Analisa Profil Kriminal: Tommy Lynn Sells (#2)

Analisa Profil Kriminal: Tommy Lynn Sells

Sayyidah Nuriyah, Indriswara Detary, Nailil Karomah, Mery Retrofita, & Naventa Audinata

Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 tumblr_nqxrih8eJj1uuvfgno2_r1_1280.jpg

Apakah ini kejahatan?

Actus reus

Actus reus tidak hanya meliputi tindakan jahatan, tetapi juga meliputi semua elemen kejahatan lainnya selain dari pemikiran (state of mind) terdakwa. Perilaku kejahatan ini harus bersifat sengaja (terdakwa yang dinyatakan bersalah karena melakukan tindakan kejahatan dengan sengaja). Berdasarkan asal dari actus reus-nya, menurut Elliott dan Quinn (2012) kejahatan dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Tindakan kejahatan: bentuk aksi kejahatan tersebut dan tidak memperdulikan konsekuensi.
  • State of affairs crimes (keadaan kriminal): keadaan, dan kadang juga mencakup konsekuensi, tapi bukan perilaku (lebih ke menjadi suatu kejahatan, bukan melakukan suatu kejahatan)
  • Hasil kejahatan: harus ada hasil dari kejahatan yang dilakukan terdakwa

Berdasarkan kasus Tommy Lynn Sells actus reus dari kasus ini dapat terlihat dengan jelas dimana tindakan kejahatan tersebut berupa Sells masuk kerumah tanpa ijin dari pemilik rumah dan melakukan pembunuhan terhadap Kaylene ‘Katy’ Harris (13 tahun) dengan cara menggorok leher 2 kali dan menusuknya 16 kali dan merobek pakaiannya. Selain itu, Sells juga berusaha untuk membunuh Krystal Surles (10 tahun) dengan cara yang sama yaitu menggorok lehernya karena Krystal melihat kejadian tersebut yang pada saat itu ia sedang berada satu kamar dengan Katy. Hasil dari kejahatan tersebut adalah terbunuhnya Katy dan Krystal harus mendapat perawatan dirumah sakit, selain itu juga perusakan jendela yang dilakukan oleh Sells ketika hendak meninggalkan rumah (Carson, 2014).

 

Mens rea

Mens rea dalam Elliott dan Quinn (2012) adalah istilah latin untuk ‘pikiran bersalah’ dan biasanya berkaitan dengan keadaan pikiran seseorang yang untuk melakukan kejahatan. Beberapa unsur dalam mens rea yang terdapat pada kasus Sells antara lain:

  • Intention secara langsung yang berupa keinginan nyata (direct intention) maupun tidak langsung (indirect intention) yang terjadi ketika terdakwa dinyatakan bersalah meskipun terdakwa tidak menginginkan hasilnya seperti itu, tetapi itu menggambarkan konsekuensi dari perilakunya, dan terdakwa menyadari ini kemudian membiarkannya.
  • Recklessness (kesembronoan), dulu didefinisikan ketika seseorang mengambil unjustified risk, namun sekarang cenderung didefinisikan sebagai bentuk subjektif dari mens rea.
  • Transferred malice (penyaluran dendam), ketika individu memiliki mens rea dari kejahatan tertentu dan melakukan actus reusdari kejahatan itu, individu tersebut bersalah atas kejahatan itu meskipus actus reus mungkin berbeda dengan niatnya. mens rea disalurkan ke actus reus yang baru.

Sells pergi ke bar pada hari dimana dia akan melakukan pembunuhan, dia sangat mabuk dan hendak melakukan pemerkosaan terhadap pegawai bar, kemudian hal itu dihentikan oleh salah satu pengunjung dan membuat Sells pergi meninggalkan bar (Carson, 2014). Sells mengatakan bahwa dia mendengarkan sebuah lonceng yang dimana lonceng tersebut mendorong Sells untuk datang ke kehidupan Terry (24:45-28:15). Sells mengatakan bahwa dia dalam keadaan mabuk berat namun pada saat itu dia juga sadar akan situasi yang ada. Sebelumnya Sells megetahui bahwa Terry pergi untuk urusan bisnis dan meninggalkan istri dan anak-anaknya dirumah sendiri ketika berada di bar (29:18-29:40). Sells mengatakan bahwa dia melakukan pembunuhan untuk melampiaskan kemarahannya, dan kenangan buruk yang selalu menghantui akibat pengalaman traumatisnya disaat dia kecil (47:10-47:38) (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

 

Siapa Korban?

Korban dalam kasus ini adalah Kaylene “Katy” Harris, 13 tahun, anak perempuan dari Terry Harris (Carson, 2014). Katy meninggal setelah mendapat dua luka sayatan di leher dan 16 luka tusukan di tubuh. Katy termasuk  tipe victim with minor guilt karena dia sedang tertidur dengan pintu yang terbuka dan terlihat sendirian oleh Sells. Pembunuh berantai lebih memilih korban yang mudah diakses seperti yang sedang sendirian. Wanita muda serta orang lanjut usia kemudian adalah kelompok target selanjutnya (Brown& Campbell, 2010).

Sells sebelumnya memasuki rumah Harris melalui jendela yang tidak tertutup rapat. Sells mengetahui bahwa Terry Harris sedang tidak berada di rumah karena ia berpapasan dengannya ketika Harris mengisi bensin di pom. Sells telah melewati kamar Justin Harris dan Marquez Surles namun ia membiarkannya karena diduga bahwa Sells mencari target anak perempuan. Katy terbangun setelah mendapati Sells berbaring di sampingnya. Sells kemudian membekap mulut Katy dan menyobek celana dan pakaian dalam Katy. Katy yang berhasil melepaskan diri dan berdiri kemudian berteriak kepada Krystal Surles yang sedang tidur di tempat tidur atas. Sells kemudian bergerak ke belakang Katy dan menyayat lehernya dua kali dan menusuknya sebanyak 16 kali(Carson, 2014).

Korban yang lainnya adalah Krystal Surles, 10 tahun, anak perempuan dari Pam Surles yang sedang menginap di kediaman Harris (Carson, 2014). Krystal mengalami luka sayatan di leher. Krystalmerupakan completely innocent victim karena dia tidur dan berada di tempat yang salah, yakni di kamar Katy. Krystal menjadi korban ketika Katy berteriak kepadanya dan membuat Sells kemudian menyadari keberadaan Krystal. Setelah membunuh Katy, Sells kemudian bergerak menuju Krystal. Melihat Sells mendekat, Krystal berjanji kepada Sells untuk tidak mengatakan apapun, namun Sells menyayat leher Krystal yang kemudian tersungkur di lantai. Krystal dapat selamat setelah berpura-pura meninggal dan mencari bantuan dengan berlari ke rumah tetangga (Carson, 2014).

 

Siapa Pelaku?

