Memahami Gangguan Eksibisionistik sebagai Gangguan Penyimpangan Seksual dengan DSM V

Memahami Gangguan Eksibisionistik sebagai Gangguan Penyimpangan Seksual dengan DSM V

 Oleh: Margaretha, Pengajar Mata kuliah Psikologi Abnormal di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Gambar

Gangguan eksibisionistik adalah salah satu gangguan kesehatan mental dimana seseorang menampilkan alat kelaminnya pada orang asing atau orang yang tidak menginginkannya dalam rangka pemuasan kebutuhan seksual. Ketika menunjukkan alat kelaminnya, individu dengan gangguan eksibisionistik berfantasi tentang masturbasi atau melakukan masturbasi, namun tidak disertai usaha melakukan perilaku seksual dengan orang di hadapannya. Gangguan eksibisionistik lebih banyak terjadi pada laki-laki dan korbannya biasanya perempuan, baik anak di bawah umur maupun dewasa, yang sedang lengah. Jika tidak tertangani dengan baik, gangguan eksibisionistik dapat mengganggu kemampuan individu dalam relasi sosial dan relasi intimnya. Oleh karena itu, individu dengan gangguan eksibisionistik perlu mendapatkan bantuan psikologis professional untuk dapat mengelola gangguannya tersebut.

Eksibisionisme dan gangguan eksibisionistik

Dahulu dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV (DSM IV tahun 2000) gangguan eksibisionistik dikenal sebagai eksibitionisme (exhibitionism). Namun sejak digantikan dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V tahun 2013), berubah namanya menjadi gangguan eksibisionistik. Hal ini dilakukan untuk membedakan eksibisionisme sebagai pola perilaku dan gangguan eksibisionistik yang merupakan gangguan penyimpangan seksual atau Parafilia.

Eksibisionisme adalah perilaku menampilkan bagian tubuh yang biasanya tidak terbuka pada khalayak umum, misalkan: payudara, alat kelamin, atau pantat. Perilaku ini bisa memicu respon jijik atau mengundang hasrat dari orang-orang di sekelilingnya, atau bahkan pemuasan seksual atau keterkejutan bagi orang yang melihatnya. Beberapa jenis perilaku eksibisionisme adalah: 1) mooning, atau menunjukkan pantat dengan cara menurunkan bahawan dan pakaian dalam. Sering hal ini dilakukan dalam rangka bercanda, protes atau penghinaan; 2) flashing, atau menunjukkan dada atau payudara telanjang baik pria maupun wanita dengan mengangkat atasan dan pakaian dalam; dan 3) reflectoporn, yaitu menampilkan foto telanjang seseorang yang diambil dari bayangan jatuh di atas suatu benda yang memiliki daya reflektif seperti kaca, stainless; lalu memasangnya di internet agar bisa dilihat orang banyak. Ketika perilaku eksibisionisme mulai menggangu hidup sehari-hari seseorang dan menimbulkan hendaya serta distress, maka hal ini mulai dipertimbangkan sebagai gangguan psikologis penyimpangan seksual.

American Psychiatric Association (APA) menyebutkan bahwa gangguan eksibisionistik merupakan bagian dari parafilia. Parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Dengan kata lain, terdapat deviasi atau penyimpangan (para) dalam ketertarikan seseorang (filia). Fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang menyimpang harus berlangsung setidaknya selama 6 bulan dan menyebabkan distress atau hendaya yang signifikan sebelum dinyatakan sebagai diagnosa gangguan mental. Parafilia juga terkait dengan ketertarikan secara seksual pada individu atau obyek seksual yang tidak tepat atau tidak berdasarkan kesepakatan (non-consentual); serta perilaku seksual yang menyimpang dari norma sosial-budaya yang diakui dalam budaya secara umum.

Gangguan eksibisionistik ini biasanya berawal sejak usia remaja setelah pubertas. Dorongan untuk memamerkan alat kelaminnya sangat kuat dan hampir tidak dapat dikendalikan oleh pada penderitanya, terutama ketika mereka mengalami kecemasan dan gairah seksual. Pada saat memamerkan alat kelaminnya, individu dengan gangguan eksibisionistik (eksibisionis) tidak mempedulikan konsekuensi sosial dan hukum dari tindakannya. Orang dengan gangguan eksibisionistik mengalami perasaan tertekan atau distress atas gangguannya tersebut, dan hal ini bukan sekedar berasal dari perasaan tertekan karena melakukan pelanggaran norma sosial-budaya.

