah hal wajar, misalkan: setiap ayah memang akan menyentuh anaknya seperti ini (secara seksual).
6. Mengajak anak menutupi pengalaman pelecehan seksual sebagai pertanda kasih sayang untuk pelaku

Penelitian menemukan bahwa sebagian pelaku pelecehan seksual dulunya pernah menjadi korban pelecehan seksual. Namun tidak semua korban pelecehan seksual anak akan menjadi pelaku di masa dewasanya. Kejahatan seksual didorong juga oleh distorsi kognitif atau ide yang salah mengenai kekerasan dan seksualitas, beberapa di antaranya adalah: 1) minimalisir luka, perilaku pelecehan disangkal lukanya atau dikecilkan agar terkesan tidak salah; 2) menyalahkan korban, pelaku membuat dalih bahwa pelecehan terjadi karena kesalahan korban sendiri, misalkan karena kebodohan atau keinginan korban diperlakukan sedemikian rupa; dan 3) alasan, pelaku dapat berdalih bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain melakukan pelecehan, misalkan: karena istri sakit maka ia melakukan aktivitas seksual dengan anaknya. Mengingat penyebab besar dari pelecehan seksual adalah distorsi kognitif, maka intervensi bagi pelaku penting untuk menarget distorsi kognitifnya.

Program pencegahan pelecehan seksual: Untuk siapa?

Riset di Amerika Serikat menunjukkan bahwa program intervensi bagi anak tidak memberikan pengaruh besar atas perilaku anak menghadapi pelecehan seksual.

Program pendidikan pelecehan seksual tidak ditemukan secara signifikan meningkatkan kemungkinan anak melaporkan pengalaman pelecehan seksual yang dialaminya. Hal ini terjadi karena anak adalah pihak yang rentan ketika berhadapan dengan pelaku pelecehan seksual yang biasanya orang dewasa atau akan mengalami ketimpangan kekuasaan. Anak akan berada dalam posisi yang lemah dan sulit untuk membela dirinya sendiri.

Oleh karena itu, promosi pencegahan pelecehan seksual harus melibatkan orang dewasa di sekitar anak. Dalam program pencegahan, maka orang tua, guru dan orang dewasa di sekitar anak perlu belajar untuk: 1) bagaimana cara-cara melindungi anak dari pelecehan seksual, 2) mengetahui apa yang perlu dilakukan jika anak mengalami pelecehan seksual, serta 3) tahu kemana mencari bantuan baik advokasi hukum dan layanan psikologis.

Berikut adalah beberapa cara untuk menjaga anak-anak jauh dari pelecehan seksual:
1. jangan berharap bahwa anak dapat melindungi dirinya sendiri atau mampu serta-merta menceritakan pelecehan seksual yang dialaminya. Anak perlu dibantu untuk dapat melakukannya.
2. Mengembangkan komunikasi terbuka, dan percaya pada anak. Sebenarnya, anak jarang berbohong dalam berbicara tentang pengalaman pelecehan seksual.
3. Berikan informasi pada anak mengenai mana bagian-bagian tubuhnya yang pribadi: jelaskan bagaimana dan siapa yang boleh menyentuh bagian tubuhnya.
4. Ajarkan anak cara membedakan sentuhan aman dan sentuhan tidak aman. Dan jika sentuhan tidak aman dialami anak, ajari mereka cara mencari pertolongan dan menghentikan pelaku
5. Kenali siapa saja teman anak serta awasi orang-orang yang bermain dengan anak kita.
6. Ajak anak berdiskusi tentang cara menjaga diri dan menjelaskan berbagai faktor resiko yang perlu dijauhi anak agar terhindar dari pelecehan seksual
7. Jaga koneksi internet anak bersih dari pornografi.