Profil pelaku (Tommy Lynn Sells)

  1. Awal kehidupan

Tommy Lynn Sells, pria kelahiran tahun 1964 di California, Amerika Serikat. Sells memiliki saudara kembar bernama Tammy Jean. Ketika mereka lahir, mereka tinggal bersama 2 saudara kandungnya. Pada saat usia 18 bulan, Tammy Jean meninggal karena penuomonia dn meningitis (Fanning, 2003). Beberapa tahun kemudian, Sells dikirim untuk tinggal bersama bibinya, Bonnie Woodall, di Holcomb, Missouri, tempat dia tinggal sampai dia berusia lima tahun. Ketika Sells berusia delapan tahun, dia mulai meluangkan waktu bersama seorang pria bernama Willis Clark, yang mulai menganiaya dia dengan persetujuan ibunya. Sells menyatakan bahwa pelecehan ini sangat mempengaruhi dia, dan dia akan menghidupkan kembali pengalamannya saat melakukan kejahatannya  (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

quote-i-don-t-know-what-love-is-two-words-i-don-t-like-to-use-is-love-and-sorry-because-i-tommy-lynn-sells-92-15-21

  1. Karakteristik fisik yang terkait juga adalah: usia, ras, sex, berat dan tinggi badan
  • Tempat dan tanggal lahir: California, 28 Juni 1964
  • Usia: Hidup selama 49 tahun
  • Ras: Putih
  • Sex: Laki-laki
  • Berat badan: tidak diketahui
  • Tinggi badan: 4.9 inch
  1. Kemampuan khusus yang dimiliki
    • Menembak
    • Menusuk
    • Memukul
    • Mencekik
  2. Data demografi
  • Informasi umum
    • Usia: 49 tahun
    • Ras: Putih
    • Kewarganegaraan: Amerika
  • Keluarga
    • Urutan kelahiran: ketiga dari tujuh bersaudara
    • Jumlah saudara: 6, 2 kakak laki-laki, 1 saudara kembar, dan 3 adik laki-laki
    • Status perkawinan orang tua: Menikah (tidak dengan ayah biologis)
  • Pendidikan
    • Pendidikan terakhir: kelas 8
    • Peringkat di sekolah: rendah
    • IQ: 80 dengan standar IQ 100
  • Pekerjaan: Tukang cukur, mekanik, sopir truk, pekerja di sebuah karnaval, calo penjual mobil, dan montir mobil
  • Ketertarikan seksual: heteroseksual
  • Status pernikahan: menikah dua kali
  • Jumlah anak: 2, keduanya diadopsi orang lain
  • Tempat tinggal: berpindah-pindah, di antaranya adalah Missouri, New York, Illinois, Texas, dan Kentucky
  • Diagnosis psikologis: gangguan bipolar, depresi, penyalahgunaan obat-obatan yaitu opioid; amfetamin; kanabis; dan alkohol, gangguan kepribadian berupa antisosial; ambang; dan skizoid.

 

Alasan melakukan pembunuhan pada Katy Harris

Pembunuhan yang dilakukan oleh Sells pada Katy Harris belum diketahui secara spesifik penyebabnya. Mengacu pada catatan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Sells, tidak ada pola karakteristik khusus yang ditemukan pada korban pembunuhannya. Hal ini juga menarik perhatian psikolog forensik Amerika bernama Michael Stone. Dalam wawancara dengan Sells, Michael Stone (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016) menyatakan bahwa Tommy tidak memiliki alasan tertentu untuk membunuh; dimana Tommy mengaku tindakan ini sebagai strategi pelampiasan kemarahannya yang tidak mampu ia hentikan. Berikut merupakan beberapa kemungkinan yang menyebabkan Sells membunuh Katy Harriss:

  • Instinct

Sells ditengarai tengah berada dalam kondisi kesulitan mengenai permasalahan pernikahannya. Kesulitan ini ditunjukkan oleh keinginan Sells untuk berkonsultasi dengan Terry Harris, ayah Katy Harris. Namun, Sells mengalami kegagalan dalam mengolah permasalahan yang ia miliki. Hal ini juga dikuatkan dengan adanya bukti bahwa Sells pernah didiagnosis memiliki gangguan bipolar dan depresi oleh psikolog. Sells juga didiagnosis mengalami gangguan kepribadian ambang, antisosial, dan psikopati sehingga hal ini mempengaruhi kemampuannya dalam mengolah masalahnya, terutama terkait emosi. Kegagalan Sells dalam mengolah masalahnya menyebabkan ia tidak mampu megendalikan temperamennya. Penulis menduga bahwa adanya thanatos instinct yang dimiliki setiap manusia, aktif dalam diri Sells. Menurut Freud, thanatos instinct hadir bersama dengan life instinct. Thanatos instinct merupakan sebuah naluri yang destruktif. Naluri ini hadir karena ketidakmampuan individu dalam mengolah depresi yang dimiliki. Instinct ini hadir dalam bentuk agresivitas. Thanatos instinct merupakan bentuk naluri untuk mempertahankan hidup. Namun, bagaimanapun, manusia dapat mengendalikan thanatos instinct berdasarkan perkembangan super ego yang dimiliki setiap manusia (Comer & Withfford, 1996 dalam Berry, 2011).

  • Temperament, perasaan dan emosi

Pasca bertemu dengan Terry mengenai penjualan truk. Sells kemudian terlihat di bar setempat. Sells mengganggu seorang bartender untuk berhubungan seks dengannya sampai seorang pelanggan laki-laki di bar mengusirnya pada pukul 2 pagi waktu penutupan bar. Kondisi ini ditengarai memunculkan perasaan tidak senang dan emosi yang meningkat pada Sells. Munculnya perasaan dan emosi ini memicu kondisi temperamen Sells untuk kemudian pergi ke rumah Terry dan Krystal Harris lalu membunuh Katy Harris. Dalam konsep psikopati, psikopati mengacu pada suatu pola gangguan kepribadian kronis dan perilaku antisosial. Adanya detachment emotion, kurangnya kasih sayang dan perasaan bersalah menyebabkan individu defisit temperamen. Defisit temperamen ini melibatkan emosi dan ketidakmampuan dalam mengontrol emosi (Fowles & Dindo, 2009).

3)    Sedang dalam keadaan mabuk

Dalam suatu wawancara, Sells mengaku dirinya sedang dalam keadaan mabuk, sehingga saat itu terlintas dalam pikirannya untuk mengikuti arahan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya  dapat melakukan sesuatu terhadap kehidupan Terry Hariss.  Dalam keadaan mabuk, Sells meninggalkaan bar dan menuju rumah Terry Harris, sehingga ia tidak menyadari bahwa setiap individu dalam rumah tersebut adalah nyata (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

 

Teori Perilaku Kriminal dan Kepribadian Kriminal

Prediktor berdasarkan Perspektif Perkembangan

Berdasarkan perspektif ini, penting untuk mengidentifikasi faktor risiko melakukan tindakan kriminal berdasarkan pengalaman selama tahap-tahap perkembangan yang dialami individu (Brown dan Campbell, 2010). Faktor risiko tersebut dapat dianalisis melalui 3 tingkatan, yaitu 1) individual, meliputi rendahnya inteligensi dan pencapaian, kepribadian dan temperamen, empati, serta impulsivitas. 2) keluarga, meliputi ukuran keluarga dalam jumlah besar, kurangnya pengawasan orangtua, masalah orangtua, dan  keluarga yang tidak harmonis,  dan 3) lingkungan, meliputi status sosio-ekonomi yang rendah, teman yang mengalami gangguan perilaku, atau lingkungan tempat tinggal yang berisiko (Farrington dan Welsh, 2007 dalam Brown dan Campbell, 2010).

