Trauma Kepala (head injury) dan Perilaku Kejahatan

Trauma Kepala (head injury) dan Perilaku Kejahatan

Pramushinta P.S., Nisa Vinasia, Widya Anggraini, & Diana Setyorini

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

      http://www.google.co.id/imgres?q=brain+criminal&start=178&hl=id&client=firefox-a&hs=nwl&sa=X&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1284&bih=697&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=U5VklGsAbmIzYM:&imgrefurl=http://www.sott.net/articles/show/204740-Psychopaths-Brains-Wired-to-Seek-Rewards-No-Matter-the-Consequences&docid=lJgSFhbUXg3PVM&imgurl=http://www.sott.net/image/image/s1/34377/full/100314150924_large.jpg&w=400&h=460&ei=6eYIUJHQEdDHrQfl_JXICA&zoom=1&iact=hc&vpx=166&vpy=295&dur=1294&hovh=241&hovw=209&tx=125&ty=134&sig=110985963715002219619&page=9&tbnh=157&tbnw=101&ndsp=22&ved=1t:429,r:28,s:178,i:25

Apakah ada kaitannya antara kerusakan otak setelah mengalami trauma kepala dan perilaku kejahatan? Artikel berikut ini akan menjelaskan asosiasi antara kerusakan otak dan perilaku kejahatan.

Trauma kepala        

Trauma kepala atau head injury adalah penyebab utama kecacatan dan kematian pada orang dewasa muda (Tagliaferri dkk. 2006). Sekitar tiga dari 1.000 penduduk di Inggris cenderung menderita head injury setiap tahun. Penyebab utama adalah kecelakaan (jalan lalu lintas, jatuh, olahraga) dan serangan, dan proporsi yang signifikan dari kasus alkohol atau obat-obatan  (Jennett, 1996).  Kerusakan ini selalu berhubungan dengan usia laki-laki yang muda, alkohol, status sosioekonomi yang rendah dan riwayat head injury sebelumnya. Faktor-faktor cedera yang mirip berhubungan dengan tindakan antisosial dan penuntutan pidana. Sebab-akibat disengaja dapat menyebabkan tuntutan sipil sebagai kompensasi. Untuk alasan ini orang yang memiliki head injury mungkin ditemukan umum dalam kasus-kasus pengadilan. Selain itu, mengingat bahwa head injury  dapat menyebabkan efek yang signifikan pada fungsi kognitif dan kepribadian (termasuk kontrol emosi) selain keterbatasan fisik, penilaian dan saran mengenai proses hukum (misalnya kebugaran ), penempatan yang tepat, pengobatan dan rehabilitasi dapat menjadi pusat kasus semacam ini . Yang terakhir, faktor psikososial yang memiliki potensi untuk dimodifikasi terkait perubahan signifikan dalam cacat dalam jangka panjang setelah head injury (Whitnall dkk. 2006).

Namun, untuk berbagai alasan, relevansi riwayat head injury mungkin tidak dipertimbangkan jika itu bukan isu utama dalam kasus hukum. Cukup besar  proporsinya (misalnya 25-33%) dari head injury tidak tercatat di rumah sakit (Thornhill dkk. 2000), kadang-kadang karena cedera ini tidak mengancam kehidupan dan tidak ada cedera akut lain, atau sebagai alternatif jika tidak ada luka yang parah, tingkat keparahan head injury mungkin dianggap ringgan. Dalam kasus terakhir seorang individu dapat keluar dari rumah sakit masih menderita pasca-trauma amnesia untuk sementara waktu, dan mungkin saja tidak ingat tindakannya pada waktu itu (McMillan et al. 2009). Misalnya, perubahan yang terus ada lebih disebabkan oleh cedera otak dapat dikaitkan dengan perilaku impulsif atau antisosial.

