CRIMINAL PROFILLING: TOMMY LYNN SELLS (#1)

CRIMINAL PROFILLING TOMMY LYNN SELLS

Oleh: Innayah Tiara Jelita, Andini Damayanti, Arifah Rasyidayanti, Luthfah Naily, & Erizza Farizan

Matakuliah Psikologi Forensik

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 quote-i-don-t-know-what-love-is-two-words-i-don-t-like-to-use-is-love-and-sorry-because-i-tommy-lynn-sells-92-15-21

KASUS

Pembunuhan ini berawal dari Tommy Lyn Sells yang memasuki rumah keluarga Harris lewat jendela kamar Justin. Saat itu, Justin masih terbangun dan akhirnya pindah ke kamar lain, yaitu ke kamar Katy dan Krystal. Sebenarnya, Sells tidak menyadari keberadaan Krystal pada awalnya karena Krystal bersembunyi di bawah tempat tidur. Sebelumnya Krystal memang menyadari ada orang yang masuk dan langsung bersembunyi (CBS News, 2009).

Saat itu, Marque Surles, adik Krystal, masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 1. Mereka saat itu, Desember 1999 sedang menginap di rumah temannya di Del Rio, Texas. Mereka menginap disana karena menunggu keluarganya yang masih di Kansas untuk pundah ke Texas. Mereka memang berencana untuk pindah rumah dan tinggal di Texas. Marque Surles saat itu berusia 7 tahun, sedangkan kakaknya, Krystal, berusia 10 tahun. Marque menganggap bahwa kakaknya merupakan orang yang suka memerintah dan perbedaan umurnya cukup jauh. Mereka tidak dekat satu sama lain. Mereka tinggal di rumah keluarga Harris yang mempunyai keluarga besar. Mereka memiliki empat anak, yaitu Sean, Justin, Laurie dan Katy. Saat itu, Kaylene Harris yang biasa dipanggil Katy Harris berumur 13 tahun tinggal di sebuah pemukiman jarang penduduk. Tempat tinggalnya jauh dari manapun. Dia merupakan gadis yang terkenal, cantik, dan memiliki segalanya yang diinginkan (CBS News, 2009).

Sells kemudian berada di samping Katy dan menyenggolnya. Katy pun terbangun dan menanyakan alasannya berada di tempat tidurnya. Sells kemudian meletakkan tangannya agar Katy tidak dapat berteriak. Sells kemudian menodong pisau berukuran 12 cm dan memotong celana tidur, celana dalam, dan bra milik Katy. Katy kemudian berdiri dan berteriak meminta bantuan pada Krystal agar melaporkan kejadian tersebut pada ibunya. Namun, hal tersebut tidak berguna karena Sells akhirnya mengiris tenggorokannya sebanyak dua kali dan menusuknya kembali sebanyak 16 kali. Krystal pun tidak luput dari kekejaman Sells meskipun telah memohon. Sells mengiris tenggorokan Krystal, tetapi ia tidak benar-benar tewas karena ia berpura-pura mati hingga Sells benar-benar pergi (CBS News, 2009).

Kasus pembunuhan Katy Harris diketahui dari kesaksian Krystal. Kasus pembunuhan tersebut diketahui dari telepon tetangga keluarga Harris, Herb Betz, kepada 911 ketika Krystal yang memiliki luka sayatan pada lehernya meminta bantuan. Berkat kesaksian yang diberikan Krystal tentang pelaku memiliki rambut berantakan, panjang, gelap, rambut keriting, dan besar, menakutkan, jenggot lebat panjang, matanya gelap. Dari pegakuan tersebut diketahui bahwa pelaku adalah Tommy Sells.  Kejadian bermula setelah waktu penutupan di bar lokal, Tommy Sells berjalan ke rumah Harris dan masuk melalui jendela yang terbuka. Sells pergi ke kamar tidur, di mana ia melihat Katy Harris yang berusia 13 tahun, tidur di tempat tidur bawah dan Krystal Surles berusia 10 tahun sedang tidur di tempat tidur atas. Sells meletakkan tangannya di atas mulut Katy dan mengacungkan boning pisau 11 inci yang dibawanya. Kemudian ia memotong celana pendek dan pakaian Katy dan mulai menciumnya. Katy berdiri dan berteriak. Sells kemudian menyalakan lampu dan pindah untuk memblokir pintu. Katy melihat dirinya berdarahdan berkata, “Kau memotong saya!” Sells kemudian pindah ke belakang Katy dan meletakkan tangannya di atas mulutnya, dan mengiris tenggorokannya dua kali. Katy jatuh ke lantai. Sells menikam Katy sebanyak 16 kali. Sebelum Sells meninggalkan kamar tersebut, ia melihat Krystal yang telah menyaksikan kejadian pembunuhan Katy, ia berjalan ke arahnya dan menyayat tenggorokan Krystal. Setelah Sells pergi, Krsytal segera berlari keluar ke rumah dan meminta bantuan tetangga.

Apakah kasus ini sebuah kejahatan?

Dalam The Oxford English Dictionary, kejahatan didefinisikan sebagai sebuah perilaku atau kelalaian yang merupakan suatu pelanggaran dan dapat dihukum oleh hukum. Sedangkan pengertian dari The Oxford Dictionary of Sociology memberikan pengertian kejahatan sebagai pelanggaran yang melanggar aturan atau larangan hukum secara pribadi maupun publik. Hukuman diberikan untuk pelaku kejahatan adalah hukuman atau sanksi yang sah dan melekat. Hukuman ini sendiri memerlukan intervensi dan otoritas publik (SCCJR, n.d.).

Kejahatan juga dapat didefinisikan dalam berbagai macam pendekatan. Secara epistimotologis, kejahatan dapat didefinisikan sebagai perbuatan atau tindakan jahat yang merugikan masyarakat atau individu, dapat secara materiil atau inmateriil. Secara yuridis, kejahatan dapat didefinisikan sebagai perilaku anti sosial dan merupakan tantangan besar negara untuk memberikan penderitaan atau hukuman. Sedangkan secara sosiologis, kejahatan dapat diartikan sebagai perbuatan merugikan atau melanggar norma-norma yang ada di masyarakat, seperti norma hukum, agama, adat, dan sosial. Dari berbagai pengertian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kejahatan merupakan perilaku merugikan individu atau masyarakat, baik secara materiil atau inmateriil, yang melanggar norma-norma di masyarakat dan dapat dipertanggungjawabkan juga (Rajamuddin, 2014).

