Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian II)

Psikologi Kepahlawanan: Mencari Pahlawan di Sekitar Kita (Bagian II)

Oleh: Margaretha

Pengajar Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Helping-Hand

Siapa pahlawan?

Selain itu, Allison dan Goethals (2011, dalam Goethals, 2012) melakukan riset tentang siapa sajakah pahlawan bagi hidup masyarakat saat ini di Amerika Serikat. Sekitar 450 orang dewasa, usia 18-72 tahun memberikan respon yang menarik, yang secara umum dibagi menjadi 3 kelompok pahlawan, yaitu: pahlawan familial, pahlawan nyata di masyarakat, dan pahlawan fiksi.

Pahlawan familial atau berasal dari keluarganya sendiri, biasanya adalah orang tua atau orang yang lebih tua yang membantu anggota keluarga yang lebih lemah. Hal ini dilaporkan oleh sekitar 32% responden. Keutamaan pahlawan familal berupa bantuan emosional, finansial dan juga kesempatan untuk melakukan pengembangan diri. Hal ini dapat dipahami, bahwa walaupun sifat kepahlawanan adalah prososial universal, namun mereka akan lebih berupaya untuk membantu anggota keluarganya sendiri. Dalam psikologi evolusi, hal ini sesuai dengan teori seleksi familial (kin selection), dimana menyelamatkan anggota keluarga atau orang dengan hubungan sedarah akan diutamakan dalam rangka mempertahankan genetik agar tetap dapat diwariskan dari generasi ke generasi.

Pahlawan nyata di masyarakat juga dilaporkan oleh 33% responden. Pahlawan nyata yang disebutkan adalah manusia-manusia hebat sepanjang sejarah manusia, dari negawaran, atlet, agen perubahan sosial, artis/entertainer, aktor/aktris, pengusaha besar, dan juga manusia yang awalnya dianggap gagal namun setelah melampaui perjuangan menjadi pahlawan.

Sisanya sekitar 34% melaporkan pahlawan tokoh fiksi. Karakter fiksi pahlawan didapat dari komik, film, cerita dan televisi. Gambaran tokoh pahlawan fiksi ternyata dianggap mampu menampilkan sosok kepahlawanan yang lebih kuat, karena kelemahan manusiawinya ditampilkan lebih sedikit, sehingga kekuatan karakter kepahlawanannya dianggap lebih kuat (prototypical heroes). Lebih lanjut, studi perbandingan persepsi kepahlawanan menunjukkan bahwa persepsi kepahlawanan tokoh fiksi lebih positif daripada pahlawan nyata, bahkan perbedaannya ditemukan ekstrem. Artinya, ada kecenderungan masyarakat lebih bisa menerima kepahlawanan tokoh fiksi daripada atas apa yang dilihatnya muncul pada manusia pahlawan dalam kehidupan nyata.

APS-PI-Community-Violence-Children-548x274

Dampak kepahlawanan

Pahlawan membawa inspirasi perubahan. Dalam berbagai konteks, ditemukan pahlawan membuat riak perubahan dalam suatu masyarakat, atau pahlawan adalah agen perubahan sosial. Kepahlawanan juga mempengaruhi pikir, rasa dan perilaku masyarakatnya.

Cerita kepahlawanan membuat manusia merasa bersemangat, berharap, memimpikan suatu kondisi yang lebih baik, dan beraspirasi. Perasaan ini membuat manusia menjadi menginginkan untuk mengidentifikasi dirinya, menjadi sama dengan, pahlawan. Pahlawan membuat kita merasa menginginkan menjadi mereka.

Kepahlawanan juga mempengaruhi pemikiran, terutama untuk mengkritisi cara-cara pikir konvensional dan tradisional dalam melihat dunia. Goethals menjelaskan bahwa tradisi agama besar di dunia lahir dari pahlawan yang mendobrak cara berpikir lama masyarakat pada jamannya. Misalkan, Konfusius lahir untuk merubah cara pandang lama Taoisme; Nabi Muhhamad muncul sebagai pembaharu perjanjian dengan Tuhan di masyarakatnya; Yesus Kristus juga adalah seorang revolusioner yang menantang doktrin lama di jamannya. Pada masa modern, muncul tokoh pahlawan kritis seperti: Martin Luther King Jr., Dalai Lama, Mahatman Gandhi, dan lainnya. Mereka tidak menjadi pahlawan karena tunduk dengan konvensi. Pahlawan menawarkan cara pandang baru untuk menghadapi situasi.

