Setelah Kekerasan

Setelah Kekerasan

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Seorang http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://relationshipsadvice.cc/wp-content/uploads/2011/01/domestic-violence.jpg&imgrefurl=http://relationshipsadvice.cc/domestic-violence/&usg=__zradjPlbr5_Hqi2C_0ds8LRClMk=&h=270&w=360&sz=17&hl=nl&start=19&zoom=1&tbnid=RLl49Mu5BWzzmM:&tbnh=91&tbnw=121&ei=-FxCUNaXIcforQft-4DoCg&itbs=1laki-laki membujuk berkata: “Saya minta maaf, saya tidak akan memukul, meludahi atau menghinamu lagi, tidak akan terjadi lagi”. Si perempuan melihat sambil menangis, memegangi tubuhnya yang masih kesakitan. Perasaannya masih sakit, di dalam pikirannya terbersit harapan semua akan membaik tapi juga muncul perasaan takut jika suatu saat peristiwa kekerasan ini akan terjadi lagi.

Apakah anda pernah mendengar atau mengetahui hal seperti di atas? Jika ya, mungkin anda perlu membaca tulisan ini. Tulisan ini berusaha menggambarkan pengalaman pasca kekerasan yang dialami seorang perempuan dalam lingkup keluarga.

Data dari berbagai negara menunjukkan bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) paling banyak terjadi pada perempuan sebagai korban dimana pelakukanya biasanya adalah suaminya. Dari sebuah aksi kekerasan, korban perempuan dapat mengalami berbagai konsekuensi fisik (luka di tubuh), psikologis (gangguan psikis), sosial dan budaya (penerimaan sosial dan intervensi masyarakat).

Luka

Jika disertai dengan kekerasan fisik, maka luka korban akan lebih mudah dikenali. Luka di leher, tangan, kepala dan bagian tubuh lainnya. Dari goresan, memar hingga luka berdarah bisa dilihat sebagai bukti fisik telah terjadi. Namun ada luka yang tidak dapat dilihat oleh mata. Terkejut, sedih, takut, malu, marah dan perasaan tidak terima. Mungkin itulah sebagian luka emosional yang dialami korban setelah mengalami KDRT. Rasa sakit dan emosi negatif yang ditimbulkan bisa menjadi sangat kuat yang karena hal itu dilakukan oleh suaminya sendiri, orang yang seharusnya melindunginya.

Ada beberapa contoh perilaku kekerasan psikologis yang sering dilakukan oleh seorang pelaku kekerasan dalam relasi intim:

  1. Menghina, menggunakan nama panggilan yang merendahkan harga diri korban seperti: “tolol”, “murahan”, “pelacur”, dan lainnya;
  2. Perilaku cemburu berat atau posesif dan terus menerus menuduh korban selingkuh atau tidak setia;
  3. Menghalang-halangi bekerja atau sekolah, menghambat karir dan karya prestatif;
  4. Meludahi, intimidasi dan mengancam dengan kekerasan atau meninggalkan korban;
  5. Merusak barang pribadi korban;
  6. Menyangkal telah melakukan kekerasan pada korban;
  7. Menyalahkan korban telah memprovokasi munculnya perilaku kekerasan yang dilakukannya, atau menyatakan korban layak diperlakukan kasar;
  8. Berusaha merusak atau menghambat hubungan korban dengan keluarga atau teman agar korban terisolasi;
  9. Mengontrol pengeluaran keuangan;
  10. Memaksakan perilaku seksual walau korban tidak menginginkannya;
  11. Mudah marah dan agresif jika sedang menggunakan alkohol atau narkoba.

Kekerasan psikologis dilakukan untuk merendahkan harkat dan martabat, serta meruntuhkan harga diri korban. Pelaku mempertahankan kontrol untuk terus melakukan kekerasan dengan cara membuat korban berpikir bahwa dirinya rendah dan tidak berdaya. Korban juga akan dikondisikan dalam isolasi agar jauh dari dukungan sosial orang-orang terdekatnya dan menjadi lemah. Monitor dan kontrol perilaku berlebihan dilakukan pelaku dengan motif membuat korban menuruti semua kehendak pelaku. Tekanan menggunakan kekerasan maupun ancaman penelantaran akan dilakukan pelaku agar korban berpikir bahwa tidak ada jalan keluar dari masalahnya.

