Karakter Gelap Manusia dan Kejahatan

 

Margaretha

Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

scientists-say-these-2-dark-personality-traits-can-help-you-succeed-at-work

Dalam interaksi sosial, tidak jarang kita bertemu dengan orang-orang yang dapat melakukan perilaku jahat sehingga merusak relasi sosial dan menyakiti orang lain. Ada yang jelas-jelas menampilkan perilaku jahatnya, adapula yang di awal tampil meyakinkan namun kemudian menjadi orang yang “beracun” (toxic person), dimana kehadirannya membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dan tidak aman. Perilaku jahat ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang tampak normal, bukan pasien gangguan mental. Perilaku jahatnya pun dapat dilakukan di berbagai konteks interaksi sosial, seperti: dalam relasi intim, keluarga, lingkup kerja, komunitas dan lingkup sosial lainnya. Secara khas, akan ada orang-orang yang dirugikan atau menjadi korban baik dalam relasi intim maupun dalam interaksi sosial-komunitas. Pada beberapa bidang pekerjaan, orang-orang seperti ini dapat berbahaya. Perilaku jahat yang dapat dilakukannya dapat menimbulkan kerugian baik materil maupun psikis yang cukup besar, bahkan bisa mengarah pada tindak kriminalitas. Oleh karena itu, penting untuk memahami siapa orang yang “beracun” secara sosial ini dan bagaimana mengidentifikasinya. Tulisan ini akan menguraikan tentang pendekatan karakter gelap (dark traits) untuk menjelaskan perilaku jahat manusia.

Empat Karakter Gelap (Tetrad Dark Traits)

Salah satu hubungan (determinism) yang dapat menjelaskan perilaku jahat adalah karakter gelap manusia (dark traits). Secara khusus, tulisan ini akan mengulas Empat karakter gelap atau Tetrad Dark Traits (Buckels, Jones, & Paulhus, 2013; Chabrol, Leeuwen, Rodgers, & Séjourné, 2009) yang dikembangkan dari Tiga karakter gelap atau Dark Traits Triad yang terdiri dari 3 karakter gelap Machiavellian, Narsisme dan Psikopati (Paulhus & Williams, 2002) dan Everyday Sadism (Reidy, Zeichner & Seibert, 2011; Chabrol, Van Leeuwen, Rodgers, & Séjourné, 2009). Kajian Psikologi oleh Paulhus telah berkembang memetakan karakter gelap manusia, yang terdiri dari: Machiavellian, Narsisme, Psikopati dan Sadisme sehari-hari. Menurutnya, keempat karakter ini akan memiliki kemampuan empati yang rendah, cenderung ekstravert dan cukup mampu bersosialisasi, bahkan pada kesempatan pertama tampil meyakinankan dan simpatik. Namun selanjutnya, mereka akan melakukan manipulasi, eksploitasi orang lain, bahkan menyakiti orang-orang yang berelasi dengan mereka.

images-4

Machiavellian

Individu dengan karakter Machiavelli menunjukkan dingin, sinis, corak pikir pragmatis dan cenderung amoral; perilaku didasarkan atas strategi perencanaan jangka panjang; motivasi agentik atau orientasi kepentingan pribadi, misalnya: untuk mendapatkan kekuasaan atau uang; dan dapat terlibat dalam penipuan dan eksploitasi (Rauthmann, 2012). Machiavelli sering tampil sebagai orang licik, mencari keuntungan pribadi, tidak/kurang mampu melakukan perilaku pro-sosial, motivasi kerja bukan intrinsik, dan haus kekuasaan (McHoskey, 1999); hal-hal inilah yang membuat mereka tidak diinginkan secara sosial. Namun, pada beberapa posisi, Machiavelli dapat dipilih sebagai pemimpin (Hawley, 2003).

Karakter kepribadian Machiavellian dapat diidentifikasi oleh tiga nilai yang saling terkait: 1) keyakinan bahwa mampu melakukan taktik manipulatif dalam berurusan dengan orang lain, 2) pandangan sinis atas sifat manusia lain, dan 3) dan pandangan moral semu yang menempatkan prinsip kemanfaatan (terutama untuk mencapai kepentingan pribadi) di atas segalanya. Machiavellian menganggap diri mereka sebagai manipulator ulung daripada orang lain, walaupun belum tentu kecerdasan emosional sekuat yang mereka pikirkan. Machiavellian relatif berhasil dalam karir mereka, terutama ketika mereka bekerja di lingkungan kerja yang kurang terstruktur, atau kurang terorganisir. Jika struktur organisasi meningkat, keberhasilan mereka tampak cenderung menurun. Mereka belum tentu tidak disukai oleh orang lain, tetapi mereka tidak akan berhasil jika masuk dalam bidang politik, karena secara pribadi tidak pernah benar-benar disukai orang-orang di sekitarnya (Ferris dkk., 2005). Hal ini terjadi karena Machiavellian cenderung mudah menipu, berbohong, dan mengkhianati orang lain. Akan tetapi, mereka jarang/tidak terlibat dalam bentuk kriminalitas atau perilaku antisosial berat (Jones & Paulhus, 2009 dalam O’Boyle, Forsyth, Banks, & McDaniel, 2012).

