Tolong, anakku di depan komputeeerrr terus…”

Tolong, anakku di depan komputeeerrr terus…”

Oleh: Bayu Hendradjaya

Dosen Teknik Informatika ITB

is-screen-addiction-real-537x402Beberapa saat yang lalu penulis di tanyai seorang rekan yang kebingungan karena anaknya yang masih berumur 14 tahun tapi setiap jam kerjanya di depan komputer terus. Sebelum berangkat sekolah komputer sudah di nyalakan, pulang sekolah tanpa ganti baju dulu, komputer nyala lagi. Semula rekan ini berpikir kalau suatu saat si anak akan bosan sendiri. Tapi sesudah lebih satu tahun berjalan, dan tidak ada tanda-tanda kebosanan. “Berbahayakah…?” Dia kawatir jika kebiasaannya itu membawa akibat buruk walaupun dia juga tidak menutupi kalau dia juga merasa bangga, karena dia merasa tidak banyak anak seusia itu bisa komputer dan berharap kecanduan komputer dapat memberi manfaat di kemudian hari.

Di jaman yang serba komputerisasi seperti ini sebenarnya tidak aneh kalau sudah sejak jaman anak-anak sudah kecanduan komputer.  Anak-anak masa kini sejak SD sudah diperkenalkan dengan komputer.  Berbeda dengan jaman penulis dulu yang baru mengenal komputer setelah tingkat dua saat kuliah.

Kembali ke pertanyaan itu, berbahaya kah? jawaban penulis, hal itu bisa berbahaya, bisa juga tidak. Berbahaya jika kecanduan komputernya bisa mengganggu aktivitas rutin yang seharusnya dia lakukan.

Ketika di tanya apa  yang dikerjakan di komputer, rekan ini juga kebingungan. Baru besoknya dia kembali dengan jawabannya. Katanya, si anak keranjingan men-download program-program, termasuk meng-install berbagai anti virus, bikin blog di internet. Dan juga termasuk (tentunya) beraktivitas facebook dengan teman-temannya. Dengan lebih lega, penulis katakan jika memang itu, aktivitasnya masih dalam batas normal, dan hal lain yang melegakan, si anak masih mau mengkomunikasikan aktivitasnya ke orang tua. Eh, ada lho teman penulis yang anaknya sudah berani bilang ‘wah mau tau aja mama…”.

Lalu yang tidak normal yang seperti apa?  Dengan ketersediaan internet, seorang anak bisa jalan-jalan ke mana saja,  termasuk melakukan apa saja.  Dikawatirkan kalau anaknya main ke situs-situs asusila yang saat ini relatif mudah bisa di akses.  Jika iya bagaimana? Memang  saat ini sudah tersedia program-program tertentu yang bisa menyaring situs-situs semacam itu. Tetapi rasanya anak-anak sekarang kalau memang niatnya ke arah itu, pastilah dengan mudah mencari yang tidak atau belum di saring. Di Internet berlaku istilah “banyak jalan menuju Roma”. Kalau jalan yang pertama sudah ditutup, bisa dicari jalan kedua, dan seterusnya.  Jadi menurut penulis, yang penting bukannya menutupnya, tetapi bagaimana caranya agar orang tua tetap bisa menanamkan ‘rambu-rambu’  yang membuat si anak mengerti bahwa hal  yang seperti itu tidak sepatutnya di lakukan. Walau tentunya proteksi tambahan berupa program di komputer juga di perlukan.

Kemudian kira-kira hal-hal apalagi yang harus diawasi?

  • Chatting di internet. Kenapa ini berbahaya? Ada dua hal, pertama chatting akan banyak makan waktu. Anak kecil yang belum banyak punya tanggung jawab, dengan mudah bisa lupa waktu, (orang dewasa saja juga sering lupa waktu.. hehehe.. ). Hal lain, sangat dimungkinkan ada orang mencari teman di chatting untuk tujuan negatif.  Sudah banyak cerita di luar negeri para ‘predator’ yang mencari mangsa anak-anak kecil untuk di manipulasi.
  • Jejaring social semacam facebook, myspace, atau Friendster, sebenarnya memiliki tingkat ketidakamanannya sama seperti chatting. Untuk situs semacam itu, kita bisa membantu mengatur setting privacy-nya.
  • Main game, terlebih permainan game yang online.  Sifat adiksi dari game ini juga dengan mudah anak-anak melupakan waktu. Terlebih game online yang memiliki tingkat kecanduan yang lebih tinggi dari sekedar game biasa. Karena di permainan game online, yang pasangan mainnya juga ‘manusia’, keterikatan emosionalnya juga lebih besar. Hingga tentunya lebih adiktif.