Ada beberapa bukti untuk mendukung prinsip bahwa head injury sering tidak dipertimbangkan dalam pengaturan forensik, termasuk di Australia, Amerika Utara dan Amerika Selatan dan Eropa (Schofield, 2006;. Slaughter dkk., 2003; Colantonio dkk., 2007; de Souza dan Alberto 2003; Leon-Carrion & Chacartegui 2003). Dikutip laporan oleh Lewis dan kolega (1986, 1988) diketahui bahwa semua orang dewasa yaitu 15 tahanan hukuman mati dan 14 remaja dihukum mati di Amerika Serikat pada saat itu  memiliki riwayat head injury. Pada pemeriksaan , studi cedera dengan hilangnya kesadaran atau masuk rumah sakit terbukti pada proporsi yang rendah (masing-masing 67% dan 58% ). Baru-baru ini kejadian dilaporkan tinggi (75%) dalam penelitian kualitatif dalam sampel kematian di USA (Freedman & Hemenway, 2000).

Neuropatologi dan Neuropsikologi

Telah lama memahami bahwa head injury dapat memiliki efek signifikan pada kognisi, kepribadian dan perilaku. Penurunan konsentrasi dan memori untuk informasi baru adalah umum, seperti disfungsi eksekutif -ditandai dengan pengolahan berkurangnya kecepatan informasi  dan mengurangi kemampuan membuat rencana , mengatur, berpikir fleksibel dan memecahkan masalah. Perubahan kepribadian sering dapat mencakup ego, tactlessness, impulsif, lemahnya penilaian, wawasan yang rendah, kurangnya perhatian, mudah marah dan agresi, dan kekanak-kanakan . Perubahan ini dapat menyebabkan persinggungan, umumnya ditemukan sebagai kekerasan atau perilaku seksual  yang tidak pantas. Beberapa area otak telah dikaitkan dengan produksi seperti impulsif, disinhibited, agresif, kekerasan dan perilaku antisosial . Ini termasuk prefrontal dan korteks medial temporal yang area, dan struktur subkortikal termasuk  septum, amigdala, cingulum, hipokampus, talamus dan hipotalamus. Kerusakan ventromedial dan korteks frontal orbital berhubungan dengan perilaku antisosial, mungkin melalui gangguan pengambilan keputusan dan perencanaan (Damasio dkk., 1990). Sejumlah kasus penelitian telah dibuktikan ini, termasuk kasus EVR yang menonjol . Ini adalah kasus seorang pria 35 tahun, yang digambarkan sebagai model peran sosial, sampai suatu meningioma orbitofrontal yang membutuhkan reseksi frontal bilateral ditemukan. Selanjutnya fungsi kognitif-nya tetap di atas rata-rata pada tes intelek, memori dan fungsi eksekutif. Namun, ia tidak lagi mampu berfungsi sebagai orang tua yang bertanggung jawab, atau untuk bekerja secara konsisten, ia bercerai (dua kali), menjadi bangkrut dan akhirnya berakhir perlindungan akomodasi . Diperkirakan bahwa ia memiliki banyak kesulitan dalam menilai positif dari tindakan negatif  dalam hal norma-norma sosial dan kontigensi, fungsi yang sulit untuk merangkum dalam pengujian neuropsikologi yang rutin (Eslinger & Damasio, 1988). Skala besar studi mendukung hubungan agresi dan kekerasan dan kerusakan frontal ventromedial (Grafman dkk., 1996).

Kemarahan yang tiba-tiba telah dikaitkan dengan kelainan pada korteks temporal dan dengan kelainan subkortikal (van Elst dkk., 2000). Kadang-kadang disebut sebagai ‘sindrom dyscontrol episodik’, itu biasanya kadang-kadang digambarkan sebagai  agresi, ledakan yang mungkin tidak fokus dalam hal dari target (yaitu terdekat), mungkin tampak primitif (misalnya termasuk menggigit) dan sering dapat dianggap sebagai berbahaya. Antara ledakan individu sering tampak supel dan ramah (Maletzky, 1973).