Pahlawan juga menjadi inspirasi melakukan tindakan-tindakan yang tidak egois, untuk kebajikan bagi semua dan pengorbanan diri bagi orang lain. Pahlawan menjadi contoh dan juga semangat membuat diri kita menjadi lebih baik lagi. Pahlawan besar dapat mempengaruhi perilaku generasinya saat ini dan juga hingga ke generasi berikutnya.

Bias kepahlawanan

Dalam mempersepsikan kepahlawanan, perlu disadari, bahwa dapat terjadi bias atau kesalahan berpikir. Ada 2 bias kepahlawanan yang dibahas di sini, yaitu: bias nilai positif kematian pahlawan dan bias kuda hitam.

  1. Nilai positif kematian pahlawan

Orang dilihat menjadi heroik ketika tampak berkorban, dan pengorbanan utama seorang pahlawan adalah dirinya atau hidupnya sendiri. Bahkan, kematian bisa memperkuat narasi dan persepsi kepahlawanan. Pada tahun 2009, Allison dan kolega melakukan eksperimen untuk membandingkan persepsi kepahlawanan antara tokoh yang masih hidup dan yang telah meninggal, dengan mengontrol tindakan yang dilakukan kedua tokoh dikategorikan sama. Mereka menemukan bahwa persepsi kepahlawanan ternyata lebih kuat pada tokoh yang telah meninggal daripada pada tokoh yang masih hidup. Hal ini menunjukkan bias positif kematian pahlawan.

Sepertinya, masyarakat erat mengkaitkan kehebatan kepahlawanan dengan kematian; dimana orang yang telah meninggal akan dibesar-besarkan/dilebih-lebihkan kepahlawanannya, jika dibandingkan dengan manusia yang menunjukkan kepahlawanan namun masih hidup. Ketika hidup, kelemahan pribadi pahlawan masih bisa ditemukan dan dibahas; namun tidak pada pahlawan yang telah meninggal. Terlebih, jika kematiannya disebabkan tindakan heroiknya, atau disebut Martir. Kematian pahlawan yang meninggal karena bunuh diri juga dilihat kurang kuat. Tampaknya, stigma buruk tentang bunuh diri juga berlaku dalam konteks kepahlawanan. Pahlawan yang meninggal dalam usia muda juga lebih disukai; dan pahlawan miskin atau yang berasal dari kalangan ekonomi lemah juga lebih dihargai daripada pahlawan yang memiliki banyak harta dan kaya-raya. Hal-hal ini menunjukkan betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh pahlawan tersebut.

  1. Penghargaan kepahlawanan si Kuda hitam

Pahlawan harus menghadapi tantangan terbesar, yaitu dirinya sendiri. Upaya manusiawi berjuang melewati hambatan dari diri sendiri, seperti: malas, kelelahan, menyerah, tekanan sosial dan keterbatasan diri, menjadi suatu kekuatan yang menjadikan pahlawan. Yang menarik, kepahlawanan tidak selalu muncul dari orang yang memiliki keutamaan kepahlawanan yang menonjol. Namun bisa juga muncul dari orang yang dianggap lemah, termarginalkan, atau pernah gagal sebelumnya; mereka disebut sebagai Kuda hitam. Sosok yang tidak pernah diharapkan, tapi berhasil menjadi pahlawan.

Riset menemukan bahwa kuda hitam yang berjuang melampaui keterbatasan dirinya akan lebih kuat dilihat sebagai pahlawan yang lebih hebat daripada orang-orang yang telah memiliki keutamaan dan kekuatan sebagai pahlawan sebelumnya. Orang lebih mudah bersimpati, lebih terinspirasi, serta lebih ingin bekerjasama dengan seorang kuda hitam (Allison & Heilborn, 2011 dalam Goethals & Allison, 2012). Sepertinya, masyarakat akan segera memaafkan kelemahan kuda hitam, jika melihat upaya perjuangannya melampaui keterbatasan dirinya sendiri dan berhasil (struggle and redemption). Hal ini terjadi karena masyarakat melihat komponen diri manusiawi pada diri kuda hitam. Seorang manusia dengan cela dan keterbatasan yang berjuang melampaui dirinya sendiri dan kesulitan. Bagi orang awam, akan lebih mudah mengidentifikasi diri pada seorang kuda hitam, daripada dengan orang yang telah sukses atau tampak hebat sejak lahir. Kuda hitam yang berjuang untuk berhasil dan menolong orang lain menjadi contoh sukses usaha manusia biasa. Pada akhirnya, kuda hitam yang berhasil keluar dari keterbatasannya akan dilihat sebagai pahlawan dan dihargai sebagai pemimpin inspirasional.

