Kekerasan dari perspektif sosio-gender dan perilaku

Kekerasan dalam relasi intim dari perspektif sosio-gender dan perilaku
Oleh: Margaretha
Dosen Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

Love VS Hate

Mengapa seseorang mampu melakukan kekerasan pada pasangannya, atau kekasihnya yang seharusnya dicintai dan dilindunginya? Bahkan ketika pelaku paham bahwa kekerasan adalah bentuk dari pelanggaran hukum, namun tetap dilakukan pada pasangannya. Relasi intim yang seharusnya dipelihara dengan kasih justru diwarnai dengan emosi negatif dan perilaku kekerasan. Kehadiran kekerasan dalam suatu hubungan intim romantis, seperti pacaran dan rumah-tangga, adalah suatu paradoks yang penting untuk dipahami. Berikut adalah ulasan kritis dari perspektif sosio-gender dan perilaku yang telah banyak digunakan dalam memahami perilaku kekerasan dalam relasi intim.

Kekerasan dari perspektif sosio-gender

Dari perspektif sosio-gender, perilaku kekerasan yang banyak terjadi pada perempuan oleh pelaku laki-laki dilihat sebagai suatu gejala ketimpangan kekuasaan gender di budaya patriarki. Dalam budaya patriarki, laki-laki diperbolehkan menggunakan berbagai cara, termasuk kekerasan, untuk mengendalikan perempuan. Melalui kekerasan, keterbelakangan dan ketergantungan perempuan serta kekuatan dan dominasi laki-laki tetap dapat dipertahankan (Bograd, 1988 dalam Dutton, 2007). Model sosio-gender menekankan pada peran masyarakat yang terus menjaga tradisi ketimpangan gender ini, pelaku kekerasan merasa terdukung oleh praktek dan norma budaya yang mendukung dominasi laki-laki di masyarakat. Pendekatan sosio-gender lebih fokus pada aspek sistem masyarakat daripada aspek individual dari fenomena KDRT, maka pendekatan intervensinya pun lebih bersifat makro daripada personal. Pendekatan feminis dengan dasar teori sosio-gender cenderung mengedepankan program intervensi yang mendasarkan pada pendidikan kesetaraan peran gender serta pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kekuatan dirinya.

Namun, penelitian oleh Claire Renzetti (1988) atas 350 lesbian menemukan bahwa kekerasan dalam relasi intim (KDRI) juga terjadi di kalangan lesbian, penyuka sesama perempuan. Lesbian yang menjadi sampel penelitian rata-rata juga pernah mengalami relasi heteroseksual sebelumnya. Yang mengejutkan sampel lesbian dalam penelitian tersebut melaporkan bahwa kekerasan lebih sering terjadi pada relasi homoseksualnya dibandingkan dengan relasi heteroseksual dengan laki-laki (42% kekerasan dilakukan oleh pasangan heteroseksual; sedangkan 57% mengakui telah mengalami kekerasan dengan pasangan lesbiannya). Bahkan pada beberapa penelitian berikutnya pada sampel Gay, ditemukan pula kekerasan dalam relasi intim yang cukup tinggi (Waldner-Haugrud, Vaden Gratch & Magruder, 1997; Lockheart, White, Causby & Isaac, 1994). Bahkan satu penelitian pada sampel transgender, juga menemukan fenomena KDRI (Xavier, 2000).

Temuan ini melemahkan penjelasan sosio-gender mengenai kekerasan sebagai dominasi kekuasaan patriarkis laki-laki atas perempuan. Dari penelitian Renzetti (2001) dijelaskan bahwa alasan terbentuknya KDRI adalah kecemburuan, dan hal ini dapat terjadi pada berbagai jenis hubungan heteroseksual, homoseksual dan transgender. Baik laki-laki dan perempuan melakukan kekerasan dalam rangka melakukan kontrol dan memberikan hukuman pada pasangannya (Follingstad, Bradley, Helff, & Laughlin, 2002). Oleh karena itu, kekerasan pada pasangan relasi intim sebaiknya dilihat secara utuh; selain menggunakan perspektif sosio-gender, namun perlu pula diulas secara individual menggunakan penjelasan perspektif psikologis. Perspektif psikologis diharapkan dapat menjelaskan dinamika aspek mental dalam mempengaruhi perilaku kekerasan seseorang.

