Narsisistik dan kekerasan dalam relasi intim (1)

Narsisistik dan kekerasan dalam relasi intim (1)

Oleh: Margaretha

Pengajar Matakuliah Psikopatologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

800px-Narcissus-Caravaggio_(1594-96)_edited

Trauma kekerasan masa kanak ditemukan pada sebagian besar pelaku kekerasan dalam relasi intim (KDRI) ataupun dalam konteks keluarga. Sebagian dari pelaku kekerasan dalam relasi intim juga ditemukan memiliki gangguan psikologis, baik depresi, penyalahgunaan zat dan gangguan kepribadian. Pelaku KDRI yang memiliki gangguan kepribadian biasanya akan membuat penderitaan yang cukup mendalam bagi korbannya.

Artikel pendek ini akan menguraikan perilaku pelaku dengan gangguan kepribadian narsisistik terutama dalam konteks KDRI serta apa yang dapat dilakukan untuk menghadapinya. Mengapa? Karena KDRI yang dilakukan oleh pelaku yang memiliki gangguan kepribadian narsisistik akan sangat menyakitkan untuk korbannya, karena korban akan dihabisi harga dirinya dan hal inilah yang membuat mereka kesulitan untuk meninggalkan relasi yang buruk tersebut. Artikel pendek ini bertujuan menjadi panduan singkat bagi masyarakat yang pernah melihat atau mengalami KDRI oleh pelaku yang menunjukkan gangguan kepribadian narsisistik.

 

Gangguan kepribadian narsisistik

Gangguan kepribadian adalah serangkaian pola pikir, rasa dan perilaku yang sangat kaku dan membuat orang yang mengalaminya kesulitan untuk melakukan fungsi adaptif sehari-hari. Gangguan kepribadian narsisistik (Narcissistic Personality Disorder; NPD) adalah gangguan kepribadian yang terokupasi dengan pemikiran tentang kemampuan diri, kekuasaan, prestise, harga diri; dan secara mental tidak dapat mengakui dan melihat kerusakan dan penderitaan yang mereka telah lakukan bagi diri mereka sendiri dan orang-orang lain.

NPD masuk dalam kelompok gangguan kepribadian Dramatik (berlebih-lebihan) dan Eratik (sulit diprediksi). Di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 2% orang memiliki NPD (American Psychiatry Association, 2013). Tahun 1968, NPD disebut debagai megalomania (ego diri yang besar) dan merupakan bentuk dari sikap egosentris yang parah.

Berikut adalah beberapa ciri NPD:

  1. merasa diri penting secara berlebihan (mengklaim secara berlebihan atas bakat, kepentingan, atau keistimewaannya) dalam fantasi pribadi atau perilaku tampak,
  2. kebutuhan untuk dikagumi terus-menerus dari orang lain,
  3. kurangnya empati untuk orang lain.
  4. memiliki rasa berhak, mengharapkan perlakuan khusus (dan meminta secara eksplisit untuk diberikan) dan kemudahan/perlakuan berbeda dari orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan NPD tampak sebagai orang yang sangat yakin akan dirinya, bahkan cenderung tampak sombong. Namun, paradoksnya, individu dengan gangguan kepribadian narsistik umumnya merasa sangat tidak aman dengan dirinya dan memiliki rendah diri.

 

Gangguan kepribadian narsisistik dan kekerasan dalam relasi intim

Hidup dengan orang yang yang memiliki NPD akan sangat menguras emosi dan menciptakan penderitaan psikis. Bahkan pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi kesehatan mental korbannya, seperti: depresi dan stress.

Stephanie Sarkis dalam artikelnya di Psychology Today (2015) menguraikan beberapa tanda-tanda perilaku orang dengan NPD.

  1. Pasangannya diisolasi dari teman dan keluarganya.

Untuk membuat pasangannya berada di bawah kekuasaannya, NPD akan membatasi interaksi sosial pasangannya. Dari teman, saudara kandung, orang tua dan kerabat semua akan dibatasi agar pasangannya tidak berpikir bahwa ia bisa hidup tanpa seorang NPD. Kehidupan isolatif di awal akan membuat pasangan dapat lebih mudah dikendalikan.

Contoh:

NPD: “ngapain tadi kamu deket-deket ngomong sama Papa saya?”

Pasangan: “ah?”

NPD: “saya kan sudah bilang Papa saya suka main perempuan. Dia tukang selingkuh. Ngapain kamu ngomong dekat sama dia? Mau selingkuh sama dia?

Pasangan: (tidak percaya pada apa yang didengarnya) “apa?”

NPD: “lain kali kalau diajak ngomong sama Papa saya, atau laki-laki siapapun. Jangan jawab. Jawab pendek aja lalu pergi. Ngerti ga? Kamu kayak perempuan gatel aja suka ngomong sama laki-laki.”

