Kenakalan remaja Geng “Brasmada”: Mengupas faktor eksternal yang mungkin menjadi penyebabnya

Oleh: Latifa Zahra
Mahasiswa peserta Mata Kuliah Psikologi Forensik
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Beberapa waktu yang lalu fenomena geng remaja yang meresahkan sempat menjadi sorotan di beberapa surat kabar Indonesia. Fenomena kenakalan remaja yang dilakukan geng remaja Brasmada di Balikpapan pada tahun 2013 masih meresahkan warga serta aparat kepolisian akibat aktivitasnya yang menyimpang dari norma-bahkan beberapa diantaranya harus ditindak dengan serius karena adanya korban yang tewas-. Lalu apakah faktor individu semata mata yang menyebabkan kenakalan remaja tersebut? Bagaimana dengan kemungkinan faktor eksternal yang berasal dari keluarga serta lingkungan yang menyebabkan munculnya kenakalan remaja tersebut? Tulisan ini akan membahas faktor-faktor eksternal yang meliputi masalah primer dalam keluarga, putus sekolah, konformitas dan tekanan lingkungan yang mungkin terlibat serta memberikan kontribusi bagi peran psikologi forensik dalam fungsi aktuarial dan advesorial nantinya. Baca lebih lanjut

Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Pendidikan Seks untuk Remaja dengan Autisme

Oleh: Margaretha

Dosen Pengajar Psikologi Abnormal

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Sexuality and Autism

Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan alamiah yang terjadi pada manusia. Perubahan fisik dan kematangan seksual menjadi salah satu tantangan penting yang terjadi di dalamnya. Tidak terkecuali, bagi remaja dengan autisme.

Sering muncul pemahaman yang salah, bahwa remaja dengan autisme tidak memiliki ketertarikan seksual dan tidak tertarik pada relasi intim. Namun kenyataannya, sama seperti remaja pada umumnya, ketika masuk masa remaja, mereka juga mengalami hasrat dan muncul perilaku seksual. Sama seperti remaja pada umumnya, hal ini terkait dengan perubahan hormon seksual di dalam tubuhnya.

Anak dengan autisme juga mengalami perkembangan kemasakan fisik dan seksual pada masa remaja. Ada sebagian anak dengan autisme yang mengalami hambatan perkembangan minat seksual, namun ada pula yang berkembang seperti anak pada umumnya. Namun yang berbeda adalah, perubahan fisik seksual ini tidak disertai dengan kematangan pemahaman sosio-emosional. Akibatnya, dapat terjadi perilaku seksual yang tidak sesuai dengan aturan sosial sehingga perilaku seksual remaja dengan autisme terlihat menyimpang atau memalukan, misalkan: melakukan masturbasi di tempat umum karena tidak mampu menahan hasrat. Bahkan juga sering dilaporkan perilaku agresif akibat ketidakmampuannya mengelola perubahan hormonal dalam tubuhnya. Hal-hal ini akan menyebabkan kebingungan orang tua dan pendidik remaja dengan autisme, karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi fenomena seksualitas pada remaja dengan autisme.

Tulisan ini akan mengulas mengenai apa dan bagaimana cara memberikan pendidikan seks pada remaja dengan autisme.

Baca lebih lanjut

Perilaku Beresiko Remaja

MENILIK PERILAKU BERESIKO REMAJA:

Tantangan dalam usaha pencegahan dan penanggulangannya

Oleh: Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Apa yang telah kita lakukan pada teman-teman, anak-anak atau keluarga yang telah dicap sebagai anak bermasalah? Anak dan remaja dengan masalah kecanduan, perilaku seks tidak aman, dan remaja yang terkena Human Immuno-deficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS). Anak bermasalah sering dilihat sebagai anak yang retak, seperti barang yang telah rusak. Melihat kerusakan lalu kita mencari cara yang dapat dengan cepat memperbaikinya, berusaha membuatnya utuh lagi. Jika terlalu sulit memperbaiknya, mungkin kita akan cepat menyerah dan berpikir ”toh kalaupun diperbaiki bekas cacatnya akan tetap terlihat”. Rasa enggan cepat menyelimuti pikiran sehingga usaha memperbaiki dilakukan dengan setengah hati. Pada akhirnya, jika usaha memperbaiki dianggap gagal, kita cepat-cepat menyingkirkan barang yang telah rusak di mata kita. Bagaimana selama ini cara kita menghadapi mereka? Baca lebih lanjut