Bahwa suatu perbuatan dianggap telah melanggar hukum dan dapat dikenakan sanksi pidana, harus dipenuhi dua unsur, yaitu adanya unsur actus reus (physical element) dan unsur mens rea (mental element):

  1. Actus reus. Elliot dan Quinn (2014) dalam bukunya criminal law:10th edition menjelaskan bahwa actus reus bukan hanya meliputi tidakan dari sebuah kejahatan namun juga meliputi semua aspek kejahatan lainnya (selain dari pemikiran) dari terdakwa. Perilaku kejahatan harus bersifat disengaja, terdakwa dapat dinyatakan bersalah ketika melakukan tindak kejahatan dengan sengaja. Tipe actus reus ada 3 yaitu :
  2. Action crimes (tindak kejahatan) : Actus reus disini hanyalah sebuah tindakan, konsekuensi dari tindakan itu tidak penting. Misalnya, sumpah palsu dilakukan setiap kali seseorang membuat pernyataan yang tidak mereka yakini benar saat bersumpah. Apakah pernyataan tersebut membuat perbedaan pada persidangan tidak penting apakah pelanggaran sumpah palsu telah dilakukan.
  3. State of affairs crimes (keadaan kriminal) : Disini Actus Reus terdiri dari keadaan, dan terkadang konsekuensinya, tapi tidak ada tindakan – they are ‘being’ rather than ‘doing’ offences. Pelanggaran yang dilakukan di Rv Larsonneur adalah contohnya, di mana actus reus terdiri dari orang asing yang tidak diberi izin untuk datang ke Inggris dan ditemukan di negara tersebut.
  4. Result crimes (Hasil kejahatan) : Actus Reus ini dibedakan oleh kenyataan bahwa perilaku tertuduh harus menghasilkan hasil tertentu –contoh paling jelas ada pada pembunuhan, di mana tindakan terdakwa harus menyebabkan kematian seorang manusia.
  5. Mens rea. Mens rea yang merupakan bahasa latin dari pikiran bersalah, merupakan kondisi pikiran seseorang yang melakukan tindak kejahatan. Mens rea yang dibutuhkan bervariasi tergantung pada tindak kejahatan, tetapi ada dua keadaan utama pikiran yang dapat secara terpisah maupun bersamaan merupakan mens rea yang diperlukan dari tindak pidana: intention dan recklessness (Elliott & Quinn, 2014)
  6. Secara hukum ada dua jenis niat (intention). Direct intent atau niat langsung (juga dikenal sebagai purpose intent) adalah situasi khas dimana konsekuensi dari tindakan seseorang diinginkan. Oblique intent atau niat tidak langsung (juga dikenal sebagai foresight intent) mencakup situasi dimana konsekuensinya diramalkan oleh terdakwa sebagai sesuatu yang pasti, walaupun tidak diinginkan untuk kepentingannya sendiri, dan terdakwa tetap melanjutkan tindakannya.
  7. Kecerobohan adalah pengambilan risiko yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dua tes yang berbeda telah dikembangkan oleh pengadilan, yang hasilnya adalah kecerobohan sekarang memiliki dua makna hukum yang berbeda yang berlaku untuk pelanggaran yang berbeda. Tes pertama untuk kecerobohan bersifat subyektif, yaitu terdakwa mengetahui risikonya, bersedia menerimanya dan menganggapnya dengan sengaja. Tes kedua untuk kecerobohan itu obyektif, yaitu risikonya harus jelas bagi orang yang masuk akal, karena ada orang yang masuk akal yang akan menyadarinya jika dia memikirkannya.

Secara epistimotologis, kejahatan dapat didefinisikan sebagai perbuatan atau tindakan jahat yang merugikan masyarakat atau individu, dapat secara materiil atau inmateriil. Menurut kasus diatas diketahui bahwa kejadian tersebut menimbulkan kerugian seperti kerusakan pada jendela rumah, meninggalnya Katy Harris dan luka sayatan pada leher Krystal yang memerlukan perawatan rumah sakit. Sedangkan secara sosiologis, kejahatan dapat diartikan sebagai perbuatan merugikan atau melanggar norma-norma yang ada di masyarakat, seperti norma hukum, agama, adat, dan sosial. Perbuatan yang dilakukan Tommy Sells termasuk dalam pembunuhan berencana yang termasuk ke dalam kejahatan melanggar hukum. Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. Bunyi lengkap Pasal 340 adalah bahwa Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun. Menyebabkan hilangnya nyawa termasuk melanggar hak asasi manusia untuk hidup. Pelanggaran hukum yang sesuai dengan pasal 340 KUHP di atas termasuk dalam kejahatan menurut yuridis, kejahatan yang didefinisikan sebagai perilaku anti sosial dan merupakan tantangan besar negara untuk memberikan penderitaan atau hukuman.

Kejadian pembunuhan yang dilakukan Tommy Sells termasuk dalam actus reus meliputi tidakan dari sebuah kejahatan meliputi semua aspek kejahatan lainnya (selain dari pemikiran) dari terdakwa. Perilaku kejahatan harus bersifat disengaja, terdakwa dapat dinyatakan bersalah ketika melakukan tindak kejahatan dengan sengaja.  Tipe actus reus result crimes (hasil kejahatan) yaitu adanya hasil yang ditimbulkan dari perilaku kejahatan. Perilaku kejahatan Sells adalah pembunuhan dimana perbuatan pelaku pastinya menyebabkan kematian Katy Harris. Selain kejadian pembunuhan Katy Harris, Tommy Sells juga diketahui telah melakukan pembunuhan kurng lebih kepada 22 orang lainnya.