Kriteria Gangguan eksibisionistik dalam DSM V adalah:

  1. Berulang, intens, dan terjadi selama 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan memamerkan alat kelamin kepada orang lain yang tidak dikenalnya yang tidak menduganya
  2. Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi menyebabkan orang tersebut sangat menderita atau mengalami masalah interpersonal

Etiologi gangguan eksibisionistik sebagai bagian dari parafilia

Etiologi gangguan eksibisionistik sebagai bagian dari sindrom Parafilia bisa dilihat dari berbagai perspektif, yakni :

1. Perspektif Psikodinamika

Parafilia dipandang sebagai tindakan defensif, melindungi ego agar tidak menghadapi rasa takut dan memori yang direpres dan mencerminkan fiksasi di tahap pra-genital (masa kanak-kanak) dalam perkembangan psikoseksualnya. Orang yang mengidap parafilia dipandang sebagai orang yang tidak mampu membangun atau mempertahankan hubungan heteroseksual yang wajar. Contohnya: orang dengan gangguan eksibisionitik akan lebih memilih menampilkan organ kelamin pada orang asing daripada menjalin relasi intim dengan lawan jenisnya yang seumur, karena ia takut (merasa tidak mampu) berhubungan dengan orang lain.

2. Perspektif Behavioral dan Kognitif

Dari perspektif ini, parafilia disebabkan karena proses belajar, yaitu melalui pengkondisian yang secara tidak sengaja menghubungkan gairah seksual dengan stimuli yang oleh masyarakat dianggap sebagai stimuli yang tidak tepat untuk munculnya suatu perilaku seksual. Namun sebagian besar teori behavioral dan kognitif saat ini memandang parafilia dipengaruhi oleh multifaktor, baik dari dalam individu maupun faktor lingkungan.

Salah satu pengaruh lingkungan adalah riwayat masa kanak-kanak individu yang mengidap parafilia sebagai korban pelecehan seksual dan pelecehan fisik. Pada masa dewasa, ia akan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi menjadi seorang pelaku penyimpangan seksual. Penyimpangan kogntif dalam diri individu juga berperan dalam parafilia. Tabel 1 mengilustrasikan contoh-contoh distorsi kognitif yang sering dimiliki oleh pelaku parafilia. Distorsi kognitif seperti itu akan menyebabkan pelaku mencari pembenaran perilaku penyimpangan seksualnya, hingga akhirnya perilaku penyimpangan bisa terus terjadi.

3. Perspektif Biologis

Sebagian besar pengidap parafilia adalah laki-laki. Jadi, ada spekulasi bahwa androgen, hormon utama yang dimiliki laki-laki berperan dalam gangguan ini. Mungkin terdapat suatu kesalahan dalam perkembangan janin. Namun demikian, penelitian empiris belum menemukan bukti konklusif mengenai perbedaan hormonal antara orang normal dengan pengidap parafilia. Lalu berkaitan dengan perkembangan dalam otak, disfungsi pada lobus temporalis diketahui dapat mempengaruhi secara signifikan atas munculnya perilaku seks menyimpang, terutama kasus sadisme dan eksibisionisme. Meskipun demikian, pemahaman bahwa faktor biologis berperan penting sebagai penyebab dari parafilia perlu ditinjau ulang. Faktor ini hanya merupakan salah satu dari rangkaian penyebab kompleks yang mencakup pengalaman sebagai salah satu faktor utama.

Tabel 1. Contoh Distorsi kognitif (asumsi dan pembenaran ) pada pelaku Parafilia dan pelaku pemerkosaan

Kategori

Pedofilia

Eksibisionisme

Perkosaan

Melemparkan kesalahan “ Ia yang memulai dengan berperilaku manja”

“ Ia selalu berlari-lari disekitar saya dengan setengah telanjang”

“Ia terus memandangi saya  seolah mengharapkannya”

“Dari caranya berpakaian, ia memang menginginkannya”

“Ia mengatakan tidak, tapi tubuhnya mengatakan ya.”

“Saya selalu dalam keadaan mabuk ketika melakukannya”

Mengecilkan atau mengingkari niat seksual “Saya hanya mengajarinya tentang seks… lebih baik dari ayahnya daripada orang lain” “Saya hanya mencari tempat untuk buang air kecil”

“Celana saya merosot”

“Saya hanya berusaha memberinya pelajaran; ia pantas mendapatkannya”
Merendahkan korban “Ia sudah pernah berhubungan seks sebelumnya dengan pacarnya.”