Berdasarkan Brown dan Campbell (2010) terdapat beberapa kategori utama yang mengindikasikan faktor risiko berdasarkan tingkat perkembangan. Pada tahap infancy/preschool faktor risiko dapat berupa individu mengalami gangguan neurologis. Pada kasus ini, kami menduga Tommy mengalami gangguan neurologis, mengingat saat ia berusia 18 bulan mengalami demam tinggi ketika saudara kembarnya meninggal akibat meningitis. Ia tinggal dalam  lingkungan keluarga dan pengasuhan orangtua yang disfungsi, dimana saat berusia sekitar 2-5 tahun, ia sempat tinggal bersama bibi dari ibunya dan tidak pernah dijenguk ibunya; namun kemudian ia dibawa ibunya dan tidak diijinkan untuk menemui bibinya lagi (Rowe dkk., 2005).

Pada tahap early childhood faktor risiko berupa individu mengalami gangguan kognisi, penurunan perilaku/kepribadian, prestasi sekolah memburuk, kemampuan sosial memburuk, teman yang antisosial, atau disfungsi pada lingkungan keluarga atau pengasuhan orangtua. Pada tahap ini, berdasarkan data Rowe dkk. (2005), gangguan perilaku terlihat ketika Tommy mulai mengonsumsi alkohol saat berusia 7 tahun, merokok ganja saat berusia 10 tahun dan mencoba memperkosa ibunya saat berusia 13 tahun. Pencapaiannya di sekolah memburuk ditandai dengan ia sering membolos saat berusia 7 tahun. Pada tahap ini, Tommy sering tinggal dengan tetangganya dimana ia menjadi korban pedofil saat berusia 8 tahun. Pada tahap ini pula, yaitu saat berusia sekitar 11 tahun,  ia kehilangan ayahnya (ayahnya meninggal) sehingga dia merasakan emosi yang kuat atas kejadian ini.

Pada tahap adolescence faktor risiko berupa individu mengalami gangguan kognisi, temperamental, penurunan pencapaian akademik, dikeluarkan dari sekolah, kemampuan sosial kurang, penyalahgunaan zat; atau disfungsi lingkungan keluarga, tetangga, atau pengasuhan orangtua. Pada tahap ini yaitu pada tingkat 8 di sekolahnya, Tommy dikeluarkan dari sekolah. Pada usia 14 tahun ia meninggalkan rumah dan mulai melakukan tindakan pencurian di sekitar kota tempat tinggalnya.

Pada tahap adulthood faktor risiko bisa berupa individu dipecat dari pekerjaan, disfungsi dalam hal kemampuan bertetangga, tidak puas terhadap pernikahan, atau penyalahgunaan zat (Brown dan Campbell, 2010). Faktor risiko ini diketahui muncul pada Tommy berdasarkan data dari Rowe dkk. (2005), dimana ia pernah dipecat dan tetap mengonsumsi alkohol ketika dewasa.

Pola perkembangan dan usia juga dapat menjadi penyebab perilaku antisosial, dimana laki-laki lebih cenderung menunjukkan perilaku kriminal yang tinggi jika dikaitkan dengan lingkungan rumah yang kurang berfungsi dnegan baik. Pengasuhan orangtua juga berpengaruh pada ekspresi perilaku kriminal. Para ahli menemukan adanya beberapa pola pelaku kriminal, dimana salah satunya adalah life-course-persistent, yaitu jika individu menunjukkan tingkat antisosial yang rendah dan melakukan tindakan kriminal sepanjang hidupnya dan menetap selama dewasa; pola ini lebih ditemukan pada laki-laki daripada perempuan (Brown dan Campbell, 2010).Pola pelaku kriminal inilah yang ditemukan pada Tommy Lynn Sells, dimana ia melakukan tindakan kriminal tidak hanya saat remaja tetapi sepanjang hidupnya.

Dalam perspektif perkembangan, disfungsi pengasuhan bisa berupa tindakan kekerasan atau pengajaran disiplin yang tidak konsisten, dihukum orangtua, diabaikan orangtua, terdapat konflik antar orangtua, dan kurangnya pengawasan saat masih anak-anak. Pada tingkat personal, terdapat gangguan saat masa anak-anak yang meliputi  rendahnya tingkat IQ, rendahnya pencapaian akademik, konsentrasinya rendah, atau  hiperaktif (Farrington, 1995 dalam Brown dan Campbell, 2010). Jika dikaitkan dengan perspektif interaksionisme, perilaku antisosial disebabkan perilaku mengganggu anak tidak direspon secara efektif oleh orangtua atau pengasuh (Patterson dkk., 1989 dalam Brown dan Campbell, 2010). Dalam mengajarkan kedisiplinan, pengasuh atau orangtua juga kurang memberikan penguatan positif dan pengawasan yang memadai, sehingga anak mnunjukkan kurangnya kemampuan prososial (Snyder, 1977 dalam Brown dan Campbell, 2010). Hal ini tentu bisa menjadi “media belajar” bagi anak. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis juga dapat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyelesaikan tugas akademik dan meningkatkan kecenderungan untuk academic under achievement.Teori ini dapat menjelaskan sebab pengalaman masa kecil Tommy Lynn Sells sehingga ia memunculkan gangguan perilaku sejak anak-anak.

Berdasarkan perspektif kelekatan, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang cukup harmonis dan pola pengasuhan yang konsisten akan belajar memahami lingkungan sosialnya secara positif. Sebaliknya, anak dari keluarga yang penuh kekerasan, pengabaian, atau disorganisasi dan menunjukkan pola pengasuhan yang tidak konsisten akan cenderung mengembangkan insecure attachment (Morton dan Browne, 1988 dalam Brown dan Campbell, 2010). Anak akan mengembangkan pemikiran negatif terhadap dirinya ataupun orang lain, dimana hal ini akan mempengaruhi tingkat empati anak terhadap orang lain (Browne dan Herbert, 1977 dalam Brown dan Campbell, 2010). Dalam kasus ini, Tommy dapat dikatakan mengalami insecure attachment sehingga ia cenderung mengembangkan pemikiran yang negatif.

 

Gangguan Intelektual

Gangguan Intelektual (Intellectual Dissability) dalam sistem klasifikasi diagnostik internasional meliputi 3 kriteria utama, yaitu adanya  impairment dalam fungsi intelektual, impairment terkait fungsi adapatif atau sosial, dan onset usia perkembangan sebelum masa dewasa. Asesmen terhadap fungsi intelektual ini harus menggunakan tes terstandar yang reliabel dan valid, dimana individu biasanya dikatakan mengalami gangguan ini jika memiliki skor IQ kurang dari 70. Fungsi adaptif merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi terhadap tuntutan lingkungannya. Asesmen untuk mengetahui fungsi adaptif memperhitungkan usia, lingkungan, dan budaya individu; dimana ada kesepakatan umum onset usia adalah berusia di bawah 18 tahun. Pada tahun 2009 terdapat pembaharuan mengenai definisi dari gangguan ini, dimana mengandung karakteristik klinis berupa adanya agresivitas yang abnormal atau perilaku tidak bertanggung jawab yang serius yang bisa diamati langsung, idealnya oleh paling sedikit 2 informan, dan harus ada rekaman berkualitas baik dan ada istilah perilaku yang mendeskripsikan perilaku tersebut (Taylor dkk., 2009 dalam Brown dan Campbell, 2010). Selain itu juga terdapat pembaharuan karakteristik berupa individu juga bisa diidentifikasi mengalami gangguan intelektual ketika IQ nya diatas 70, jika mereka mengalami impairment pada fungsi sosial (Brown dan Campbell, 2010).

