Ten Things Every Child with Autism Wishes You Knew

Ten Things Every Child with Autism Wishes You Knew

by Ellen Notbohm

Some days it seems the only predictable thing about it is the unpredictability. The only consistent attribute—the inconsistency. Autism can be baffling, even to those who spend their lives around it. The child who lives with autism may look “normal” but his behavior can be perplexing and downright difficult.

Autism was once labeled an “incurable disorder,” but that notion has crumbled in the face knowledge and understanding that increase even as you read this. Every day, individuals with autism show us that they can overcome, compensate for and otherwise manage many of autism’s most challenging characteristics. Equipping those around our children with simple understanding of autism’s basic elements has a tremendous impact on their ability to journey towards productive, independent adulthood. Baca lebih lanjut

Autisme: Gangguan perkembangan pada anak

Autisme: Gangguan perkembangan pada anakautisme child

Oleh: Margaretha

Dosen Psikologi Abnormal, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun; sedangkan prevalensi penyandang autisme di seluruh dunia menurut data UNESCO pada tahun 2011 adalah 6 di antara 1000 orang mengidap autisme (Republika Online). Namun hingga kini belum banyak yang kita ketahui tentang Autisme, selain gejalanya. Apakah Autisme yang bisa masih terus kita pelajari? Dengan pemahaman tersebut apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi anak dengan Autisme? Berikut adalah uraian sederhana mengenai dunia yang dihadapi oleh anak dengan Autisme.

Apakah autisme

Autisme adalah sekelompok gangguan perkembangan yang berpengaruh hingga sepanjang hidup yang memiliki dasar penyebab gangguan perkembangan di otak (neurodevelopmental). Gangguan yang terjadi pada otak anak menyebabkannya tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autisme secara menonjol pada 3 bidang, yaitu: gangguan sosial, komunikasi, dan perilaku dengan minat terbatas dan berulang. Baca lebih lanjut

Kejahatan Anak

Kejahatan Anak

Oleh: Margaretha, Pengajar Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Seorang anak kelas 1 Sekolah Dasar usia 7 tahun menjadi tersangka pembunuhan teman sepermainannya yang berusia 6 tahun. Dicurigai pembunuhan disebabkan oleh pertikaian karena korban anak berhutang uang Rp.1000,- pada tersangka anak (Kabar Sore TV One, 27 April 2013)

073332-juvenile-detention

Ada rasa terkejut dan kengerian ketika mendengar kabar seperti ini. Seperti tidak percaya, mengapa seorang anak, yang biasanya dilihat sebagai mahluk tidak berdosa, bisa melakukan perilaku seperti itu. Namun persoalannya, ternyata ini bukan kasus pertama kejahatan yang dilakukan oleh anak. Fenomena kejahatan anak ini perlu dipahami asal-usulnya, agar kita tahu bagaimana cara menghadapinya kelak. Tulisan ini akan mengulas beberapa pertanyaan yang muncul ketika berhadapan dengan kejahatan anak. Baca lebih lanjut

Criminal Profiling dan Psychological Autopsy

Criminal Profiling dan Psychological Autopsy

Oleh Margaretha, Dosen Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

criminal profiling

Usaha Psikologi Forensik membantu proses hukum dan peradilan dapat terjadi sejak proses penyelidikan dan penyidikan. Penyelidikan adalah tahapan hukum dimana usaha-usaha dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu kejahatan serta menentukan apakah perlu dilakukan usaha penyidikan untuk mencari korban dan pelaku; sedangkan penyidikan adalah usaha-usaha mencari bukti untuk menentukan tersangka pelaku kejahatan. Dalam kedua tahapan ini setidaknya ada 2 proses yang dapat dilakukan seorang ahli Psikologi, yaitu: pembuatan profil kriminal (criminal profiling) dan autopsi psikologis (psychological autopsy).

Baca lebih lanjut