“Ia selalu berbohong”

“Toh, ia hanya seorang perempuan nakal” “Dari caranya mendekati saya di pesta, ia pantas mendapatkannya”

“Ia tidak melawan, ia pasti menyukainya”

Meminimalkan konsekuensi “Ia selalu benar-benar ramah kepada saya bahkan setelah kejadian itu” “Saya tidak pernah menyentuhnya, jadi saya tidak menyakitinya.” “Ia berhubungan seks dengan ratusan orang sebelumnya.”
Mengabaikan tuntutan “Hal itu terjadi bertahun-tahun. Mengapa semua orang tidak melupakannya saja?” “Saya toh tidak memperkosa siapapun” “Saya hanya melakukan sekali itu saja”
Membenarkan penyebab “Jika saya tidak dicabuli semasa kanak-kanak, saya tidak akan pernah melakukan hal ini.” “Jika saya tahu bagaimana cara mendapatkan teman kencan, saya tidak perlu memamerkannya” “Jika pacar saya memenuhi permintaan saya, saya tidak akan terpaksa memperkosanya”

 

 

Intervensi

Walaupun secara umum, prognosis (prediksi perkembangan gangguan) pada kasus penyimpangan seksual cenderung negatif atau dengan kata lain, sangat sulit untuk mencapai kesembuhan dengan arti kata sama sekali merubah penyimpangan. Namun ada beberapa usaha untuk mencegah kambuhnya perilaku penyimpangan seksual, terutama dalam rangka mencegah timbulnya korban atau penderitaan baik pada individu maupun orang lain. Komponen yang paling utama dibidik dalam program intervensi penyimpangan seksual adalah faktor kognitif. Program tersebut antara lain teknik-teknik kognitif yang bertujuan meluruskan distorsi keyakinan dan mengubah sikap yang tidak benar terhadap perempuan (contohnya merubah distorsi yang ada di tabel 1). Berbagai upaya terutama untuk meningkatkan empati mereka terhadap korbannya, manajemen kemarahan, berbagai teknik untuk meningkatkan harga diri dan upaya untuk mengurangi penyalahgunaan zat.

Dalam psikoterapi individual, individu dengan gangguan eksibisionistik diajarkan pendekatan coping dalam mengelola hasrat seksualnya yang mendesaknya untuk menampilkan alat kelaminnya ke orang lain. Dalam psikoterapi, individu diajak memetakan bagaimana emosi, pikiran dan distorsi kognitifnya dapat mengakibatkan dirinya melakukan perilaku seks menyimpang, serta bagaimana cara menghentikan alur proses yang menyimpang tersebut. Dalam psikoterapi individual, individu dengan gangguan eksibisionistik juga dapat diajarkan untuk mematahkan distorsi kognitif yang selama ini mereka gunakan sebagai pembenaran perilaku penyimpangan mereka. Mereka juga dapat diajak untuk belajar keahlian sosial, terutama dalam menjalin relasi sosial dan relasi intim dengan lawan jenis secara sehat. Teknik Rekondisi Orgasmik, juga dapat diperkenalkan. Dimana individu dengan gangguan eksibisionistik diajak untuk menggantikan fantasi seksual eksibisionisme mereka dengan fantasi seksual yang lebih sesuai secara normatif.

Selain itu, terapi kelompok atau dukungan kelompok sosial juga dapat dilakukan. Hal ini dilakukan agar individu dengan gangguan eksibisionistik merasa tidak sendiri dalam menghadapi gangguannya. Mirip dengan langkah-langkah dalam Alcoholic Anonymous (AA), individu dengan eksibisionistik akan didampingi oleh individu yang telah melampaui persoalan terkait dengan gangguan eksibisionistik, harapannya agar mereka bisa bekerjasama untuk membantu individu keluar dari persoalannya.

Terapi psikologis juga dapat dikombinasikan dengan intervensi biologis agar cukup dapat menurunkan tingkat dan frekuensi kambuhnya penyimpangan gangguan eksibisionistik.

  1. Pengobatan dengan hormonal: Obat Antiandrogenic, seperti: medroxyprogesterone dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah, tapi hasrat seksual dikurangi secara signifikan. Diberikan per-oral.
  2. Pengobatan dengan neuroleptik, regulasi serotonin digunakan untuk menghambat perilaku seksual.
    • Phenothizine: Memperkecil dorongan seksual dan mengurangi kecemasan. Diberikan secara oral.
    • Fluphenazine enanthate: Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan seksual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat.
  3. Pengobatan dengan obat penenang (transquilizer): Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejala kecemasan dan rasa takut yang menyertai gangguan parafilia.

Perlu dipahami bahwa pemberian obat-obatan akan diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi seksual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi tambahan untuk pendekatan psikologis.

Berbagai pendekatan psikoterapi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi, karea pada penderita yang datang biasanya memiliki kecemasan.

Referensi

American Psychiatric Association (2000). Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder IV-Text-Revision. Washington: APA.

American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder V. Washington: APA.

Davidson, G.C., Neale, J.M., & Kring, A.M. (2010). Psikologi Abnormal, edisi 9. Jakarta: Rajawali Pers.

PPDGJ III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Iklan

3 thoughts on “Memahami Gangguan Eksibisionistik sebagai Gangguan Penyimpangan Seksual dengan DSM V

  1. Ping-balik: Gagguan Eksibionistik | WGARNISYAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s