Kekerasan dari perspektif perilaku

Salah satu penjelasan psikologis yang banyak digunakan adalah pendekatan belajar sosial. Dari perspektif belajar sosial atau transmisi antar-generasi, kecenderungan perilaku kekerasan adalah pengulangan hasil amatan anak atas peristiwa kekerasan yang dulu pernah disaksikan atau dialaminya. Selama ini berbagai penelitian di Eropa dan Amerika Serikat telah menemukan anak-anak yang dibesarkan dalam suatu keluarga dimana mereka sering menyaksikan kekerasan di antara orang tua mereka, maka mereka lebih mungkin menjadi pelaku kekerasan dalam relasi intim di masa dewasanya (Holt, Buckley, & Whelan, 2008). Begitupula ditemukan di Indonesia, walau hanya sedikit penelitian empiris atas pengalaman traumatis KDRT, namun diketahui bahwa pelaku KDRT melaporkan pernah mengalami atau menyaksikan KDRT pada masa kanak dan remajanya. Penelitian oleh Nuringtyas dan Margaretha (2011) menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara trauma menyaksikan dan mengalami KDRT masa kanak dengan perilaku agresif pada 63 pelaku KDRT laki-laki di masa dewasanya. Atau dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa perilaku kekerasan berkaitan dengan hasil belajar melalui pengamatan anak atas interaksi sosial di lingkungan rumahnya, lalu ketika anak beranjak dewasa dan menghadapi persoalan, maka ia akan merespon dengan cara yang ia tahu, yaitu kekerasan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengalaman menyaksikan KDRT mempengaruhi munculnya perilaku kekerasan KDRT (Holt, Buckley, & Whelan, 2008; Margaretha, 2011).

Pendekatan sosio-gender dan proses belajar ini berkembang dan banyak digunakan dalam berbagai intervensi KDRT. Pendekatan feminis dengan dasar teori sosio-gender cenderung mengedepankan program intervensi yang mendasarkan pada pendidikan kesetaraan peran gender serta pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kekuatan dirinya. Sedangkan pendekatan kognitif-perilaku banyak dikembangkan untuk menanggulangi perilaku kekerasan yang telah dipelajari perilaku dengan menggunakan modifikasi perilaku serta managemen kemarahan dan kekerasan (Sonkin, 2012).

Penjelasan yang lebih utuh

Tapi penting dipahami bahwa pada kenyataannya tidak semua orang yang menyaksikan dan mengalami KDRT pada masa kecilnya akan berubah menjadi pelaku KDRT (Godbout, Dutton, Lussier & Sabourin, 2009). Bahkan pelaku KDRT juga ditemukan pada individu yang memahami kesetaraan gender (Dutton, 2007). Sepertinya terdapat suatu mekanisme psikologis yang sangat kompleks dalam individu yang membedakan mengapa pengalaman KDRT dapat menjadi penentu perilaku seseorang dalam relasi intim. Mekanisme psikologis ini dapat berupa pengalaman emosional, proses merasa, berpikir dan berperilaku dalam suatu relasi intim.

Pada sebagian pelaku kekerasan ditemukan bahwa mereka melakukan kekerasan sebagai respon atas sesuatu yang dianggapnya mengancam dirinya; walaupun bagi orang lain tidak melihatnya sebagai ancaman. Dalam konteks Indonesia, Soeroso (2010) menjelaskan faktor-faktor pemicu seperti: kecemburuan atau perselingkuhan, masalah keuangan, salah paham dan masalah masa lalu dapat membuat seseorang melakukan KDRT pada pasangannya. Pelaku KDRT bisa mengalami kemarahan yang sangat besar, walaupun secara objektif pencetusnya tidak dilihat sebagai suatu ancaman yang perlu direspon dengan emosi intensif dan kekerasan. Contohnya: ketika pasangan datang terlambat, pelaku marah besar karena mempersepsikan keterlambatan sebagai pengkhianatan besar bahkan bisa membuatnya melakukan kekerasan. Artinya, perilaku kekerasan pada pasangan tidak bisa dilihat hanya sebagai reaksi hasil belajar atas suatu stimulus ancaman.