Pahlawan atau Pemimpin?

Goethals (2012) juga berpendapat bahwa masyarakat sering menggunakan kualitas keutamaan pemimpin dalam menjelaskan keutamaan pahlawan, atau dengan kata lain adanya karakter yang sama (overlapping characters) antara pahlawan dan pemimpin. Sekitar 50 responden diminta untuk mengidentifikasi sifat-sifat pahlawan, dan ditemukan ada 8 kelompok sifat, yaitu:

  1. Peduli (caring): welas kasih (compassionate), empatik (empathetic), baik (kind)
  2. Karismatik (charismatic): berdedikasi (decicated), ekspresif (eloquent), bersemangat (passionate)
  3. Menginspirasi (inspiring): dikagumi (admirable), hebat (great), luar biasa (amazing), inspirasional (inspirational)
  4. Dapat diandalkan (reliable): loyal (loyal), terbuka (true)
  5. Resilien (resilient): berhasil (accomplished), gigih (determined), pantang menyerah (perseverance)
  6. Tidak egois (selfless): altruistik (altruistic), jujur (honest), sederhana (humble), moral (moral)
  7. Pandai (smart): cendikiawan (intelligent), bijak (wise)
  8. Kuat (strong): berani (courageous), mendominasi (dominating), gagah (gallant), spemimpin (leader).

Dari komponen sifat yang ditampilkan mengenai pemimpin ini, dapat terlihat beberapa kualitas juga muncul dalam menjelaskan pemimpin, misalkan: karismatik, kuat, dapat diandalkan dan menginspirasi (Goethals dkk., 2012). Beberapa sifat kepahlawanan juga menyiratkan bentuk kepemimpinan, misalkan: dapat diandalkan dan tidak egois adalah keutamaan kepemimpinan pelayanan (servant leadership), sedangkan dapat diandalkan dan integritas adalah unsur dari kepemimpinan yang efektif (effective leadership). Teori kepemimpinan transformatif menjelaskan bahwa pemimpin adalah tokoh visioner-heroik yang mampu merubah kelompoknya dan mampu menginspirasi anggota kelompoknya untuk melakukan tindakan heroik juga (Burns, 1978 dalam Geothals & Allison, 2012). Peduli, baik dan welas-asih bukan karakter kepemimpinan tradisional; namun dalam beberapa penelitian terakhir, ditemukan bahwa kualitas kebaikan non-tradisional tersebut juga dianggap penting dalam kepemimpinan modern.

Baik pahlawan dan pemimpin adalah manusia yang mampu mempengaruhi masyarakat luas. Keduanya adalah tokoh yang sering digunakan sebagai panutan (role model) untuk bersikap dan berperilaku, terutama perilaku moral. Keduanya adalah orang yang memberikan inspirasi bahkan energi untuk melakukan suatu perilaku. Namun perlu dipahami, perbedaannya, pahlawan melakukan tindakan pengorbanan pribadi. Kita perlu memahami konteks figur untuk dapat menjelaskan perbedaan dan kesamaan figur pahlawan dan pemimpin. Lebih lanjut, perlu juga dikritsi, kedua tokoh ini juga sangat beresiko dipandang menjadi suatu bias idealisme yang abstract. Akibatnya kita menjadi sulit melihat keutamaan ini pada orang-orang yang hidup di sekitar kita.

Mengapa kita butuh pahlawan?

