Profil Inderawi Anak dengan Autisme

Margaretha,
sedang mengikuti Workshop Identifikasi dan Intervensi dini Anak dengan Autisme di Autism Association of Western Australia, Perth.

 sensory overload

Persoalan pada salah satu atau beberapa kemampuan pemrosesan inderawi sering ditemukan pada anak dengan autisme. Walaupun tidak masuk dalam gejala klinis yang mendasari diagnosa klinis autisme, namun gangguan pada sistem inderawi sering muncul secara khas. Tulisan ini akan menggambarkan sedikit infromasi mengenai profil karakteristik inderawi anak dengan autisme.

Baca lebih lanjut

Iklan

Perubahan Diagnosa Klinis Autisme dalam DSM V

Margaretha,
sedang mengikuti Workshop Identifikasi dan Intervensi dini Anak dengan Autisme di Autism Association of Western Australia, Perth.
 autism-diagnosis
Di bulan Mei 2013 ini, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V; American Psychiatry Association) telah terbit. Dan didalamnya berisi perubahan mengenai proses pembuatan diagnosa klinis Autisme. Perubahan memahami Autisme yang dilakukan oleh APA dinyatakan telah didasarkan pada riset dalam bidang Autisme. Tulisan ini akan menggambarkan perubahan diagnosa Autisme di dalam DSM V.

Mitos mengenai Autisme

Margaretha,
sedang mengikuti Workshop Identifikasi dan Intervensi dini Anak dengan Autisme di Autism Association of Western Australia, Perth.
rumah autisme
Ada banyak mitos mengenai Autisme Spektrum Disorder (ASD), berikut adalah beberapa mitos yang mungkin sering atau pernah anda dengar. Dalam tulisan ini akan memberikan sedikit penjelasan yang menunjukkan bahwa mitos-mitos ini salah.

DSM V dan Kekerasan dalam relasi

DSM V dan Kekerasan dalam relasi

Oleh: Margaretha
Dosen Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

relationship problem

Berbagai penelitian mengenai kekerasan dalam relasi telah membuka mata berbagai profesional dalam kesehatan mental; bahwa persoalan dalam relasi personal berpengaruh kuat pada kesehatan mental manusia. Dalam Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V; 2013) dinyatakan bahwa berbagai bentuk pengalaman traumatik akibat kekerasan dan penelantaran yang dapat dialami seseorang dalam suatu relasi interpersonal dapat mempengaruhi keadaan mentalnya. Pengalaman traumatik yang terjadi dalam relasi, baik dalam hubungan keluarga, pacaran, suami-istri, anak-orang tua diakui menjadi faktor pencetus, penyebab dan yang mempertahankan gangguan mental yang dialami seseorang. Hal ini berbeda dengan penjelasan di DSM IV TR (2000) yang lebih memfokuskan pada problem psikopatologis individu dalam relasi. Oleh karena itu, profesional dalam kesehatan mental perlu memahami persoalan-persoalan dalam relasi interpersonal, terutama yang terkait dengan kekerasan, trauma, dan penelantaran. Hal ini sangat dibutuhkan agar kita dapat secara utuh memahami persoalan mental yang dialami seseorang. Baca lebih lanjut