Amnesia Pasca-trauma dan Keparahan Cedera

Hal ini mengacu pada periode waktu dari pemulihan kesadaran sampai kembalinya orientasi dan memori terus menerus pada hari-hari peristiwa terjadi. Dalam PTA mungkin ada menjadi ‘pulau’ memori dalam lautan amnesia (Russell & Nathan, 1946). Selama waktu itu beberapa orang tampak jelas bingung, sementara yang lain bisa telah pulih. Sebuah contoh mungkin  gegar otak saat olahraga, di mana pemain kembali ke pertandingan, tampaknya tidak terpengaruh, tetapi pada hari berikutnya tidak ingat apa-apa tentang  itu. Relevansi dalam konteks forensik adalah potensi untuk (i) amnesia  sebagian atau lengkap untuk peristiwa setelah cedera yang permanen, (ii) asosiasi dengan amnesia retrograde (tidak adanya  memori sebelum cedera), meskipun ada potensi untuk pulih, biasanya dengan peristiwa terpencil kemudian lebih kembali semula, (iii) isu-isu yang berkaitan dengan tanggung jawab untuk tindakan atau kebugaran  selama PTA. Meskipun agresi tidak jarang selama PTA, umumnya terkait dengan menggagalkan perilaku yang diarahkan  (misalnya  dicegah jika meninggalkan ruang) atau agitasi umum atau lekas marah ketika bingung.

Relevan untuk mempertimbangkan keragaman tersebut dalam populasi head injury baik dalam hal keparahan cedera dan hasil. Lebih dari 90% head injury yang ringan, dengan kerugian singkat kesadaran dan pasca-trauma amnesia yang berlangsung kurang dari 24 jam. Di sini, sebuah pemulihan yang baik diharapkan pada sebagian besar dalam beberapa hari, minggu atau beberapa bulan. Dimana head injury lebih berat (kehilangan kesadaran selama lebih dari 30 menit dan PTA permanen lebih dari 24 jam) beberapa derajat bertahan gangguan kognitif dan mungkin terjadi perubahan kepribadian.Kognitif yang paling sering mempengaruhi kecepatan pemrosesan informasi, ingatan untuk informasi baru dan fungsi eksekutif. Perubahan kepribadian  termasuk impulsif, gangguan penilaian,  rasa malu, ego, apatis, ketidakpedulian, tactlessness dan berkurang untuk lekas marah, agresi dan kekerasan. Untuk banyak, bahkan setelah head injury berat, akan mengalami cacat fisik .

Prevalensi head injury dalam pelaku kejahatan

Bukti kuat yang menunjukkan hal ini masih relatif sedikit, yang ada itupun seringkali berdasar dari self-report yang belum pasti kebenarannya dari sample bukan dari populasi. Contoh, Scholfield dan kolega (2006) mengambil sample secara acak 200 laki-laki di Australia yang baru saja dipenjara dan menemukan bahwa 82% mempunyai riwayat head injury, serupa pada penemuan dari 86% (n=118) di New Zealand (Barnfield dan Leatham 1998). Sample penelitian cross-sectional di penjara wilayah US (n=69) melaporkan bahwa 87% memiliki riwayat head injury (Slaughter dkk., 2003). Dalam mental health forensik, head injury tidak sering dilaporkan. Studi Kanada melaporkan bahwa riwayat dari head injury dalam 23% dari populasi 394 (Colantonio dkk., 2007), mirip dengan rate yang ditemukan dalam sample (n=50) dari pasien psikiatri forensik di US (Martell, 1992).

Beberapa studi telah melihat pada prevalensi dari head injury dalam spesifik offending groups, seperti sexual offending. Dalam studi cross-sectional, Del Bello dan kolega (1999) melihat pada 25 partisipan dalam program rehabilitasi untuk sex offending yang berjenis kelamin laki-laki, dan membandingkan mereka kepada 15 secara demografis cocok dengan bipolar disorder, non-offending. Mereka menemukan bahwa 36% dari offending memiliki riwayat head injury sebelum pelanggaran seksual mereka yang pertama, ini adalah kasus hanya untuk 7% dari non-offending. Proporsi dari offending yang memiliki head injury dan bipolar disorder bahkan lebih tinggi, padahal sample yang digunakan hanya sedikit.