Sekarang ini juga sedang ramai ‘Internet bullying’. Kalau jaman tanpa komputer dulu, praktek bullying di lakukan oleh senior kita.  Pengalaman saya malah sejak SD hal ini sudah terjadi. Di jaman internet ini, perilaku mengancam, dan menindas dari senior ke yuniornya juga sudah terjadi di interent. Di Australia pernah seorang anak melakukan bunuh diri karena di-bully lewat internet. Untuk menghindari praktekbullying lewat internet ini, penulis hanya bisa menyarankan untuk menjaga komunikasi dengan si anak. Apalagi khusus untuk anak rekan penulis ini yang sedang di usia menjelang remaja.

Selanjutnya rekan penulis ini bilang kalau anaknya kalau besar katanya mau jadi ahli IT. Nah di sini rupanya masalahnya. Dengan alasan mau jadi ahli IT si anak rupanya cenderung meremehkan pelajaran-pelajaran lain. Menurut rekan ini anaknya pintar sebenarnya, tapi sayangnya fokusnya hanya pada hal yang di senanginya, yaitu komputer.

Wah, kalau sudah begini, penulis tidak punya saran apa-apa, selain minta ke teman penulis ini supaya mengingatkan anaknya kalau jalannya masih panjang. Karena kemampuan komputer itu sekarang sudah menjadi biasa. Maksudnya jangan sampai salah jalan karena mungkin saja minatnya bukan di komputer, karena sekarang berbagai bidang sekarang banyak menggunakan komputer.

Penulis sendiri banyak menemui banyak orang yang ahli komputer, bisa berasal dari latarbelakang bukan komputer. Ataupun banyak juga rekan penulis yang lulusan komputer pada akhirnya juga bekerja di bidang non-komputer.  Jadi intinya, kesukaan anak dengan komputer mungkin belum bisa menjadi panduan bahwa setelah dewasa ia akan memilih bidang komputer di bidang kerjanya. Walaupun tentunya kemampuan mengoperasikan komputer akan menjadi nilai plus untuk bidang apapun yang akhirnya di minati.

Kembali ke masalah kegundahan rekan tadi, penulis cuma bisa bilang untuk tetap bisa mengendalikan aktivitas anak tanpa si anak merasa terganggu. Maklum deh, banyak anak remaja sekarang makin dilarang, makin tinggi godaannya buat di langgar.

Kemudian bagaimana caranya mengendalikan aktivitas si anak di komputer?

  • Install program buat memblok akses (penulis menyarankan untku mendownload program yang free seperti http://www1.k9webprotection.com/, atau yang dari Microsoft seperti dari http://download.live.com/familysafety, atau program-program semacam visikidpikluk atau kidzui.  Atau cari di google dengan kata kunci “Kids parental watch” . Bahkan ada beberapa program bisa memonitor website apa saja yang sudah di singgahi.
  • Peletakan posisi komputer yang di tempat yang tiap orang bisa melihat, hingga orang tua bisa selalu mengamati aktivitas yang di lakukan si anak. Biasanya ruang keluarga alternative yang baik.

Dan hal lain yang penulis rasa penting, tentunya komunikasi yang baik. Bila anak di beritahukan dengan logis akan bahaya yang mungkin terjadi di media internet, tentunya mereka juga sudah bisa berpikir untuk melakukan proteksi diri.

Ada saran lagi ?

Tulisan ini adalah repost dari artikel dengan judul yang sama pada 7 Maret 2010

dari link http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/07/toloong-anakku-di-depan-komputeeerrr-terus-88194.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s