Dasar dari hubungan intim adalah pengalaman emosional dengan pasangan. Pengalaman emosional dalam suatu relasi intim dipengaruhi oleh kerangka berpikirnya dalam memahami relasi antar manusia. Dalam memahami KDRT, maka masih perlu dipahami apa akar pengalaman emosional yang sedemikian destruktif dalam suatu relasi intim, bahkan hingga memunculkan kekerasan pada pasangan (Dutton, 2007). Masih perlu dijelaskan bagaimana suatu peristiwa dipersepsikan sebagai ancaman sehingga membuahkan reaksi emosional yang begitu kuat, hingga terbentuk suatu dinamika pengalaman emosional yang membuat seseorang melakukan perilaku kekerasan. Oleh karena itu, untuk memahami kekerasan dalam relasi intim secara holistik, kita perlu menilik baik dari sisi perilaku, konteks nilai budaya yang peka gender, serta juga pengalaman emosional. Ke depan diharapkan lebih banyak usaha-usaha yang difokuskan untuk mengkaji pengalaman emosional relasional manusia atas fenomena kekerasan dalam relasi intim.

Referensi

Bartholomew K. (1990). Avoidance of intimacy: An attachment perspective. Journal of Social and Personal Relationships, 7, 147-178.

Dutton, D.G. (1995). Trauma symptoms and PTSD-like profiles in perpetrators of intimate abuse. Journal of Traumatic Stress, 8, 299-316.

Dutton, D.G. (2007). The violence personality: Violence and control in intimate relationships. Guilford Press: New York.

Holt, S., Buckley, H., & Whelan, S. (2008). The impact of exposure to domestic violence on children and young people: A review of the literature. Child Abuse & Neglect, 32, 797-810.

Godbout, N., Dutton, D.G., Lussier, Y. & Sabourin, S. (2009). Early exposure to violence, domestic violence, attachment representations, and marital adjustment. Personal Relationships, 16, 365-384.

Margaretha (2011). Pengaruh Trauma Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap Keterlibatan dalam Kekerasan dalam Relasi Intim di Masa Remaja-Dewasa. Penelitian Equivalensi Wajib Mengabdi Penuh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Nuringtyas, R., & Margaretha (2011). Pengaruh trauma terhadap tingkat agresivitas pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional Psikologi 2011, pada tanggal 24 November 2011 di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya.

Renzetti, C.M. (1988). Violence in Lesbian Relationships: A Preliminary Analysis of Causal Factors. Journal of Interpersonal Violence, 3, 381-399.

Sonkin, D.J. (2012). Domestic Violence and Attachment Theory: Clinical Applications to Treatment with Perpetrators. Diakses pada Oktober 2012 di http://www.daniel-sonkin.com/attachment/index.html

Soeroso, M.H. (2010). Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Perspektif Yuridis-Viktimologis. Jakarta: Sinar Grafika.

Waldner-Haugrud, L. K., Vaden Gratch, L., &Magruder, B. (1997). Victimization and perpetration rates of violence in gay and lesbian relationships: Gender issues explored. Violence and Victims, 12, 173-184.

Lockhart, L. L., White, B. W., Causby, V., &Isaac, A. (1994). Letting out the secret: Violence in lesbian relationships. Journal of Interpersonal Violence, 9, 469-492.

Xavier, J. M. (2000). The Washington D.C. Transgender needs assessment survey: Final report for phase two. District of Columbia Government.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s