Berpikir

Mengapa pria mampu melakukan KDRT terhadap istri, pendamping hidupnya, ibu dari anak-anaknya? Di dalam pemikirannya, terdapat kesalahan berpikir. Pelaku sering meyakini bahwa mereka memiliki hak untuk berperilaku dengan cara apa pun yang mereka pilih sebagai kepala rumah tangga. Ia merasa harus kuat, berkuasa mengambil semua keputusan, dan berhak menuntut kepatuhan dari pasangannya. Jika terjadi ketidakpatuhan maka pelaku merasa berhak memberikan hukuman dan peringatan keras pada korban. Sikap dan perilaku kekerasan pada pelaku KDRT bisa dilacak sejak masa kecilnya. Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan menyaksikan KDRT pada waktu kecil dengan perilaku kekerasan pada pelaku KDRT (Margaretha, 2011). Artinya, banyak pelaku KDRT belajar perilaku kekerasan dari lingkungan rumahnya sendiri pada masa kecil. Dan perilaku kekerasan terus dipertahankan oleh pelaku karena adanya kesempatan dan penguatan (secara langsung maupun tidak langsung) dari lingkungan. Misalkan, jika dalam suatu beberapa keluarga, kata-kata kasar telah dianggap sebagai hal wajar di satu keluarga, sehingga selalu dibiarkan dan tidak dikoreksi; maka anak dari keluarga tersebut akan tumbuh menjadi orang yang tidak merasa bersalah menggunakan kata-kata kasar pada orang lain.

Di saat orang-orang di sekitar mulai mencurigai kejadian KDRT, maka pelaku akan mencari alasan untuk meniadakan tanggung-jawabnya atas perilaku kekerasan yang telah dilakukannya, seperti menyalahkan alkohol atau stres karena pekerjaan. Pelaku akan mengaku kehilangan kontrol ketika sedang marah kepada isterinya tetapi mampu mengontrol kemarahannya ketika berada di antara orang lain. Ia akan menyatakan bahwa kekerasan hanya terjadi karena provokasi isterinya. Jika cara pandang seperti ini yang mengemuka di dalam persepsi di pelaku maka korban dilihat sebagai makhluk yang lebih rendah yang harus dimiliki dan dikuasai, sehingga pelaku tidak merasa perlu memberikan perhatian, penghargaan atau respek atas kebutuhan emosional korbannya.

Mengapa perempuan memilih bertahan dalam KDRT? Sama dengan pelaku, terdapat kesalahan berpikir pada korban. Dalam persepsinya, korban memiliki cara pandang negatif atas dirinya dan persepsi yang salah tentang relasi intim. Internalisasi nilai diri negatif ini dapat berkembang dari interaksinya dengan pelaku. Segala kekerasan yang telah dilakukan pelaku padanya telah membuat korban percaya bahwa dirinya layak menerima kekerasan ini. Ada korban yang berpikir bahwa dirinya pantas diperlakukan buruk oleh pelaku, karena kekerasan yang dialaminya adalah konsekuensi dari kesalahan yang dibuatnya sendiri. Maka korban seperti ini malah justru akan menuntut dirinya untuk selalu menyesuaikan diri dengan tuntutan pelaku, karena korban berpandangan hal itu perlu dilakukan untuk mempertahankan relasi intimnya. Ada pula yang sungguh merasa takut dengan ancaman pelaku atas dirinya. Apalagi jika ditambah dengan karakter kepribadian tergantung dan harga diri yang rendah, maka keterpurukan akan membuat korban mempunyai kecemasan dalam menghadapi keterpisahan, dan problem dalam menghadapi penyiksaan, serta merasa diri tidak layak dicintai.

Kerentanan-kerentanan berpikir inilah membuat korban mudah diperdaya oleh pelaku dengan siklus kekerasan. Pelaku akan menunjukkan sikap menyesal dan pernyataan maaf. Korban akan berharap inilah akhir semuanya. Tapi itu hanyalah suatu fase “reda” dari suatu siklus kekerasan. Biasanya setelah fase ini, pelaku akan tampak tenang, seolah-olah telah berubah dan kembali bersikap baik. Namun lama-kelamaan akan muncul masa tegang, dimana mulai ada keributan kecil antara pelaku dan korban. Biasanya, korban akan meminimalisir persoalan dan berusaha berubah atau mengendalikan keadaan agar pelaku tidak perlu marah. Tapi pada akhirnya timbul konflik yang menyulut emosi pelaku, dan kekerasan akan terjadi lagi. Korban kecewa karena kekerasan harus dialaminya lagi. Akhirnya korban akan mencari rasionalisasi atas keadaannya. Demi anak, demi karir, demi keuangan keluarga, demi kedamaian keluarga, demi martabat keluarga, hal-hal itu dijadikan alasan untuk menunda mencari bantuan. Korban akhirnya rela melakukan apapun agar tidak ditinggalkan oleh pelaku.