Gangguan Intelektual dipandang sebagai faktor utama perilaku bersalah, dimana terbukti bahwa mereka yang memiliki IQ lebih rendah menunjukkan perilaku bersalah yang lebih tinggi (Goodman, simonoff, dan Sevenson, 1995 dalam Brown dan Campbell, 2010). Hubungan ini juga didukung dengan status sosial dan ekonomi (Moffit dkk., 1991 dalam Brown dan Campbell, 2010). Hubungan ini lebih ditemui pada individu dengan IQ 81-90 daripada individu dengan IQ kurang dari 80 (McCord dan McCord, 1959 dalam Brown dan Campbell, 2010). Dalam kaitannya sebagai prediktor perilaku bersalah, gangguan ini kadang tidak dimasukkan apabila individu yang bersangkutan juga didiagnosis mengalami gangguan kepribadian ambang. Individu yang mengalami gangguan ini dan juga memiliki gangguan kepribadian yang parah (misal psikopati) berisiko melakukan kekerasan  (Lindsay dkk., 2006 dalam Brown dan Campbell, 2010).

Pada kasus ini, IQ Tommy diatas 70 (yaitu 80), tetapi ia mengalami impairment pada fungsi adaptif dan sosial. Ia mulai mengalami gangguan fungsi adaptif ketika berusia 7 tahun, yakni ketika mengonsumsi alkohol; menggunakan ganja pada usia 10 tahun; dan berusaha memperkosa ibunya pada usia 13 tahun (Rowe dkk., 2005). Mengingat Tommy diduga mengalami gangguan kepribadian ambang, maka penegakan diagnosis bahwa Tommy mengalami gangguan intelektual tidak dapat ditegakkan secara terpisah dari gangguan ambang yang juga dialaminya.

 

Post Traumatic Stress Disorder

Pada kasus Tommy Lynn Sells, ia dapat didiagnosis mengalami gangguan ini apabila ia tidak terbukti benar-benar dalam kondisi mabuk berat seperti yang ia ceritakan. Berdasarkan DSM V (APA, 2013), individu diatas 6 tahun dapat diidentifikasi mengalami gangguan ini apabila mengalami:

  1. Memiliki pengalaman dihadapkan pada ancaman atau kenyataan atas kematian, luka yang parah, atau kekerasan seksual yang nyata melalui cara:
  2. Mengalami secara langsung kejadian traumatik
  3. Sebagai saksi mata, dimana kejadian traumatik terjadi pada orang lain
  4. Belajar dari kejadian traumatik yang terjadi pada anggota keluarga dekat atau teman
  5. Mengalami pemaparan berulang atau ekstrem terhadap detail kejadian traumatik yang tidak disukai

Tommy Lynn Sells dapat didiagnosis mengalami gangguan ini karena memenuhi kriteria A yang pertama, dimana ia mengalami secara langsung kejadian traumatik berupa menjadi korban pedofilia. Selain itu ia juga memenuhi kriteria A yang kedua, dimana ia pernah menjadi saksi mata kejadian seorang anak berusia 7-8 tahun yang melakukan oral seks bersama ayahnya (Rowe dkk., 2005).

  1. Mengalami kembali satu (atau lebih) gejala berikut yang berhubungan dengan kejadian traumatik, dimulai setelah kejadian traumatik terjadi:
  2. Mengalami kembali, tanpa sengaja, dan distress yang mengganggu terkait memori terhadap kejadian traumatik
  3. Mengalami kembali mimpi yang sangat menekan dimana konten dan/atau emosi dari mimpi berhubungan dengan kejadian traumatik
  4. Reaksi disosiatif (seperti flashback) dimana individu merasa atau bertindak sebagaimana kejadian traumatik terjadi sebelumnya
  5. Dsitress psikologis yang intens dan berkepanjangan ketika berhadapan dengan hal internal atau eksternal yang menyimbolkan atau mirip dengan kejadian traumatik
  6. Reaksi psikologis terhadap tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau mirip dengan kejadian traumatik

Pada kasus ini, Tommy Lynn Sells juga memenuhi kriteria pada gejala-gejala di atas, dimana ia selalu mengingat memori terkait kejadian traumatiknya, pedofilia, tanpa sengaja dan merasa terganggu. Ia juga mengaku mengalami mimpi buruk terkait hal ini yang menyebabkan distress berkepanjangan (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

  1. Menghindari stimulus yang berhubungan dengan kejadian traumatik, dimulai setelah kejadian traumatik terjadi, ditandai munculnya satu atau lebih:
  2. Pengelakan atau berupaya menghindari memori, pemikiran, atau perasaan tertekan tentang atau kejadian yang diasosiasikan dengan kejadian traumatik
  3. Pengelakan atau berupaya menghindari pengingat eksternal yang membangkitkan memori, pemikiran, atau perasaan tertekan tentang atau kejadian yang diasosiasikan dengan kejadian traumatik

Tommy mengaku dia selalu berusaha menghindari bayangan wajah pelaku pedofilia yang muncul di kepalanya, beserta perasaan tertekan yang menyertainya. Penghindaran stimulus ini bisa juga tercermin dalamsejarah tindakan kriminal yang selama ini ia lakukan, dalam Rowe dkk. (2005) disebutkan bahwa ia tidak melakukan tindakan kekerasan seksual melalui hubungan seksual dengan korbannya.

  1. Perubahan negatif pada kognisi dan mood saat berhubungan dengan kejadian traumatik, dimulai atau memburuk setelah kejadian traumatik terjadi, ditandai munculnya dua atau lebih:
  2. Tidak mampu mengingat aspek penting kejadian traumatik (disosiatif amnesia)
  3. Membesar-besarkan keyakinan atau harapan negatif tentang dirinya, orang lain, atau dunia
  4. Distorsi kognisi tentang penyebab atau dampak kejadian traumatik yang membuat individu tersebut menyalahkan dirinya atau orang lain
  5. Keadaan emosi negatif yang terus-menerus
  6. Kurangnya minat atau keterlibatan dalam melakukan aktivitas penting
  7. Merasa dipisahkan atau diasingkan dari orang lain
  8. Ketidakmampuan mengalami emosi positif secara terus-menerus

Tommy memenuhi kriteria ini karena ia pernah membesar-besarkan keyakinan tentang orang lain, yaitu saat berusia 13 tahun dia berpikir bahwa keluarganya meninggalkannya begitu saja, padahal pada kenyataannya tidak. Dia juga berpikir ibunya membencinya setelah saudaranya meninggal. Dia juga berpikir bahwa ibunya merupakan sosok yang  tidak pantas memiliki anak. Dia juga mengalami emosi yang negatif terus-menerus, dimana hal ini akibat dari masa kecilnya yang menyedihkan, yakni menjadi korban kekerasan seksual (Rowe dkk., 2005).