Mengajari anak untuk menjauhi pelecehan seksual, artinya secara operasional adalah memberikan anak kesempatan untuk berlatih:
1. Mengingat nama-nama bagian tubuh. konsep bagian tubuh pribadi yang tidak boleh dipegang sembarang orang
2. perbedaan antara sentuhan aman dan sentuhan tidak aman
3. mengajarkan bahwa mungkin saja ada orang yang dekat dengan anak yang mencoba menyakiti
4. menjelaskan pada anak bahwa pelecehan seksual bukanlah tanggungjawab si anak melainkan adalah tanggungjawab pelaku yang telah melakukan kejahatan pada anak
5. mengembangkan kemampuannya dalam menghindari dan mencegah pelecehan seksual , misalkan: jika sentuhan dipaksakan dan membuat anak tidak nyaman, maka anak diajarkan berteriak minta tolong dan minta bantuan orang dewasa yang dapat dipercaya
6. mengajak anak yang mengalami pelecehan seksual untuk membuat laporan hukum.
7. Ajari anak bahwa jika anak mau terbuka mencari bantuan untuk mengatasi pelecehan seksual yang dialaminya, maka orangtua akan mendukung dan percaya pada anak

Selain pencegahan primer, orang tua dan guru juga perlu peka atas persoalan dimana anak telah menjadi korban pelecehan seksual. Pencegahan agar masalah tidak berlarut-larut dan anak segera mendapatkan bantuan. Maka orang tua dan guru perlu mampu mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan bantuan setelah mengalami pelecehan seksual.

Berikut adalah ciri-ciri yang ditampilkan anak yang mengalami pelecehan seksual, yaitu:
1. perubahan perilaku, misalkan: terlalu peduli akan penampilan dan tubuhnya, atau melakukan perilaku seksual yang aneh
2. menunjukkan gejala fisik, seperti: gatal, berdarah, sakit/nyeri
3. dapat disertai sakit kepala, sakit perut dan berbagai keluhan fisik lainnya
4. gangguan tidur, seperti: mimpi buruk, ngompol, depresi, menangis berlebihan, agresif, ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat diartikulasi anak
5. melakukan perilaku “kabur” jika menghadapi persoalan

Simpulan
Telah dijelaskan bahwa pelecehan seksual adalah bentuk kekerasan. Maka perlu dihentikan dan dicegah. Pencegahan tidak cukup hanya berfokus pada mempersiapkan anak untuk membela diri dan menjaga diri. Akan tetapi, orang tua, guru dan orang dewasa di sekitar anak perlu belajar memahami berbagai kondisi anak dan problem yang dialami anak, termasuk apakah anak telah mengalami pelecehan seksual. Perubahan perilaku anak menjadi salah satu hal yang penting diamati. Sedapatnya orang tua terus mendampingi anak, bahkan dalam masa sulit ketika anak mengalami pelecehan seksual. Orang tua dan guru dapat memanggil layanan bantuan profesional dalam bidang hukum, psikologis dan sosial.

Referensi

Center for Behavioral Intervention (2010). Protecting Your Children: Advice from Child Molesters. Diakses dari: https://www.childwelfare.gov/preventing/programs/types/sexualabuse.cfm

Fergusson, DM.; Lynskey, MT.; Horwood, LJ. (Oct 1996). “Childhood sexual abuse and psychiatric disorder in young adulthood: I. Prevalence of sexual abuse and factors associated with sexual abuse”. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 35 (10): 1355–64. doi:10.1097/00004583-199610000-00023. PMID 8885590.

Iklan

3 thoughts on “Menjaga anak-anak kita dari pelecehan seksual

  1. Ping-balik: MENANGKAL SEX ABUSE/PELECEHAN SEXUAL PADA ANAK, DI KELUARGA KITA | Jenius Cara Alkitab

  2. pelecehan seksual pada akhir-akhir ini kerapkali terjadi, untuk itu sebagai orangtua kita harus bisa menjaga anak kita agar bisa terhindar dari pelecehan seksual tersebut. Untuk saling menyampaikan iniformasi penting, kiranya juga artikel #6 Tips Membentengi Anak dari Pelecehan bisa dibaca disini Seksualhttp://www.nadiguru.web.id/2016/02/6-tips-membentengi-anak-dari-pelecehan.html

  3. Ping-balik: Kekerasan Seksual Terhadap Anak-anak Masih Ada dan Meningkat. Kurang Tegaskah Negeri Ini? | Liput.ID

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s