Pasangan: “Tapi itukan Papa kamu”

NPD: “saya benci sama Papa saya. Dia tukang selingkuh.”

Pasangan: “Apa maksudnya ga boleh ngomong sama laki-laki lain?”

NPD: “kamu kalau mau jadi istri yang bener. Nurut sama suami. Dibilang ga usah genit ngomong sama laki-laki lain, ya diturutin. Gitu aja ga paham?”

Pasangan: “tapi…ini kan acara keluarga, Bagaimana caranya saya ga bicara sama keluargamu? Kan memang ada laki-lakinya. Masa saya pilih-pilih. Ga balas omong sama Papamu, kan jadi ga sopan.”

NPD: “kalau saya suruh nurut aja deh. Sana ngomong sama mama saya aja. Ngomong sama perempuan saja.”

Jikalau pasangan bekerja, maka NPD akan mengecek lewat telepon, email atau sms secara rutin. Jikalau pasangan gagal menjawab telepon atau kontak dari NPD, maka pasangan akan dihukum. Pada proses ini, NPD membuat pasangannya patuh dan merasa penting untuk selalu terikat hanya dengan NPD. NPD akan berupaya untuk memisahkan pasangan dari orang-orang di sekelilingnya. NPD juga berusaha memperkuat usahanya untuk menanamkan kontrol pada pasangannya dengan membuat teman atau orang yang tadinya dekat dengan pasangannya menjauh.

  1. NPD akan membuat aturan yang berlaku hanya untuk pasangannya tapi tidak berlaku pada dirinya sendiri.

Dalam pembuatan kontrol, NPD akan membuat banyak peraturan dalam relasi intim. Ia akan mengikat pasangannya untuk menuruti aturan yang ia buat, namun ia tidak mau mengikuti aturan tersebut. NPD akan merasionalisasi perubahannya agar dia tidak perlu mengikuti aturannya sendiri.

Contoh:

Pasangan: “Kenapa sih sulit dihubungi?”

NPD: “saya sibuk tahu.”

Pasangan: “katanya kalau masing-masing dihubungi harus dijawab. Itu kesepakatan kita kan?”

NPD: “alah jangan sok atur-atur. Saya sibuk belajar. Apa kamu bisa bantu? Ga bisa bantu aja sok menuntut terlalu banyak. Lagi ngapain kamu hubungi saya?”

Pasangan: “lah kan ini kesepakatan kita, Dulu kan papa yang minta tiap hari ngomong karena kalau papa ga ngomong sama mama, nanti papa cemas? Gimana sih? Sekarang mama ya butuh ngomong sama papa seperti jadwal yang kita sepakati dulu.”

NPD: “alah jangan needy begini. Buat ga betah aja. Saya sekarang sudah ga butuh ngomong tiap hari. Saya sudah percaya sama kamu. Jadi ga perlu ngomong tiap hari. Kalau disuruh ngomong tiap hari sama kamu, nanti malah saya yang muak. Jangan telepon saya tiap hari!”

NPD akan menjadi sangat posesif dan pencemburu. Namun kenyataannya, NPD biasanya akan berselingkuh untuk mencari sumber pemujaan baru, orang-orang baru yang akan memujanya. Ia akan melakukan proyeksi, yaitu akan mempertanyakan kesetiaan pasangan ketika sebenarnya ialah yang sedang melakukan ketidaksetiaan.

Contoh:

Pasangan: “kok sekarang papa semakin sulit dihubungi?”

NPD: “saya sibuk belajar di Jerman. Susah tahu!”

Pasangan: “saya juga tahu rasanya belajar di luar negeri, tapi masa ga bisa balas sms atau telepon yang hanya beberapa menit saja? Memang papa ngapain sampai ga bisa balas sms mama?”

NPD: “saya tuh di sini belajar di perpustakaan tiap hari. Masih pakai tanya. Saya malah kesepian di sini. Saya ga banyak teman. Ga bisa melakukan yang lain.”

Pasangan: “Loh kalau papa merasa kesepian, ya bertemanlah. Mama ga larang kok. Tapi yang wajar Pa.”

NPD: “Alah kamu paling bakal cemburuan. Gara-gara kamu saya ga berteman dengan perempuan di sini.”

Pasangan: “loh apa maksudnya? Papa mau berteman dengan perempuan?”

NPD: “Kamu tuh berpikir jelek saja. Saya mau berteman sama siapapun bukan urusan kamu. Kamu yang ga bisa setia. Kamu tukang selingkuh. Sekarang kamu selingkuh sama atasanmu kan?”

Pasangan: “kenapa kamu buat saya marah? Apa arti omongan papa ini?”

NPD: “kamu tuh nuduh-nuduh saya macam-macam di sini. Padahal kamu yang selingkuh.”