 

Identifikasi Korban

Katy dan Krystal dapat dikatakan sebagai korban karena mereka telah dilukai meskipun telah menghindar. Hal ini sesuai dengan pengertian korban, yaitu orang yang telah disakiti atau dimanfaatkan dimana kebanyakan situasi ini coba dihindari oleh kebanyakan orang (Wagele, 2011). Korban juga dapat didefinisikan sebagai individu yang menderita kekerasan fisik atau emosi, kerusakan properti, atau kehilangan nilai ekonomi sebagai hasil dari kejahatan (Deaprtment of Justice, n.d.).  Hal ini sejalan dengan UU nomor 13 tahun 2006 yang mendefinisikan korban sebagai individu yang menderita dalam hal fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh suatu tindak pidana (UU RI, 2006).

Diketahui bahwa terdapat tipologi korban yang dibedakan berdasarkan seberapa bersalahnya atau keterlibatan korban dalam menjadikan dirinya sendiri sebagai korban kejahatan. Tipologi ini dirangkum oleh Schafer (1974) menjadi 6 tipologi. Berikut adalah keenam tipologi tersebut (Landau & Freeman-Longo, 1990).

  1. Korban yang sepenuhnya tidak bersalah, seperti anak-anak dan mereka yang menjadi korban dalam kondisi tidak sadar.
  2. Korban dengan kesalahan kecil dan korban yang dihasilkan dari kelalaian korban itu sendiri, misalnya perempuan yang menghasut aborsi dan akhirnya ia meninggal.
  3. Korban yang sama bersalahnya dengan pelaku dan sukarela menjadi korban, seperti bunuh diri yang dilakukan oleh pasangan, pasangan yang putus asa, dan sebagainya.
  4. Korban yang lebih bersalah daripada pelaku, seperti korban yang memancing amarah pelaku atau korban yang kurang berhati-hati.
  5. Korban yang paling bersalah, misalnya pelaku yang dibunuh oleh korbannya atas alasan melindungi diri.
  6. Individu yang berpura-pura menjadi korban dan korban khayalan, seperti paranoid, histerikal, orang yang pikun dan anak-anak.

Menurut tipologi yang telah dijelaskan, Katy dan Krystal termasuk dalam korban yang benar-benar tidak bersalah. Hal ini dikarenakan mereka diserang saat mereka tidak sadar. Selain itu, mereka juga tidak berkontribusi apapun dalam tindak kejahatan. Mereka tidak tahu menahu soal tindakan kriminal yang dilakukan Sells. Tidak ada alasan khusus kenapa mereka bisa menjadi korban. Mereka dapat dikatakan kurang beruntung karena pelaku secara acak masuk dalam kamar mereka.

tumblr_nqxrih8eJj1uuvfgno2_r1_1280.jpg

Profil Kriminal Pelaku

Data Demografi

Nama Lengkap: Tommy Lynn Sells

Jenis Kelamin: Laki-laki

Tanggal kelahiran: 28 Juni, 1964

Usia: 49 tahun

Ras: Putih

Kewarganegaraan: Amerika Serikat

Riwayat Pekerjaan: Tukang cukur, mekanik, buruh, supir truk,

pekerja karnaval, salesman mobil bekas

Ketertarikan Seksual: Heteroseksual

Karakteristik Fisik

Tinggi badan: 5’9’’inch

Warna kulit: Putih

Mata: Gelap

Rambut: Panjang gelap, keriting, jenggot lebat

Kemampuan kognitif

IQ: 80

Pendidikan terakhir: 8th

Rangking di sekolah: Rendah

Data Keluarga

Anak ke: 7

Jumlah saudara: 6, 2 kakak laki-laki, saudara perempuan kembar, 3 adik laki-laki

Kategori kelahiran: Kembar

Status Pernikahan Orangtua: Menikah, tetapi bukan ayah biologis

Nama Ayah: William Sells (kandung), Joe Lovins (tiri)

Nama Ibu: Nina (kandung)

Status Pernikahan: Menikah 2 kali

Jumlah anak: 2

Riwayat Kriminalitas

Mengemudi tanpa lisensi, mencuri, tuduhan terkait narkoba, public intoxication, melukai orang.

Kemampuan Khusus yang Dimiliki

Menembak, menusuk, menggunakan sekop, mencekik, memukul, dapat membunuh dengan balok es.

Alasan Pembunuhan

Pembunuhan yang dilakukan Tommy Lynn Sells dilakukan setelah ia diusir dari bar setempat. Kemungkinan yang terjadi adalah Sells meminum banyak alhokol dan mempunyai temprament yang buruk. Pengaruh alkohol ini yang menyebabkan Sells tidak bisa mengendalikan dorongan dalam dirinya untuk masuk ke dalam rumah kelurga Harris melalui jendela. Alkohol dapat menyebabkan orang yang meminumnya kehilangan kekuatan untuk menahan impuls yang biasanya ditahan. Sehingga bisa melalukan apapun untuk memenuhi dorongan impuls yang ada. Menurut The President’s Crime Commission mengklaim bahwa minuman alkohol dalah faktor penyebab 50% terjadinya kejahatan. Mengonsumsi alkohol dapat mengubah pemikiran dan menghasilkan perilaku berbahaya (Critchlow, 1986).

Alasan pembunuhan yang dilakukan Sells dipengaruhi oleh motif internal Sells yang mengingkan mendapatkan sensasi setelah membunuh orang. Hal ini diketahui melalui interview yang dilakukan Dr. Michael Stone psikolog forensik terhadap Tommy Lynn Sells. Sells menyatakan bahwa mempunyai perasaan menggebu-gebu ketika melihat korban pembunuhan. Perasaan menggebu-gebu ini yang ingin Sells dapatkan. Sells mencari sensasi perasaan kegembiraan, semangat dan kepuasan ketika melihat lumuran darah dan saraf yang terpotong pada korban. Sells menggambarkan lumuran darah dan saraf terpotong dileher merupakan waktu yang dinatikan seakan melihat scraft yang melingkar di leher. Perasaan kegembiraan, kepuasaan dan kenikmatan yang sangat besar ini dirasakan seakan-akan menggunakan heroine atau kokain.

