Kekerasan verbal (3): Apakah psikoterapi dapat membantu menghentikan kekerasan verbal?

Apakah psikoterapi dapat membantu menghentikan kekerasan verbal?

Oleh: Margaretha

counseling dvPsikoterapi masalah kekerasan perlu dilakukan bagi korban dan pelaku KDRT. Untuk menghentikan masalah KDRT secara menyeluruh, hanya membantu korban untuk pulih saja tidaklah cukup. Dalam persoalan KDRT yang pelik, ada beberapa figur terkait yang juga perlu dipertimbangkan: korban langsung, pelaku dan korban tidak langsung. Ketiganya membutuhkan bantuan, jika sungguh ingin menghentikan rantai kekerasan secara utuh. Baca lebih lanjut

Kekerasan verbal (2): Wanita impian dan kekerasan verbal

Wanita impian dan kekerasan verbal

Oleh: Margaretha

fantasy
Korban kekerasan verbal sering bertanya-tanya, mengapa pelaku menjadi sangat kasar? Apakah yang salah sehingga dia menjadi sangat kasar? Dulu, pelaku adalah pasangan yang sangat mempesona namun dia berubah menjadi sangat kasar dan tidak masuk akal. Beberapa korban, malah menyalahkan dirinya sendiri; korban merasa kurang pandai membawa diri, kurang memahami pasangan, kurang mengalah, dan sebagainya.

Tulisan ini adalah review personal penulis dari Buku “The Verbally Abusive Man, Can He Change: A Guide for Women to Deciding to Stay or Go” oleh Patricia Evans tahun 2006. Tulisan ini berusaha menguraikan fenomena kekerasan verbal; mengenai mengapa pelaku melakukan kekerasan verbal, serta apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi kekerasan verbal. Secara khusus, buku ini mengupas bentuk kekerasan verbal yang dilakukan pelaku laki-laki pada pasangan perempuannya.  Baca lebih lanjut

Kekerasan verbal (1): Kekerasan Verbal dalam Relasi Intim

Kekerasan Verbal

Oleh: Margaretha

verbal-abuse

Penggalan dialog di bawah menunjukkan kekerasan verbal yang dialami seorang korban dan dilakukan pelaku. Dengan model pembicaraan seperti ini, kemungkinan besar ini adalah pola berulang. Artinya kekerasan verbal bukan terjadi sekali, namun berkali-kali, sehingga kekerasan menjadi pola dalam relasi intim.

A: Papa, apakah kita bisa bicara via Skype? (pertanyaan)

B: Kamu jadi istri bisanya menuntut saja. Ga tahu apa koneksi internet di sini ga bagus? (marah, memblok pembicaraan, tidak menjawab pertanyaan)

A: Maksud Mama tanya kok. Kalau papa tidak bisa Skype ya ga apa. (menjelaskan, tidak mendapat jawaban)

B: Istri kok goblok banget sih. Dasar ga istri kompeten (marah, kekerasan, melabel)

A: Tolong jangan kasar dulu, Pa. (negosiasi, mengalihkan luka)

B: Memangnya kamu mau saya jadi banci? (menuduh)

A: Bukan itu maksud Mama… (menjelaskan, mulai putus asa)

B: Seperti bekas pacarmu itu? Banci. Tidak sudi saya jadi banci. Diinjak-injak sama perempuan macam kamu. (marah, menuduh, kekerasan, memblok pembicaraan)

A: Maksud Papa apa bicara begitu? Kamu kasar (membela diri, menyampaikan emosi)

B: Perempuan macam apa kamu bicara begitu pada suami. Sudah syukur dulu kamu saya nikahi. Kalau tidak, kamu ga laku tau. (marah, memblok komunikasi, menyerang, melabel)

A: (menangis)… (menarik diri, merasa kalah)

B: Kenapa menangis? Kamu terlalu sensitif. Lihat, kamulah yang selalu memancing emosi dan buat saya marah. Itu salahmu sendiri. Dasar provokator, istri tidak berguna (marah, kekerasan, pengalihan tanggung-jawab)

Baca lebih lanjut

Tipologi Pelaku KDRT

Tipologi Pelaku KDRT

Oleh: Margaretha

Dosen Pengajar Psikologi Forensik, Universitas Airlangga

surreal-man-with-hands-covering-faceAh masa iya, dia itu pelaku KDRT?” kata seseorang ketika mendengar berita dari temannya. “Kan, dia laki-laki yang pintar dan banyak membuat tulisan serta buku, sering tampil di seminar-seminar. Masa bisa berbicara filosofis begitu tapi kelakuannya sama sekali bertolak-belakang?”. Tambahnya lagi, “Ternyata, pelaku KDRT bukan tampak seperti penjahat saja ya, yang tampil dan bicara meyakinkan juga ternyata bisa sungguh keji memperlakukan perempuan”.

Baca lebih lanjut