Pahlawan adalah panutan (role model) untuk bersikap dan berperilaku, terutama perilaku moral. Bahkan Freud menegaskan bahwa nilai ideal dari sosok pahlawan akan membentuk superego (nilai-nilai pribadi). Superego terbentuk melalui proses asimilasi ego, dimana ego pahlawan diidentifikasi lalu diasimilasi dalam ego diri sendiri. Proses identifikasi awal manusia adalah dengan orang tuanya atau pengasuhnya; oleh karena itu, nilai-nilai yang teridentifikasi dari orang tua akan berkembang menjadi superego anak. Atau dengan kata lain, orang tua adalah panutan dan pahlawan awal anak. Selanjutnya dalam perkembangan anak, akan ada tokoh-tokoh lain dalam hidupnya yang akan diidentifikasi sebagai panutan, misalkan: Guru, teman, dan tokoh lainnya. Namun nilai-nilai dari tokoh-tokoh ini tidak semua serta-merta masuk dan berkembang ke supergo, kebanyakan ditemukan akan mempengaruhi perkembangan ego.

Pahlawan juga membuat kita lebih memahami perjuangan menghadapi kesulitan. Peristiwa menghadapi kesulitan adalah manusiawi, yang dialami oleh sebagian besar oleh kita. Namun pahlawan menunjukkan contoh apa dan bagaimana untuk melampaui kesulitan-kesulitan hidup. Atau dengan kata lain, keutamaan kepahlawanan dapat memotivasi, mengarahkan sikap dan perilaku kita untuk melakukan perilaku yang benar dan mencapai keberhasilan.

Di sisi yang lain, Kinsella (2017) menyatakan bahwa perilaku heroik juga membantu pahlawan mencari makna hidup mereka. Perilaku heroik adalah idealisasi perilaku prososial; maka melakukannya dapat membantu proses pencarian makna hidup bagi pelakunya. Lebih lanjut, perilaku kepahlawanan juga dapat berfungsi menciptakan pengalaman optimal (peak experiences), dimana manusia merasakan dirinya bersatu dengan pengalaman transendensi-transpersonal, juga pengalaman kepuasan (ecstatic) karena mencapai kesadaran akan kebenaran utama. Maslow (1970) juga berpendapat ketika mengalami pengalaman optimal, manusia bisa menjadi lebih kreatif, tercerahkan, menemukan integrasi pengalaman diri, dan memberikan perasaan bermakna dalam hidupnya. Kepahlawanan dapat bermakna baik bagi pahlawan dan juga orang-orang di sekelilingnya, untuk mencapai makna hidup dan pengalaman optimal (Coughlan dkk., 2017).

Mengapa tidak ada pahlawan?

Sering kita tidak bisa melakukan apa yang kita anggap benar karena adanya hambatan eksternal; akibatnya tidak ada yang manu menjadi penolong, atau pahlawan tidak muncul. Salah satu hambatan eksternal adalah tekanan sosial. Penelitian psikologi sosial menemukan bahwa siapapun, orang pada umumnya, akan rentan tidak melakukan perilaku moral, ketika dihadapkan dengan tekanan sosial baik dari tekanan figur atasan (penelitian kepatuhan oleh Milgram) atau dari tekanan kelompok mayoritas (penelitian konformitas oleh Asch). Ketika manusia memilih untuk hanya tunduk patuh pada figure autoritatif, manusia akan menjadi buta-tuli pada nilai moralitas, dan akibatnya manusia bahkan bisa melakukan kejahatan atas dasar kepatuhan. Sama halnya, ketika manusia memilih untuk turut konformis pada nilai-nilai dari kelompok mayoritas, tidak akan muncul sikap kritis dan tidak akan muncul perilaku moral, termasuk menolong.

Zimbardo (2007) menyampaikan bahwa perilaku tidak menolong bukan hanya berdampak pada tidak munculnya pahlawan, namun dapat juga berarti munculnya kejahatan. Zimbardo menjelaskan 7 tahapan munculnya kejahatan, yaitu ketika seseorang melakukan:

  1. menyimpang dari hati nurani/kompas moral pribadi secara perlahan-lahan
  2. merendahkan “orang lain” atau “orang yang asing” (yang berbeda dari dirinya dan kelompoknya)
  3. tidak peduli bagaimana caranya memperlakukan orang lain (cara bicara, cara pandangnya tentang orang lain)
  4. tidak mau bertanggungjawab atas apa konsekuensi tindakannya saat ini yang akan terjadi, tengah berlangsung atau telah terjadi
  5. patuh buta pada figur autoritatif
  6. tidak kritis pada norma kelompok atau ide-ide yang telah disepakati selama ini
  7. pasif atau tidak melakukan apapun ketika dibutuhkan aksi (menolong)

Tahapan ini menjelaskan bagaimana orang pada umumnya dapat beresiko melakukan kejahatan, karena kejahatan bisa terjadi dimulai dari penyimpangan kode moral pribadi hingga perilaku tidak menolong ketika dibutuhkan aksi nyata. Diam ketika dibutuhkan aksi pertolongan nyata adalah suatu kejahatan pula.