Teori Dasar Perilaku Kriminal

Teori Psychoanalytical Perspective

Teori psikoanalisis kriminologi berpendapat bahwa orang melakukan kejahatan karena alasan psikologis. Teori ini sebagian besar berasal dari karya Sigmund Freud.Freud berpendapat bahwa sifat manusia secara melekat merupakan antisosial. Orang terlahir dengan id yang mendorong mereka untuk bertindak secara egois. Namun, masyarakat dan peraturannya menciptakan superego yang mencoba menekan id. Id bisa dilihat sebagai sisi buruk kita yang menyuruh melakukan hal buruk. Perilaku kriminal didasari ketidakmampuan beberapa individu untuk mengendalikan impuls dan transformasinya (Falk, 1966). Teori ini sesuai dengan perilaku Tommy Lynn Sells melakukan pembunuhan untuk memenuhi sensasi adanya perasaan kegembiraan, semangat dan kepuasan ketika melihat lumuran darah dan saraf yang terpotong pada korban. Sells tidak dapat mengontrol id untuk mendapatkan kepuasaan.

Perkembangan Perilaku Kriminal

Perspektif perkembangan perilaku kriminal berfokus pada dua hal, yaitu pencarian pola perilaku antisosial dan pencarian penyebab awal dan konsistensi perilaku antisosial (Hoge, 2010). Munculnya perilaku antisosial dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu life-course persistent dan adolescent limited pattern. Life-course persistent dicirikan oleh adanya conduct disorder dan perilaku antisosial yang sudah muncul dari usia sebelum sekolah dan berlanjut hingga remaja dan dewasa. Individu yang menunjukkan ciri-ciri ini nantinya akan menjadi pelaku pelanggaran hukum berat (Loeber & Farrington, 1998 dalam Brown & Campbell, 2010). Sementara itu, adolescent limited pattern dicirikan oleh masa kecil yang normal, dimana tidak terjadi conduct disorder atau perilaku antisosial lain. Kedua hal tersebut baru terjadi ketika individu menginjak masa remaja. Namun, perilaku ini tidak berlanjut sampai dewasa. Pada masa dewasanya, individu cenderung menampilkan perilaku yang sesuai dengan norma sosial (Hoge, 2010).

Perkembangan pelaku kriminal dapat menjadi salah satu sarana untuk asesmen perilaku antisosial serta merancang program prevensi dan intervensi (Hoge, 2010). Studi longitudinal terhadap perkembangan pelaku kriminal mampu menghubungkan level inteligensi, relasi sosial yang kurang, hubungan dengan keluarga yang kurang harmonis dan perilaku kriminal yang terjadi pada masa dewasa (Hoge, 2010). Berikut ini adalah riwayat perkembangan Tommy Lynn Sells (Rowe, Ruggiero, Ruotolo, & Smith, 2005) :

  1. Infancy/Preschool

Neurological Impairment. Pada usia 18 bulan, Sells dan kembarannya pernah menderita demam tinggi yang ternyata adalah meningitis. Saudari kembarnya meninggal, namun Sells selamat. Penyakit ini dapat dikategorikan sebagai neurological impairment karena neurological impairment didefinisikan sebagai penyakit otak, epilepsy dan tumor pada otak yang akhirnya melemahkan fungsi otak (Dinniss, 1999 dalam Brown & Campbell, 2010).

Dysfunctional family environment. Sejak awal, Sells tidak tinggal bersama ayah bahkan identitas ayah kandungnya masih tidak jelas. Sehingga, Sells tidak memiliki figur ayah dan hanya tinggal bersama ibu dan saudaranya. Ayah kandungnya adalah William Sells, seorang agen asuransi atau Joe Lovins, seorang sales mobil. Ibunya bernama Nina Sells.

  1. Early Childhood

Dysfunctional family environment. Awalnya, Sells tinggal bersama tantenya dari usia 2-5 tahun. Selama Sells diasuh oleh tantenya, ibunya tidak pernah mengunjunginya. Namun ketika tantenya ingin mengadopsi Sells, ibunya menolak dan membawa Sells pulang. Sejak itu Sells tinggal bersama ibunya dan kakek neneknya yang mengabaikannya di St Louis, Missouri. Bahkan, Sells mulai mengkonsumsi alkohol milik kakeknya yang membuktikan adanya pengabaian terhadap Sells.

Dysfunctional parenting. Ibu Sells mengabaikan Sells, hal ini terbukti dari Sells yang sering membolos sekolah sehingga membuktikan sedikitnya perhatian yang diberikan ibunya. Ibunya juga membiarkan Sells menginap dengan seorang laki-laki dewasa asing yang ternyata melakukan pelecehan seksual kepada Sells.

Cognitive impairment. Skor IQ Sells hanya mencapai 80 yang menunjukkan adanya retardasi ringan, sedangkan IQ rata-rata manusia adalah 100.

Poor school achievement. Sells sering membolos sejak usia 7 tahun dan pendidikan terakhirnya hanya sampai kelas 8. Nilainya di sekolah juga cenderung buruk.

Behaviour/personality deficits. Sejak usia 7 tahun, Sells telah menunjukkan ciri-ciri perilaku antisosial dengan mulai mengkonsumsi alkohol milik kakeknya dan merokok marijuana.

Antisocial peers. Sells berteman dengan seorang pria dewasa yang ia kenal di kota sebelah pada usia 8 tahun. Sejak itu, pria tersebut sering memberi hadiah untuk Sells dan mengajak Sells untuk menginap di rumahnya. Ternyata, pria tersebut adalah seorang pedofil yang melakukan pelecehan seksual terhadap Sells. Hal ini kelak akan menjadi salah satu alasan Sells melakukan pembunuhan. Sells mengaku ia akan mengulang memori ketika ia dilecehkan sambil membunuh korbannya.

  1. Adolescence

School Dropout. Sells tidak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya dan akhirnya meninggalkan sekolah ketika kelas 8 dengan indikasi adanya masalah dan bullying di sekolahnya.

Dysfunctional Family Environment. Keluarga Sells meninggalkan Sells ketika ia berusia 13 tahun. Hal ini disebabkan oleh Sells yang tiba-tiba naik ke ranjang neneknya dalam kondisi telanjang. Sells pun harus menghidupi dirinya sendiri. Hingga usia 18, Sells hidup sendiri dan berpindah dari kota ke kota. Sells bertemu dengan keluarganya di Little Rock, Arkansas. Namun, Sells berusaha memperkosa ibunya ketika ibunya sedang mandi. Akhirnya, Sells diusir dan dipukuli hingga meninggalkan rumah.

