Restorative Justice: Koreksi dan rehabilitasi pelaku kejahatan

 Restorative Justice: Koreksi dan rehabilitasi pelaku kejahatan

Oleh: Kartika Agustina, Inez Naomi, Lee Cien,

Dhania Putri, & Hafidz Y. Trisrinaldi

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

http://www.google.co.id/imgres?q=restorative+justice&num=10&hl=id&client=firefox-a&hs=Jl9&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1525&bih=697&tbm=isch&tbnid=_b1aJhjTj3ExOM:&imgrefurl=http://muvid.wordpress.com/2011/07/26/pendekatan-restorative-justice-dalam-sistem-pidana-indonesia/&docid=2_kfURZBGsjJIM&imgurl=http://muvid.files.wordpress.com/2011/07/restorative20justice.jpg&w=395&h=316&ei=MBYJUJf-J4virAfS4tzICA&zoom=1&iact=hc&vpx=220&vpy=158&dur=2095&hovh=201&hovw=251&tx=89&ty=94&sig=110985963715002219619&sqi=2&page=1&tbnh=158&tbnw=251&start=0&ndsp=18&ved=1t:429,r:0,s:0,i:65

Restorative Justice (Reparative Justice) adalah  pendekatan keadilan yang berfokus pada kebutuhan  korban, pelaku, termasuk juga masyarakat yang terlibat dalam suatu kasus kejahatan, dan tidak terlalu terfokus pada prinsip-prinsip legal yang abstrak atau menghukum pelaku. Korban  memainkan peran aktif dalam proses ini, sedangkan pelaku didorong untuk bertanggungjawab atas perbuatannya (untuk “memperbaiki” apa yang telah mereka lakukan—dengan meminta maaf, mengembalikan uang yang dicuri ataupun community service). Restorative Justice melibatkan korban dan pelaku dan berfokus pada kebutuhan  personal mereka. Tak  hanya itu, hal  tersebut juga dapat membantu pelaku untuk tidak melakukan kejahatan lagi (di kemudian hari). Relevansi klinis dari restorative justice adalah hal tersebut dapat mereduksi dampak-dampak negatif dari sistem peradilan kriminal itu sendiri juga dapat membantu pemulihan kondisi-kondisi psikologis korban. Berikut akan dijelaskan usaha restorative Justice dalam penanganan penyalahgunaan obat dan alkohol; serta penanganan pelaku kriminal. Baca lebih lanjut

Iklan

Siapakah Pelaku dan Korban Terorisme?

Siapakah Pelaku dan Korban Terorisme?

Oleh: Andi Maulida R., Quindhira Maharani R.,

Grace Susilowati M., & Kardinal Leksono

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

http://www.google.co.id/imgres?q=terrorism&hl=id&client=firefox-a&hs=yN9&sa=X&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1525&bih=697&tbm=isch&prmd=imvnsbl&tbnid=xtCTpNMb-CJ_TM:&imgrefurl=http://innocentsmithjournal.wordpress.com/2010/02/20/exaggerating-the-global-terrorism-threat-2005-2008/&docid=WxqLDgKNjmxd9M&imgurl=http://innocentsmithjournal.files.wordpress.com/2010/02/terrorist-main_full.jpg&w=315&h=480&ei=iRAJUP-yHIK4rAf80MTICA&zoom=1&iact=hc&vpx=372&vpy=307&dur=1865&hovh=277&hovw=182&tx=97&ty=123&sig=110985963715002219619&page=1&tbnh=154&tbnw=101&start=0&ndsp=19&ved=1t:429,r:13,s:0,i:109

Berbagai fenomena terorisme di Indonesia memunculkan berbagai pertanyaan. Tulisan ini akan menyoroti dua aspek besar dari terorisme, yaitu pelaku terorisme dan korban terorisme. Dari sisi pelaku, akan dibahas bagaimana fanatisme dan keyakinan seseorang dapat mempengaruhinya menjadi seorang teroris. Dari sisi korban terorisme sendiri perlu diketahui siapa yang dapat menjadi korban, apakah hanya orang yang terkena dampak secara langsung dari terorisme? Akan dibahas pula dampak psikologis yang dialami oleh masyarakat luas akibat dari pemberitaan media masa sebagai korban tidak langsung. Baca lebih lanjut

Neuropsikologi dan Psikologi Forensik

Neuropsikologi dan Psikologi Forensik

Ayu Dewi Yulia & Aditya Bayu Aji

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 http://www.tcneuropsychology.com/Brain_Picture.jpg

Otak manusia sangatlah menakjubkan, dengan berat hanya 1.36 kilogram dan volume sekitar 1,250 cm3, otak manusia memiliki kemampuan untuk memonitor dan mengontrol sistem yang mendukung kehidupan dasar kita, untuk menentukan postur kita, dan mengarahkan gerak kita, untuk menerima dan menginterpretasikan informasi tentang dunia di sekeliling kita, dan untuk menyimpan informasi kehidupan kita yang mudah untuk diakses kembali. Kerja otak membuat kita mampu untuk menyelesaikan permasalahan dari yang sifatnya sangat praktis sampai yang sangat abstrak, untuk berkomunikasi dengan sesama manusia menggunakan bahasa, mengkreasikan ide-ide dan membayangkan hal-hal yang mungkin tidak pernah ada sebelumnya, untuk merasakan cinta, kebahagiaan, dan kekecewaan, dan untuk menyadari diri kita sebagai individu.

Kerja otak kita yang sangat kompleks menjadi suatu kajian yang menarik dan menantang bagi ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan kontemporer (Beaumont, 2008). Oleh karena itu, tulisan kali ini akan mengulas singkat tentang bagaimana tantangan pemahaman neuropsikologi juga dibutuhkan dalam bidang Psikologi Forensik. Baca lebih lanjut

Trauma Kepala (head injury) dan Perilaku Kejahatan

Trauma Kepala (head injury) dan Perilaku Kejahatan

Pramushinta P.S., Nisa Vinasia, Widya Anggraini, & Diana Setyorini

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

      http://www.google.co.id/imgres?q=brain+criminal&start=178&hl=id&client=firefox-a&hs=nwl&sa=X&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1284&bih=697&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=U5VklGsAbmIzYM:&imgrefurl=http://www.sott.net/articles/show/204740-Psychopaths-Brains-Wired-to-Seek-Rewards-No-Matter-the-Consequences&docid=lJgSFhbUXg3PVM&imgurl=http://www.sott.net/image/image/s1/34377/full/100314150924_large.jpg&w=400&h=460&ei=6eYIUJHQEdDHrQfl_JXICA&zoom=1&iact=hc&vpx=166&vpy=295&dur=1294&hovh=241&hovw=209&tx=125&ty=134&sig=110985963715002219619&page=9&tbnh=157&tbnw=101&ndsp=22&ved=1t:429,r:28,s:178,i:25

Apakah ada kaitannya antara kerusakan otak setelah mengalami trauma kepala dan perilaku kejahatan? Artikel berikut ini akan menjelaskan asosiasi antara kerusakan otak dan perilaku kejahatan. Baca lebih lanjut