Prevalensi head injury dalam populasi umum susah untuk ditentukan dikarenakan oleh beberapa alasan, seperti membedakan antara saat terjadinya head injury dan pemulihan, tetapi prevalensi tersebut tidak lebih dari 2%. Prevalensi head injury akan lebih tinggi dalam sample yang dimana faktor resiko baik untuk head injury maupun offending tinggi, meskipun begitu tingkat head injury dalam offending dilaporkan tinggi.

Hubungan antara head injury dan perilaku kejahatan

Sampai sekarang masih sedikit studi yang dikontrol atau studi prospektif mengenai hal ini. Namun, terdapat studi prospektif dalam kohort kelahiran di Finlandia (n=12,068), secara keseluruhan 2,7% laki-laki mengalami head injury. Setelah mencocokkan dengan faktor demografik, head injury selama masa anak-anak meningkatkan resiko offending 1,6 kali lipat. Dalam subgrup yang terdiri dari laki-laki yang memiliki masalah kesehatan mental, resikonya meningkat menjadi 4,1 kali lipat. Perempuan tidak dihitung karena frekuensi offending yang rendah. Mungkin saja ada faktor yang tidak terdeteksi tetapi dapat meningkatkan resiko baik head injury maupun offending,contohnya seperti ADHD, kontrol orang tua yang buruk, dan lain-lain.

Yang lain melaporkan bahwa sexual offending dan kekerasan adalah masalah yang signifikan setelah terkena head injury, terutama pada laki-laki. Carswell dan kolega (2004) membandingkan antara offender yang masih muda dan grup perwakilan remaja yang berasal dari area geogafis yang sama. Faktor kunci yang membedakan kelompok adalah insiden yang lebih tinggi dalam penyalahgunaan zat dan head injury dalam grup offending.

Pentingnya faktor sosioekonomi juga telah diakui (seperti dalam Turkstra dkk., 2003), asesmen dari head injury sering dilakukan hanya dalam self-report tanpa data rumah sakit maupun retrospective mehods of assessment yang valid, sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya bias dalam studi ini.

Kesimpulan

Dapat dilihat dengan jelas bahwa head injury yang diderita pada saat sekitar pelanggaran terjadi dapat secara signifikan dalam menilai sebuah kasus walaupun cedera yang dialami tidak begitu parah, jika terdapat potensi untuk individu tidak mempunyai waktu untuk memulihkan diri. Terjadinya kemungkinan head injury harus dipertimbangkan jika individu telah terlibat dalam sebuah penyerangan, kecelakaan lalu lintas atau jatuh, dan jika mungkin hal-hal tersebut sebaiknya diperkuat oleh pengawasan dari catatan rumah sakit. Ketika dimana ada riwayat yang jauh dari head injury, kejadian tersebut harus diverifikasi melalaui rekaman medis menggunakan sumber utama kalau emungkinkan dan bukti untuk peristiwa lain dari peilaku antisosial sejak kejadian tersebut diselidiki. Tentu saja efek dari head injury tersebut terhadap perilaku mempunyai potensi yang jelas untuk menuntun pada penangkapan dan penghukuman, tetapi emngingat tingginya insiden head injury ini tidak muncul dalam banyak kasus.

Sangat mungkin bahwa faktor sosial dan demografis bersama-sama meningkatkan resiko offending, dan penelitian selanjutnya perlu menetapkan sejauh mana head injury merubah jalan yang ada. Apa yang sudah sangat jelas lagi adalah literatur forensik jarang ditemui dan tidak berhubungan secara baik dengan literatur neurorehabilitasi dalam istilah saran, pendidikan, dukungan dan perlakuan yang mungkin bisa meningkatkan hasil ketika offending kembali ke dalam komunitas.

Seluruh informasi dalam tulisan ini diperoleh dari: Brown, J.M. & Campbell, E.A. (2010). The Cambridge handbook of Forensic Psychology. Cambridge, London.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s