Substance abuse. Sells masih mengkonsumsi alkohol dan merokok mariyuana.

Difficult temperament. Setelah ditinggalkan keluarganya, Sells menjadi pribadi yang temperamen dan mudah meledak emosinya. Sells mulai melakukan perilaku kriminal dengan menyerang seorang wanita hingga pingsan. Pada usia 15, Sells melakukan pembunuhan pertamanya. Sells membunuh seorang pria ketika mencoba merampok. Berdasarkan pengakuannya, Sells membunuh pria tersebut karena ia mencoba melakukan pelecehan seksual kepada seorang anak laki-laki. Sells yang emosi langsung membunuh korban karena mengingatkannya pada dirinya sendiri. Namun, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terjadi pelecehan seksual oleh korban. Sells juga melakukan berbagai perilaku antisosial lainnya seperti merampok dan mencuri.

  1. Adulthood

Poor employment history. Sells sering berpindah-pindah pekerjaan karena pendidikannya yang kurang. Sells pernah menjadi tukang cukur rambut, montir, sopir truk, petugas karnaval dan sales mobil bekas.

Unsatisfactory marital situation. Sells telah menikah dua kali dan mempunyai dua anak dari hasil pernikahannya. Pernikahannya tidak pernah bertahan lama. Sells pernah mempunyai anak dengan Cindy Hannah pada usia 18 tahun. Lalu pada usia antara 28-32 tahun, Sells menikah dengan Nora Price. Namun, ia sering meninggalkan istrinya walaupun istrinya telah mempunyai anak dengan Sells. Pada usia 34 tahun, ia menikah dengan Jessica Levrie, namun lagi-lagi meninggalkan istrinya dengan berkeliling Amerika.

Substance Abuse. Sells pernah dipenjara karena mengemudi sambil mabuk dan pernah mengalami overdosis heroin. Sells juga pernah dipenjara karena mabuk di tempat umum. Sells sering keluar masuk penjara karena penyalahgunaan zat, merampok dan mencuri.

Berikut ini adalah riwayat pembunuhan yang dilakukan oleh Tommy Lynn Sells (Montaldo, 2017) :

  • 1979, St Louis, Missouri – Sells melakukan pembunuhan pertamanya.
  • 1979, St Louis, Missouri – membunuh John Cade, Sr setelah korban mempergoki Sells berusaha merampok rumahnya
  • 1983, Arkansas – menembak dua orang laki-laki, namun hanya satu yang terkonfirmasi bernama Hal Atkins
  • 1984, Missouri – membunuh Ena Cordt (35) dan anakny yang berusia 4 tahun, Rory.
  • September 1985 – Mei 1986 – dipenjara karena mengemudi sambil mabuk. Mengaku menembak seorang laki-laki asing di St Louis.
  • Oktober 1987 – Winnemucca, Nevada – mencekoki Stefanie Stroh dengan LSD, lalu mencekiknya dan membuang mayatnya di gurun.
  • Antara Oktober 1987 – Januari 1988 – Ina, Illinois – membunuh keluarga Dardeen, memperkosa Ellaine Dardeen hingga melahirkan lalu membunuhnya, dan membunuh Pete, anak keluarga Dardeen dengan dipukul hingga tewas.
  • Januari 1988– Ditangkap karena mencuri mobil
  • Januari 1988– Lawrence, Massachusetts – membunuh dan memperkosa Mellisa Trembly (11)
  • Antara Januari – Desember 1988– Seorang wanita tidak dikenal dan anaknya yang berusia 3 tahun di  Salt Lake City, Utah. Ia membuang mayat mereka di Snake River di Idaho.
  • Desember 1988– Tucson, Arizona – Membunuh Ken Lauten karena transaksi obat yang gagal.
  • Januari 27, 1989– Membunuh seorang PSK di Truckee, California.
  • April 1989– Roseburg, Oregon – Membunuh seorang wanita berusia 20 tahunan
  • Mei9, 1989 – Roseburg, Oregon – Membunuh seorang perempuan yang menumpang di mobilnya.
  • Mei9, 1989 – Roseburg, Oregon –Dipenjara karena mencuri uang dari bosnya.
  • Agustus 16, 1989– North Little Rock, Arkansas – Ditangkap karena mencuri
  • Oktober 18, 1989– Oakland, California – Ditangkap karena mabuk di lingkungan umum
  • November 1989– Carson City, Nevada – Ditangkap karena mabuk di lingkungan umum
  • Desember 1989– Phoenix, Arizona – Dirawat di rumah sakit karena overdosis heroin
  • Januari 12, 1990– Rawlings, Wyoming – Dipenjara karena mencuri mobil
  • Desember 1991– Marianna, Florida – Membunuh Teresa Hall (28) dan anaknya yang berusia 5 tahun.
  • Maret dan April 1992 – Charleston, South Carolina – Ditangkap karena mabuk di lingkungan umum
  • Mei 13, 1992– Charleston, West Virginia – Dipenjara karena memperkosa, memukul dan menusuk seorang wanita berusia 20 tahun yang selamat. Dilepaskan pada Mei, 1997.
  • Oktober 13, 1997– Lawrenceville, Illinois – Menyerang Julie Rea Harper dan menusuk anaknya yang berusia 10 tahun,  Joel Kirkpatrick hingga mati.
  • Oktober 1997– Springfield, Missouri – Menculik, memperkosa dan mencekik Stephanie Mahaney (13).
  • Maret 30, 1999– Del Rio, Texas – Memperkosa dan membunuh Debbie Harris, (28) dan anaknya, Ambria Harris (8).
  • April 18, 1999– San Antonio, Texas – Membunuh dan mencekik Mary Perez (9).
  • Mei 13, 1999– Lexington, Kentucky – Membunuh dan memperkosa  Haley McHone (13), lalu menjual sepedanya seharga $20.
  • Mei sampai Juni 24, 1999– Madison, Wisconsin – Dipenjara karena perilaku yang tidak disiplin dan mabuk.
  • Juli3, 1999 – Kingfisher, Oklahoma – Menembak Bobbie Lynn Wofford (14) hingga mati.
  • Desember 31, 1999 – Pembunuhan terakhir Sells- menusuk Katy Harris (13) dan mencoba membunuh Krystal Surles (10).

