Dibalik istilah: Korban atau Orang yang Selamat (Victim or Survivor)?

Margaretha

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya

12149-custom-ribbon-magnet-sticker-survivor-silentnomoreenddomesticviolenceMulut kelu sulit bersuara dan dibungkam. Begitulah kira-kira kondisi yang kita bayangkan mengenai orang-orang yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Baik anak maupun dewasa, mereka biasanya tampak berada dalam posisi lemah, tertindas dan kesulitan untuk bersuara dan mencari bantuan.

Namun, kita juga dapat melihat ada orang-orang yang telah melampaui kekerasan dan penelantaran, yang tidak lagi bungkam namun bergerak mencari bantuan. Bahkan dengan lantang berteriak meminta bantuan orang-orang di sekitarnya serta bergerak berusaha memperbaiki hidup ke depan. Mereka tampak tidak seperti korban; mereka tampak berdaya seperti orang-orang yang selamat. Siapakah mereka? Apakah yang membedakan antara korban yang tampak lemah dan korban yang tidak seperti tipikal korban? Dan apa relevansi penggunaan istilah korban dan orang yang selamat dalam penanganan KDRT? Tulisan ini akan menguraikan makna di balik istilah korban (victim) dan orang yang selamat (survivor). Baca lebih lanjut

Trauma Masa Kanak dan Masalah Kesehatan Manusia

Trauma Masa Kanak dan Masalah Kesehatan Manusia
Oleh: Margaretha

Dosen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

117trauma

Berbagai kasus persoalan perilaku dan gangguan psikologis berkembang marak di masyarakat. Dari persoalan kekerasan dalam rumah tangga dan penelantaran, baik pada anak dan orang dewasa; baik menjadi korban secara langsung maupun korban yang menyaksikan kekerasan di keluarga dan di masyarakat sehari-hari. Selain itu berbagai persoalan anak dan remaja juga berkembang sangat cepat di masyarakat, seperti: penyalahgunaan zat dan non-zat, kenakalan remaja dan kriminalitas, seks beresiko, bullying dan tawuran.

Jika menilik pada kesehatan manusia Indonesia secara umum, juga tampak bertambahnya berbagai persoalan psikis dan fisik. Pada 2010, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8 per 100.000 jiwa. Begitu juga persoalan kesehatan fisik yang dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan beberapa gangguan kesehatan, seperti: gizi buruk dan obesitas, penyakit paru, kanker, hipertensi dan gangguan kardiovaskuler, Human Immuno-deficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndromes (AIDS).

Apakah ada hubungan antara berbagai problem kesehatan tersebut? Berbagai penelitian telah menemukan bahwa pengalaman traumatis selama kehidupan awal mempengaruhi kondisi kesehatan manusia (Center for Desease Control and Prevention; CDC, 2014). Bahkan penelitian menemukan bahwa semakin banyak trauma masa kanak yang pernah dialami seseorang pada masa kanak maka semakin besar resiko kesehatan baik fisik dan psikis yang dapat terjadi di masa berikutnya (CDC, 2014).

Ada apa dengan kesehatan manusia saat ini? Apakah ada hubungan antara berbagai problem kesehatan dengan trauma masa kanak? Lalu apakah yang dapat dilakukan? Tulisan ini akan mencoba menguraikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menggunakan perspektif trauma dan kesehatan.

Baca lebih lanjut

Kekerasan Seksual Dan Intervensi Pelaku Pada Kasus JIS

Oleh: Denda Prayogo

Mahasiswa Peserta Mata Kuliah Psikologi Forensik
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 

20140416_224751_anak-korban-pelecehan-seksualKekerasan Seksual JIS

Kasus Jakarta International School (JIS) adalah kasus yang cukup menyita perhatian di pertengahan tahun 2014. Kasus ini merupakan salah satu dari beberapa kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Indonesia. Kasus kekerasan seksual yang tejadi di lingkungan sekolah yang mana merupakan institusi yang seharusnya dipercaya para wali murid sebagai tempat belajar anak anak mereka namun seakan menjadi neraka untuk anak. Baca lebih lanjut

Kekerasan pada Anak dalam Film “Beth Thomas: The Child Of Rage”: Analisis cara Identifikasi, Merawat, and Mencegah

Oleh: Mustika Kurniawati

Mahasiswa peserta Mata Kuliah Psikologi Forensik
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

tumblr_me3wab1h1q1ry5xy7o1_500Disadari maupun tidak, kasus mengenai kekerasan pada anak, baik secara fisik, seksual, maupun emosional mulai banyak ditemui di masyarakat. Banyak hal yang bisa melatarbelakangi terjadinya kekerasan, salah satunya kelalaian dan kelengahan perlindungan orangtua. Juga kurangnya wawasan atau pemahaman orangtua terkait pengasuhan dan perlindungan anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa institusi ini mendapatkan laporan kurang lebih 622 kasus kekerasan anak yang meliputi kekerasan fisik, seksual dan psikis. Kasus-kasus ini terjadi secara akumulasi pada awal Januari hingga akhir April 2014. Menurut Komisioner KPAI, Susanto MA, jumlah kasus kekerasan ini dimungkinkan akan merangkak naik sepanjang 2014. Berikut ini merupakan salah satu kasus kekerasan pada anak yang terjadi di luar Indonesia. Kasus ini akan diceritakan secara menyeluruh mulai dari awal permulaan kekerasan terjadi hingga dampak-dampak yang ditimbulkan serta penyelesaiannya. Penyampaian kasus ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai kekerasan pada anak dan akibat negatif yang ditimbulkan sehingg memungkinkan untuk memunculkan kesadaran pembaca bahwa perlindungan terhadap anak dari kejahatan orang dewasa sangat perlu agar tidak mengganggu tumbuh kembang mereka. Baca lebih lanjut