Dalam penelitian Latane (1981), ditemukan juga bahwa kegagalan menolong juga disebabkan oleh interaksi faktor internal dan eksternal, yaitu: orang akan hanya mengamati tanpa menolong (bystander effect) jika dipersepsikan ada kehadiran orang lain di sekitarnya yang akan monolong, dan persepsi rendahnya resiko yang dihadapi oleh orang yang perlu ditolong. Pahlawan tidak muncul karena masing-masing orang memilih hanya jadi pengamat, dan berharap orang lain yang akan menolong, akibatnya semua saling tunggu dan tidak ada aksi moral. Dari penelitian ditemukan, efek pengamat berkurang jika persepsi resiko bahaya yang dialami orang yang meminta pertolongan dianggap tinggi, artinya orang akan menolong jika dianggap situasi sangat kritis dan membutuhkan pertolongan segera. Dalam hal ini dapat disimpulkan, perilaku menolong dapat muncul, jika terjadi intervensi cara pandang individu dalam mempersepsikan hambatan eksternal. Strategi inilah yang dikembangkan dalam intervensi efek pengamat dalam rangka menumbuhkan perilaku prososial menolong di masyarakat.

c2b22dd6ffbd81158b0b2bbe5ec55cfc--funny-cartoons-dream-big

Kepahlawanan sehari-hari: Menanamkan sikap heroik sejak dini

Salah satu dasar kepahlawanan adalah keberanian moral. Keberanian moral akan dipengaruhi oleh nilai moral (moral values) dan kemampuan untuk bersikap welas-asih pada orang lain (compassion). Terkait dengan nilai moral, dalam diri seorang individu, akan terdapat berbagai nilai yang dianutnya. Kadang satu nilai bisa berhadapan dengan nilai lain. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan bahwa nilai yang dibela haruslah nilai yang lebih tinggi kebajikannya, dan sifatnya untuk semua atau universal atau bermanfaat untuk semua mahluk, bukan nilai hanya untuk kebaikan diri atau kelompok. Untuk melakukan welas-kasih juga akan membutuhkan kemampuan empati, kemampuan untuk memahami kondisi dan perasaan orang lain, dari perspektif orang lain. Untuk itu, kita perlu belajar berempati dan memahami perspektif orang lain sebelum melakukan tindakan kepahlawanan.

Tidak cukup hanya welas-asih dan empati, namun juga dibutuhkan kemampuan berpikir kritis, berani bertanya dan berdiskusi dengan berbagai orang di lingkungan hidupnya, termasuk figur autoritatif, agar individu dapat menjadi manusia yang yakin akan kemampuan dirinya untuk berhasil menolong manusia lain. Keyakinan diri mendasari keberanian melampaui hambatan sosial, membangun usaha dan bekerja-keras untuk mencapai keberhasilan serta upaya menolong (Dweck, 2002 dalam Goethals, 2012).

Tapi kepahlawanan sebaiknya tidak dilihat sebagai suatu hal yang sangat besar sehingga sulit dilakukan oleh orang biasa. Lebih lanjut, Zimbardo (2007) menawarkan konsep kepahlawanan sehari-hari (daily heroism). Ia menjelaskan bahwa kepahlawanan sehari-hari adalah: orang yang mau mengorbankan diri bagi orang lain, menolong orang yang membutuhkan, berjuang demi membela kebenaran moral, dan menunjukkan keberanian moral walaupun sadar akan menanggung resiko dan bahaya bagi dirinya sendiri. Dia percaya bahwa setiap manusia berpotensi menjadi pahlawan, “kita semua adalah pahwalan yang sedang menunggu waktu untuk beraksi”.