 

Kepribadian Kriminal

Menurut diagnosa psikologis, Tommy Lynn Sells mengalami masalah psikologis seperti kecanduan alkohol dan obat-obatan dan personality disorder yaitu anti-sosial, borderline (ambang)  dan schizoid.

 

Kepribadian ambang (borderline)

Kepribadian ambang dicirikan dengan impulsivitas, dan ketidakstabilan dalam hubungan dengan oranglain dan mood. Sikap dan perasaan terhadap oranglain dapat berubah-ubah secara signifikan dan aneh dalam kurun waktu lama. Individu dengan gangguan kepribadian ambang memiliki karakter argumentatif, mudah tersinggung, sarkastik, cepat menyerang dan secara luas tidak dapat hidup berdampingan dengan (Davidson, Neale, & Kring, 2010). Dalam DSM IV TR individu dapat dikatakan memiliki kepribadian ambang ketika memenuhi lima atau lebih kriteria seperti:  berupaya keras untuk tidak diabaikan, ketidakstabilan dan intensitas ekstreem dalam hubungan personal, sense of self yang tidak stabil, perilaku impulsif, perilaku bunuh diri, kelabilan emosi ekstrem, perasaan kosong kronis, sulit mengendalikan amarah dan berpikiran paranoid. Dalam diri Sells terlihat bahwa ia sangat sulit mengendalikan emosi dan amarahnya, ia dapat melakukan tindakan impulsif (dorongan yang didasarkan keinginan atau untuk pemuasan atau keinginan secara sadar maupun tidak sadar) seperti pernyataannya bahwa membunuh orang untuk mendapatkan sensasi adanya perasaan kegembiraan, semangat dan kepuasan ketika melihat lumuran darah dan saraf yang terpotong pada korban.

Menurut Kernberg (1985 dalam Davidson, dkk.,2010) kepribadian ambang disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan yang menyebabkan anak mengembangkan ego yang tidak merasa aman. Pengamalan masa kecil Sells yang tidak menyenangkan seperti terkadang dipukuli oleh ibunya; ketika ttinggal di rumah bibinya, ibunya tidak pernah berkunjung; ibu Sells yang dingin yang tampaknya tidak peduli; pernah dilecehkan secara seksual ketika berusia 8 tahun oleh pria pedofil yang telah membesarkannya selama 3 tahun.

Kepribadian antisosial

Sells tidak melakukan tindakan perlawanan terhadap petugas ketika ditangkap. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi, ia mengaku tidak menyesali perbuatannya. Sells mengatakan bahwa ia menikamti pembunuhan yang dilakukannya. Sells pertama kali melakukan pembunuhan pada usia 14 tahun. Ia merasakan perasaan yang menurutnya luar biasa ketika melakukannya dan hal terrsebut membuatnya terus-menerus melakukan pembunuhan.

Dari pengakuannya tersebut, dapat dilihat bahwa penyebab utama Sells melakukan tindak kejahatan adalah karena gangguan kepribadian yang dimilikinya. Sells memiliki gangguan antisosial yang menurut DSM V (2013), individu dengan gangguan kepribadian antisosial memiliki perilaku mengabaikan hak dan emnyakiti orang lain yang berlangsung seak usia 15 tahun dan diindakasikan dengan setidaknya 3 atau lebih perilaku. Sells sudah memenuhi lebih dari 3 perilaku yang disebutkan di DSM V, peerilaku tersebut antara lain, ketidakmampuannya dalam mengikuti norma sosial dengan perilaku bberulang yang menyebabkan terjadinya penangkapan. Sells tecatat sudah berulang kali ditangkap atas tindaka kejahatan mencuri, mabuk-mabukan dan lainnya. Selanjutnya, Sells juga menunjukkan perilaku curang dengan melakukan kebohongan berulang untuk mengelabui orang lain demi keuntungannya, Sells pernah berpura-pura menjadi orang yang kelaparan dan membutuhkan makanan untuk mengelabui korbannya dan kemudian membunuh saat korbannya lengah. Sells juga menunjukkan perilaku impulsif seperti yang dilakukannya ketika menyerang Katy Harris yang melakukan perlawanan terrhadapnya, ia uga melakukan serangan kepada Krystal Surless saat menyadari ekhadirannya di kamar dan merasa terancam karena perbuatannya diketahui oleh orang lain. Sells menunjukkan perilaku agresif dilihat dai betapa sering ia terlibat dalam kasus perkelahian.

Salah satu hal yang menonjol dalam gangguan kepribadian antisosial adalah rendahnya rasa belas kasih yang dimiliki individu. Sells memiliki rasa belas kasih yang sangat rendah, hal ini ditunjukkan ketika ia tidak merasa bersalah saat melakukan tindak kejahatan. Individu dengan gangguan antisosial harus berumur 18 tahun dan menunjukka tanda-tanda onset sebelum usia 15 tahun. Saat ia melakukan kejahatan pada keluarga Harris, Sells sudah berusia lebih dari 30 tahun. Pada masa kecilnya Sells juga sudah menunjukkan tanda-tanda gangguan kepribadian antisosial yang dilihat dari riwayat Sells menggunakan obat-obatan terlarang pada usia 7 tahun, upaya pemerkosaan pada usia 13 tahun dan tindak pembunuhan pada usia 14 tahun.

Sells memiliki IQ sebesar 80. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor mengapa Sells melakukan kejahatan. Individu dengan psikopati memiliki tingkat IQ yang lebih rendah dibandingkan indivvidu yang tidak (Johanson & Kerr, 2005). Rendahnya intelegensi menyebabkan individu kesulitan untuk mengintegrasikan informasi afektif ke dalam proses kognisi dalam perilakunya (Anderson & Kiehl, 2014).