Narsisme (Narcissistic)

Narsis melihat dirinya lebih tinggi dan merendahkan orang lain di sekitarnya, sering diikuti dengan kesombongan yang ekstrim, fokus pada diri dan abai pada orang lain, arogansi, dan merasa berhak mendapatkan perlakuan lebih dari yang lain (Raskin, 1979). Narsis akan tampil meyakinkan dalam berjuang mendapatkan pencapaian positif, seperti:  status sosial yang tinggi, posisi kepemimpinan (Brunell dkk., 2008), popularitas jangka pendek (Back, Schmukle, & Egloff, 2010), dan kesuksesan kawin-relasi intim jangka pendek (Rhodewalt & Eddings, 2002). Namun, ada juga sisi negatifnya, seperti: kerentanan, kurangnya/tidak adanya integritas (Blair, Hoffman, & Helland, 2008; Campbell dkk., 2009), serta perselingkuhan dan penelantaran dalam relasi intim (Campbell, 1999). Narsisme juga sering menunjukkan cara pandang yang berlebihan atas kemampuan diri, memiliki fantasi kontrol, merasa mampu dan sukses, dan merasa dikagumi oleh orang banyak; dimana cara pandang narsis ini hadir dan diperkuat oleh orang lain yang ada di sekitar narsis (Morf & Rhodenwalt, 2001).

Kebanyakan pendekatan psikologi berusaha membedakan antara ego sehat yang penuh dengan kepercayaan diri, dan ego tidak sehat dengan narsisme atau cinta diri. Narsis sering melebih-lebihkan pretasi yang pernah dicapainya, tidak menyukai kritik, menolak untuk berkompromi, dan hanya menjalin hubungan interpersonal dan romantis dengan orang-orang yang mengagumi mereka (Resick, Whitman, Weingarden, & Hiller, 2009). Narsis juga akan menampilkan sikap arogan, kasar, dan secara umum kurang menyenangkan (Buffardi & Campbell, 2008). Narsisme juga, dalam beberapa kasus, terkait dengan agresi, hal ini terjadi biasanya karena narsis mengalami tantangan berupa kritik atau feedback negatif. Narsis akan menjadi kasar ketika egonya merasa terancam, misalkan: dikecam secara publik atau dikritik, maka narsis akan cenderung untuk merespon secara agresif (Bushman dkk., 2009).

Psikopati (Psychopathy)

Psikopati, ditandai dengan: ketidakpedulian pada orang lain serta norma sosial untuk, impulsif, dan kurangnya/tidak adanya rasa bersalah atau penyesalan ketika melakukan perilaku yang merugikan orang lain. Secara sosial, mereka sering tampil sebagai orang yang terkesan profesional, meyakinkan dan karismatik. Namun, secara emosional dangkal, terfokus melulu pada pikiran dan tujuan pribadi sehingga mereka sulit menempatkan diri serta memahami pikiran dan perasaan orang lain. Psikopat juga sering menerapkan gaya hidup parasit (menggunakan pasangan atau orang lain untuk menyediakan kebutuhan hidupnya), terlibat dalam berbagai kejahatan untuk mencapai tujuan mereka (Hare & Neumann, 2009).

Lilienfeld dan Widow (2005) juga menemukan bahwa karakter psikopati diindikasikan dengan adanya perasaan mampu secara sosial (misalnya, merasa memiliki keterampilan sosial dalam menggunakan pesona untuk menghindari kemarahan yang lain), impulsif non-konformis (misalnya, selalu mempertanyakan figur otoritas walau tidak memiliki alasan yang jelas) , merasa kebal dari stres (misalnya, merasa memiliki kemampuan untuk tetap tenang ketika orang lain tidak bisa), dan kurang berperasaan, dingin secara emosional, dan tidak empatik (misalnya, ketidakmampuan atau keengganan untuk mengalami hasrat/minat pada orang lain).