  1. Menyatakan dan membuat pasangannya marasa tidak pernah cukup baik untuk seorang NPD.

Dalam interaksi sehari-hari, NPD akan melihat segala kekurangan dan kesalahan yang dilakukan oleh pasangannya. NPD akan menanamkan ide bahwa pasangannya selalu kurang.

Contoh:

NPD: “Kamu mau keluar pakai baju itu?”

Pasangan: “Kenapa Pa? Papa ga suka, apakah terlalu ketat?”

NPD: “Coba lihat badanmu itu! Ketat kayak perempuan murahan gitu”

Pasangan: “hei jangan kasar Pa”

NPD: “dibilangin kok. Kamu pikir kamu cantik begitu?”

Pasangan: “Stop. Saya ganti”

NPD: “Dasar perempuan ga punya otak, ga bisa bedain mana yang ketat dan tidak ketat. Dasar lulusan universitas X, ga bisa mikir sendiri. Harus dimarahin terus. Istri ga kompeten.”

  1. Pasangan akan “dihukum” jika menentang NPD.

Kontrol absolut adalah tanpa tawar-menawar. Maka jika sampai pasangannya melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan kesepakatan, maka NPD akan memberikan hukuman berat bagi pasangannya. NPD akan mengancam, memastikan bahwa pasangannya akan patuh.

Contoh:

Pasangan: “Ya Pa, tadi telepon ya?”

NPD: “kenapa tadi tidak diangkat?”

Pasangan: “Maaf tadi nyetir”

NPD: (menyela) “Dasar ga becus, angkat telepon aja ga bisa! Istri macam apa kamu? Kalau lagi nyetir ya berhenti dulu angkat telepon! Sudah dibilang berkali-kali kalau saya telepon harus diangkat!”

Pasangan: “Tadi ga sempat Pa, lagi ramai jalannya…”

NPD: “alah dasar perempuan ga becus. Awas kalau sampai ga bisa angkat telepon lagi, HP kamu saya banting. Ga ada gunanya.”

Jika pasangannya tidak patuh atau dianggap tidak patuh, maka NPD akan memberikan “silent treatment”. Ia akan menganggap pasangannya tidak ada dan menghilang bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali. Ia akan melakukan hal-hal yang mempermalukan dan menyakiti pasangannya hanya untuk memberikan pesan, bahwa kepatuhan adalah kewajiban tanpa bisa ditawar. Jika NPD merasa bahwa pasangannya tidak bisa diatur, maka NPD dengan tanpa ragu akan membuang pasangannya begitu saja. Terutama jika NPD telah memiliki pasangan baru sumber pemenuhan kebutuhan egonya untuk dipuja.

  1. NPD sangat kompetitif.

NPD ingin menjadi pusat perhatian, maka ia akan menunjukkan segala kualitasnya yang lebih dari orang lain, termasuk pasangannya. Ia akan menunjukkan kelebihannya karena daya kompetisi yang dimilikinya, bahkan NPD bisa merendahkan pasangannya demi untuk menunjukkan bahwa ia lebih hebat daripada pasangannya.

Contoh:

Teman: “Istrimu juga menulis ya…”

NPD: “Ya lumayanlah. Tapi dia lulusan universitas X… Ga banyak tulisannya. Tapi buku kamu baru terbit ya? Buku saya juga baru terbit lagi tahun ini, ada 3 tahun ini.”

  1. NPD menyalahkan semua pada orang lain.

NPD akan menyalahkan segala kesalahan pada orang lain. Ia akan menunjukkan bahwa ia hebat dan baik pada semua orang. Namun, jika ada masalah, maka utamanya akan ia salahkan orang lain. Dalam hal relasi intim, NPD akan secara khas mengatribusikan semua kesalahan hubungan lalunya pada mantan pasangannya dulu. Menggunakan istilah yang merendahkan ketika bercerita tentang mantan pasangannya di relasi intim sebelumnya.

Contoh:

NPD: “Dulu pacar yang pertama, perempuan murahan yang suka ganti pasangan. Tapi sekarang jadi lesbian. Kalau pasangan berikutnya, materialistis dan murahan. Dia suka pakai baju minim karena kerjanya jadi sekretaris. Lalu, pacaran lama sama perempuan yang sibuk sama dirinya sendiri dan saya ga nafsu sama dia. Seperti anak kecil. Dan sebelum kamu ada seorang penari murahan yang suka menempelkan tubuhnya ke laki-laki kalau menari. Ga ada yang benar.”

 

Referensi:

Sarkis, S. (2015). 10 Signs that you are in a relationship with a narcissist. Diunduh pada 10 Januari 2016 dari https://www.psychologytoday.com/blog/here-there-and-everywhere/201512/10-signs-you-are-in-relationship-narcissist

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s