Bergerak

Ada waktu dimana korban tidak lagi merasa kuat menanggung kekerasan dan akhirnya mencari bantuan. Bantuan yang terdekat diharapkan adalah keluarga. Tapi belum tentu keluarga dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan. Justru banyak peristiwa KDRT di masyarakat yang malah belum terkuak dari tirai keluarga. KDRT masih dianggap sebagai urusan internal keluarga saja. Bahkan tidak jarang keluarga bersikap menutup-nutupi karena menilai KDRT adalah hal yang memalukan jika diketahui oleh orang lain.

Terlebih lagi jika cerita penyangkalan kekerasan dari pelaku cukup meyakinkan, maka keluarga akan berpendapat peristiwa ini adalah kesalahan korban juga. Atau malah lebih memilih menganggap tidak pernah ada kekerasan sama sekali. Maka keluarga meminta baik korban dan pelaku diminta untuk berdamai. Keluarga dapat berusaha meminimalisir kerusakan. Namun hal ini malah semakin menyakiti perasaan korban karena merasa dirinya tidak didengarkan dan tidak dipahami. Merasa tidak dipercaya dan tidak mendapat jalan keluar; korban makin jatuh dalam keterpurukannya.

Luka fisik telah sembuh atau hilang tapi luka psikis tetap ada. Korban KDRT yang mengalami kekerasan dari pasangan intim atau keluarga dapat memunculkan gejala-gejala gangguan psikologis seperti: trauma, depresi, kecemasan, kemarahan, agresi, sensitif terhadap penolakan, perasaan diabaikan, gangguan tidur, mimpi buruk, ketidakmampuan menjalin relasi sosial dan bekerja, serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Jika konflik terhadap peristiwa kekerasan dalam keluarga belum benar-benar terselesaikan oleh korban, maka selain mucul gangguan-gangguan ini dapat timbul secara berkelanjutan bahkan hingga jauh setelah peristiwa KDRT terjadi.

Mencari bantuan

Ketika sudah sangat terdesak, korban akan juga mencari bantuan di hukum. Bukti-bukti fisik dan saksi akan dikumpulkan sebagai dasar penyusunan kasus pidana. Dalam hal ini pihak korban harus bekerjasama dengan Kepolisian agar lancarnya pengumpulan alat bukti. Penyusunan kasus KDRT perlu mempertimbangkan bukti (luka fisik, ancaman yang tersurat, dan sebagainya), dan juga saksi-saksi yang mengetahui tentang kejadian kekerasan tersebut.

Namun, dalam masyarakat ini masih sering ditemukan kasus KDRT yang dilaporkan ke polisi hanya berujung pada bercerai atau penyelesaian kekeluargaan. Sesungguhnya perceraian tidak dapat dijadikan solusi utama dalam penanganan KDRT. Proses hukum sebagai awal jelas harus dilakukan untuk menegakkan azas kebenaran dan rasa keadilan. Tapi di samping itu, penyembuhan psikologis pelaku dan korban juga sangat penting dilakukan dalam penyelesaian masalah KDRT secara tuntas. Pelaku seharusnya mendapatkan ganjaran hukum dan rehabilitasi psikologis yang intensif, karena adalah sangat mungkin selepas persoalan kekerasan pada korban, ia dapat melakukan kekerasan pada pasangan berikutnya. Siklus kekerasan terus terjadi, karena pelaku belum keluar dari siklus perilaku kekerasannya.

Begitu juga korban, pada saat ini, tidak hanya bantuan legal yang dibutuhkan oleh korban namun juga bantuan psikologis. Korban perlu merasa didengarkan, didampingi di tempat yang aman serta diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalan ini. Sebaiknya korban didampingi oleh profesional maupun mediator yang netral untuk dapat menyelesaikan persoalan KDRT secara konstruktif. Korban perlu mendapatkan rasa aman dan kekerasan harus diakhiri. Korban biasanya telah memiliki perasaan dan sikap negatif tentang dirnya sendiri karena selama beberapa waktu telah hidup dalam kepahitan dan sedikit banyaknya pula telah menginternalisasi nilai-nilai negatif yang dialaminya dari tekanan, penyiksaan dan hinaan pelaku. Korban perlu dilindungi dari siklus membenci diri dan perasaan tidak berdaya; agar korban mampu bergerak melampaui masa-masa setelah kekerasan.