Gangguan Kepribadian Schizoid

Berdasarkan DSM IV-TR, terdapat beberapa kriteria diagnosa, yaitu  tidak menikmati menjadi bagian dari suatu hubungan dekat termasuk hubungan keluarga, minim relasi pertemanan (kecuali dengan saudara dekat), lebih memilih untuk melakukan aktivitas sendiri, afek datar dan cenderung dingin secara emosional, memiliki sedikit ketertarikan seksual, menikmati sedikit aktivitas dan tidak mempedulikan pujian maupun kritik dari orang lain. Schizoid merupakan gangguan dimana individu lebih memilih untuk tidak terikat dan memiliki sedikit ketertarikan terhadap relasi intim (Bennet, 2006). Sells merupakan individu yang dingin, walaupun sebenarnya ia adalah orang yang emosional namun Sells tidak menunjukkan adanya pemahaman emosional yang mendalam. Ia juga tidak memiliki teman dan relasi intim dengan istrinya juga tidak bertahan lama dan tidak dibina dengan baik. Sells lebih memilih untuk melakukan aktivitasnya sendiri, dengan mengemudi keliling Amerika sendirian lalu melakukan pembunuhan. Walaupun telah menikah, Sells tetap meninggalkan istrinya untuk membunuh di berbagai negara bagian di Amerika. Selama proses wawancara dengan wartawan di sebuah video di Youtube, Sells juga terlihat menunjukkan tatapan mata yang kosong dan ekspresi yang cenderung datar.

Substance-abuse disorder

Berdasarkan DSM IV-TR, kriteria diagnosa kecanduan alkohol dan obat-obatan adalah mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan melebihi batas yang diinginkan serta dalam jangka waktu yang lama, adanya keinginan yang kuat untuk terus minum alkohol dan obat-obatan, waktu yang lama yang dihabiskan untuk menggunakan alkohol dan obat-obatan, ketidakmampuan berfungsi dengan baik karena alkohol dan obat-obatan, tetap meminum alkohol dan obat-obatan walaupun ada kesulitan relasi sosial, adanya kecanduan alkohol dan obat-obatan walaupun telah mengalami masalah fisik. Sells dapat dikatakan telah mengalami kecanduan alkohol karena perilaku mabuk-mabukannya terus muncul sepanjang sejarah hidupnya. Bahkan Sells pernah beberapa kali dipenjara karena mabuk di tempat umum dan mengemudi sambil mabuk. Hal ini menunjukkan adanya keinginan yang kuat untuk terus minum alkohol dan kegagalan dalam menghentikan perilaku kecanduan alkohol.

Selain itu, Sells juga mengalami kecanduan obat-obatan, seperti heroin dan mariyuana. Sells pernah dirawat di rumah sakit karena overdosis heroin sebanyak dua kali. Sells juga menggunakan LSD dan merokok mariyuana sejak kecil.

Peran Psikologi Forensik yang dapat dilakukan dalam kasus

Peran psikologi forensik pada proses peradilan pidanan adalah membantu pada saat pemeriksaan di kepolisian di kejaksaan, di pengadilan maupun ketika terpidana berada di lembaga pemsyarakatan sehingga peran psikologi forensik dapat dikatakan sebagai psychology in law. Dalam kasus Tommy Sells ini peran psikologi forensik antara lain:

  1. Membantu proses penyelidikan polisi, baik pada pelaku dan korban yang bertujuan agar informasi yang diperoleh mendekati kebenaran
  2. Membantu dalam proses interogasi, bantuan psikolog forensik dalam interogasi pada orang yang diduga pelaku bertujuan agar ia mengakui kesalahannya.
  3. Penyusunan Criminal profiling.
  4. Melakukan asesmen untuk memberikan gambaran tentang kondisi mental pelaku.
  5. Psikolog forensik dapat membantu penggalian informasi dari korban, karena membutuhkan keterampilan tertentu agar korban merasa nyaman dan aman sehingga dapat lebih terbuka.

Apa pendekatan kuratif dan rehabilitatif yang dapat dilakukan?

Tommy Lynn Sells selain mengalami antisosial, dapat dikategorikan pula dalam gangguan kepribadian psikopat. Antisosial dan psikopati memiliki kesamaan ciri dan karakteristik. Cleckley (1941), yang dirumuskan secara komprehensif gambaran sindrom pada psikopat. Cleckley mengidentifikasi 16 fitur kepribadian yang dimiliki oleh psikopati: (1) potensi daya tarik dan kecerdasan; (2) tidak adanya psikosis; (3) rendahnya tingkat neurotisme; (4) tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diandalkan; (5) kebohongan; (6) kurang penyesalan dan rasa malu; (7) perilaku tidak bermoral dan kriminal yang berulang; (8) penilaian dan kesulitan yang buruk dari pengalaman; (9) egosentrisitas dan ketidakmampuan untuk cinta; (10) kurangnya kemampuan untuk memahami perasaan (11) wawasan buruk; (12) kurangnya timbal balik dalam hubungan interpersonal; (13) impulsif dan disinhibisi, sering meningkat dengan penggunaan zat; (14) lebih tidak ada keinginan untuk bunuh diri dibandingkan anti sosail yang menginginkan bunuh diri; (15) hubungan seksual yang dangkal dan impulsif; (16) tidak adanya tujuan hidup. Dari 16 karakteristik psikopat, Sells hampir memenuhi semua karakter-karakter tersebut.

Tindakan kriminal yang dilakukan oleh Tommy Lynn Sells merupakan tindakan kejahatan yang bersifat patologis. Sells telah didiagnosis mengalami masalah psikologis seperti bipolar, depressive disorder, kecanduan alkohol dan personality disorder yaitu anti-sosial, borderline (ambang) dan schizoid. Sells tidak memiliki rasa bersalah dan takut terhadap tindakan kriminal yang telah dilakukannya. Sells menjelaskan bahwa tindakan pembunuhan yang dilakukannya untuk mendapatkan sensasi perasaan kegembiraan, semangat dan kepuasan ketika melihat lumuran darah dan saraf yang terpotong pada korban. Sells menggambarkan lumuran darah dan saraf terpotong dileher merupakan waktu yang dinantikan seakan melihat scraft yang melingkar di leher. Sells baru mengerti bahwa tindakan yang dilakukannya merupakan hal yang salah ketika ia ditahan oleh pihak yang berwajib atas pembunuhannya terhadap Katy Harris.