Konsep ini selaras dengan ide intervensi yang disampaikan Staub (2015 dalam Joh dkk., 2017) tentang mengembangkan pengamat aktif (active bystander). Hal ini dilakukan dengan cara mengajarkan orang-orang mengenai keberanian moral, dalam rangka membantu orang lain yang membutuhkan, mencegah dan melawan kekerasan, serta berupaya untuk memperbaiki komunitas. Serangkaian proses pelatihan dapat dilakukan untuk memperkuat kesadaran dan keahlian individu dalam melakukan kepahlawanan sehari-hari.

Joh dan kolega (2017) menjelaskan bahwa bisa dilakukan intervensi untuk menciptakan pahlawan, bahkan sejak dini. Kidder (2005, dalam Joh dkk., 2017) menyatakan bahwa proses pendidikan pahlawan dapat dimulai sejak masa kanak, melalui 3 tahapan, yaitu:

  1. tahap 1: anak diminta mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan yang menunjukkan keberanian moral
  2. tahap 2: anak diminta menceritakan tentang pengalaman kepahlawanan yang telah dialaminya sehari-hari (dapat berupa tindakan yang telah dilakukan orang yang dikenalnya)
  3. tahap 3: anak menyusun suatu narasi mengenai kepahlawanan yang dapat dia lakukan saat ini; hal ini dapat dijaikan proyek kepahlawanan yang akan dilakukannya segera. Dari proyek ini, anak akan diminta melakukan refleksi atas nilai keberanian moral yang dianggapnya paling penting.

Konsep pendidikan kepahlawanan dini menurut Kidder (2005) dapat dilakukan di sekolah dan di komunitas. Hal ini juga dirasa penting untuk menciptakan masyarakat madani (civic society) karena mempersiapkan manusia yang siap berkontribusi sosial sejak dini.

Selain itu, Joh dan kolega (2017) juga menjelaskan pendekatan pedagogi kepahlawanan. Mereka menjelaskan bahwa ada 5 langkah yang perlu dilakukan, yaitu:

  1. Tahap 1: pendidikan sikap dan perilaku etis/moral. Proses mengembangkan belajar dan mengajar dimana individu paham bagaimana bersikap dan berperilaku dalam suatu situasi yang membutuhkan etika/moral, lalu memahami apa yang harus dilakukan dalam situasi tersebut.
  2. Tahap 2: pencegahan efek pengamat (bystander effect). Proses menjelaskan bahwa diam, tidak melakukan apapun dalam keadaan dimana orang lain membutuhkan bantuan adalah tindak kejahatan etika, walaupun belum tentu dipandang sebagai kejahatan kriminal.
  3. Tahap 3: memahami diri sendiri melalui mempelajari perspektif orang lain. Proses menjelaskan bahwa dengan memahami orang lain, maka komunikasi akan terbuka dan lebih mudah menolong. Proses memahami orang lain sebenarnya juga menjadi proses semakin memahami diri sendiri.
  4. Tahap 4: membangun aliansi. Proses mempelajari melawan kebiasaan menjauh ketika melihat orang lain ketika berada dalam masalah/krisis, tapi justru berusaha membangun keterhubungan dengan orang lain di sekitar kita ketika berhadapan dengan krisis. Komunikasi sosial dengan pihak lain akan meningkatkan perilaku menolong. Jika terus menjauh, maka masing-masing orang akan saling menunggu siapa yang akan menolong. Sebaliknya, jika bersatu, maka perilaku menolong akan lebih mudah muncul.
  5. Tahap 5: pengembangan panduan berperilaku. Proses penyusunan suatu panduan perilaku etis/moral tentang aksi menolong di dalam komunitas. Hal ini dibutuhkan untuk mendukung terbentuknya, berkembangnya dan menguatnya perilaku menolong ketika terjadi ketidakadilan.

Selain dari itu, ada beberapa prinsip yang dikembangkan Zimbardo (2007), dalam rangka mengembangkan sikap positif terhadap perkembangan keberanian moral, yaitu:

  1. Selalu berusaha terlibat membantu ketika ada orang lain yang mengalami kekerasan
  2. Berbuat baik untuk semua orang tanpa memandang latar belakang (prinsip Samaritan)
  3. Melawan ketidakadilan
  4. Protes pada otoritas ketika mereka merendahkan harga diri orang lain
  5. Terlibat aksi non-kekerasan dalam rangka menolong orang yang asing, orang yang berbeda dari kita
  6. Tidak mentolerir ketidakadilan hanya karena hal tersebut tidak mempengaruhi diri sendiri. Tidak boleh diam atas ketidakadilan yang dialami orang lain.
  7. Pelajari siapa orang yang asing atau berbeda dari kita.