  1. Perubahan pada reaktivitas saat berhubungan dengan kejadian traumatik, dimulai atau memburuk setelah kejadian traumatik terjadi, ditandai munculnya dua atau lebih:
  2. Perilaku mudah tersakiti dan kemarahan yang meledak yang dinyatakan secara verbal atau agresi fisik terhadap orang atau objek
  3. Sembrono atau perilaku merusak diri
  4. Sangat waspada
  5. Membesar-besarkan respon terkejut
  6. Konsentrasi bermasalah
  7. Gangguan tidur

Pada kasus ini, Tommy mengalami gejala kemarahan yang meledak, yang dinyatakan dalam agresi fisik terhadap korbannya. Ia merasakan berbagai emosi memuncak saat melihat seorang ayah yang melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya, dimana hal ini mengingatkannya saat ia menjadi korban pedofil. Ia juga cenderung sembrono dalam melakukan tindakan kriminal (tanpa perencanaan yang matang). Selain itu ia juga mengalami gangguan tidur dimana ia selalu mengalami mimpi buruk terkait kejadian traumatiknya, dimana ia juga merasa mengalami kembali setiap tindakan kriminalnya secara menyeluruh (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

  1. Durasi gangguan (kriteria B, C, D, dan E) terjadi selama lebih dari 1 bulan
  2. Gangguan ini menyebabkan distress atau impairment pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  3. Kerusakan bukan dikarenakan dampak fisiologis dari zat seperti alkohol atau kondisi medis lainnya.

Gejala F, G, dan H dialami Tommy, dimana ingatan tentang kejadian pedofilia dialaminya selama hidupnya (sejak kejadian tersebut terjadi di masa kecilnya). Setiap ia membunuh korbannya, ia melihat wajah pelaku pedofilia. Suara yang ia dengar juga berupa suara pelaku pedofilia, bukan suara korbannya saat itu (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

 

Kondisi gangguan kepribadian yang mendorong perilaku kriminal

Klasifikasi gangguan kepribadian dalam DSM IV TR diidentifikasi berdasarkan sejumlah trait yang ada pada individu, dimana hanya jika trait tersebut tidak bisa diubah, maladaptif, dan mengakibatkan impairment yang signifikan atau distress subjektif  (APA, 2000 dalam Brown dan Campbell, 2010).  Trait kepribadian merupakan pola menetap dari cara berpikir tentang lingkungan dan dirinya sendiri yang ditunjukkan dalam konteks personal dan sosial yang luas (Brown dan Campbell, 2010).

Schizoid Personality Disorder

Berdasarkan APA (2013), individu dengan gangguan ini memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Pola individu memisahkan diri dari hubungan interpersonal dan terbatasnya ekspresi emosi pada hubungan interpersonal, dimulai dari dewasa awal dan muncul di berbagai konteks, yang ditandai dengan munculnya 4 atau lebih kriteria:
  2. Tidak ada keinginan atau menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi bagian dari keluarga
  3. Hampir selalu memilih aktivitas soliter
  4. Mempunyai sedikit minat dalam melakukan hubungan seksual dengan orang lain
  5. Berminat pada sedikit aktivitas
  6. Kurang memiliki teman dekat atau orang kepercayaan
  7. Merespon pujian atau kritikan dari orang lain secara acuh tak acuh
  8. Menunjukkan respon emosi yang dingin, memisahkan diri, atau emosi yang datar
  9. Tidak terjadi secara ekslusif selama skizofrenia, gangguan bipolar, ataugangguan depresi dengan karakteristik psikotik, gangguan psikotik lainnya, atau ASD dan bukan sebagai dampak dari kondisi medis lainnya.

Pada kasus ini, gangguan ini merupakan premorbid dari gangguan depresi dan bipolar. Tommy dapat didiagnosis mengalami gangguan ini karena ia memenuhi kriteria A, dimana ia tidak menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi bagian dari keluarga. Ia merasa dirinya terasingkan dan tidak pernah memperoleh kasih sayang dari Ibunya. Kurangnya minat dalam melakukan hubungan seksual dengan orang lain tercermin dari ia tidak melakukan kekerasan seksual melalui hubungan seksual terhadap korbannya. Selama hidupnya, Tommy juga diketahui hanya memiliki seorang teman dekat atau orang yang bisa ia percaya, dimana ia simbolkan sebagai “Big Momma”. Saat diwawancarai, ia juga memperlihatkan emosi yang dingin (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

Karakteristik suka kegiatan soliter pada individu dengan gangguan ini kemungkinan telah muncul sejak anak-anak atau remaja (APA, 2013). Pada Tommy, karakteristik ini muncul sejak anak-anak, sebab berdasarkan pemaparan bibi yang merawatnya, ia sangat menyukai bersepeda menaiki dan menuruni bukit. Gangguan ini juga ditandai dengan under achievement di sekolah (APA, 2013). Indikasi Tommy mengalami  under achievement di sekolah kemungkinan dapat diketahui jika ditelaah lebih lanjut penyebab dikeluarkannya dari sekolah. Sejauh ini dalam Rowe dkk. (2005) belum diketahui secara pasti penyebab Tommy dikeluarkan dari sekolahnya. Gangguan ini lebih banyak ditemui pada laki-laki, dimana lebih banyak menimbulkan impairment (APA, 2013). Yang membedakan gangguan ini dengan gangguan psikotik lainnya adalah gejala-gejala gangguan ini harus muncul sebelum awal munculnya gejala psikotik dan harus tetap muncul ketika gejala psikotik berkurang; begitu pula pada individu dengan gangguan penggunaan zat (APA, 2013).

 

Borderline Personality Disorder

Berdasarkan APA (2013), individu dengan gangguan ini memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Pola individu dalam menjalani hubungan interpersonal, membentuk self-image,dan emosi tidak stabil, ditandai dengan impulsivitas yan dimulai sejak dewasa awal, dimana memenuhi 5 atau lebih kriteria:
  2. Adanya berbagai upaya untuk menghindari pengabaian yang nyata ataupun tidak (dalam imajinasi)
  3. Pola tidak stabil dan intens pada hubungan interpersonal yang ditandai dengan perubahan penilaian yang ekstrem
  4. Gangguan identitas yang ditandai dengan gambaran diri tidak stabil
  5. Impulsivitas yang merusak diri (misal melalui seks atau penyalahgunaan zat)
  6. Adanya perilaku bunuh diri/ancaman/ perilaku memutilasi diri
  7. Ketidakstabilan emosi yang ditandai dengan mood yang reaktif
  8. Sangat merasa kesepian
  9. Ketidaktepatan kemarahan atau susah mengontrol amarah (diungkapkan dalam kemarahan atau perkelahian fisik)
  10. Pemikiran paranoid karena stres atau gejala disosiatif yang parah

 

Tommy dapat didiagnosis mengalami gangguan ini karena ia telah memenuhi kriteria pertama, yaitu  adanya upaya untuk menghindari pengabaian yang nyata, dimana ia menunjukkan perilaku mencoba mandi dan melakukan hubungan seksual dengan ibunya, dengan tujuan untuk memperoleh perhatian dan kasih sayang ibunya. Selain itu, pola tidak stabil dan intens pada hubungan interpersonalnya juga tampak pada relasi dengan istrinya. Tommy juga dapat memberikan penilaian yang sangat buruk terhadap ibunya, dimana ia menilai ibunya merupakan sosok yang tidak pantas memiliki anak. Telah diketahui juga bahwa hubungannya dengan ibunya sangat tidak intens. Tommy juga terlihat impulsif, dimana ia sering menyalahgunakan zat dan melibatkan diri pada situasi berisiko seperti masuk ke rumah orang tanpa perencanaan yang matang. Tommy juga menunjukkan ketidakstabilan emosi yang ditandai dengan moodnya reaktif, dimana ia merasa tersakiti selama beberapa hari. Ketidaktepatan kemarahan atau susah mengontrol amarah juga dimanifestasikan dalam perkelahian secara fisik (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016; Rowe dkk., 2005).