Seperti narsisme, psikopati awalnya dianggap hanya sebagai gangguan klinis (gangguan kepribadian antisosial), tapi dari penelitian terbaru diketahui bahwa psikopati dapat ditemukan pada populasi pada umumnya/non-klinis (Hare & Neumann, 2009). Psikopati juga sering ditemukan terkait dengan perilaku permusuhan seperti kecurangan akademik atau plagiarisme (Nathanson, Paulhus, & Williams, 2006); menggunakan orang lain secara eksploitatif, strategi kawin atau relasi intim jangka pendek (Jonason, Li, Webster, & Schmitt, 2009); dan suka mengakses media yang menyajikan informasi kekerasan eksplisit, atau isu-isu antisosial (Williams, McAndrew, Pelajari, Harms, & Paulhus, 2001 dalam O’Boyle, Forsyth, Banks, & McDaniel, 2012).

Sadisme sehari-hari (Everyday sadism)

Kebanyakan orang akan merasakan susah atau emosi negatif (sedih, takut, bersalah) setelah menyakiti orang yang tidak bersalah. Namun bagi individu dengan karakter sadisme, melakukan kekejaman justru memberi kenikmatan dan perasaan bersemangat. Menyakiti orang lain adalah pengalaman menyenangkan, menarik, bahkan mungkin bisa meningkatkan hasrat seksualnya. Oleh karena itu, alih-alih ingin meringankan penderitaan orang, seorang sadis malah mencari peluang untuk meneruskan kekejaman, kebrutalan dan memperpanjang penderitaan orang lain (Taylor, 2009).

Millon (1996) berpandangan bahwa sadisme muncul sebagai kontinuum, dimana di ujung adaptif muncul karakter kepribadian sadis sebagai individu yang berkemauan keras dan tegas, sedangkan di kutub maladaptif ekstrim adalah individu yang mendominasi, sangat agresif, dan bersikap menyerang. Karakter sadis adaptif digambarkan sebagai individu yang selalu mendorong diri untuk membuktikan kemampuan mereka, bekerja keras, berorientasi pada tujuan, kompetitif, dan sebagai berfungsi terbaik di posisi kepemimpinan atau ketika bekerja mandiri (Strack, 1997).

Namun perlu dipertimbangkan, pada masa kini, kenikmatan yang didapat dari menyaksikan penderitaan orang lain mulai banyak terjadi di populasi orang biasa (Baumeister & Campbell, 1999). Hal ini terjadi karena pengaruh media, film kekerasan, olahraga brutal, video game dengan konten kejam, dan insiden kebrutalan polisi dan militer di sosial media. Hal inilah yang menyebabkan sadisme bukan hanya dilihat sebagai gangguan seksual atau kejahatan berat, namun sebagai karakter sadisme sehari-hari.

Karakter gelap dan kejahatan

Berbagai penelitain sebelumnya telah menemukan bahwa karakter kepribadian gelap terkait dengan berbagai perilaku negatif. Machiavellians, misalnya, lebih mungkin untuk membalas dendam terhadap orang lain, dan sering berbohong pada teman-temannya (Kashy & DePaulo, 1996). Narsis, akan menjadi lebih sering bersikap bermusuhan dan agresif ketika ego mereka terancam, dan hubungan intim dengan pasangan akan cenderung bermasalah karena sikap egois dan perselingkuhan yang dilakukannya (Miller, Widiger & Campbell, 2010). Psikopati juga sering dikaitkan dengan berbagai bentuk kriminalitas, termasuk kekerasan seksual dan pembunuhan (O’Boyle, Forsyth, Banks, & McDaniel, 2012).

Karakter gelap manusia ini bersifat merusak, namun dalam realitasnya, hal ini telah dan masih terjadi dalam kehidupan sosial manusia. Kajian Psikologi Evolusi menilai bahwa karakter gelap memiliki fungsi dan peran dalam adaptasi spesies manusia. Buss (1991) menyatakan bahwa karakter kepribadian gelap berkembang di konteks adaptasi sosial manusia, dimana karakter gelap menawarkan cara-cara untuk menyelesaikan persoalan sosial, seperti: mendapatkan status sosial, mengamankan posisi sosial dalam kelompok, dan memperkuat akses ke pasangan intim.