Gangguan antisosial yang dimiliki Sells diasumsikan tidak memiliki perasaan nyaa oleh banyak profesional. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam melakukan perawatan. Psikoterapi biasanya menjadi pilihan untuk upaya kuratif untuk merawat gangguan ini. obat juga mungkin digunakan untuk membantu menstabilkan mood yang tidak stabil atau kehawatiran psikiatrik lainnya yang mungkin muncul. Namun, tidak ad penelitian yang mendukung penggunaan obat untuk perawatan langsung terhadap gangguan antisosial (Breset, n.d.).

Terdapat beberapa pengobatan yang mungkin dapat digunakan sebagai upaya kuratif gangguan kepribadian antisosial, seperti psikoterapi, rawat inap,  obat, dan strategi menolong diri sendiri. Pada dasarnya, kebanyakan gangguan kepribadian jarang mencari perawatannya sendiri tanpa adanya suruhan dari orang yang berpengaruh bagi individu tersebut. Hal ini membuat inotivasi individu sulit untuk ditemukan, terutama dalam wilayah forensik atau penjara. Dalamsituasi terbatas, hal itu hampir tidak mungkin dilakukan dan terapi selanjutnya harus berfokus pada masalah kehidupan alternati, seperti tujuan saat dilepaskan dari penjara, peningkatan hubungan sosial atau keluarga, belajar keterampilan mengatasi masalah, dan lain-lain. Dalam rawat jalan, fokus terapi juga bisa dilakukan, tetapi sebagian dari terapi harus ditujukan untuk mendiskusikan perilaku dan perasaan antisosialnya. Hal ini dikarenakan gangguan kepribadian antisosial merupakan kurangnya hubungan antara perasaan dan perilaku. Saat terapi dapat membantu klien untuk menarik garis diantara keduanya, hal itu akan sangat membantu bagi klien itu sendiri (Breset, n.d.).

Kandungan terapi harus fokus pada emosi pasien. Sebagai individu yang belajar untuk mengalami berbagai keadaan emosional, misalnya depresi, klien mungkin akan tidak terbiasa dengan hal tersebut. Saat klien telah merasakan perasaan tersebut, penting bagi terapis untuk bersikap mendukung dan berempati kepada individu (Breset, n.d.). Selain itu, terdapat salah satu program di rumah sakit Amerika Serikat yang memberlakukan token ekonomi secara ketat berdasarkan kemajuan pengobatan mereka. Hal ini merupakan pendekatan yang baru dan radikal terhadap gangguan semacam ini dan masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan keefektifan jangka panjangnya. Strategi menolong diri sendiri juga dapat diterapkan dengan mendiskusikan perasaan dan perilaku mereka di depan teman-temannya (Breset, n.d.).

Daftar Pustaka

Anderson, N., & Kiehl, K. (2014). Psychopathy: Development prrespectives and their implications o treatment. Restoratie Neurology and Neuroscience 32, 103-117.

Bennet, P. (2006). Abnormal and clinical psychology (2nd edition). London: Open University Press

Bressert, S. (n.d.). Antisocial personality disorder treatment. Retrieved April 25, 2017, from Psych Central: https://psychcentral.com/disorders/antisocial-personality-disorder-treatment/

CBS News. (2009, November 28). Live to tell: Krystal’s Courage. Retrieved April 22, 2017, from CBS News: http://www.cbsnews.com/news/live-to-tell-krystals-courage-28-11-2009/3/

Critchlow, B. (1986). The Powers of John Barleycorn: Beliefs About the Effects of Alcohol on Social Behavior. American Psychologist, 751.

Davidson, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2010). Psikologi Abnormal. (Nurmalasari, Trans.) Jakarta: Rajawali Pers.

Department of Justice. (n.d.). Who is a victim of crime. Retrieved April 23, 2017, from Department of Justice: http://www.justice.gc.ca/eng/cj-jp/victims-victimes/rights-droits/who-qui.html

DSM IV-TR (2000). Washington: American Psychiatric Association

DSM V (2013). Washington: American Psychiatric Association

Falk, G. (1966). The Psychoanalytic Theories of Crime Causation. 1-11.

Hoge, R. (2010). Developmental perspectives on offending. In J.  Brown & E.A. Campbell, The cambridge handbook of forensic psychology (pp. 34-42). Cambridge: Cambridge University Press.

Johanson, P., & Kerr, M. (2005). Psychopathy and Intelligence: A Second Look. Journal of Personality Disorder, 357-369.

Landau, S. F., & Freeman-Longo, R. E. (1990). Classifying victims: A proposed multidimensional victimological typology. International Review of Victiology, 267-286.

Media Advisory: Tommy Lynn Sells scheduled for execution. (2014, April 3). Retrieved April 25, 2017, from THE ATTORNEY GENERAL OF TEXAS: https://www.texasattorneygeneral.gov/oagnews/release.php?print=1&id=4700

Montaldo, C. (2017, Februari 05). Profile of Serial Killers Tommy Lynn Sells. Retrieved April 24, 2017, from Thoughtco: https://www.thoughtco.com/serial-killer-tommy-lynn-sells-973154

Republik Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Rowe, C., Ruggiero, N., Ruotolo, C., & Smith, J. (2005). \Sells, Tommy Lynn. Retrieved April 23, 2017, from Unviersity of Radford: http://maamodt.asp.radford.edu/Psyc%20405/serial%20killers/Sells,%20Tommy%20Lynn%20-%202005.pdf

UU RI. (2006). Perlindungan saksi dan korban. Undang-Undang Republik Indonesia.

Wagele, E. (2011, April 19). What does calling someone a “victim” mean? Retrieved April 23, 2017, from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/blog/the-career-within-you/201104/what-does-calling-someone-victim-mean

Youtube (2016, November 13). Tommy Lynn Sells, Coast to Coast Killer : Serial Killer Documentary. Retrieved April 24, 2017, from Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=UMkdFyYbP_Q

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s