Ketujuh prinsip ini perlu dipahami dan dilatih pada individu agar semakin memperkuat keberanian moral, yang pada kelanjutannya dapat mendukung munculnya kepahlawanan sehari-hari. Kepahlawanan bukan hanya untuk membantu tanpa pamrih orang yang sama dangan kita, namun juga dengan orang-orang yang berbeda dari kita. Sikap kritis juga diperlukan, karena kepahlawanan akan menuntut keahlian menghadapi konflik dan ketidakadilan.

Simpulan

Kepahlawanan adalah suatu fenomena kompleks yang tidak bisa didefinisikan secara sederhana dan hanya dapat dipahami dengan analisa mendalam serta mempertimbangkan banyak faktor internal, ekstrernal dan interaksi keduanya dalam suatu konteks. Faktor internal banyak dijelaskan oleh pendekatan karakter dan keutamaan, sedangkan faktor eksternal juga menjelaskan bagaimana faktor sosial budaya dapat mempengaruhi kehadiran dan bentuk kepahlawanan. Kedua komponen internal dan eksternal juga berinteraksi dalam mempengaruhi kepahlawanan. Oleh karena itu, kajian tentang kepahlawanan sangat dibutuhkan ke depannya.

Bidang psikologi adalah salah satu ilmu yang telah melakukan kajian teoritis dan aplikatif tentang kepahlawanan. Namun, selain riset, ilmu psikologi juga perlu lebih memahami dampak praktikal kajian kepahlawanan. Psikolog, sebagai suatu profesi, mendapatkan tantangan untuk menjadi heroik (Friedman dkk., 2017). Tindakan kepahlawanan yang dapat dilakukan psikolog, dari aksi altruistik melayani orang lain bukan untuk kepentingan diri sendiri, hingga proses pencarian makna hidup dalam upaya membangun relasi saling terhubung dengan orang lain, dunia dan juga alam semesta. Oleh karena itu, Friedman dan kolega menawarkan pendidikan dan pelatihan yang lebih memperkuat kesadaran psikolog muda untuk mampu bertindak heroik dalam profesinya.

References:

Baumeister, R.F., Vohs, K.D., & Tice, D.M. (2007). The strength pf self control. Current Direction in Psychological Science, 16, 396-403.

Coughlan, G., Igou, E.I., van Tilburg, W.A.P., Kinsella, E.L., & Ricthie, T.D. (2017). On Boredom and Perceptions of Heroes: A Meaning-Regulation Approach to Heroism. Journal of Humanistic Psychology, 1-19.

Franco, Z.E., Blau, K., & Zimbardo, P.G. (2011). Heroism: A Conceptual Analysis and Differentiation Between Heroic Action and Altruism. Review of General Psychology, 2, 99-113.

Friedman, H.L. (2017). Everyday heroism in practicing psychology. Journal of Humanistic Psychology, 1-18.

Goethals, G.R., & Allison, S.T. (2012). Making heroes: The construction of Courage, Competence and Virtues. In “Advances in Experimental Social Psychology”, edited by J.M. Olson & M.P. Zanna, p. 183-235, Vol. 46. San Diego: Elsevier.

Joh, D.J.D., Ernes, A.K., & Johannessen, J.A. (2017). Developing a methodology for the moral education of active bystanders: A systemic perspective. Kybernetes, 46, 1-26. doi.org/10.1108/K-04-2016-0089

Kinsella, E.L., Igou, E.I., & Ricthie, T.D. (2017) Heroism and the pursuit of a meaningful life. Journal of Humanistic Psychology, 1-15.

Zimbardo, P. G (2007). Understanding How Good People Turn Evil. Interview transcript. Democracy Now! March 30, 2007.

Zimbardo, P.G., Franco, Z.E., & Blau, K. (2011) Heroism: A conceptual analysis and differentiation between heroic action and altruism. Review of General Psychology, 15, 99-113.

Zimbardo, P. (2011). What makes a hero? Downloaded from http://greatergood.berkeley.edu/article/item/what_makes_a_hero

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s