Individu dengan gangguan ini juga bisa mengembangkan gejala semacam psikotik selama stres (APA, 2013). Pada kasus ini Tommy berhalusinasi dirinya diarahkan oleh lonceng yang membuatnya berpikir untuk melakukan sesuatu terhadap kehidupan Terry (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016). Selain itu ia juga merasa matanya ditekan oleh palu sehingga ia sangat merasa tertekan. Gangguan kepribadian ini dapat berkembang akibat kekerasan seksual, diabaikan orangtua, dan kehilangan orangtua saat anak-anak (APA, 2013). Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, pengalam masa kecil Tommy Lynn Sells sangat mendukung berkembangnya gangguan kepribadian ini. Gangguan ini juga bisa terjadi bersamaan dengan gangguan bipolar, depresi, dan PTSD (APA, 2013). Sebelumnya juga telah dipaparkan bahwa Tommy dapat didiagnosis mengalami PTSD dengan melihat beberapa gejala yang muncul. Dalam Rowe dkk. (2005) juga disebutkan bahwa ia telah didiagnosis mengalami gangguan bipolar dan depresi, namun tidak ada penejelasan detail mengenai perkembangan gangguan ini.

 

Antisocial Personality Disorder

Individu dengan gangguan ini memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Pola individu mengabaikan atau melanggar hak orang lain, terjadi sejak usia 15 tahun, dan memenuhi 3 atau lebih kriteria:
  2. Gagal menyesuaikan diri dengan norma sosial berupa mematuhi hukum, diindikasikan dengan mengulangi perbuatan yang berakhir dengan dipenjara
  3. Melakukan kecurangan, diindikasikan dengan selalu berbohong, menggunakan nama/sebutan lain, atau menipu orang lain demi keuntungan/kesenangan pribadi
  4. Impulsivitas atau tidak dapat merencanakan
  5. Perilaku sembrono yang mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain
  6. Perilaku tidak bertanggung jawab yang konsisten, yakni dengan mengulangi kesalahan
  7. Kurangnya penyesalan yang mendalam, ditandai dengan acuh tak acuh atau berpikir merasa tersakiti, dianiaya, atau dicuri orang lain
  8. Individu minimal berusia 18 tahun
  9. Terdapat bukti melakukan gangguan perilaku dengan onset usia sebelum 15 tahun
  10. Terjadinya perilaku antisosial tidak secara eksklusif terjadi selama individu mengalami gangguan bipolar dan skizofrenia

 

Tommy Lynn Sells dapat didiagnosis mengalami gangguan ini karena telah memenuhi kriteria diatas, yaitu ia melakukan pelanggaran sejak usia 15 tahun. Selain itu, ia juga gagal menyesuaikan diri dengan norma sosial dengan mematuhi hukum, dimana ia selalu mengulangi perbuatan yang berakhir dipenjara. Hal ini sesuai dengan gambaran berbagai tindakan kriminal yang banyak ia lakukan selama hidupnya , dimana beberapa diantaranya membuat ia dipenjara selama beberapa tahun (Rowe dkk., 2005). Ia juga mengalami impulsivitas yang tampak pada kurangnya perencanaan dalam melakukan tindakan kriminal. Perilaku sembrononya berupa membiarkan dirinya dalam keadaan mabuk berat juga  tentu membahayakan keselamatan dirinya sendiri maupun keselamatan orang lain. Selain itu ia pernah masuk penjara akibat mengemudi tanpa surat ijin (Rowe dkk., 2005; “Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

Individu dengan gangguan ini mungkin juga mengalami depressed mood, depressive disorder, substance disorder, dan gangguan lain terkait dengan kontrol impulsivitas (APA, 2013). Dalam kasus ini, Tommy juga telah didiagnosis mengalami gangguan depresi. Dalam Rowe dkk. (2005), Tommy juga dinyatakan pernah dipenjara karena penyalahgunaan zat. Selain itu, berdasarkan analsisis kami, Tommy juga mengalami gangguan terkait kontrol impulsivitas berupa gangguan kepribadian ambang. Berdasarkan APA (2013), gangguan ini memang mungkin dialami oleh individu dengan gangguan kepribadian ambang.

Gangguan kepribadian ini mungkin berkembang karena mengalami penolakan dan pengabaian dari orangtua ketika anak-anak dan pola pengasuhan yang tidak konsisten (APA, 2013). Seperti pemaparan sebelumnya, Tommy mengalami hal ini saat kecil. Gangguan ini dapat dikatakan terjadi pada individu dewasa yang juga didiagnosis gangguan penggunaan zat jika gejala gangguan ini muncul sejak anak-anak dan berlanjut hingga dewasa (APA, 2013). Pada kasus ini, Tommy juga diketahui mengonsumsi alkohol yang menyebabkan ia mabuk (Rowe dkk., 2005). Perbedaan antara gangguan kepribadian antisosial dengan gangguan kepribadian ambang adalah individu dengan gangguan kepribadian antisosial melakukan manipulasi untuk lebih memperoleh keuntungan, kekuasaan, atau kepuasan materiil lainnya, serta emosinya cenderung lebih stabil dan lebih agresif; sedangkan gangguan kepribadian ambang memanipulasi hanya untuk memperoleh perhatian pengasuhnya. Pada kasus ini, Tommy melakukan manipulasi baik untuk memperoleh keuntungan materiil maupun untuk memperoleh perhatian pengasuhnya (Rowe dkk., 2005).

 

Gangguan Kepribadian Psikopati

Gejala dari gangguan kepribadian ini hampir seluruhnya dapat ditemukan pada Tommy Lynn Sells. Psikopati merupakan gangguan kepribadian yang menimbulkan gangguan kronis pada relasi individu dengan dirinya, orang lain, dan lingkungannya, sebagai akibat dari distress atau kegagalan individu dalam memenuhi peran sosial dan tanggung jawabnya (APA, 2000 dalam Brown dan Campbell, 2010). Tommy telah membunuh banyak orang di berbagai kota. Ia juga melakukan banyak pencurian dan masuk ke rumah orang (Rowe dkk., 2005). Sebagai gangguan kepribadian, gangguan ini juga mempengaruhi pola pikir, perasaan, dan perilaku, dimana  individu dengan gangguan ini akan menunjukkan gangguan atau disfungsi yang khas, dimulai sejak remaja atau dewasa awal (Brown dan Campbell, 2010). Tommy selalu melakukan tindakan pelanggaran hukum dengan dilandasi pola pikir yang aneh ketika dewasa. Pola pikir ini misalnya Tommy beralasan membunuh anak, yang menjadi saksi mata dari tindakan pembunuhannya terhadap orangtua anak tersebut, untuk mencegah anak tersebut menderita sepertinya saat dewasa nanti akibat melihat tindakan kekerasannya (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).  Pola pikir ini kemungkinan ia bentuk akibat  ia pernah melihat secara langsung seorang ayah yang melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya yang masih berusia sekitar 7 tahun, dimana hal ini mengingatkannya saat menjadi korban pedofilia.

Dalam aspek interpersonal, individu dengan gangguan ini antagonis, dominan, pembohong, suka memanipulasi, tetapi juga berjuang dari kesusahan dalam kelekatan, diabaikan, kurang memiliki komitmen dan kurang memiliki empati. Dalam aspek emosi, individu dengan gangguan ini rendah dalam hal kecemasan, empati, dan emosi yang mendalam.  Dalam aspek kognitif, individu dengan gangguan ini penuh prasangka, kurang toleran, dan tidak fleksibel. Mereka merasa gambaran dirinya terdistorsi, self-centered, dan merasa kebal, unik, atau entitled. Dalam aspek perilaku, mereka cenderung tidak reliabel, ceroboh, dan agresif (Cooke dkk., 2006 dalam Brown dan Campbell, 2010). Hampir seluruh aspek ini dapat ditemui dalam diri Tommy, kecuali pada aspek pembohong dan self-centered.

