Siapakah Pelaku dan Korban Terorisme?

Siapakah Pelaku dan Korban Terorisme?

Oleh: Andi Maulida R., Quindhira Maharani R.,

Grace Susilowati M., & Kardinal Leksono

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

http://www.google.co.id/imgres?q=terrorism&hl=id&client=firefox-a&hs=yN9&sa=X&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1525&bih=697&tbm=isch&prmd=imvnsbl&tbnid=xtCTpNMb-CJ_TM:&imgrefurl=http://innocentsmithjournal.wordpress.com/2010/02/20/exaggerating-the-global-terrorism-threat-2005-2008/&docid=WxqLDgKNjmxd9M&imgurl=http://innocentsmithjournal.files.wordpress.com/2010/02/terrorist-main_full.jpg&w=315&h=480&ei=iRAJUP-yHIK4rAf80MTICA&zoom=1&iact=hc&vpx=372&vpy=307&dur=1865&hovh=277&hovw=182&tx=97&ty=123&sig=110985963715002219619&page=1&tbnh=154&tbnw=101&start=0&ndsp=19&ved=1t:429,r:13,s:0,i:109

Berbagai fenomena terorisme di Indonesia memunculkan berbagai pertanyaan. Tulisan ini akan menyoroti dua aspek besar dari terorisme, yaitu pelaku terorisme dan korban terorisme. Dari sisi pelaku, akan dibahas bagaimana fanatisme dan keyakinan seseorang dapat mempengaruhinya menjadi seorang teroris. Dari sisi korban terorisme sendiri perlu diketahui siapa yang dapat menjadi korban, apakah hanya orang yang terkena dampak secara langsung dari terorisme? Akan dibahas pula dampak psikologis yang dialami oleh masyarakat luas akibat dari pemberitaan media masa sebagai korban tidak langsung. Baca lebih lanjut

Neuropsikologi dan Psikologi Forensik

Neuropsikologi dan Psikologi Forensik

Ayu Dewi Yulia & Aditya Bayu Aji

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 http://www.tcneuropsychology.com/Brain_Picture.jpg

Otak manusia sangatlah menakjubkan, dengan berat hanya 1.36 kilogram dan volume sekitar 1,250 cm3, otak manusia memiliki kemampuan untuk memonitor dan mengontrol sistem yang mendukung kehidupan dasar kita, untuk menentukan postur kita, dan mengarahkan gerak kita, untuk menerima dan menginterpretasikan informasi tentang dunia di sekeliling kita, dan untuk menyimpan informasi kehidupan kita yang mudah untuk diakses kembali. Kerja otak membuat kita mampu untuk menyelesaikan permasalahan dari yang sifatnya sangat praktis sampai yang sangat abstrak, untuk berkomunikasi dengan sesama manusia menggunakan bahasa, mengkreasikan ide-ide dan membayangkan hal-hal yang mungkin tidak pernah ada sebelumnya, untuk merasakan cinta, kebahagiaan, dan kekecewaan, dan untuk menyadari diri kita sebagai individu.

Kerja otak kita yang sangat kompleks menjadi suatu kajian yang menarik dan menantang bagi ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan kontemporer (Beaumont, 2008). Oleh karena itu, tulisan kali ini akan mengulas singkat tentang bagaimana tantangan pemahaman neuropsikologi juga dibutuhkan dalam bidang Psikologi Forensik. Baca lebih lanjut

Trauma Kepala (head injury) dan Perilaku Kejahatan

Trauma Kepala (head injury) dan Perilaku Kejahatan

Pramushinta P.S., Nisa Vinasia, Widya Anggraini, & Diana Setyorini

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

      http://www.google.co.id/imgres?q=brain+criminal&start=178&hl=id&client=firefox-a&hs=nwl&sa=X&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1284&bih=697&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=U5VklGsAbmIzYM:&imgrefurl=http://www.sott.net/articles/show/204740-Psychopaths-Brains-Wired-to-Seek-Rewards-No-Matter-the-Consequences&docid=lJgSFhbUXg3PVM&imgurl=http://www.sott.net/image/image/s1/34377/full/100314150924_large.jpg&w=400&h=460&ei=6eYIUJHQEdDHrQfl_JXICA&zoom=1&iact=hc&vpx=166&vpy=295&dur=1294&hovh=241&hovw=209&tx=125&ty=134&sig=110985963715002219619&page=9&tbnh=157&tbnw=101&ndsp=22&ved=1t:429,r:28,s:178,i:25

Apakah ada kaitannya antara kerusakan otak setelah mengalami trauma kepala dan perilaku kejahatan? Artikel berikut ini akan menjelaskan asosiasi antara kerusakan otak dan perilaku kejahatan. Baca lebih lanjut

Memori dan Kesaksian

Memori dan Kesaksian

Oleh: Churnia Ragil, Dwi Krisdianto, Hani Meilisa, Damita Emeraldy Pratama, & Dyah Pravita

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.donya-e-eqtesad.com/news/2009/29-01.jpg&imgrefurl=http://bazariranian.blogfa.com/post-186.aspx&usg=__tZ-wJEyVq2qQpL0s9Xy7j3S7F4c=&h=468&w=400&sz=89&hl=id&start=3&zoom=1&tbnid=ndkqbvq1GBxUHM:&tbnh=128&tbnw=109&ei=VCvbT-6uA4XtrQf8xLSPCQ&itbs=1

Memori

Memori atau  ingatan adalah serangkaian proses yang dinamis, namun juga bisa terjadi distorsi (Schacter, 2001 dalam Brown & Campbell, 2010). Pandangan tentang memori manusia yang didapat dari kajian-kajian ilmiah menyatakan bahwa memori itu terpisah-pisah dan dapat dibentuk (malleable). Bahkan yang penting dipahami bahwa ingatan dapat berisi sebagian error atau bahkan keseluruhannya adalah ingatan palsu yang dibentuk seseorang secara tak sadar. Pada beberapa kasus menurut Loftus and Picrell (1995 dalam Brown & Campbell, 2010), sugesti bahkan dapat mengarahkan seseorang untuk mengingat secara lengkap, bahkan detail yang tidak pernah terjadi. Brewin (2007 dalam Brown & Campbell, 2010) menyatakan bahwa memori merupakan catatan kenyataan pengalaman seseorang dan pengalaman tersebut meliputi apa yang dipikirkan dan dirasakan sebagaimana apa yang dirasakan serta selektif yang tinggi. Beberapa penelitian yang dilakukan tentang memori menunjukkan bagaimana ingatan itu bisa saja benar, atau salah, bahkan keseluruhannya salah, atau benar dan salah dalam waktu yang bersamaan.

Baca lebih lanjut