Setelah kekerasan

Setelah kekerasan, korban harus dapat merasa aman dan nyaman akan dirinya sendiri. Setelah kekerasan, korban perlu mengambil keputusan tentang bagaimana menghadapi persoalan KDRT-nya dengan suaminya. Dan pada waktunya, korban dalam keadaan tenang akan menentukan langkah yang terbaik yang akan diambil untuk melanjutkan hidupnya di masa depan.

 

Sumber bacaan

Intimate Partner Abuse and Relationship Violence Working Group (2001). Intimate Partner Abuse and Relationship Violence. American Psychological Association.

Margaretha (2011). Rantai psikopatologi dalam kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).  Departemen Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Iklan

5 thoughts on “Setelah Kekerasan

  1. Wah.. akhirnya muncul juga referensi psikologi forensik seperti ini.. Seru, membacanya juga gak terlalu “berat”, karena dikemas dengan cara yang simpel..
    Cuma kasih saran.. ukuran font nya dibesarin dikit dong bu.. biar ga capek bacanya karena terlalu kecil.. terimakasih 🙂

    • Halo rahma, wah terima kasih atas apresiasinya. Saya juga masih belajar menulis dalam kemasan yang tidak berat. Terima kasih juga atas saran tentang fontnya, saya memang ada rencana mau cari layout yg lebih besar fontnya. semoga kita bisa diskusi ke depannya. Salam.

  2. Wslm. Sy uniko berusia 28 thun. Rumah tangga sy sudah 13 thun. Saya mempunyai anak. 5 org.
    Sy mengalami masalah Yg serupa.
    Meskipun dia memohon meminta. Maaf Dan mengobati luka kaki sy. Tp luka batin sy tak mampu sy obati.
    Setelah kejadian sampai saat ini. Sy berkurung d Kamar sendiri. Dia tiduur bersama anak2. Jika dia keluar Dr rumah. Baru saya berani keluar Kamar. Jika dia d rumah sy tak Kan keluar Dr Kamar. Jangankan berdekatan dgan nya menddengar. Suara nya saat. Pulg. Jantung. Sy rasa mau copot. Secepat mungkin sy berlari mengunci Kamar. Agar dia tidak mendekati. Sy.
    Kejadian sudah hampir 2 bulan.
    Sy merasa kasihan Dan iba dia Tiduur dgan anak2. Melihat dia tiduur air mata ini tak tertahankan. Mengalir seperti kran lepas. Ingin memangil Dan memintanya ntuk Pindah tiduur di Kamar biasa.. Tetapi saat dia bergerak Dr. Tiduur nya. Say merasa ketakutan. Itu tak bs sy kendalikan. Menangis berlari kekamar. Mengunci Kamar. Mennangis jantung tak beraturan. Dan sy slalu. Merusak dri sy. menonjok dinding beton. Sampai sy rasakan sakit, baru saya berhenti. Memotong rambut sy sendiri. Rasa kecewa sgat mendalam. Yg Ada pada saya.
    Apakah yg. Sy alami troma. Apa depresi. Apa tertekan mental. Apa. Mendekati ganguan kejiwaan sy.
    Sy kasihan dgan Putra. Putri sy.
    Sy tak ingin ini berlarut larut. Dan sakit jiwa. karna sy mempunyai anak2 yg masih kecil2.
    Sy meminta cerai. Melalui SMS. Dia tak balas. Ntuk bicara dekat dia sy tak sangup.
    Ntuk hidup bersama nya sedangkan mendengar suaranya sy menagis ketakutan. Apa lg berhadapan dia.
    Dan jika pisah pun sy kasihan anak2. Ntuk menikah lg. Tak mungkin rasanya. Rasa percaya dri sy tak. Ada lg.Sy tak yakin Kan Ada lelaki lain. Yg bs menjadi Ayah seperti Ayah kandung Nya.
    Sy benar2 gak tau harus bagai mana.
    Tolong bantu sy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s