Individu ini tidak memiliki rasa malu dan perasaan positif yng ditampilkan hanya pura-pura saja. Manipulasi yang mereka lakukan bertujuan untuk mencapai keuntungan pribadi. Kurangnya kecemasan membuat mereka cenderung tidak belajar dari kesalahannya. Kurangnya emosi positif seperti empati yang rendah juga membuat mereka menunjukkan perilaku tidak bertanggung jawab dan kejam. Impulsivitas untuk kesenangan pribadi juga menjadi karakteristiknya (Davidson, Neale, dan Kring, 2010). Tommy mengaku membunuh tanpa perencanaan sebagai pelampiasan dari kemarahannya (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016).

Penolakan berat oleh orangtua, penyiksaan fisik, pendisiplinan yang tidak konsisten, dan kehilangan keluarga bisa menjadi penyebanya. Psikopat mmapu langsung mengabaikan berbagai stimulus yang tidak menarik bagi mereka (Hare, 1978 dalam Davidson, Neale, dan Kring, 2010). Gejala ini dapat dilihat dimana Tommy mampu mengabaikan saudara laki-laki dan anggota keluarga Katy Harris lainnya, dan hanya tertarik pada Katy Harris (“Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube,” 2016). Ia juga melakukan tindakan impulsif pada Krystal Surles karena ia sempat menarik perhatiannya sebagai saksi tindakan kriminalnya. Mereka mencari keseanangan tanpa menghargai aturan masyarakat (Davidson, Neale, dan Kring, 2010). Dalam kasus ini, Tommy sering melakukan tindakan pencurian dan masuk ke rumah orang di kota tempat tinggalnya untuk memperoleh keuntungan materiil (Rowe dkk., 2005).

 

Pola Perkembangan Kriminal

Pola perkembangan pelaku kriminal dipengaruhi oleh beberapa faktor berdasarkan pengalaman selama tahap-tahap perkembangan yang dialami oleh individu (Brown dan Campbell, 2010). Berdasarkan Brown dan Campbell, (2010) terdapat beberapa kategori utama yang mengindikasikan faktor risiko berdasarkan tingkat perkembangan. Perkembangan pada kriminologi berfokus pada dua permasalahan terkait dengan perilaku antisosial, pertama pola perilaku antisosial dan penyebab inisiasi atau desakan dari perilaku antisosial (Brown dan Campbell, 2010). Hal tersebut dicirikan dengan munculnya berbagai bentuk gangguan perilaku selama tahun prasekolah atau pada tahap preschool dengan adanya perilaku menyimpang. Perilaku antisosial pada masa kanak-kanak ini dapat disebabkan oleh perilaku mengganggu anak tidak direspon secara efektif oleh orangtua atau pengasuh (Patterson dkk., 1989 dalam Brown dan Campbell, 2010).

Dalam kasus Tommy Sells dilaporkan beberapa faktor risiko pada tiap tingkat perkembangannya. Pada tahap infancy/preschool Sells berusia 18 bulan terkena demam tinggi yang sama dengan saudara kembarnya yang meninggal. Selain itu juga terjadi gangguan pada kognitif dan temperamental, lingkungan keluarga yang disfungsi atau pengasuhan dari orang tua yang disfungsi. Hal ini disebabkan Sells tinggal bersama bibinya dan ibunya tidak pernah menjenguknya. Kemudian, bibinya ingin mengadopsi Sells, namun ibunya mengambilnya kembali dan melarang Sells untuk mengunjungi bibinya saat berusia 2 sampai 5 tahun.

Pada tahap early childhood Sells mengalami gangguan kognisi, penurunan perilaku atau kepribadian. Hal ini diketahui saat berusia 10 tahun ia mulai merokok ganja marijuana dan saat usia 13 tahun ia mencoba untuk memperkosa ibunya. Selain itu prestasi sekolahnya memburuk hal ini diketahui saat usia 7 tahun ia sering membolos. Gangguan lain yang dialami yaitu kemampuan sosialnya yang buruk, teman yang antisosial, atau disfungsi pada lingkungan keluarga atau pengasuhan orang tua. Hal ini diketahui saat berusia 7 tahun ia menyalahgunakan alkohol yang disembunyikan oleh kakek dari pihak ibu. Pada saat berusia 8 tahun ia menghabiskan waktu dengan seorang laki-laki dari kota terdekat, Frisbee, Missouri. Sells mulai tidur dengan laki-laki tersebut dengan frekuensi yang meningkat. Laki-laki tersebut kemudian diidentifikasi sebagai seorang pedofil yang melecehkan anak laki-laki. Pada usia 11 tahun, Joe Lovins, yang diduga sebagai ayah biologis Sells meninggal dunia. Hal tersebut menyebabkan Sells menjadi emosi, karena sebelumnya ia mencoba untuk berbicara kepada ayahnya sebelum meninggal, tetapi nenek dari pihak ibu melarang dan menariknya pergi.

Pada tahap adolescence, faktor risiko pada individu berupa gangguan kognisi, temperamental, penurunan akademik, dan dikeluarkan dari sekolah (Brown dan Campbell, 2010). Dalam kasus Sells, saat ia berada di tingkat 8. Selain itu Sells juga melakukan penyalahgunaan zat, dan disfungsi pada lingkungan keluarga, pengasuhan orang tua, dan tetangga. Pada saat usia 14 tahun terjadi kemampuan sosail yang kurang yaitu meninggalkan rumahnya di St. Louis dan pergi dengan naik kereta ke seluruh negeri dan kemudian melakukan tindakan mencuri.

Pada tahap adulthood, faktor risiko pada  individu berupa disfungsi dalam rumah tangga, dipecat dari pekerjaan, tidak puas terhadap pernikahan, dan penyalahgunaan zat (Brown dan Campbell, 2010). Saat usia 20 tahun ia mulai masuk penjara karena mencuri mobil saat anak perempuannya lahir. Ia didiagnosa memiliki gangguan bipolar saat usia 28 sampai 32 tahun.

 

Peran Psikologi Forensik yang Dapat Dilakukan dalam Kasus

Peran psikologi forensik yang dapat dilakukan dalam kasus Sells adalah pertama dengan the trial consultant dimana psikolog forensik bisa memberikan gambaran bagaimana seharusnya persidangan itu berjalan dan memilih juri yang sesuai dengan kasusnya agar tidak memberatkan klien, selain itu juga perlu juga untuk mempersiapkan kesaksian dari para saksi (Fulero & Wrightsman, 2009). Pengacara Sells bisa meminta bantuan pada orang orang yang belajar tentang forensik psikologi untuk memberikan beberapa saran agar proses peradilan tidak memberatkan Sells. Hal lain yang dapat membantu adalah pengacara Sells memiliki gambaran tetang karakter juri yang bisa meringankan hukuman Sells.