Secara alamiah, sebagian orang berjuang memecahkan persoalan sosial tersebut melalui cara-cara prososial (yang diterima oleh masyarakat), seperti berupaya untuk menjadi individu yang menyenangkan dan peka pada orang-orang di sekelilingnya; namun ada pula yang memilih menggunakan strategi permusuhan sosial, yang dilakukan oleh individu dengan karakter gelap (Jonason & Webster, 2010). Individu dengan karakter Machiavelli tidak peduli akan hak pribadi orang lain dan berpandangan bahwa orang lain akan mudah ditipu; inilah yang menyebabkan munculnya perilaku manipulatif. Narsisis memandang dirinya lebih dari orang lain, ditambah lagi dengan delusi kemegahan diri, akibatnya menciptakan keinginan untuk terus-menerus mempromosikan diri dan mencari perhatian dari orang sekitarnya. Psikopat mengabaikan norma-norma sosial demi mencapai tujuan pribadinya, akibatnya psikopat melakukan perilaku antisosial tanpa perasaan bersalah. Paulhus dan Williams (2002) menyatakan bahwa semua karakter gelap ini tergolong jahat yang secara langsung mempengaruhi perilaku interpersonal.

Masyarakat perlu memahami, mengidentifikasi dan menempatkan manusia dengan karakter gelap secara tepat dalam lingkungannya. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi dan mencegah kemungkinan kerugian lebih besar yang dapat dilakukan oleh orang dengan karakter gelap. Selain itu, identifikasi bisa juga digunakan sebagai bahan pertimbangan intervensi dan rehabilitasi bagi orang-orang dengan karakter gelap di masyarakat. Orang-orang dengan karakter gelap sebaiknya dipertimbangkan secara berhati-hati agar tidak mengambil posisi atau bekerja di sektor tertentu. Misalkan, seorang psikopat tidak bekerja di bidang pelayanan sosial, atau Machiavellian sebaiknya tidak mengelola kekuasaan sendirian atau Narsis dan Sadis sebaiknya tidak bekerja dengan orang yang berpotensi menjadi korbannya.

Masyarakat juga perlu belajar strategi berhadapan dengan orang-orang dengan karakter gelap dan bersama-sama bergerac untuk mendukung perubahan orang-orang dengan karakter gelap menjadi lebih adaptif.

Referensi

Back, M.D., Schmukle, S.C., & Egloff, B. (2010). Why are narcissists so charming at first sight? Decoding the narcissism–popularity link at zero acquaintance. Journal of Personality and Social Psychology, 98, 132-145. doi: http://dx.doi.org/10.1037/a001633Baumeister, R. F. (1997). Evil: Inside human violence and cruelty. New York, NY: W. H. Freeman.

Blair, C. A., Hoffman, B. J., & Helland, K. R. (2008). Narcissism in organizations: A multisource appraisal reflects different perspectives. Human Performance, 21, 254–276. doi:10.1080/08959280802137705

Brunell, A. B., Gentry, W. A., Campbell, W. K., Hoffman, B. J., Kuhnert, K. W., & Demarree, K. G. (2008). Leader emergence: The case of the narcissistic leader. Personality & Social Psychology Bulletin, 34, 1663– 1676. doi:10.1177/0146167208324101

Buckels, E. E., Jones, D. N., & Paulhus, D. L. (2013). Behavioral confirmation of everyday sadism. Psychological Science, 24, 2201-2209.

Buffardi, L. E., & Campbell, W. K. (2008). Narcissism and social net- working web sites. Personality and Social Psychology Bulletin, 34, 1303–1314. doi:10.1177/0146167208320061

Bushman, B. J., Baumeister, R. F., Thomaes, S., Ryu, E., Begeer, S., & West, S. G. (2009). Looking again, and harder, for a link between low self-esteem and aggression. Journal of Personality, 77, 427–446. doi: 10.1111/j.1467-6494.2008.00553.x

Buss, D. M. (1991). Evolutionary personality psychology. Annual Review of Psychology, 42, 459–491.

Campbell, J., Schermer, J. A., Villani, V. C., Nguyen, B., Vickers, L., & Vernon, P. A. (2009). A behavioral genetic study of the Dark Triad of personality and moral development. Twin Research and Human Genet- ics, 12, 132–136. doi:10.1375/twin.12.2.132

Campbell, W. K. (1999). Narcissism and romantic attraction. Journal of Personality and Social Psychology, 77, 1254–1270. doi:10.1016/ j.jrp.2006.08.004

Chabrol, H., Van Leeuwen, N., Rodgers, R., & Séjourné, N. (2009). Contributions of psychopathic, narcissistic, Machiavellian, and sadistic personality traits to juvenile delinquency. Personality and Individual Differences, 47, 734–739. doi:10.1016/j.paid.2009.06.020

Fedoroff, J. (2008). Sadism, sadomasochism, sex, and violence. The Canadian Journal of Psychiatry / La Revue Canadienne De Psychiatrie, 53(10), 637-646.