Selain itu peran kedua yang dapat dilakukan dari psikologi forensik adalah Evaluation and Assessment psikolog forensik dituntut untuk dapat memahami kasus dengan jelas dan melakukan asesmen kepada pelaku atau keseluruhan kasus tersebut seperti saksi. Segala bentuk temuan harus dilaporkan saat proses peradilan berlangsung dan dijelaskan kepada pihak-pihak yang terkait (Fulero & Wrightsman, 2009). Saat proses persidangan berlangsung segala bentuk asesmen dilakukan untuk mengetahui kondisi mental Sells, dan hasilnya disampaikan kepada para juri dan hakim yang ada di persidangan. Diketahui bahwa Sells memiliki berbagai gangguan mental yang menyebabkan pembunuhan tersebut terjadi.Psikologi forensik selain dapat melakukan asesmen terhadap tersangka dan saksi juga dapat menentukan intervensi dan fasilitas yang dibutuhkan selama proses perawatan itu berlangsung (Roesch, Zapf, & Hart, 2010). Berbagai dampak psikologis harus mendapatkan perawatan yang tepat kejadian yang sama tidak terulang atau bagi saksi kejadian traumatis tersebut tidak mempengaruhi fungsi dirinya.

Peran ketiga yang dapat dilakukan adalah menjadi saksi ahli dimana kesaksian yang akan ditunjukkan oleh setiap saksi ahli mencerminkan pengetahuan, keterampilan, atau pengalaman yang dibutuhkan dan bahwa kesaksian akan membantu menyelesaikan perselisihan tersebut dan membantu juri untuk mengetahui kebenarannya. Saksi ahli akan dianggap memiliki pengetahuan yang lebih tentang suatu topik atau kasus dibandingkan dengan juri pada umumnya (Fulero & Wrightsman, 2009). Pendapat seorang saksi ahli pada kasus Sells sangat dibutuhkan untuk mengetahui latar belakang tindakan tersebut, perkembangan Sells yang kurang baik ketika masih anak-anak menjadi faktor utama dalam karakter sadisme yang dimilikinya. Para ahli psikologi sangat mengetahui pengaruh dari proses perkembangan yang gagal dan dampaknya dikemudian hari.Peran dari saksi ahli sangat berperan dalam pemberian keputusan dalam menentukan hukuman yang sesuai dan bersalah atau tidaknya tersangka.

 

Pendekatan Kuratif dan Rehabilitatif tang Dapat Dilakukan dalam Kasus

Perspektif intervensi tradisional memberikan bentuk intervensi berupa usaha untuk pengendalian diri dan kontrol emosi, selain itu memberikan pembelajaran tentang pemecahan masalah, memperbaiki perspektif dan empati, dan menantang pemikiran dan nilai antisosial yang dimiliki. Intervensi ini akan berdampak besar jika ada kontrol terhadap penggunaan narkoba dan meningkatkan inklusi sosial, yaitu dengan menemukan pekerjaan dan jaringan sosial yang mendukung (Mcmurran & Howard, 2009).

Sells memiliki gangguan dalam mengontrol amarahnya dan berakhir dengan perilaku agresi  sehingga banyak korban atas tindakan pelampiasan tersebut. Cognitive-behavioural therapydapat digunakan sebagai bentuk intervensi terhadap perilaku agresi dan kemarahan. Hal yang perlu diperhatikan dalam terapi ini adalah populasi yang mendukung dan orang-orang di institusi(Brown & Campbell, 2010). Sekolah umum dapat memberikan intervensi dan kurikulum yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi , penyelesaian masalah,social skills, dan kemampuan untuk menghindari pengaruh buruk saat muda (Hahn dkk. 2007a, 2007b;Webster-Stratton, Reid dan Stoolmiller 2008; Wilson, Lipsey dan Derzon 2003 dalam Brown & Campbell, 2010). Bentuk intervensi sekolah ini dapat mengurangi perilaku antisosial dan masalah perilaku di berbagai usia (Brown & Campbell, 2010). Intervensi untuk para residivis diberikan berupa intervensi kategori tertiary prevention(Caldwell dan Van Rybroek 2005; Schaeffer dan Borduin 2005 dalam Brown & Campbell, 2010), namun intervensi ini hanya bisa bekerja pada offenders muda (Florsheim dkk. 2004 dalam Brown & Campbell, 2010).

Secondary prevention diberikan kepada keluarga dan anak yang memiliki resiko.Pada tingkat individu, intervensi cognitive-behaviouraldan dukungan untuk akademisnya dapat diberikan untuk anak-anak yang beresiko.Kebanyakan masalah kepribadian antisosial disebabkan oleh keluarga dan masalah pola asuh. Sehingga banyak program intervensi diberikan berupa intervensi pola asuh keluarga dengan anak yang memiliki faktor resiko (Brown & Campbell, 2010). Anak-anak Sellsmemiliki resiko untuk memiliki kepribadian ini dan mengulangi perbuatan apa yang dilakukan oleh Sells karena anak-anak Sells telah kehilangan sosok ayah yang baik dan Sells meninggalkan keluarganya. Anak-anak Sells juga memiliki genetik dari sang ayah yang dapat menjadi faktor munculnya gangguan kepribadian antisosial.

 

Referensi

American Psychological Associaton (2013). DSM V. Washington: American Psychiatric Association.

Brown, J. M., & Campbell, E. A. (2010). The Cambridge Handbook of Forensic Psychology. https://doi.org/10.1017/CBO9780511730290

Carson, D. (2014, April 4). Execution Report: Tommy Sells. Diakses pada April 4, 2017, dari Texas Execution Information Center: http://www.txexecution.org/reports/513-Tommy-Sells.htm?page=1

Davidson, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2010). Psikologi Abnormal. (N. Fajar, Trans.) Jakarta: Rajawali Press.

Didakwa Pasal Berlapis, Babe Diancam Hukuman Mati. (2010). Retrieved April 23, 2017, from http://news.detik.com/berita/1363040/didakwa-pasal-berlapis-babe-diancam-hukuman-mati

Elliott, C. & Quinn, F. (2012).Criminal Law (9th ed.). New York: Pearson.

Fanning, D. (2003). Through the window: The Terrifying True Story of Cross-Country Killer Tommy Lynn Sells. New York: St. Martin Press.

Fowles, D. C., & Dindo, L. (2009). Temperament and psychopathy: A dual-pathway model. Current Directions in Psychological Science18(3), 179-183.

Fulero, S. M., & Wrightsman, L. (2009). Forensic Psychology (3rd ed.). USA: Wordsworth Cengage Learning.

Mcmurran, M., & Howard, R. C. (2009). Personality, Personality Disorder And Violence. Oxford: Wiley-Balckwell.

Roesch, R., Zapf, P. A., & Hart, S. D. (2010). Forensic Psychology and Law. Psy2.Ucsd.Edu. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. Retrieved from http://psy2.ucsd.edu/~vjkpublications/pdf/2000 Krakow DNA Evidence.pdf

Rowe, C., Ruggie, N., Ruotolo, C., & Smith, J. (2005). Sells, Tommy Lynn: “Coast to coast killer”. Department of Psychology Radford University, VA 24142-6946 .

Ryan Divonis Hukuman Mati. (2009). Retrieved April 23, 2017, from http://news.detik.com/berita/1111170/ryan-divonis-hukuman-mati

Solahuddin, S. (2008). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Acara Pidana & Perdata: KUHP, KUHAP & KUHPdt, 589.

Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary – YouTube. (2016). Retrieved April 23, 2017, from https://www.youtube.com/watch?v=UMkdFyYbP_Q

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s