Ferris, G. R., Treadway, D. C., Kolodinsky, R. W., Hochwarter, W. A., Kacmar, C. J., Douglas, C., & Frink, D. D. (2005). Development and validation of the Political Skill Inventory. Journal of Management, 31, 126–152. doi:10.1177/0149206304271386

Hare, R. D., & Neumann, C. S. (2009). Psychopathy: Assessment and forensic implications. Canadian Journal of Psychiatry, 54, 791–802.

Hawley, P. (2003). Prosocial and coercive configurations of resource control in early adolescence: A case for the well-adapted machiavellian. Merrill-Palmer Quarterly, (3), 279.

Jonason, P. K., Li, N. P., Webster, G. D., & Schmitt, D. P. (2009). The Dark Triad: Facilitating a short-term mating strategy in men. European Journal of Personality, 23, 5–18. doi:10.1002/per.698

Jonason, P. K., & Webster, G. D. (2010). The dirty dozen: A concise measure of the Dark Triad. Psychological Assessment, 22, 420–432.

Jones, D. N., & Paulhus, D. L. (2010). Different provocations trigger aggression in narcissists and psychopaths. Social and Personality Psychology Science, 1, 12–18.

Kashy, D. A., & DePaulo, B. M. (1996). Who lies? Journal of Personality and Social Psychology, 70, 1037–1051.

McHoskey, J. W., Worzel, W., & Szyarto, C. (1998). Machiavellianism and psychopathy. Journal of Personality and Social Psychology, 74, 192–210. doi:10.1037/0022-3514.74.1.192

McHoskey, J. W. (1999). Machiavellianism, intrinsic versus extrinsic goals, and social interest: A self-determination theory analysis. Motivation & Emotion, 23(4), 267- 283.

Miller, J. D., Widiger, T. A., & Campbell, W. K. (2010). Narcissistic personality disorder and the DSM–V. Journal of Abnormal Psychology, 119, 640–649. doi:10.1037/a0019529

Millon, T. (1996). Disorders of personality: DSM–IV and beyond (2nd ed.). New York, NY: Wiley.

Morf, C. C., & Rhodewalt, F. (2001). Unraveling the paradoxes of narcissism: A dynamic self-regulatory processing model. Psychological Inquiry, 12, 177–196. doi:10.1207/S15327965PLI1204_1

Nathanson, C., Paulhus, D. L., & Williams, K. M. (2006). Predictors of a behavioral measure of scholastic cheating: Personality and competence but not demographics. Contemporary Educational Psychology, 31, 97– 122. doi:10.1016/j.cedpsych.2005.03.001

O’Boyle, E.H., Forsyth, D.R., Banks, G.C. & McDaniel, M.A. (2012). A Meta-Analysis of the Dark Triad and Work Behavior: A Social Exchange Perspective. Journal of Applied Psychology, 97, 557–579. doi: 0021-9010/12/$12.00 DOI: 10.1037/a0025679

Paulhus, D. L., & Williams, K. M. (2002). The Dark Triad of personality: Narcissism, Machiavellianism and psychopathy. Journal of Research in Personality, 36, 556–563. doi:10.1016/S0092-6566(02)00505-6

Reidy, D. E., Zeichner, A., & Seibert, L. A. (2011). Unprovoked aggression: Effects of psychopathic traits and sadism. Journal of Personality, 79, 75–100. doi:10.1111/j.1467- 6494.2010.00691.x

Rauthmann, J. F. (2012). Towards multi-faceted Machiavellianism: Content, factorial, and construct valid- ity of a German Machiavellianism scale. Personality and Individual Differences, 52, 345–351.

Raskin, R. N., & Hall, C. S. (1979). A narcissistic personality inventory. Psychological Reports, 45, 590.

Resick, C. J., Whitman, D. S., Weingarden, S. M., & Hiller, N. J. (2009). The bright-side and the dark-side of CEO personality: Examining core self-evaluations, narcissism, transformational leadership, and strategic influence. Journal of Applied Psychology, 94, 1365–1381. doi:10.1037/ a0016238

Rhodewalt, F., & Eddings, S. (2002). Narcissus reflects: Memory distor- tion in response to ego-relevant feedback in high- and low-narcisstic men. Journal of Research in Personality, 36, 97–116.

Strack, S. (1997). The PACL: Gauging normal personality styles. In T. Millon (Ed.), The Millon inventories: Clinical and personality assess- ment (pp. 477–497). New York, NY: Guilford Press.

Taylor, K. (2009). Cruelty: Human evil and the human brain. New York, NY US: Oxford University Press.

Iklan

2 thoughts on “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s